Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Menenangkan diri


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Fandi berhenti tepat di halaman rumah ibu Retno. Fandi segera membukakan pintu mobilnya untuk Nayla.


"Terimakasih ya, Kak Ifan," ucap Nayla.


Nayla segera turun dari mobil milik Fandi.


"Nay, jika ada apa-apa segera hubungi aku. Saat ini lebih baik tenangkan dulu pikiranmu, aku tahu kamu butuh waktu untuk menenangkan diri," tutur Fandi kepada Nayla.


"Terimajasih ya, Kak," ucap Nayla sekali lagi.


"Aku pergi ya," pamit Fandi yang kembali masuk ke dalam mobilnya.


Setelah mobil Fandi menjauh dan sudah tak terlihat, Nayla mencegat sebuah taksi yang kebetulan lewat di depannya.


"Pak, antar saya ke gedung X!" pinta Nayla kepada sopir taksi tersebut.


Nayla duduk di jok penumpang, pikirannya kembali menerawang memikirkan Alvin.


"Maafkan aku, Al. Aku sangat mencintaimu, tapi justru aku yang selalu memberimu rasa sakit," Nayla berbicara dalam hati.


Dia menarik napas dan menghembuskannya berakali-kali untuk mengeluarkan segala sesak yang dia rasakan. Kini pikirannya kembali mengingat akan teman kecilnya, Pangeran.


Dia ingat bagaimana sang pangeran akan menghiburnya di kala dia merasakan sedih seperti ini.


#Flashback on


Nayla kecil menangis tersedu-sedu di sebuah ruangan, tempat dia biasa bertemu dengan pangeran. Bukan tanpa sebab dia menangis, dia ingat kalau hari ini adalah hari kematian kedua orang tuanya.


Nayla kecil menangis sambil menelungkupkan kepalanya diantara kedua lututnya.


hiks ... hiks ... hiks


Suara tangis Nayla terdengar ditelinga Pangeran yang kebetulan datang ke tempat itu.


"Putri, kenapa menangis?" tanya Pangeran yang berjongkok tepat di hadapan Nayla.


Tanpa menjawab, Nayla kecil langsung memeluk pangeran dengan sangat erat, kemudian tangisnya pecah di pelukan pangeran kecil.


"Ada apa?" sang pangeran kembali bertanya pada sang Putri.


"Hari ini hari kematian ayah dan bunda, tapi aku tidak bisa mengunjungi makam mereka," jawab Nayla yang masih diiringi tangisnya.


"Apa kamu benar-benar ingin mengunjungi makam orang tuamu?" tanya sang pangeran.


Nayla kecil menatap mata sang pangeran kemudian dia memberikan anggukan cepatnya kepada pangeran.


"Kamu tunggu di sini ya!" seru sang pangeran. Dia keluar dari tempat itu untuk melakukan sesuatu.


Lima belas menit kemudian dia kembali.


"Ayo!" ajak pangeran kecil.


"Kemana?" tanya Nayla, dia penasaran kemana pangeran akan membawanya pergi.


"Ketempat yang kamu inginkan," jawab pangeran seraya menarik tangan Nayla agar mengikutinya.

__ADS_1


Pangeran membawa Nayla ke tempat parkir di mana mobil milik orang tuanya terparkir.


"Apa kamu tahu dimana makam kedua orang tuamu?" tanya pangeran.


"Aku tahu," jawab Nayla kecil di sertai anggukan.


"Ayo!" pangeran kembali mengajaknya untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Tapi ibumu," Nayla masih ragu untuk mengikuti ajakan pangeran kecil.


"Hari ini aku datang bersama nenek, tadi aku sudah minta izin sama nenek untuk mengantarmu ke pemakaman. Dan nenek sudah mengijinkan aku untuk mengantarmu," jelas pangeran kecil.


Rupanya tadi pangeran pergi untuk meminta izin kepada neneknya.


"Ayo! Kita tidak punya waktu banyak, satu jam lagi aku dan nenek harus segera pulang ke rumah. Dan mungkin kita akan bertemu seminggu lagi," kata pangeran menjelaskan.


Putri segera menaiki mobil tersebut, mobil itu berjalan menjauhi gedung panti asuhan itu.


Mobil yang di tumpagi Nayla dan pangeran berhenti di area pemakan umum yang terletak tidak jauh dari panti asuhan. Mereka berdua turun dari dalam mobil dan berjalan memasuki area pemakaman.


"Apa ini makam orang tuamu?" tanya Pangeran, ketika Nayla berhenti tepat di depan dua pusara.


Nayla berjongkok dan memejamkan matanya, berdoa dengan khusyuk untuk mendoakan keduanya. Usai berdoa mereka segera kembali ke gedung panti. Wajah Nayla yang tadi sempat di liputi kesedihan berangsur membaik. Bahkan senyum kebahagiaan sudah kembali nampak di wajahnya.


"Kenapa kamu tersenyum Pangeran?" tanya Nayla ketika melihat teman kecilnya tersenyum sambil terus menatapnya.


"Aku senang karena kamu sudah kembali tersenyum. Kamu tahu Putri, senyummu itu sangat indah, jadi aku berharap tetaplah tersenyum walau apapun yang terjadi. Jangan pernah biarkan orang lain, bahkan dirimu sendiri merenggut senyum indahmu itu. Berjanjilah, kalau kamu akan terus tersenyum demi aku," tutur sang pangeran.


"Aku janji padamu bahwa apapun yang terjadi, aku akan selalu tersenyum demi dirimu," janji Nayla waktu itu.


"Putri, aku pulang ya. Ingatlah, kamu harus selalu tersenyum!"


Setelah mengatakan hal itu, pangeran kecil meninggalkan tempat tersebut.


#Flasback off.


"Apa kita jadi ke gedung X, Neng?" tanya sang sopir taksi lagi


"Iya, Pak. Aku ingin kesana." jawab Nayla.


"Oh, gedung bekas panti asuahan itu kan Neng?"


"Iya, Pak," jawab Nayla.


Dengan cepat sang sopir taksi melajukan mobilnya menuju ke tempat yang telah di sebutkan tadi.


*****


Sementara itu di perusahaan grup H


Sejak kembali dari makan siangnya tadi, Alvin terus menerus memarahi pegawainya. Bahkan hampir semua pegawai sudah menjadi sasaran kemarahannya.


Alvin menarik napasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya. Dia masih tidak percaya dengan pernyataan Nayla tadi. Sungguh, saat ini hatinya benar-benar merasa sangat terluka. Di saat dia sudah berkeinginan untuk membuka status pernikahannya di depan orang lain, di saat yang sama pula dia harus mendengar wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu menyatakan perasaan sukanya dengan orang lain. Bahkan dengan jelas dan nyata, Nayla meminta orang lain untuk berpacaran dengannya. Dan lebih menyakitkan lagi, orang lain itu adalah sahabatnya sendiri.


Tok tok tok

__ADS_1


"Kak, apa aku boleh masuk?" tanya Vita dari balik pintu.


"Masuklah!" seru Alvin dari dalam.


Vita duduk di bangku kosong yang ada di depan Alvin.


"Kak, kenapa Kakak marah mendengar Nayla mengajak Kak Fandi berpacaran?" tanya Vita dengan berhati-hati.


"Siapa yang marah?" jawab Alvin yang berpura-pura sibuk dengan laporan di depannya.


"Kak Al, memang tidak mengatakan apapun. Tapi, aku tahu kalau Kakak menyukai Nayla," Vita kembali berbicara.


"Jangan mengatakan sesuatu yang belum tentu kebenarannya," tukas Alvin.


"Lalu kenapa tadi Kak Al langsung pergi dari restoran setelah Nayla bilang kalau dia ingin berpacaran dengan Kak Fandi?" tanya Vita lagi.


"Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, makanya aku langsung pergi," Alvin kembali menjawab tanpa menatap ke arah Vita.


"Kak.."


"Aku rasa kamu juga harus menyelesaikan pekerjaanmu. Pergilah, Aku sibuk!" seru Alvin.


Dengan terpaksa Vita pun keluar dari ruangan Alvin. Setelah Vita keluar, Alvin melempar berkas yang ada di depannya. Hingga semua berkas-berkas itu berserakan di lantai.


"Al, kamu gila ya," kata Fandi yang baru saja tiba di ruangan Alvin.


"Siapa yang membolehkanmu masuk ke ruanganku?" tanya Alvin yang kembali emosi.


"Al, ada yang harus kita luruskan soal Nayla," kata Fandi, dia ingin kesalahpahaman yang terjadi segera berakhir.


"Tidak ada yang perlu kita luruskan, semuanya sudah jelas," sarkas Alvin. Dia bahkan tidak memberi kesempatan kepada Fandi untuk berbicara.


"Al, mau kemana kamu? Al," panggil Fandi saat temannya itu pergi meninggalkan ruangannya.


"Shit," umpat Fandi, dia merasa kesal dengan sikap temannya yang tidak mau mendengarkan penjelasan darinya.


*****


Alvin pergi meninggalkan perusahaannya, saat ini dia membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya. Dan tempat yang dia pilih adalah gedung bekas panti asuhan tempat dia dan putri bertemu.


Alvin berjalan masuk ke dalam gedung bekas panti tersebut. Dia berjalan mengelilingi panti untuk mengenang masa-masa indahnya bersama Putri.


Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara seseorang yang sedang menangis. Suara itu berasal dari salah satu ruangan tempat dia dan Putri biasa bertemu. Alvin melangkahkan kakinya mendekati ruangan itu. Dan benar saja seorang wanita sedang menangis sambil menelungkupkan kepalanya dikedua lututnya.


"Putri," panggil Alvin kepada wanita itu, seketika tangis wanita itu berhenti.


"Kenapa kamu menangis? Apa yang terjadi padamu?" tanya Alvin bertubi-tubi.


Wanita itu mengangkat kepalanya untuk menatap Alvin. Dan alangkah terkejutnya Alvin saat melihat wajah wanita yang menangis tadi.


"Pangeran,"


"Putri,"


Panggil keduanya bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2