Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Kenapa?


__ADS_3

"Kamu!" ucap Alvin dan orang itu bersamaan.


"Ternyata, kamu adalah pemilik dari ADITAMA CORP," ucap Alvin.


Nadhira yang di ketahui sebagai pemilik perusahaan itu pun, mengangguk.


"Duduklah, Al!" Nadhira mempersilahkan Alvin untuk duduk. "Panggil saja aku Dhira, bukankah kita sudah berkenalan tadi."


"Ohya, Dhira apa hubunganmu dengan Pak Hendrawan?" tanya Alvin penasaran. "setahuku Pak Hendrawan tidak punya keluarga?"


"Aku cucunya," jawab Dhira.


"Cucu?!"


"Heem," jawab Nadhira. "Kakek bilang, kalau dia baru menemukan aku 5 tahun yang lalu."


Mendengar kata 5 tahun yang lalu membuat Alvin seketika terdiam. Dadanya kembali sesak saat harus mengingat kejadian yang membuat dia harus kehilangan istrinya.


"Al!" panggil Nadhira saat melihat Alvin terdiam, dia bahkan melambaikan tangannya tepat di depan wajah Alvin.


"Maaf, aku pasti melamun barusan," kata Alvin.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Nadhira.


"Tiba-tiba aku teringat akan istriku yang sudah meninggal 5 tahun lalu."


"Maaf, aku tidak tahu."


"Tidak apa-apa, sebaiknya kita bahas kerjasama kita saja."


Akhirnya Alvin dan Nadhira, membahas tentang poin-poin penting dalam kerjasama mereka. Setelah hampir 2 jam berdiskusi akhirnya kesepakatan kerjasama itu pun bisa di terima oleh kedua belah pihak. Alvin dan Nadhira menandatangani kontrak kerjasama yang akan mereka lakukan selama kurun waktu 10 tahun.


"Semoga kerjasama kita ini bisa berjalan dengan baik ya Al," ucap Nadhira.


"Dhira, aku pamit ya!" ucap Alvin.


"Bunda!" panggil Arvin dari arah pintu, bocah berusia 4 tahun lebih itu langsung berlari memeluk ibunya.

__ADS_1


"Ayo, Sayang. Salim sama Om Alvin!" seru Nadhira kepada putranya.


Bocah laki-laki itu pun menghampiri Alvin dan melakukan hal yang di perintahkan oleh ibunya.


Ada getaran yang aneh yang Alvin rasakan saat bocah kecil itu mencium tangannya. Alvin berjongkok di depan bocah kecil itu.


"Hai Arvin, maukah kamu berteman dengan Om?" tanya Alvin dengan lembut.


Arvin menatap ke arah bundanya, bocah itu meminta persetujuan dari bundanya untuk menjawab pertanyaan Alvin.


"Iya, Om. Arvin mau kok temenan sama Om," jawab Arvin setelah mendapat anggukan dari sang bunda.


"Dhira, kapan-kapan bolehkah aku mengajak Arvin bermain?" tanya Alvin pada Nadhira, Alvin masih setia menatap wajah Arvin yang menurutnya begitu menggemaskan.


"Tentu saja boleh, Al. Tapi itu semua tergantung Arvin. Anakku jarang mau bermain sama orang asing," jawab Nadhira.


"Arvin, kapan-kapan Arvin mau tidak bermain bareng Om Al?" tanya Alvin pada Arvin. Bocah kecil itu menjawabnya dengan anggukan.


"Kakek besar!" panggil Arvin saat seseorang tiba di ruang Nadhira. Bocah kecil itu langsung berlari memeluk orang yang di panggilnya dengan sebutan kakek besar. Dan dia adalah Hendrawan, pemilik dari ADITAMA CORP.


"Duduklah, Kek!" Nadhira mempersilahkan kakeknya untuk duduk.


"Baik, Pak Alvin sendiri?"


"Saya juga baik, Pak."


"Arvin, Sayang. Hari ini Arvin mau minta di ajak jalan-jalan ke mana?" tanya Hendrawan pada cucunya.


"Kakek, bolehkah Ar bermain dengan Om itu?" tanya Arvin seraya menunjuk ke arah Alvin.


Hendrawan menatap ke arah Alvin sebentar, dari tatapannya terlihat jelas kalau dia tidak suka dengan Alvin. Bahkan bisa di bilang membencinya.


"Memangnya apa yang membuat cucu kakek ini ingin bermain dengan om itu?"


Arvin yang masih polos hanya menggelengkan kepalanya.


"Maaf Pak Alvin, jika urusan Anda sudah selesai Anda bisa pergi!" ucap Hendrawan terang-terangan.

__ADS_1


"Sepertinya Pak Hendrawan tidak menyukaiku. Tapi kenapa?" Alvin membatin.


"Baiklah Pak Hendra, saya pamit!" ucap Alvin. Dia berjalan menghampiri Arvin dan berjongkok di depannya.


"Anak manis, lain kali kita main bersama ya." Arvin mengarakan itu seraya mengelus kepala Arvin dengan lembut.


"Iya, Om," jawab Arvin senang.


Alvin segera berjalan meninggalkan ruang kerja Nadhira.


"Sepertinya Kakek tidak menyukai Alvin, kenapa?" tanya Nadhira yang merasa sikap kakeknya terlalu berlebihan terhadap Alvin.


"Apa dia sudah menandatangani kontrak kerjasama kita yang baru?" tanya Hendrawan.


"Sudah, Kek. Baru saja kita membahasnya," jawab Nadhira.


Hendrawan menghela napasnya.


"Tadinya Kakek tidak mau memperpanjang kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan milik Alvin."


"Kenapa Kek?" tanya Nadhira yang merasa aneh dengan sikap kakeknya


"Tidak apa-apa, Dhira." jawab Hendrawan.


"Beneran tidak ada yang Kakek sembunyikan dari aku?" tanya Nadhira sekali lagi.


"Tentu saja tidak," jawab Hendrawan.


"Bunda, Kakek buyut, ayo kita makan! Ar sudah lapar!"


Ajakan Arvin berhasil mengalihkan perhatian Nadhira, dia yang sebenarnya masih ingin menanyakan perihal rasa ketidaksukaan kakeknya akan Alvin, mengurungkan niatnya. Nadhira segera membawa anak kesayangannya untuk makan.


*****


Alvin melajukan mobilnya untuk kembali ke perusahaannya. Dia masih memikirkan alasan kenapa Tuan Hendrawan tidak menyukai dirinya.


Alvin segera memarkirkan mobil miliknya, saat mobil tersebut telah memasuki area perusahaannya. Dia langsung turun dari mobil miliknya setelah mobil itu terparkir di tempat biasa.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang membuat Pak Hendrawan tidak menyukaiku?" pertanyaan itu kembali muncul di pikiran Alvin.


Dia melangkahkan kakinya menuju ke ruangan miliknya. Namun baru saja dia masuk ke ruangannya, dia di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba saja memeluknya.


__ADS_2