
Pagi itu terdengar suara orang yang sedang muntah di kamar mandi. Alvin yakin kalau itu adalah suara istrinya, Nayla. Alvin yang saat itu sedang mengerjakan pekerjaan kantornya segera menghampiri istrinya yang masih muntah-muntah di kamar mandi.
"Nay, kamu tidak apa-apakan?" tanya Alvin cemas. Dia memijit tengkuk istrinya pelan.
Badan Nayla yang mengeluarkan keringat dingin dan wajahnya yang pucat, membuat Alvin semakin mengkhawatirkan keadaan istrinya. Apalagi hal ini sudah terjadi sejak beberapa hari yang lalu.
"Sebaiknya kita pergi untuk periksa ke dokter, aku takut kamu kenapa-napa, Sayang."
"Tidak Al aku baik-baik saja," jawab Nayla.
Alvin memapah tubuh istrinya dan membawanya untuk duduk di tepi ranjang.
"Sebentar ya sayang!" seru Alvin, dia pergi keluar dari kamar mereka. Tidak lama kemudian Alvin kembali dengan membawa secangkir teh hangat dan membantu istrinya meminum teh hangat tersebut.
"Sudah, Al. Aku sudah tidak ingin minum lagi," tolak Nayla sembari mendorong sendok yang akan menyuapinya.
Alvin meletakkan cangkir yang ada di tangannya di atas nakas. Kini tangannya beralih mengambil sesuatu dari dalam laci, lebih tepatnya mengambil botol minyak kayu putih. Alvin membuka botol kecil berisi minyak kayu putih tersebut dan mengoleskannya pada tengkuk istrinya.
"Ayo kita pergi ke Dokter saja, aku tidak tega melihatmu seperti ini!" ajak Alvin.
__ADS_1
"Tidak Al, aku tidak suka mencium bau obat-obatan di rumah sakit," tolak Nayla.
"Nayla Sayang, tapi jika kita tidak pergi ke Dokter kita tidak akan tahu penyebab kamu seperti ini apa."
"Sebenarnya tanpa pergi ke Dokterpun aku sudah tahu penyebab aku seperti ini."
Alvin mengernyitkan dahi menatap istrinya.
Kini giliran Nayla yang mengambil sesuatu dari dalam laci. Nayla memberikan benda yang dia ambil kepada Alvin.
"Bukankah ini ...."
Alvin langsung memeluk tubuh istrinya kemudian menghujaninya dengan ciuman.
"Terima kasih, sayang. Terimakasih karena kamu mau mengandung anakku lagi."
"Kamu ini bicara apa sih Al. Tentu saja selamanya aku akan ikhlas mengandung anakmu, bahkan mau sepuluh atau sebelas anakpun aku akan sangat ikhlas melakukannya," jawab Nayla.
"Benar kamu ikhlas mengandung sebelas anakku?"
__ADS_1
"Itu hanya perumpaan Al, tapi jika memang Tuhan memberikan kita anak sebanyak itu, aku pasti akan ikhlas bahkan sangat ikhlas."
"Tapi aku yang tidak tega harus melihatmu menderita seperti ini," ucap Alvin. "Cukup 2 atau 3 saja."
Kini giliran Nayla yang memeluk Alvin dengan sangat erat.
"Tapi kita tetap harus ke Dokter untuk memastikannya. Dan selain itu, mungkin ada obat atau sesuatu yang bisa aku minta untuk mengurangi rasa mual yang kamu rasakan."
"Tapi Al ...."
"Tidak ada tapi, aku ingin memastikan kondisi tubuhmu dan calon anakku dalam perutmu ini baik-baik saja," sela Alvin sambil mengusap perut Nayla yang masih rata.
"Bukan anakmu, tapi anak kita. Ingat Al, anak Kita." protes Nayla yang menekankan kata kita pada ucapannya.
"Iya sayang, iya, anak kita."
Alvin dan Nayla saling melempar senyuman. Kedua manik mereka saling tatap, perlahan tapi pasti jarak diantara wajah keduanya semakin berkurang. Nayla memejamkan matanya untuk bersiap menerima ciuman dari suaminya. Namun saat bibir keduanya hampir menyatu tiba-tiba ....
"Ayah, Ibu."
__ADS_1
Suara Arvin dari arah pintu menginterupsi keduanya, tanpa merasa berdosa, Arvin duduk di antara kedua orang tuanya. Alvin dan Nayla kembali tersenyum, kemudian memeluk putra mereka bersamaan.