
Seharian Alvin menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya. Sebenarnya Alvin ingin sekali bisa membawa anak dan istrinya pulang ke kediaman Hadinata, namun kakek Hendrawan belum mengijinkannya. Dia tidak mau kalau cucunya dalam bahaya.
Sore itu sebelum pulang Alvin mengajak anak dan istrinya berjalan-jalan di taman yang tidak jauh dari kediaman Kakek Hendrawan. Mereka berada di taman itu sekitar 30 menit, sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang. Alvin kembali mengantar Nayla dan anaknya ke rumah kakek Hendrawan.
Dan saat itulah, Vita yang kebetulan lewat melihat ke akraban mereka dari dalam mobilnya.
'Kenapa aku merasa ada yang janggal dengan hubungan mereka? Apa mereka bukan hanya rekan kerja? Tidak! Aku tidak akan membiarkan orang lain merebutmu. Aku pasti akan segera menyingkirkannya!"
Vita mengepalkan tangan menahan segala kecemburuannya.
******
"Nay, beneran kamu gak mau ikut menemui ibu Retno?" tanya Alvin sebelum dia berpamitan.
"Untuk saat ini aku belum bisa, Al," jawab Nayla. "Benar apa kata Kakek, sebelum Vita benar-benar di tangkap akan sangat berbahaya untuk Ar."
Alvin terdiam.
"Al, ada apa?" tanya Nayla.
Alvin menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
"Jujur saja satu sisi aku membenci Vita karena semua perbuatan keji yang dia lakukan. Tapi disisi yang lain aku juga kasihan padanya, hanya karena dia terobsesi untuk memiliki aku, dia jadi berubah dari gadis yang polos, lembut dan baik hati menjadi gadis yang kejam," ujar Alvin.
"Kamu benar, Al. Vita yang aku kenal adalah Vita yang baik hati, dia bahkan tidak pernah memandang teman melalui status sosialnya. Dan dialah satu-satunya orang yang mau berteman denganku sejak kami mulai masuk kuliah. Dia juga selalu membantuku memenuhi kebutuhan anak-anak panti," Nayla menambahkan.
"Tapi obsesinya terhadap dirimu, membutakan segalanya, termasuk mata hatinya," tambah Nayla.
Alvin menarik tangan tangan Nayla kemudian menggenggamnya.
"Selain kita harus bisa memenjarakan Vita, kita juga harus berdoa semoga Vita segera kembali seperti dulu."
"Kamu benar, Al."
"Aku pergi ya, besok aku akan ke sini lagi."
"Hati ya Al," ucap Nayla.
Kini perhatian Alvin beralih ke arah putranya yang sejak tadi berdiri di sebelah bundanya. Alvin berjongkok di depan putranya tersebut.
"Ar, maafkan Ayah karena ayah belum bisa membawa Ar dan Bunda pulang ke rumah. Ayah janji, saat semuanya sudah membaik Ayah akan membawa Ar dan Bunda pulang ke rumah."
"Iya, Ayah. Ar akan menunggu sampai saat itu tiba," jawab Arvin.
Alvin memeluk putranya sebentar kemudian dia kembali berdiri dan beralih menatap Nayla.
"Bolehkah, aku menciummu!" Alvin meminta ijin kepada istrinya.
"Tapi Al, ada Arvin di sini," jawab Nayla berbisik.
__ADS_1
Alvin menutup mata putranya dengan satu telapak tangannya. Kemudian tangannya yang satu lagi menarik tengkuk istrinya agar lebih mudah untuk dia melancarkan aksinya. Cukup lama bibir mereka berdua saling bertemu dan bertukar saliva. Hingga akhirnya mereka tersadar kalau saat ini tidak hanya ada mereka, tapi juga putra mereka.
Alvin dan Nayla melepaskan pagutan bibir mereka. Mereka berdua tersenyum saat mendengar protes dari Arvin.
"Ayah, kenapa mata Ar di tutup?" Arvin menyingkirkan telapak tangan ayahnya yang menutupi matanya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Hanya saja kamu belum cukup umur untuk melihatnya," jawab Alvin seraya mengacak rambut putranya.
"Melihat apa?" tanya Arvin bingung.
"Tidak Ar, ayah hanya bercanda tadi." Nayla menajamkan matanya menatap Alvin.
"Ya sudah, aku pamit ya Nay. Jaga diri kalian." Setelah mengatakan itu Alvin masuk kedalam mobilnya. Kemudian dia mengendarai mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Aditama.
*****
Sesuai rencana sebelumnya, malam harinya Alvin datang ke tempat Ibu Retno yang sedang menggelar doa, untuk mendoakan keselamatan Nayla. Sejak Nayla hilang 5 tahun lalu, bahkan di nyatakan meninggal, ibu Retno tidak henti-hentinya mengirimkan doa untuk Nayla. Dia selalu berharap agar semua kejadian itu hanya sebuah mimpi buruk baginya.
"Maaf, saya terlambat," ucap Alvin kepada wanita yang sudah di anggap ibu oleh Nayla.
"Tidak apa-apa Al, ibu senang karena kamu masih menyempatkan waktu untuk datang ke sini," jawab Ibu Retno.
Binar matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Ingin rasanya Alvin memberitahu dia, kalau Nayla masih hidup. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan mengingat Vita masih berkeliaran di sekitar mereka.
Tidak hanya Alvin, Ibu Sarah, Cia, Fandi bahkan Vita juga hadir di acara tersebut.
Vita terus mengamati gerak gerak Alvin. Setelah dia melihat kedekatan Alvin dengan rekan bisnisnya Nadhira. Dia ingin tahu sudah sedekat apa hubungannya dengan Nadhira.
"Aku ada pertemuan dengan Pak Hendrawan dan cucunya. Kami ingin mengadakan kesepakatan baru untuk tender yang akan di mulai bulan depan," jawab Alvin panjang lebar. Dia yakin kalau Vita juga sedang menyelidiki dirinya.
Jadi mereka tadi bertemu untuk urusan bisnis?
Nampak Vita tersenyum setelah mendengar penjelasan Alvin.
"Ibu Retno, Saya pamit. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan," pamit Alvin begitu acara selesai.
"Kak Al, aku ikut mobil Kak Al ya?"
Jika aku menolak yang ada Vita bakalan curiga.
"Iya, boleh. Tapi bagaimana dengan mobilmu?" tanya Alvin. Sebenarnya itu hanya alasan Alvin untuk menolak Vita.
"Kan ada Kak Fandi, biar Kak Fandi membawa mobilku," ucap Vita.
"Iyakan, Kak?" tanya Vita kepada Kakaknya.
"Iya, Al. Mobil Vita biar aku yang bawa," jawab Fandi yang terpaksa meng--iyakan ucapan adiknya.
"Ya, sudah. Ayo jalan! Aku tidak mau telat menemui rekan bisnisku."
__ADS_1
Alvin dan Vita meninggalkan rumah ibu Retno terlebih dulu. Vita begitu bahagia karena akhirnya dia bisa pulang bersama laki-laki yang menjadi pujaannya selama ini.
"Kak, Al," panggil Vita saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Ada apa Vit?" tanya Alvin tanpa menoleh ke arah Vita. Matanya fokus dengan gagang stir di depannya.
"Apa Kak Al tidak ingin menikah lagi?" tanya Vita lagi.
"Setelah kematian Nayla. Tidak ada lagi yang bisa menggantikan posisinya di hatiku," jawab Alvin jujur.
"Tapi Kak Al, Kak Al juga butuh anak untuk bisa meneruskan garis keturunan Hadinata dan itu hanya bisa terjadi jika Kak Al menikah."
"Ada Cia, dia bisa meneruskan garis keturunan Hadinata."
"Tapi Cia--kan hanya anak angkat, mana bisa dia menggantikan garis keturunan Hadinata." Kembali Vita memancing Alvin agar mau menikah lagi.
"Untuk saat ini, aku masih ingin seperti ini. Tapi jika Tuhan telah menggariskan aku untuk memiliki istri dan keturunan pasti dengan mudah Tuhan akan memberikannya," jawab Alvin yang terdengar diplomatis.
Sepertinya aku harus melakukan hal yang dulu pernah aku lakukan. Mungkin dulu aku gagal karena Kak Al sudah pulang terlebih dulu. Tapi kali ini aku pasti tidak akan gagal.
"Berhenti sebentar Kak, aku ingin membeli air mineral. Mendadak tenggorokanku kering," ucap Vita sambil memegangi tenggorokannya.
Alvin memarkirkan mobilnya di bahu jalan. Vita ke luar dari dalam mobil dan masuk ke sebuah minimarket untuk membeli 2 buah botol air meneral. Diam-diam dia memasukkan serbuk ke dalam botol air tersebut. Setelah selesai barulah dia kembali masuk ke dalam mobil Alvin.
"Kakak pasti juga haus, ini buat Kak Al," ucap Vita yang memberikan 1 botol air mineral kepada Alvin.
"Terimakasih," ucap Alvin.
"Aku bukakan ya Kak." Vita membantu Alvin membuka botol air mineral tersebut. Kemudian dia kembali menyerahkannya kepada Alvin.
"Ayo Kak di minum!" suruh Vita.
"Iya."
Namun saat Alvin hendak meminum air mineral pemberian Vita, mendadak ban mobil Alvin kempes.
"Separtinya ban mobilku sedikit kurang angin, aku harus cari bengkel untuk menambahkan angin."
Alvin meletakkan kembali botol pemberian Vita, matanya kini menatap ke segala arah untuk mencari bengkel yang masih buka. Alvin segera menepikan mobilnya saat ada mesin nitrogen di sebuah bengkel yang masih buka.
"Vit, tolong kamu suruh Masnya buat mengisikan angin ya!" seru Alvin.
Vita pun turun dari mobil dan melakukan apa yang di suruh oleh Alvin. Setelah di rasa cukup, Vita kembali masuk ke dalam mobil milik Alvin.
"Ayo Kak, jalan!" suruh Vita.
Alvin kembali menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
"Kakak tidak minum airnya?" tanya Vita .
__ADS_1
Alvin kembali meminum air mineral pemberian dari Vita. Dia bahkan minum air tersebut hingga tinggal setengahnya. Vita merasa begitu senang karena rencanaya berhasil. Apa lagi saat dia melihat Alvin yang sudah mulai sering menguap.