
''Eeiish!''
Dinara membuka mata sambil memegang kepala nya yang terasa pusing, Pandangan nya berputar pada langit langit kamar.
''Di rawat aku.'' Gumam dinara melihat tangan nya yang tertanjap jarum infus.
Namun dinara sama sekali tidak melihat ada nya orang lain, Hanya ia sendiri di dalam ruangan serba putih ini.
''Aku itu mendapat musuh karena kau kenzo! Tapi kau sama sekali tidak menemani aku.'' Kesal dinara menendang nendang udara.
''Oochh! Sakit sekali.''
Bekas tendangan dari para bodyguard paolo masih terasa nyeri di iga nya, Dinara melihat ponsel nya yang ada di atas meja.
''Hari rabu sekarang!'' Teriak dinara kaget.
Dia ingat betul kalau kejadian itu malam selasa, Bararti hampir dua hari ia tidak sadar kan diri.
''Ya allah ken, Kau sungguh keterlaluan padaku. Selama dua hari aku di sini, Kau sama sekali tidak melihat ku.'' Rutuk dinara.
''Siapa tahu dia menjenguk saat kau belum sadar.'' Cetus hati malaikat nya.
''Tidak mungkin ken mau menjenguk mu!'' Cetus hati dajal nya.
''Aahh, Saeekia!''
Dinara mempunyai kebiasaan mengumpat dalam bahasa korea, Tentu saja alasan nya karena penggemar vincenzo cassano.
Ceklek.
Pintu ruangan dinara terbuka, Shiba muncul dengan wajah datar bak malaikat pencabut nyawa.
''Anda sudah sadar nona?'' Tanya shiba mendekat.
''Kau lihat nya bagai mana?!'' Balas dinara jutek.
Shiba sedikit kaget dengan sikap jutek dinara, Mereka tidak tahu kalau itu adalah sifat asli nya dinara aganor.
''Tapi anda hebat sekali bisa bertahan meski di hajar orang orang nya paolo, Anda sangat idaman.'' Puji shiba.
"Hheh! Bagai mana mungkin aku jadi wanita idaman, Sedang kan diri ku kadang ukhti. Kadang juga kunti, Kadang sabar dan kadang juga bar bar!" Sahut dinara.
"Tapi menurut saya anda sangat keren." Puji shiba.
"Haiis, Berisik!"
Kini di hadapan shiba hanya terlihat seekor ulat bulu, Karena menggulung selimut nya sampai atas kepala.
"Saya pamit nona." Ujar shiba meletak kan makanan.
Usai kepergian shiba, Dinara membuka penutup kepala nya. Entah kenapa sekarang semangat juang dinara sudah mulai melemah untuk mendapat kan kenzo.
"Terserah kau ken, Karena aku sekarang sudah kehilangan arah! Jangan kan untuk menentukan pilihan, Bertahan saja aku sulit." Keluh dinara mengusap air yang mengalir dari mata nya.
Rasa nya dinara sudah terlalu lelah untuk bertahan, Mereka juga sudah tinggal satu atap. Tapi kenzo masih saja seperti dulu, Hanya beda nya kenzo sekarang tidak menyiksa fisik dinara.
__ADS_1
...****************...
Gefari menatap putra nya dengan dongkol, Sudah hampir satu jam lama nya ia membujuk kenzo untuk menjemput dinara dari rumah sakit.
"Shiba saja mom." Tolak kenzo masih pada pendirian nya.
"Ara itu istrimu! Kenapa shiba harus menjemput dia, Sedang kan suami nya saja tidak ada kerjaan!" Kesal gefari.
"Tau begitu lebih baik putriku menikah dengan shiba saja." Cetus yarri yang juga ada di sana.
Kenzo menoleh kepada yarri, Ia tidak rela saat mertua nya berucap demikan. Seolah shiba lebik baik dari diri nya.
"Apa kau?!" Sentak yarri karena tahu kenzo melirik nya.
"Dari kemarin kau tidak pulang pulang dari rumah sakit ya ken! Tapi sekarang kenapa kau tidak mau menjemput ara ketika ia sudah sadar?!" Teriak gefari.
"Ken capek mom." Ujar kenzo beralasan.
Yarri sebenar nya ada rasa tidak setuju kalau kenzo masih tetap menjadi menantu nya, Tapi ketika kemarin melihat bagai mana perhatian kenzo pada dinara. Hati yarri jadi tersentuh.
Selama hampir dua hari kenzo tidak pernah pulang, Ia juga yang membasuh tubuh dinara agar tetap bersih.
Tapi tadi ketika akan masuk kembali kedalam ruangan dinara, Kenzo melihat istri nya yang sudah sadar. Hingga kenzo memilih pulang dab menyuruh shiba saja yang masuk.
"Daddy mu itu memang sedikit kurang ajar ken! Tapi dia tidak pengecut seperti mu." Ujar gefari mengejek putra nya.
Jika bukan sang mommy yang mengatai nya pengecut, Mungkin mulut orang itu sudah ken tabok dengan sepatu nya.
"Kau lumpuh anak ku pun mau menerima dan mengurus mu hingga sekarang kau bisa kembali sehat, Tapi kenapa kau bahkan tidak sudi hanya untuk menjemput nya." Ujar yarri menunduk sambil mengusap air mata.
"Aku ini malu!" Batin kenzo.
Setelah hampir lima menit terdiam, Akhir nya kenzo menyambar kunci mobil dan mengajak mereka turut serta.
"Ayo kita jemput ara." Ajak kenzo.
"Kau saja sendiri ken, Kenapa mengajak kami?" Protes gefari.
"Pergi bersama ken atau tidak sama sekali." Ancam kenzo.
Yarri yang memang hanya berpura pura nangis langsung menyeret tangan gefari menuju mobil, Kenzo geleng geleng kepala melihat kelakuan mommy dan papa mertua nya.
"Nanti jangan cemberut kalau ketemu ara!" Peringat gefari.
"Nanti jangan bersikap dingin kalau ketemu ara." Timpal yarri.
"Nanti tuntun ara kalau mau masuk mobil." Ujar gefari lagi.
"Nanti pegang pundak ara sambil di tuntun." Cetus yarri pula.
"Shut up!!"
Sangking kesal nya kenzo, Ia berteriak sambil menabrak kan kepala nya di setir mobil. Dua orang yang di belakang langsung terdiam dan pura pura melihat jalanan.
"Mampir dulu di toko bunga depan sana ken." Pinta yarri menunjuk toko.
__ADS_1
"Hmm."
Mobil kenzo menepi di depan toko bunga yang lumayan banyak pengunjung, Yarri mengambil dompet nya dari saku celana untuk memeriksa uang.
"Apa kau punya uang?" Tanya gefari.
Yarri melirik sinis kepada besan nya, Ia mencabut satu uang kertas berwarna merah dan meniup kewajah gefari.
"Mau beli apa papa ketoko bunga?" Tanya kenzo.
"Mau beli obat kuat!" Ketus yarri.
"Obat kuat?"
"Ya beli bunga lah ken!" Jawab yarri dongkol setengah mati.
Setelah ingin menelan hidup hidup kenzo, Yarri turun dan mengambil bunga mawar putih favorit nya dinara.
"Ayo jalan." Titah yarri ketika sudah selesai.
Kenzo menuruti ucapan papa mertua nya, Yarri meletak kan bunga mawar di samping nya kenzo.
"Nanti kau berikan bunga itu pada ara." Perintah yarri.
"Aku punya uang pa kalau cuma bunga." Rutuk kenzo merasa terhina.
"Dapat uang dari mana kau?! Yang membiayai hidup selama dua bulan ini kan dinara." Ucap gefari terasa pedas di telinga kenzo.
"Minta shiba." Jawab kenzo menebal kan muka.
"Hiiss! Dasar tak tahu malu." Ejek dua orang yang di belakang.
Kini mobil kenzo sudah sampai di halaman parkir rumah sakit, Mereka langsung menuju kamar tempat dinara di rawat.
"Tadi di suruh jemput susah sekali, Sekarang dia berjalan paling cepat." Rutuk gefari.
"Dia kan sama seperti kau! Susah mengakui perasaan." Cetus yarri.
Kenzo membuka pintu kamar dinara, Tapi ia kaget karena ranjang ara sudah kosong. Bahkan kasur itu tampak rapi.
"Dinara!"
Tidak ada sahutan dari kamar mandi, Saat pintu terbuka yang muncul malah perawat yang membersih kan kamar dinara.
"Pasien yang di sini kemana ya sus?" Tanya kenzo.
"Nona dinara sudah pulang tuan." Jawab suster sedikit terpana melihat ketampanan kenzo.
"Pulang? Dengan siapa dinara pulang?!" Tanya kenzo.
"Sendirian tuan." Jawab suster merogoh saku nya.
"Nona dinara menitip kan ini kapada saya, Beliau berkata agar saya memberikan ini kepada tuan kenzo." Beritahu suster.
Kenzo termenung karena ara sudah pulang duluan, Mawar putih ia letak kan pada sofa yang ada di sana.
__ADS_1