Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Taman bunga matahari


__ADS_3

Sontak panggilan itu membuat Alvin kembali menatap istrinya heran.


"Nay, dari mana kamu tahu panggilan itu?"


Bukannya menjawab Nayla justru langsung memeluk suaminya dengan sangat erat.


"Nay, ada apa?" tanya Alvin lagi, dia membelai rambut panjang istrinya itu dengat sangat lembut. Nayla menggelengkan wajahnya yang berada di dada bidang suaminya tersebut.


"Ternyata orang yang selama ini aku tunggu-tunggu sejak kecil, adalah dirimu,"


"Apa maksudmu, Nay?" tanya Alvin sekali lagi.


"Aku...aku adalah Putri cengengmu, Pangeran."


Seketika Alvin menjauhkan tubuh istrinya itu dari dekapannya, agar dia bisa menatap mata istrinya untuk mencari kebenaran di dalamnya.


"Nay, katakan sekali lagi. Apa benar kalau kamu adalah Putri Cengeng yang selama ini aku cari?!" Alvin menatap kembali mata istrinya tersebut.


Nayla mengangguk.

__ADS_1


"Apa kamu ingat? Kamu memberiku sebuah kalung sebelum kamu pergi. Kalung dengan liontin berbentuk bintang, dan kamu sendiri menyimpan kalung dengan liontin berbentuk bulan sabit. Kamu bilang, aku harus menyimpan kalung itu agar kamu bisa mengenali aku ketika kita bertemu nantinya. Tapi kalung itu aku kembalikan tepat di malam sebelum kita menikah." jawab Nayla panjang lebar.


Alvin menarik kembali Nayla ke dalam dekapannya.


"Ternyata Tuhan memang telah menakdirkan kita untuk bersama. Maafkan aku Putri karena aku terlambat mengenalimu," ucap pangeran yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku juga minta maaf, karena aku juga tidak mengenalimu. Padahal akhir-akhir ini orang yang selalu kamu cari adalah Putri, aku minta maaf Pangeran," ucap Nayla.


# Flashback


Hari itu pangeran kecil mengajak sang Putri ke sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari panti.


"Putri, taman ini indah bukan?" tanya sang pangeran ketika mereka sampai di lokasi yang di maksud. Putri kecil menatap kesekeliling taman tersebut.


"Kelak jika aku sudah dewasa, aku akan membuatkanmu taman yang tidak kalah indahnya dengan taman ini," tutur pangeran kecil.


"Aku menyukai taman ini, tapi aku lebih menyukai taman yang di penuhi dengan bunga matahari," ucap sang putri.


"Kenapa, kamu suka dengan bunga matahari?" tanya Pangeran sambil menatap ke arah Putri.

__ADS_1


"Karena almarhum ibuku menyukainya," jawab Putri di sertai dengan senyum manisnya.


"Kalau begitu aku berjanji padamu, saat dewasa nanti aku akan membuatkanmu taman yang hanya di penuhi dengan bunga matahari," ucap pangeran kecil dengan sungguh-sungguh. Putri kecilpun kembali tersenyum.


## Flasback end


"Terimakasih Pangeran, karena kamu sudah memenuhi semua janjimu," ucap Nayla dalam dekapan suaminya.


"Terimakasih juga karena kamu sudah menungguku selama ini," balas Alvin. Dia mencium pucuk kepala istrinya itu berkali-kali.


"Al, bolehkah aku ke sana?" tanya Nayla. Dia menunjuk ke arah bunga matahari di depannya.


"Sebentar ya," seru Alvin kepada istrinya. Alvin berjalan menjauhi Nayla, tidak lama kemudian dia kembali seraya membawa sesuatu di tangannya.


"Pakailah ini!" Alvin memberikan sebuah topi berwarna putih kepada istrinya tersebut.


"Terimakasih, Al," ucap Nayla. Dia menerima topi pemberian suaminya itu dan langsung memakainya. "Sekarang, kamu boleh kesana," ucap Alvin lembut. Kemudian Nayla berlari menyentuh satu persatu bunga matahari yang ada di depannya. Diam-diam Alvin mengambil gambar istrinya yang sedang menikmati indahnya pemandangan.


__ADS_1


Inilah foto hasil bidikkan Alvin melalui layar ponselnya.


Setelah puas menikmati indahnya pemandangan di taman itu, mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah.


__ADS_2