Perjalanan Cinta Nayla

Perjalanan Cinta Nayla
Kembali ke Perusahaan


__ADS_3

Seorang laki-laki paruh baya duduk di balkon kamarnya. Dia duduk bersama dengan asisten pribadinya Leo.


"Bagaimana kerjasama perusahaan kita dengan grup H, apa semuanya berjalan lancar?" tanya Hendrawan kepada asistennya.


"Sampai saat ini semuanya masih berjalan lancar," jawab Leo.


"Ohya Pak, ada satu hal yang harus saya sampaikan kepada Bapak."


"Apa itu?" tanya Hendrawan lagi.


"Pak Alvin, dia baru saja kembali dari luar negeri," Leo memberitahu. "Apa tidak sebaiknya, Bapak menceritakan semuanya kepada Pak Alvin?"


Hendrawan menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya.


"Aku masih kecewa kepadanya," jawab Hendrawan seraya melempar pandangannya jauh ke depan.


"Pak, dari hasil penyelidikan yang aku lakukan selama ini. Sepertinya bukan Pak Alvin yang meminta kasus itu di tutup, tapi orang lain yang mengatas namakan dirinya."


Hendrawan menatap mata asistennya, meminta penjelasan dari hal yang baru saja dia katakan.


"Ketika tahu kalau Nona Nayla meninggal, Pak Alvin seperti orang yang kehilangan pegangan. Yang aku dengar dia bahkan sampai depresi hingga harus di bawa ke luar negeri untuk berobat. Dan saat dia sedang berada di luar negeri itulah kasus itu tiba-tiba saja di tutup," jelas Leo. "Dan aku yakin, orang yang menutup kasus tersebut, adalah orang yang tahu siapa yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi."


"Tapi tetap saja aku belum yakin, kalau Alvin bisa menjaga cucuku dengan baik," ucap Hendrawan, dia mengambil cangkir yang berisi teh dan menyeruputnya. "Untuk sementara biarkan semuanya begini, setidaknya cucu dan cucu buyutku akan aman berada di sini," lanjutnya.


"Kakek besar!" panggil Arvin seraya berlari menghampiri kakek buyutnya. Dia memeluk, kemudian duduk di pangkuan kakek buyutnya tersebut.


"Bagaimana jalan-jalannya hari ini? Apa menyenangkan?" tanya Hendrawan kepada cucu buyutnya.


"Sangat menyenangkan," jawab Arvin di sertai senyum lebarnya.


"Tapi tadi dia hampir saja tertabrak," suara Nadhira memberitahu.


Leo beranjak dari tempatnya duduk dan mempersilahkan nona mudanya untuk duduk.


"Terimakasih," ucap Nadhira.


Hendrawan langsung melihat kondisi cucu buyutnya secara teliti.


"Dia tidak apa-apa, Kek." Nadhira meletakkan tas jinjingnya di atas meja.


"Syukurlah, kakek hanya takut terjadi apa-apa sama cucu buyutku," kata Hendrawan.


"Bunda, aku main sama Om Leo ya!" Arvin turun dari pangkuan kakek buyutnya, dia menarik-narik tangan Leo agar mau bermain bersamanya.


"Iya, Sayang. Hati-hati," jawab Nadhira.


Leo meninggalkan balkon tersebut untuk menemani Arvin bermain.


"Dhira, kenapa kamu tidak menikah saja dengan Leo. Aku lihat Arvin selalu senang saat bermain dengan Leo?" tanya Hendrawan seraya menatap cucunya.


.


"Kek, aku belum berfikir untuk menikah," ucap Nadhira. "Aku merasa ada sesuatu yang penting yang aku lupakan. Aku ingin bisa mengingat semuanya, Kek."

__ADS_1


"Apa kamu tidak merasa bahagia karena lupa dengan masa lalumu?" tanya Hendrawan lagi.


"Aku bahagia karena memiliki kakek dan juga Arvin. Tapi...aku merasa ada sesuatu yang sangat penting yang hilang dari hidupku. Meski aku tidak tahu apa itu." kata Nadhira. Nadhira menyentuh dadanya sendiri, dia merasa ada sesuatu yang berharga yang hilang di sana.


"Kek, apa kakek bisa menceritakan semua masa lalu yang tidak aku ingat!" Nadhira menatap kakeknya penuh harap.


"Bukankah sudah berkali-kali kakek bilang padamu, kalau masa lalumu itu menyedihkan. Kamu di tinggal oleh suamimu saat kamu sedang mengandung," jawab Hendrawan ketus.


"Kek, bisakah aku melihat foto mantan suamiku?" tanya Nadhira.


"Kakek sudah membuangnya." Hendrawan meninggalkan Nadhira seorang diri balkon.


"Kenapa Kakek selalu menghindar, jika aku bertanya soal mantan suamiku?" batin Nadhira, dia pun beranjak meninggalkan balkon tersebut.


*****


Di kediaman Hadinata


Alvin kembali merasakan sesak di dadanya saat dia memasuki kamarnya, kamar yang dia tempati bersama dengan Nayla istrinya. Tidak ada perubahan yang berati dari kamar tersebut kecuali foto Nayla sang istri yang sudah tidak ada di tempatnya.


Alvin membuka lemari yang ada di kamarnya, dan mengambil sebuah kotak dari dalam sana. Sebuah kotak berisi kalung dan kotak musik milik Nayla.


Alvin mengambil kalung dengan liontin berbentuk bulan di dalamnya.


"Nay, aku sangat merindukanmu. Kenapa kamu begitu cepat pergi meninggalkan aku," batin Alvin.


Alvin baru sadar kalau kalung berliontin bintang, milik Nayla tidak ada di sana.


Alvin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia menyetel kotak musik milik Nayla seraya menatap salju di dalamnya. Semakin lama, mata Alvin semakin berat dan akhirnya dia pun tertidur.


*****


Hari ini, Alvin memutuskan untuk mulai menjalankan perusahaannya kembali, setelah 5 tahun perusahaan itu dia percayakan kepada sahabatnya Fandi.


Semua karyawan berbaris untuk menyambut kembalinya Alvin ke perusahaan grup H. Alvin menyapa dan menjabat tangan semua karyawannya yang berbaris satu persatu.


Dengan di antar oleh Fandi, Alvin kembali masuk kesebuah ruangan yang sejak dulu menjadi ruang kerja mikiknya.


"Selamat datang kembali di perusahaanmu!" sapa Fandi.


"Terimakasih ya Fan, karena kamu sudah membantuku menjalankan perusahaan ini selama aku di luar negeri," ucap Alvin.


"Jangan sungkan, kita inikan sahabat." Fandi menepuk bahu sahabatnya.


"Ohya, di mana Vita dan Tasya? Aku tidak melihat mereka tadi di lobi?" tanya Alvin kepada Fandi.


"Vita melanjutkan S2 nya di luar negeri, sementara Tasya, dia tidak pernah terlihat lagi sejak kematian Nayla."


Alvin langsung terdiam saat harus kembali mengingat kematian istrinya itu.


"Al .."


Alvin tersenyum sambil menatap ke arah Fandi sahabatnya. Dia tahu kalau Fandi mengkhawatirkan keadaan dirinya.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa kok Fan, semua baik-baik saja," ucap Alvin.


"Ohya, apa agendaku hari ini?" tanya Alvin untuk mengalihkan pikirannya. Dia membuka beberapa berkas yang ada di depannya.


"Hari ini ada kontrak baru yang akan di bahas dengan pimpinan ADITAMA CORP. Mereka meminta kita menemuinya di perushaan mereka, siang ini."


Alvin kembali ingat kalau Nayla adalah orang yang berhasil membujuk pimpinan perusahaan itu agar mau bekerjasama dengan perusahaan miliknya, 5 tahun yang lalu.


"Jam berapa?"


"Jam 2 siang," jawab Fandi. "Mereka bilang kalau mereka tidak akan melakukan kerjasama lagi dengan perusahaan kita kalau kamu sampai terlambat datang."


"Aku tidak akan terlambat, tenang saja," jawab Alvin.


"Al, aku kembali ke ruang kerjaku ya! Kamu bisa mulai memeriksa pekerjaanku selama 5 tahun ini."


"Aku percaya padamu," ucap Alvin. Mendengar kata percaya membuat Fandi seketika terdiam. Dari wajahnya nampak ada sesuatu yang dia sembunyikan.


"Fan, ada apa?" tanya Alvin.


"Maafkan aku, Al. Karena ada satu rahasia besar yang aku sembunyikan darimu," batin Fandi. Satu sisi dia sangat merasa bersalah dengan sahabatnya tersebut, tapi di sisi lain dia tidak mungkin membiarkan orang yang dia sayangi mengalami masalah.


"Tidak ada, Al. Aku permisi!" Fandi segera meninggalkan ruang kerja sahabatnya.


*****


Alvin tiba di perusahaan ADITAMA CORP. tepat pukul dua siang. Salah seorang karyawan dari perusahaan itu membawanya untuk bertemu dengan sang direktur.


"Silahkan, Pak! Ibu sudah menunggu di dalam!" karyawan itu mempersilahkan Alvin untuk masuk.


"Ibu? Bukannya perusahaan ini milik Pak Hendrawan? Kenapa karyawan itu memanggil ibu?" batin Alvin.


Alvin mulai mengetuk pintu ruangan itu, "Masuk!" suara seseorang dari dalam.


Alvin mulai melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu.


"Silahkan duduk!" seru orang itu, tanpa melihat ke arah Alvin.


"Ohya ini kontrak kerjasama kita yang baru, silahkan di ba..,"


"Kamu!" ucap Alvin dan orang itu bersamaan.


(visual Nayla sebelum di operasi)



(Visual Nayla setelah di operasi)



(Visual Arvin)


__ADS_1


__ADS_2