
Nayla berdiri di tepi jalan raya untuk menunggu Alvin. Dia begitu senang karena masalah Vita akhirnya terselesaikan juga.
Sambil menunggu kedatangan Alvin, Nayla memainkan ponsel di tangannya.
Tapi kenapa tadi Al menggunakan nomor lain?
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepala Nayla.
Sudahlah! Mungkin ponsel milik Al batrenya habis.
Kembali Nayla mengabaikan kecurigaannya.
"Nayla."
"Iya." Secara spontan Nayla menjawab, dia berbalik dan melihat ke arah orang yang memanggilnya.
Nayla terperangah saat melihat sosok yang memanggilnya. Sosok yang sudah membuat dirinya harus berpisah dengan Alvin selama 5 tahun. Sosok yang dengan tega telah mendorongnya ke sungi.
"Vi ... Vita."
"Aku sudah menduga kalau kamu adalah Nayla. Sorot mata dan suaramu tidak bisa membohongiku," Vita berjalan mendekati Nayla dengan sebuah belati di tangannya.
"Dan keyakinanku semakin bertambah saat aku tanpa sengaja melihat kamu dan Kak Al bersama. Dia tidak pernah memperlakukan siapapun dengan lembut, kecuali dirimu." Vita memberikan tatapan tajamnya kepada Nayla.
Nayla berjalan mundur.
"Mungkin 5 tahun lalu kamu bisa lolos, tapi kali ini aku pastikan kamu akan mati di tanganku!"
__ADS_1
"Vit, tolong hentikan! Ingatlah persahabatan kita dulu!" pinta Nayla sambil terus berjalan mundur.
"Persahabatan? Jika kamu memang sahabatku, kamu tidak akan merebut Kak Al dariku?!" Vita sedikit berteriak.
"Vit, Aku tidak pernah tahu kalau kamu mencintai Alvin sebelumnya. Jika akhirnya aku merebut Al darimu, itu suatu ketidak sengajaan. Bukankah kamu juga tahu kalau dulu aku dan Alvin menikah karena di jodohkan?" Nayla menjeda kalimatnya. "Dan seandainya pun aku tidak menikah dengan Al terlebih dulu, tetap saja akulah orang pertama yang Alvin cintai."
"Diam kamu!!" teriak Vita.
"Kau hanya seorang yatim piatu yang tidak pantas untuk Kak Al, akulah yang lebih pantas untuknya. Kau dengar Nay, aku yang lebih pantas!"
"Pantas atau tidaknya, hanya Al yang berhak
menentukan," jawab Nayla.
"Kau benar, hanya Kak Al yang berhak menentukan! Tapi jika hanya aku pilihannya, maka Kak Al akan memilihku. Dia akan menjadi milikku." Vita kembali mengacungkan pisaunya kepada Nayla.
"Kak Al," ucap Vita lirih, saat menyadari yang terkena hujaman pisaunya adalah Alvin.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu melukai Nayla lagi. Ti ...dak ... akan!" Setelah mengatakan itu Alvin jatuh terkulai tak sadarkan diri dengan banyak darah yang keluar dari perutnya.
"Al, bangun! Al!" Nayla mencoba untuk membangunkan suaminya. Dia mengangkat kepala Alvin dan menaruhnya di pangkuannya.
Selang beberapa detik kemudian, polisi bersama dengan anak buah Hendrawan juga tiba di lokasi.
Vita di ringkus dan di bawa ke kantor polisi, sementara Alvin di bawa oleh Nayla dan anak buah kakeknya ke rumah sakit.
"Al, bertahanlah!" ucap Nayla dengan terus menggenggam tangan Alvin.
__ADS_1
"Pak Leo, apa tidak bisa lebih cepat lagi?" tanya Nayla pada asisten pribadi kakeknya tersebut.
"Ini sudah kecepatan maksimum nona," jawab Leo yang tetap fokus menyetir.
"Al, bertahanlah! Bertahanlah demi aku dan juga Ar!" Nayla mengatakan hal itu dengan air mata yang terburai di kedua pioinya.
Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, akhirnya mereka tiba juga di sebuah rumah sakit besar di kota itu.
Alvin langsung mendapatkan penangan begitu di turunkan dari mobil. Dia langsung di bawa ke ruang operasi.
"Maaf, Bu. Kami harus mendapatkan tanda tangan untuk segera melakukan operasi pada diri Pak Alvin karena luka sayatan itu kemungkinan juga mengenai organ ususnya!" jelas Sang Dokter.
Tanpa berpikir apapun Nayla menanda tangani surat tersebut, baginya keselamatan Alvin lebih penting.
"Lakukan apapun yang menurut Dokter terbaik! Tolong selamatkan dia!"
"Kami akan berusaha sebaik mungkin. Bantulah kami dengan do'a."
Setelah mengatakan itu dokter itupun kembali masuk ke ruang operasi.
*****
Sejak di tangkap tadi Vita selalu histeris, dia berteriak memanggil-manggil nama Alvin. Sesekali dia menangis histeris dan sesekali pula dia tertawa.
"Pak, sepertinya kita harus membawa ahli kejiwaan untuk memeriksanya," kata salah seorang polisi yang sedari tadi memperhatikan tingkah Vita.
"Segera hubungi psikiater!" Jawab polisi yang lain.
__ADS_1
Setelah melalui beberapa tes kejiwaan, akhirnya Vita di bawa ke rumah sakit jiwa dengan pengawalan polisi.