
Hari itu, Sarah datang ke kantor Alvin untuk mengingatkan kepada anaknya kalau malam ini ibu Reto akan mengadakan pengajian untuk mengirimkan doa kepada almarhum Nayla. Karena hari ini adalah hari ulang tahun Nayla yang ke 26. Selama ini meskipun Nayla sudah di anggap meninggal, Bu Retno beserta anak-anak panti selalu merayakannya dengan cara berdoa bersama.
"Jam berapa acaranya?" tanya Alvin.
"Habis isya," jawab Sarah. "Al, apa kamu sudah melakukan hal yang ibu bilang padamu?"
Alvin menatap ibunya.
"Aku sedang menyelidikinya, Aku harap bisa secepatnya mengetahui keberadaan Nayla," jawab Alvin.
"Jadi kamu sudah tahu kalau mayat yang waktu itu kita makamkankan bukan mayat Nayla?" tanya Sarah antusias, dia begitu bahagia karena Alvin akhirnya tahu kalau mayat yang mereka makamkan waktu itu bukanlah mayat Nayla.
"Iya, Bu," jawab Alvin.
"Semoga kita secepatnya bisa menemukan Nayla. Karena ibu yakin, jika Nayla memang masih hidup kemungkinan anakmu juga masih hidup."
"Semoga saja, Bu. Karena aku juga ingin secepatnya bertemu dengan istri dan anakku," ucap Alvin.
'Si*l! Jadi ini ulah si Sarah?! Awas saja kamu Sarah, sepertinya aku juga harus menyingkirkanmu sama seperti aku menyingkirkan Tasya'
Vita yang berdiri di balik pintu membatin. Dia kembali mendengarkan percakapan antara Sarah dengan Alvin.
"Ibu, pamit ya Al. Ibu akan ke panti asuhan setelah menjemput Cia dari sekolahnya."
"Hati-hati ya Bu," ucap Alvin.
Sarah berjalan meninggalkan ruang kerja putranya. Dia berjalan menuju ke tempat di mana mobilnya di parkirkan. Dia segera naik ke dalam mobil,
Diam-diam Vita mengikuti Sarah, dia ingin mencari kesempatan yang tepat untuk menyingkirkannya.
Dalam perjalanan menuju sekolah putri-nya, Cia. Sarah memutuskan untuk mampir ke sebuah toko kue untuk membelikan kue brownis kesukaannya.
"Pak, nanti berhenti di depan toko kue ya. Ada sesuatu yang harus aku beli untuk Cia!" pintanya kepada Sang sopir.
"Baik, Nyonya," jawab Sang sopir taksi.
"Tidak perlu menyeberang, biar saya turun dari mobil dan menyeberang sendiri! Kamu parkirkan saja mobilnya di sini!" seru Sarah kepada Sang sopir.
Sang sopir segera memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Dengan sedikit terburu-buru, Sarah ke luar dari taksi. Dia menengok ke kanan dan ke kiri, setelah dirasa aman, dia segera melangkah untuk menyeberang. Dan baru saja dia melangkahkan kakinya untuk menyeberang, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi hampir saja menabraknya, untungnya seseorang berhasil menyelamatkan nyawanya.
"Terimakasih," ucap Sarah dengan nafas tersengal karena ketakutan, hampir saja nyawanya melayang.
"Tidak apa-apa," jawab orang itu.
'Bukankah itu mobil Vita? Kenapa dia ingin menyingkirkan ibu Sarah? Apa ibu Sarah mengetahui sebuah rahasia?'
Orang itu membatin, setelah memperhatikan mobil yang hampir menabrak ibu mertuanya tersebut.
__ADS_1
"Kamu Nadhira-kan?" tanya Sarah yang mengenali orang yang menolongnya adalah Nadhira.
"Iya," jawab Nadhira sembari tersenyum.
"Terimakasih ya Nak karena kamu telah menyelamatkan saya. Kalau tidak ada kamu mungkin nyawaku sudah hilang tadi," ucap Sarah.
Nadhira hanya membalas ucapan itu dengan senyuman. "Ohya, sepertinya aku pernah melihat mobil tadi di perusahaan Pak Alvin," Nadhira sengaja memancing.
Sarah ikut melihat mobil yang hampir menabaraknya, mobil itu memang sudah menjauh, tapi dia bisa mengenali kalau mobil itu adalah milik Vita.
"Sepertinya begitu," jawab Sarah.
'Apa Vita mendengar pembicaraanku dengan Alvin tadi?'
Tiba-tiba tubuh Sarah bergetar, dia kembali mengingat kejadian saat Vita menghabisi nyawa Tasya.
"Ibu? Ibu kenapa?" tanya Nadhira yang melihat perubahan pada raut wajah wanita di depannya.
"Cia .." panggil Sarah tiba-tiba.
"Maaf, aku harus pergi. Aku harus menyelamatkan putriku," ucap Sarah. Dia langsung kembali masuk ke dalam mobilnya dan menyuruh sopirnya itu melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke sekolah anak angkatnya, Cia.
"Menyelamatkan?!"
Nadhira yang mengingat kekejaman Vita-pun ikut masuk ke mobilnya dan mengikuti mobil Sarah. Dia juga takut kalau Vita akan mempergunakan Cia untuk mengancam mertuanya.
"Kamu jangan libatkan dia!" kata Sarah dengan menarik tangan Cia agar mendekat ke arahnya.
Vita tersenyum smirk.
"Kalau begitu ayo kita bicara!" ajak Vita.
Vita membawa Sarah dan Cia masuk ke dalam mobilnya.
"Katakan apa maumu!" suruh Sarah tanpa basa basi.
"Suruh Kak Al untuk tidak lagi mencari keberadaan Nayla!" Vita menajamkan matanya ke arah Sarah. "Kamukan yang telah menyuruh Kak Al untuk kembali menyelidiki kasus itu?"
Sarah menelan salivanya karena takut.
"Atau kamu ingin aku menyingkirkan putri angkatmu sama seperti aku menyingkirkan Nayla dan Tasya?" kembali Vita memberikan ancaman kepada Sarah.
Diam-diam ada yang mendengar pembicaraan mereka, dia juga merekam semua yang di bicarakan mereka.
"Tolong jangan bawa putriku ke dalam masalah ini!" pinta Sarah.
"Semua yang menghalangi jalanku untuk mendapatkan cinta Kak Alvin akan aku singkirkan, tidak terkecuali putrimu. Kecuali, jika kamu bisa membujuk Kak Alvin untuk menghentikan pencariannya."
__ADS_1
Sarah berfikir sejenak.
"Baiklah, tapi berjanjilah untuk tidak mengganggu putriku!" Sarah memeluk Cia yang berada di sebelahnya.
"Keluarlah dan buktikan ucapanmu! Kalau sampai aku mengetahui Kak Al masih mencari Nayla atas dukunganmu, bersiaplah untuk kehilangan putrimu!" Kembali Vita memberikan tatapan tajamnya.
Sarah mengangguk dengan cepat, dia segera membawa putrinya tersebut keluar dari mobil Vita.
"Ibu, apa benar Kak Nayla masih hidup?" tanya Cia.
Sarah berjongkok di depan Cia, dia menggenggam kedua tangan putrinya.
"Cia Sayang, pura-puralah kamu tidak mendengar semuanya. Anggaplah Kakak Naylamu sudah meninggal, ibu tidak mau terjadi sesuatu padamu!" pinta Sarah.
"Tapi Ibu, kasihan Kak Alvin."
"Cia, percayalah. Kak Alvin pasti akan tetap mencari keberadaan Kak Nayla tanpa kita ikut campur. Saat ini yang paling penting adalah keselamatan Cia. Ibu tidak mau Cia kenapa-napa, setidaknya kita harus diam sampai Kak Nayla benar-benar kembali bersama kita," tutur Sarah.
Cia pun mengangguk.
"Sekarang ayo kita ke panti, kita bantu Ibu retno di sana!" ajak Sarah.
Sarah dan Cia segera meninggalkan tempat tersebut.
'Akhirnya satu bukti sudah aku dapatkan.'
Ungkap orang yang tadi merekam pembicaraan Vita dan Sarah. Dia mengirimkan video tersebut kepada seseorang.
Nadhira atau Nayla yang sempat mengikuti mobil Sarah kehilangan jejak gara-gara terhalang lampu merah saat hendak melewati perempatan jalan.
"Dimana Cia bersekolah?" gumam Nayla.
Namun karena tak kunjung menemukannya, Nayla memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Dia hanya bisa berdoa semoga Cia dalam keadaan baik.
*****
Alvin langsung pergi meninggalkan kantornya, saat detektif yang dia suruh memberitahu kalau dia sudah menemukan keberadaan Nayla.
Dia menemui detektif suruhannya di sebuah coffeshop yang berada di pinggiran kota.
"Katakan padaku dimana Nayla!" Alvin tidak sabar ingin segera mengetahui keberadaan istrinya.
Detektif itu mulai menceritkan apa yang dia temukan di sertai dengan beberapa petunjuk yang dia dapatkan.
Tangan Alvin bergetar saat dia memegang salah satu foto yang di tunjukkan oleh detektif tersebut. Alvin meninggalkan tempat itu bahkan sebelum Sang detektif menyelesaikan laporannya.
Dengan kecepatan penuh, Alvin mengendarai mobilnya ke suatu tempat. Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah, Alvin langsung menerobos masuk ke dalam rumah itu.
__ADS_1
"Maafkan aku .." ucap Alvin dengan duduk bersimpuh di hadapan dua orang di depannya.