Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Selamat tinggal, Nayla


__ADS_3

Sudah satu minggu sejak Al mengumumkan status Nayla sebagai istrinya di perusahaan. Sikap Vita juga sudah berubah menjadi sangat baik. Entah apa yang membuat dia berubah sikap 180 derejat dari sikapnya semula. Dulu, dia begitu gigih ingin memisahkan Alvin dan Nayla. Bahkan dia tidak mau mendengarkan kata-kata ibu dan juga kakaknya, Fandi.


Malam itu, Nayla membantu suaminya memasukkan pakaian ke dalam koper karena besok pagi Alvin ada pertemuan bisnis di luar negeri selama 5 hari.


"Nay, rasanya aku tidak ingin pergi meninggalkanmu," lirih Alvin. "Entah kenapa aku merasa takut meninggalkanmu."


"Al, jangan khawatir! Ada ibu dan nenek di sini, mereka pasti akan menjagaku," Nayla menggam tangan suaminya.


"Tapi..aku memiliki firasat buruk tentangmu, Nay. Aku merasa takut terjadi sesuatu terhadap dirimu saat aku tidak ada," jawab Alvin. Dari mimik wajahnya nampak terlihat jelas, kalau Alvin sangat mencemaskan istrinya.


"Itu hanya perasaanmu saja," ucap Nayla seraya menggenggam tangan Alvin. "Percayalah kalau aku pasti akan baik-baik saja," imbuhnya.


"Kau benar, mungkin aku yang terlalu mencemaskanmu." Dengan tangan satunya, Alvin membalas genggaman tangan istrinya.


Alvin, menyingkirkan koper yang baru saja di tata oleh Nayla dan menaruhnya di dekat lemari. Setelah itu dia kembali menghampiri istrinya.


"Bolehkah aku meminta hakku lagi?" bisik Alvin di telinga istrinya.


Dengan wajah yang bersemu merah, Nayla menjawab permintaan Alvin dengan anggukan.


Alvin mulai melancarkan aksinya, satu tangannya memeluk pinggang sang istri dan satu tangannya lagi menarik dagu istrinya agar menengadah ke arahnya. Dia mulai menyatukan bibirnya dengan bibir ranum Nayla. Mulai dari memberikan gigitan hingga memberikan ******* hingga sesapan kepada bibir indah tersebut. Awalnya Nayla hanya diam pasrah menerima permainan yang di berikan oleh Alvin, namun pada akhirnya dia bisa mengimbangi permainan tersebut.


Dengan bibir yang tetap menyatu, kedua tangan Alvin mulai menyusup ke dalam baju yang di pakai istrinya. Tangan-tangan itu mulai liar menjamah ke semua bagian yang ada di dalamnya. Alvin semakin bergairah saat lenguhan dan desahan keluar dari mulut Nayla. Dia mulai melucuti pakaian yang di kenakan istrinya satu persatu, hingga tampaklah nyata tubuh indah itu di hadapanya. Alvin mulai menuntun tubuh istrinya naik ke atas ranjang setelah melucuti pakaiannya sendiri. Sepasang suami istri itupun melanjutkan pergumulan mereka di atas ranjang. Dan entah berapa kali mereka melakukannya, mengingat Alvin meminta jatah lebih karena dia akan pergi selama 5 hari ke depan.


*****


Keesokan harinya...

__ADS_1


Dengan di antar oleh sopir keluarganya, Nayla mengantar Alvin ke bandara.


"Al, jangan lupa hubungi aku saat kamu tiba di sana!" seru Nayla kepada suaminya.


"Itu pasti, aku akan segera menelponmu saat aku tiba di sana," jawab Alvin.


"Nay, aku mohon pastikan nomormu selalu aktif! Entah kenapa aku tetap merasa tidak tenang meninggalkanmu," ucap Alvin cemas.


"Al, sudah aku bilang kan kalau aku pasti akan baik-baik saja. Jadi jangan cemaskan aku, bekerjalah dengan tenang dan fokus karena aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu," jawab Nayla dengan menangkup wajah suaminya dengan ke dua telapak tangannya.


Alvin menghela napasnya, kemudian dia mengangguk. "Aku pasti akan usahakan agar pekerjaanku kali ini selesai dengan cepat. Karena aku sudah tidak sanggup berpisah denganmu terlalu lama," ucapnya.


"Aku akan selalu menunggumu dengan sabar, sama seperti aku menunggumu dulu," ungkap Nayla.


Alvin memeluk pinggang istrinya.


"Aku tidak akan melakukan hal aneh tenang saja," jawabnya. Namun saat Nayla akan kembali membuka suara, mulutnya sudah di bungkam oleh bibir Alvin. Bahkan dia tidak memberikan kesempatan kepada Nayla untuk membalas ciumannya. Alvin baru melepaskan pagutan bibirnya, saat napas Nayla tersengal. Tanda kalau dia memerlukan pasokan oksigen.


"Seharusnya kamu bisa mencuri napas saat aku menciummu," tegur Alvin.


"Tenang saja, saat pulang nanti aku pasti sudah lihai mencuri napas," jawab Nayla dengan sedikit bercanda.


Alvin kembali mencium Nayla saat panggilan dari pesawat yang akan dia tumpangi menggema melalui pengeras suara. Namun kali ini yang Alvin cium adalah kening istrinya.


Entah kenapa Alvin merasa sangat berat untuk meninggalkan Nayla. Berkali-kali dia menatap wajah ayu istrinya itu. Akhirnya dia benar-benar pergi setelah mendapatkan kecupan jarak jauh dari Nayla.


Setelah pesawat yang di tumpangi Alvin tinggal landas, Nayla segera meminta sopir keluarga Hadinata mengantarnya ke perusahaan.

__ADS_1


"Mang Joko, tolong antar Nay ke perusahaan nya!" pinta Nayla lembut. Laki-laki berumur sekitar 50 tahunan itu segera mengangguk.


Nayla mengikuti langkah mang Joko yang berjalan ke luar meninggalkan bandara.


Nayla segera masuk ke dalam mobil, saat mobil yang di kendari Mang Joko berhenti tepat di depannya. Dengan kecepatan sedang mobil itu bergerak meninggalkan bandara.


"Mang Joko sudah berapa lama bekerja sebagai sopir pribadi keluarga Pak Hadinata?" tanya Nayla saat di sudah duduk di jok belakang mobil tersebut.


"Sejak ibu kandung Tuan Alvin masih hidup. Bahkan sayalah yang menjadi saksi pernikahan Tuan Hadinata dengan Nyonya Rianti, ibu kandung Tuan Alvin," jawab Mang Joko.


"Begitu ya," tanggap Nayla.


"Sebenarnya Nyonya Rianti tidak pernah merebut Tuan Hadinata dari Nyonya Sarah. Mereka sudah menikah siri jauh sebelum Nyonya Sarah hadir di keluarga Hadinata," Mang Joko mulai bercerita. "Tuan Hadinata menikahi Nyonya Sarah atas keinginan Nyonya Rianti. Karena dia tahu kalau Nyonya Sarah sangat mencintai Tuan Hadinata. Dan karena Nyonya Rianti sadar kalau hidupnya tidak akan lama lagi. Jadi dia ingin agar Tuan Alvin tetap mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari ayah dan ibunya, meski bukan dia yang memberikannya," lanjut Mang Joko.


"Memangnya ibu kandung Alvin meninggal karena apa?" tanya Nayla lagi.


"Dia menderita kanker otak," jawab Mang Joko.


Obrolan itu berhenti saat ada sebuah mobil yang menyalip dan berhenti secara mendadak di depan mobil yang sedang di kendarai Mang Joko. Karena berusaha untuk menghindari tabarakan Mang Joko membanting setirnya dan membuat mobil yang sedang dia kendarai terbalik. Mang Joko meninggal di lokasi sementara Nayla yang setengah sadar masih bisa mengeluarkan suara meminta tolong.


"To..long! To..long aku!" kata Nayla saat melihat langkah seseorang mendekat ke arah mobilnya.


"Tolong aku!" pinta Nayla dengan suara yang semakin melemah.


Orang itu tersenyum puas, saat melihat Nayla yang akhirnya tidak sadarkan diri. Orang itu segera menarik tubuh Nayla dan mengeluarkannya dari dalam mobil. Dia mendorong tubuh Nayla yang penuh luka ke dasar sungai. Dia sangat yakin kalau tidak akan ada yang bisa menyelamatkan Nayla, seandainya selamat pun, orang tidak akan mengenali kalau itu Nayla. Karena banyaknya serpihan kaca yang menancap di wajah Nayla.


"Selamat tinggal Nayla," ucap orang itu, dia segera meninggalkan lokasi kejadian.

__ADS_1


__ADS_2