Please Love Me Tuan Ken

Please Love Me Tuan Ken
#60


__ADS_3

Tidur ara tidak bisa nyenyak karena takut jika kenzo akan menghilang, Namun ternyata kenzo masih berbaring di samping nya dengan mata tertutup.


''Tolong hilang kan kesedihan suami ku ya allah.'' Batin dinara mengusap rahang suami nya.


Tapi ara jadi kaget karena tubuh kenzo sangat panas, Rintihan kecil juga keluar dari mulut nya. Keringat membasahi tubuh kenzo.


"Abang! Bangun lah bang." Panik ara sedikit mengguncang tubuh suami nya.


Tidak ada sahutan dari mulut kenzo, Pria ini terpejam dengan air mata yang merembes kepilipis nya.


"Mommy! Ken takut sendirian." Rintih kenzo pelan.


Hati dinara bagai kan tersayat sembilu ketika mendengar rintihan suami nya, Kenzo memang sungguh tidak bisa menerima kenyataan jika sang mommy telah pergi meninggal kan nya.


"Abang tunggu dulu ya! Ara mau panggil dokter." Pamit dinara bergegas pergi.


Sedikit berlari ara mendatangi paviliun tempat dokter pribadi mereka, Sedikit kasar ara menggebrak gebrak pintu.


"Buka pintu nya dokter lila! Darurat sekarang." Teriak ara.


"Ada apa nona?" Kaget dokter lila.


"Suami ku demam tinggi, Tolong kau periksa dia sekarang." Pinta ara menarik tangan dokter lila.

__ADS_1


"Tunggu sebentar nona, Aku harus membawa alat nya." Ujar dokter lila bergegas masuk.


Dokter lila menangani kenzo dengan teliti, Jarum infus juga sudah menanjap di tangan kenzo.


"Bagai mana keadaan nya dok?" Tanya ara cemas.


"Tuan ken demam tinggi, Aku sudah memberikan obat turun panas nya." Jawab dokter lila.


"Tapi kenapa dia belum sadar?!" Ara sangat ketakutan.


"Tuan kenzo merasa nyaman seperti ini nona, Tidak ada penyakit serius yang ia derita." Ucap dokter lila hati hati.


"Apa maksdu mu?!" Kaget ara tidak mengerti.


Terduduk lemas ara mendengar ucapan dokter lila, Pantas saja terkadang kenzo merintih agar jangan di tinggal oleh mommy nya.


"Bisikan lah sesuatu yang bisa menarik kesadaran nya kembali." Saran dokter lila.


"Aku tidak tahu dok! Aku tidak tahu harus bagai mana sekarang?!" Teriak dinara setengah putus asa.


"Araa!!"


Hana menghampiri kakak ipar nya yang merosot kelantai sambil menangis, Hormon wanita hamil yang tidak menentu. Membuat sikap ara kadang terasa sangat lembut dan mudah tersentuh.

__ADS_1


"Bagai mana ini hana?! Abang tidak akan mau membuka mata jika dia masih merasa bersama mommy." Isak dinara.


"Yang kuat kak! Kita hadapi sama sama ya." Ucap hana.


Kini sudah hampir menjelang malan, Namun kenzo masih saja tidak membuka mata. Ara masih setia menunggu suami nya untuk sadar.


"Abang! Tidak kah ingin melihat anak kita lahir?" Tanya ara pelan di sebelah kenzo.


"Ara tidak mau jika melahir kan sendirian bang! Abang harus menemani ara." Ujar dinara terisak isak.


Tiba tiba genggaman tangan kenzo mengerat, Sontak saja ara langsung bangun untuk melihat apa kah kenzo membuka mata.


"Abang di sini bersama mommy sayang! Jika abang bangun, Maka mommy akan hilang." Sahut kenzo masih dengan mata terpejam.


"Abang!!"


Mendengar suami nya yang bisa menjawab ucapan nya, Ara senang bukan main. Walau pun kenzo masih menutup mata nya rapat.


"Jadi abang tidak mau melihat ara dan anak kita?" Tanya dinara gemetar.


"Maaf kan abang ra! Tapi abang tidak bisa jika tanpa mommy." Jawab kenzo lirih.


Ara menangis sambil menutup mulut agar tidak mengeluar kan suara, Sekuat hati ia tahan semua kesedihan ini.

__ADS_1


__ADS_2