
Sore harinya ..
Seperti biasa, Alvin menunggu Nayla di pertigaan jalan yang jaraknya tidak jauh dari perusahaan grup H. Dia berdiri di sebelah mobilnya sambil memainkan hape di tangannya.
"Al, kenapa masih di sini?" tanya Fandi. Fandi segera memarkirkan mobilnya di belakang mobil Alvin. Kemudian dia turun dan berjalan menghampiri temannya itu.
"Mobil kamu tidak bermasalah kan?" tanya Fandi sambil mengamati mobil sahabatnya tersebut.
Alvin, memasukkan hp yang baru saja dia mainkan ke dalam saku celananya. Dia menatap sahabatnya itu seraya berkata, "Mobilku, baik kok Fan."
"Kalau mobilmu tidak baik kenapa kamu berhenti di sini?" tanya Fandi penasaran.
"Al," panggil Fandi saat temannya tersebut masih belum menjawab pertanyaannya.
"Kak, Al. Kenapa Kak Al masih di sini?" tanya Vita yang baru saja ke luar dari mobil kakaknya, Fandi.
"Aku .."
__ADS_1
"Maaf, Al. Aku telat, tadi aku menyelesaikan pekerjaanku dulu," ucap seseorang dari belakang Fandi dan Vita. Fandi dan Vita segera menoleh ke arah sumber suara tersebut. Kedua kakak beradik itu terkejut ketika melihat keberadaan Nayla di sana.
"Nayla?!" Ucap Fandi dan Vita bersamaan, mereka menatap Alvin dan Nayla bergantian.
"Apa ada yang kalian sembunyikan dari kami?" tanya Fandi kepada Alvin dan Nayla.
Nayla menatap ke arah Alvin sejenak
"Kak Ifan, sebenarnya Alvin mau mentraktirku makan karena aku berhasil membujuk Pak Hendrawan untuk mau berinvestasi di perusahaan kita," jawab Nayla kemudin. Dia tidak ingin melukai hati Vita dengan mengatakan hal yang sebenarnya.
"Apa itu benar, Al?" tanya Fandi yang masih belum merasa puas dengan jawaban dari Nayla barusan. Kini giliran Alvin yang menatap Nayla.
"Fandi, Vita, sepertinya sudah saatnya aku jujur dengan kalian mengenai hubunganku dengan Nayla," Alvin mulai membuka suara.
Alvin menarik salah satu tangan Nayla, di menunjukkan cincin yang di pakai di jari kelingking Nayla dan juga di jari kelingkingnya kepada dua orang di depannya.
"Kalian pacaran?" tanya Fandi.
__ADS_1
"Tidak. Kami tidak hanya berpacaran, tapi kami juga sudah menikah." Pernyataan Alvin barusan membuat Fandi dan Vita terperangah, keduanya masih belum percaya dengan yang baru saja mereka dengar.
"Apa itu benar, Nay?" tanya Fandi yang kini beralih menatap Nayla. "Iya, Kak. Aku dan Alvin memang sudah menikah," jawab Nayla.
"Al, bukankah kita ini sahabat kenapa kamu tidak jujur padaku?" tanya Fandi yang merasa sedikit kecewa dengan sikap sahabatnya tersebut.
"Dan kamu, Nay. Jika kamu dan Alvin sudah menikah kenapa waktu itu kamu malah mengajakku untuk berpacaran?" Kini giliran Nayla yang mendapat pertanyaan dari Fandi.
"Maafkan aku, Kak," ucap Nayla. "Aku terpaksa melakukan hal itu. Bukan maksudku untuk membohongi Kak Ifan dan juga Vita. Hanya saja ada sesuatu hal yang memaksaku harus melakukan hal itu," jelas Nayla.
Fandi menghela napasnya, dia kembali menatap Alvin dan Nayla bergantian.
"Aku memang kecewa karena kalian tidak mengatakan status kalian dari awal. Tapi aku senang, karena ternyata orang yang menikah dengan sahabatku adalah kamu, Nay," tambah Fandi.
"Selamat ya," ucap Fandi seraya memberikan pelukan kepada sahabatnya tersebut. Berbeda dengan Fandi yang ikut merasakan kebahagiaan Alvin dan Nayla. Vita justru semakin ingin merebut Alvin dari tangan sahabatnya tersebut.
"Aku pasti akan merebut Kak Alvin dari tanganmu, Nay. Tidak perduli status kalian saat ini apa, yang jelas cepat atau lambat aku pasti akan bisa mendapatkan Kak Alvin," kata Vita dalam hati.
__ADS_1
Vita berpura-pura tersenyum dan memberikan pelukan kepada sahabatnya.