Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Ajakan Vita


__ADS_3

Alvin dan Nayla tiba di kediaman mereka pukul 18.00. Mereka terlihat sangat bahagia dan kebahagiaan tersebut bisa di rasakan oleh nenek Alvin, Nek Murti.


"Al, Nay, dari mana saja kalian? Dan sepertinya kalian terlihat sangat bahagia?" tanya Nek Murti kepada cucu dan cucu menantunya yang baru saja pulang.


"Tadi Al bawa Nayla ke taman bunga matahari, Nek," jawab Alvin.


"Bukannya taman itu kamu buat untuk teman kecilmu?" tanya Nek Murti. Dia ingat ketika Alvin bersikukuh untuk membeli tanah kosong yang letaknya tidak jauh dari panti. Waktu itu Nek Murti menanyakan alasan kenapa cucunya tersebut ingin membeli tanah kosong itu. Dan dengan wajah berseri-seri Alvin menjawab kalau dia ingin membuat taman bunga matahari untuk teman kecilnya. Makanya ketika Sarah menjodohkan Alvin dengan Nayla, Nek Murti menyerahkan segala keputusan di tangan Alvin. Dia tahu persis kalau cucunya selama ini selalu mencari keberadaan teman kecilnya. Bukan dia tidak menyukai Nayla, Nek Murti sudah menyukai Nayla sejak dia melihat video Nayla yang membela keluarga Hadinata di supermarket. Namun karena perjodohan itu di prakarsai oleh Sarah, nek Murti sedikit khawatir dan curiga terhadap Nayla. Tapi itu dulu sebelum nek Murti tahu kalau Nayla juga mendapatkan ancaman dari Sarah. Sekarang nek Murti juga menyayangi Nayla sama seperti dia menyayangi Alvin, cucunya.


Alvin menggenggam tangan neneknya seraya berkata, "Nek, Nayla adalah orang yang selama ini Al cari. Dia teman kecil Al, Nek. Dia adalah wanita yang ingin Al hadiahi taman itu."


Nek Murti menatap wajah cucu dan cucu menantunya bergantian, dia masih tidak percaya kalau Nayla adalah teman kecil yang cucunya cari selama ini.


"Jadi, Nayla ini teman kecil yang kamu cari untuk kamu nikahi?" tanya Nek Murti lagi.


"Iya, Nek." Alvin menganggukkan kepalanya, "Nayla adalah Putri Cengeng itu," imbuhnya.


"Ternyata kalian sudah berjodoh sejak kecil," ucap Nek Murti seraya memeluk cucu dan cucu menantunya.


"Ohya, Nek dimana ibu?" tanya Alvin. Dia mencari keberadaan ibu tirinya tersebut.


"Sarah ada di kamarnya," jawab Nek Murti.


"Kalian mandi saja dulu, nanti kita berkumpul di meja makan untuk makan malam. Nenek akan suruh ibumu ikut makan malam bersama kita," ujar Nek Murti.


"Baiklah, Nek," jawab Alvin.


Alvin dan Nayla meinggalkan Nek Murti dan berjalan menuju ke kamar mereka.


*****


(Di dalam kamar)


Alvin memeluk Nayla dari belakang, saat istrinya tersebut sedang menyisir rambut panjangnya.


"Wah, istriku cantik sekali malam ini," puji Alvin sambil menciumi pundak istrinya.


"Al, nenek sudah menunggu kita di ruang makan," kata Nayla.


"Aku tahu, aku hanya ingin memberikan hadiah untuk istriku," ucap Alvin.


"Hadiah?"


Tanpa menjawab Alvin mengambil sesuatu dari saku celanya. "Kalung ini adalah milikmu, jadi kamu harus memakainya," tutur Alvin. Dia memakaikan kalung berliontin bintang kepada Nayla.

__ADS_1


"Ini..."


"Kalung yang aku berikan waktu kita masih kecil dan kamu menyerahkan kalung itu padaku saat kita akan menikah," sela Alvin.


"Aku kira kamu sudah membuang kalung ini karena kamu akan menikah." Nayla menyentuh kalung yang terpasang di leher jenjangnya dan menatapnya lewat pantulan kaca di depannya.


"Mana mungkin aku membuang kalung ini, meskipun kamu bukan putri cengengku, kalung ini pasti akan selalu aku simpan," jawab Alvin. Dia juga memakai kalung kecil miliknya yang berliontin bulan.


"Ohya Nay, aku selalu penasaran dengan isi kotak yang ada di lemarimu," ucap Alvin.


"Kotak? Kotak yang mana Al?" tanya Nayla yang tidak paham dengan barang yang di maksud oleh suaminya.


Alvin membuka lemari istrinya dan mengambil kotak yang di maksud, lalu menunjukkannya pada Nayla.


"Kotak ini." Alvin menunjukkan kotak yang dia maksud kepada Nayla. "Aku selalu penasaran dengan isinya. Karena selama ini kamu tidak pernah membuka kotak itu," ujar Alvin kemudian.


Nayla mengambil kotak itu dan membawanya ke atas tempat tidur. Dia menyuruh Alvin untuk duduk, setelah itu dia sendiri duduk di hadapan Alvin.


"Kotak ini adalah hadiah dari Kak Ifan waktu aku berulang tahun kemarin," jelas Nayla.


"Jadi kamu menyukai kado pemberian si Fandi?" tanya Alvin. Dia terlihat tidak suka ketika mengetahui kalau istrinya menyukai kado pemberian dari sahabatnya.


"Aku memang sangat menyukai kado ini, tapi itu karena aku selalu membayangkan kalau kado ini adalah kado pemberianmu," jelas Nayla.


"Apa kamu ingat, dulu ketika aku menangis kamu memberikan kotak musik dengan salju di dalamnya? Dan kado yang di berikan Kak Ifan, sama persis dengan kotak musik pemberianmu dulu, makanya aku selalu menyimpannya," jelas Nayla lagi.


Nayla membuka kotak tersebut dan menunjukkan kepada Alvin.


"Ada apa, Al?" tanya Nayla saat melihat raut muka terkejut daru suaminya.


Alvin mengambil kotak tersebut dan mulai melihatnya dengan seksama.


"Al, ada apa?" tanya Nayla panik. Alvin tersenyum setelah setelah selesai mengamati kotak musik itu.


"Ternyata kotak ini sudah berada di tanganmu, pantas saja aku kesulitan mencarinya," jawab Alvin.


"Maksudmu?" kini giliran Nayla yang merasa bingung dengan perkataan Alvin.


"Itu adalah kotak yang aku beli khusus untuk putri cengengku, tapi kotak itu hilang. Mungkin terbawa oleh Fandi saat aku baru pulang dari Amerika. Aku ingat kalau Fandi pernah bilang ingin memberikan jam tangan sebagai hadiah untuk orang yang sudah dia anggap sebagai adiknya, dan mungkin dia salah memberikan kadonya," jelas Alvin.


Alvin menarik Nayla kedalam dekapannya, "Aku sungguh bahagia karena ternyata semua barang yang ingin aku berikan padamu, sampai pada orang yang tepat meski bukan aku yang memberikannya," ucap Alvin.


"Aku juga bahagia karena ternyata pangeranku memenuhi semua janjinya." Nayla membalas pelukan suaminya tersebut.

__ADS_1


Cukup lama mereka berpelukan, mereka baru melepaskan pelukannya saat terdengar suara nek Murti yang menyuruh mereka untuk makan malam bersama.


Alvin dan Nayla ke luar dari kamar mereka sambil berpegangan tangan, keduanya nampak begitu bahagia.


*****


(Kediaman keluarga Fandi)


Sejak pulang dari perusahaan Vita mengurung diri di kamarnya. Dia masih belum bisa menerima kalau kalau ternyata Nayla adalah istri sah dari orang yang dia cintai, Alvin.


Tok tok tok


"Vit, boleh kakak masuk!" ucap Fandi dari balik pintu.


"Masuklah!" seru Vita.


Fandi membuka pintu kamar adiknya, dia duduk di sebelah adik perempuannya tersebut.


"Vit, berusahalah untuk menerima kenyataan kalau ternyata Alvin dan Nayla itu sudah menikah," Fandi memberikan nasehatnya.


"Kakak yakin, kamu akan menemukan pria yang baik dan juga mencintaimu," tambah Fandi.


"Tapi aku hanya mencintai Kak Al, Kak," ucap Vita.


"Vit, tapi Alvin tidak pernah mencintaimu. Dia selalu mengannggapmu sebagai adiknya dan tidak lebih. Jadi berusahalah untuk menerima semua kenyataan itu, setidaknya dengan menerima kenyataan kamu masih bisa memiliki sahabat seperti Nayla dan Kakak seperti Alvin. Jangan sampai hanya gara-gara egomu kamu kehilangan keduanya." Sekali lagi Fandi berusaha untuk memberikan nasehat kepada adiknya.


"Kak, aku tahu Kakak juga mencintai Naylakan? Bagaimana kalau kita bekerjasama, aku yakin kalau kita bekerjasama kita akan bisa memisahkan mereka. Jadi kita bisa mendapatkan orang yang kita cintai," Vita memberikan ide konyolnya kepada sang kakak.


# Apakah Fandi menerima ajakan Vita untuk memisahkan Alvin dan Nayla?


# Jangan lupa like, komen dan votenya ya๐Ÿค—


# Maaf kalau upnya lama karena ada kesibukan di RL๐Ÿ™


Rekomendasi novel yang keren๐Ÿ‘๐Ÿ‘:





Trims๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2