
Hari itu, Arvin begitu puas bisa bermain dengan bundanya. Dia bahkan sangat senang saat Sang bundanya menemaninya menaiki roller coaster.
Usai bermain, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Di sana Sang kakek sudah menunggu mereka di ruang tamu, dia duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
Arvin berlari memeluk kakek buyutnya saat sudah tiba di rumah. Dia juga naik ke atas pangkuannya.
"Apa Ar senang hari ini?" tanya Hendrawan kepada cucu buyutnya.
"Sangat senang Kakek, tapi akan lebih menyenangkan jika Ar bisa pergi dengan kalian semua, termasuk ayah Ar."
Nayla dan Hendrawan sama-sama menatap bocah kecil itu. Mereka merasa kasihan dengan Ar yang sepertinya merindukan sosok ayah.
"Dengar Ar, kamu tidak perlu merindukan ayahmu yang jahat itu."
"Kakek! Cukup!"
"Kenapa kamu masih membela suamimu itu? Suami yang bahkan tidak pernah mencarimu dan juga anakmu," sarkas Hendrawan.
Laki-laki paruh baya itu betul-betul membenci Alvin. Kalau saja bisa, dia sudah tidak ingin menjalin kerjasama apapun dengan Grup H. Namun, demi menyelidiki dalang dari orang yang mencelakai cucunya, dia masih memberikan ijin kepada Nayla untuk kembali melanjutkan kontrak kerjasama yang telah usai.
"Kek, kita jangan meng--judge Al buruk sebelum tahu apa yang membuat dia tidak mencariku." Nayla menjeda kalimatnya sejenak. "Dan soal Arvin, dia bahkan belum mengetahui kalau aku hamil. Jadi bagaimana dia bisa tahu kalau aku memiliki anak."
"Ar, dengar Bunda. Ar adalah anak baik, jadi Ar tidak boleh membenci ayah. Mengerti!"
Walau masih bingung dengan perdebatan dua orang dewasa di depannya, Arvin tetap menganggukkan kepalanya.
"Sekarang Ar masuk kamar dan belajar!" suruh Nayla.
__ADS_1
Arvin menuruti perintah bundanya, dia segera pergi meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam kamarnya.
"Kek, aku mohon jangan tanam kebencian di hati Ar. Biarkan Ar menjalani hidupnya tanpa menyimpan kebencian terhadap siapapun!"
"Baiklah," jawab Hendrawan.
"Aku juga ke kamar ya, Kek. Aku ingin membersihkan diri!" pamit Nayla.
Diapun meninggalkan ruangan itu dan berjalan menuju kamarnya.
*****
Malam harinya ...
Sarah menghampiri Alvin yang saat itu sedang sibuk di ruang kerjanya. Dia duduk di bangku kosong yang ada di depan putranya tersebut.
"Al, ada yang harus ibu katakan padamu," Sarah membuka pembicaraan.
Alvin menghentikan pekerjaannya dan menatap Sang ibu.
"Apa yang Ibu katakan?" tanya Alvin.
"Sebenarnya .. di hari Nayla kecelakaan ibu juga menemukan ini," Sarah menunjukkan sesuatu di tangannya. Sesuatu yang sudah dia simpan selama 5 tahun.
Alvin menatap benda yang di tunjukkan oleh ibunya. Dia ternganga melihat benda tersebut, benda yang di tunjukkan oleh ibunya adalah sebuah tespect.
"Maksud Ibu, Nayla hamil?!" tanya Alvin tidak percaya.
__ADS_1
"Iya, mungkin dia belum mengatakannya padamu karena dia ingin menyampaikannya saat kamu kembali nanti." Sarah kembali menarik napasnya kemudian menghembuskannya. "Tapi ternyata takdir berkata lain. Nayla mengalami kecelakaan."
"Jika Nayla masih hidup, dia pasti akan sangat lucu dan menggemaskan." Alvin mengambil tes pack yang pernah di pakai oleh istrinya. Dengan tersenyum Dia menatap dua garis yang ada di sana, senyum yang justru menampakkan kesedihan yang mendalam di matanya.
"Al, apa kamu pernah memastikan kalau mayat yang di temukan itu adalah mayat Nayla?" tanya Sarah.
Lagi-lagi Alvin menatap ibunya, dia baru menyadari kalau selama ini dia belum pernah memastikan mayat itu secara langsung. Dia hanya percaya dengan laporan yang di sampaikan oleh dokter. Selama ini dia bahkan menyerahkan semuanya ke Fandi.
"Tapi aku sudah menyerahkan semuanya pada Fandi dan aku yakin Fandi tidak akan pernah membohongiku," tutur Alvin.
"Dia memang tidak akan membohongimu, tapi tidak ada salahnyakan mengecek semuanya," jelas Sarah.
Alvin memikirkan perkataan ibunya barusan.
"Ibu harus menemani Cia tidur sekarang. Ibu harap kamu memikirkan semua ucapan Ibu tadi."
Sarah kemudian meninggalkan ruang kerja anaknya.
Semoga kamu mau melaksanakan semuanya dan kebenaran tentang Nayla bisa segera terungkap.
******
Keesokan harinya Alvin menyempatkan diri untuk mampir ke kantor polisi guna menanyakan tentang kasus kecelakaan istrinya.
Dan di luar dugaan, ternyata kasus itu telah di cabut, padahal ada beberapa kejanggalan di dalamnya. Bahkan di laporan itu tertulis kalau pihak keluarga telah menerima kejadian itu sebagai kecelakaan biasa dan tidak ingin melanjutkan semua kasusnya. Dan satu lagi yang membuat Alvin makin bertanya-tanya, tidak adanya laporan DNA di laporan itu.
Tapi kenapa waktu itu Fandi bilang kalau berdasarkan tes dna, mayat itu adalah mayat Nayla. Kenapa Fandi harus berbohong soal ini?
__ADS_1
Alvin hanya bisa menerka-nerka dalam fikirannya. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi beberapa detektif untuk kembali menyelidiki kasus kecelakaan istrinya dan kali ini tanpa di ketahui oleh Fandi.