
Sudah lewat tengah malam, Namun kenzo tak kunjung pulang. Padahal sebelum nya mereka ada rencana untuk menginap di rumah mama dinara.
''Abang kemana sih? Udah malam gini.'' Dinara gelisah menunggu suami nya.
Akhir nya ia turun kelantai bawah untuk menunggu kenzo, Barang kali mertua nya tahu kemana pergi nya beruang kutub.
''Belum tidur ra?'' Tanya gefari yang baru keluar dari kamar kaisar.
''Belum mom! Ara nunggu abang pulang.'' Sahut dinara mengambil buang anggur dari kulkas.
''Mom juga nungguin kai.'' Ujar gefari tampak lelah.
Dinara menatap iba kepada mertua nya, Tubuh yang telah mulai renta karena usia gefari sudah hampir enam puluh tahu. Namun gefari masih bekerja mengurus kantor nya.
''Mommy istirahat aja dong kalau lelah, Jangan paksa bekerja terus mom.'' Saran dinara memijat kaki gefari.
''Aduuh enak nya pijitan menantu ku.'' Puji gefari.
"Apa abang sama kak kai tidak bisa di andal kan mom?" Tanya dinara.
"Bisa! Tapi mommy juga harus membantu mereka ra." Jawab gefari.
"Kalau ara juga membantu apa juga bisa?" Tawar dinara.
"Boleh."
Gefari tidak menganggap serius tawaran menantu nya, Ia memejam kan mata sambil sandaran di sofa.
"Memang nya kak kai kemana mom?" Tanya ara lagi.
"Biasa lah di ajak suami mu nongkrong sambil membahas pekerjaan mungkin." Jawab gefari.
"Abang kebiasan banget gak mau pamitan dulu, Ara kan jadi cemas nungguin dia." Rutuk dinara.
"Ken tidak bilang padamu?" Tanya gefari sedikit kaget.
"Enggak! Maka nya ara bingung abang pergi kemana." Lapor dinara.
"Awas saja anak itu." Ancam gefari ikut kesal.
Usai memijat kaki, Ara pindah memijat kepala bagian pundak nya gefari. Sejak kecil ia memang akrab dengan mertua nya, Karena gefari sudah menganggap ara sebagai anak nya sendiri.
"Hana ngidam nya sangat parah, Kasihan dia." Ujar gefari.
"Parah banget mom?"
"Iya! Makan nasi sama minum susu dia gak mau. Janin nya bisa kurang nutrisi kalau begitu terus." Ujar gefari cemas pada menantu kedua nya.
"Apa setiap wanita hamil maka akan seperti itu mom?" Tanya dinara kepo.
__ADS_1
"Kebanyakan ya begitu, Tapi ada juga yang tidak." Sahut gefari.
"Huh! Lelah ya mom kalau sampai sembilan bulan muntah terus." Ucap dinara bergidik.
"Ya tidak dong ra! Paling lama juga cuma tujuh bulan." Ujar gefari.
"Tapi ara masih takut untuk hamil mom!" Celoteh dinara duduk di samping gefari.
"Takut apa?!" Heran gefari.
"Ara takut melahirkan." Bisik dinara pelan.
Gefari tertawa melihat ekspresi menantu nya yang terlihat memang sangat takut, Tapi yang membuat gefari heran. Kenapa ara bisa takut melahir kan, Sedang kan dia tidak pernah meliha orang lahiran.
"Emang kamu pernah melihat orang melahirkan?!" Selidik gefari.
"Ara lihat di ponsel lah, Waktu kepala baby nya mau keluar. Sreek! Rasa nya pasti perih sekali." Ujar dinara merinding.
"Itu kan yang lahiran normal, Kan bisa pilih lahiran cesar." Saran gefari.
"Ara juga lihat yang lahiran cesar, Perut buncit di belah! Aakkhhh. Ara takut sekali mom." Teriak dinara memeluk gefari.
Melihat tingkah menantu nya yang random, Gefari tertawa geli. Ia berpikir mungkin ara masih belum cukup dewasa.
"Kalau ken pengen punya anak gimana dong?" Pancing gefari.
"Sekarang sih belum ada abang bilang pengen punya, Tapi enggak tahu kedepan nya." Ujar dinara.
"Enggak mungkin mom! Ara minum penunda kehamilan." Tukas dinara.
"Kamu minum pil kontrasepsi ra?!" Kaget gefari sedikit berteriak.
Dinara kaget melihat ekspresi mertua nya, Ia tidak menyangka jika gefari akan sekaget ini mendengar ia meminum pil kontrasepsi.
"Iya mom, Ara takut jika hamil sekarang." Ujar dinara menunduk.
Gefari menghelai nafas melihat ara yang mulai takut usai ia berteriak tadi, Namun gefari juga khawatir jika tentang hal lain.
"Ken setuju kamu minum pil?" Selidik gefari.
"Belum mom, Ara pikir abang juga tidak akan mau cepat punya anak." Jawab dinara.
"Sebaik nya kasih tahu ken secepat nya! Mom takut jika itu menjadi masalah untuk kalian berdua." Nasihat gefari.
"Abang marah atau tidak ya mom?"
Dinara juga mulai takut jika kenzo akan marah, Semula ia berpikir kenzo akan setuju tentang itu.
"Tentu saja aku marah! Karena kau tidak membahas nya dulu dengan ku." Ketus kenzo yang baru datang.
__ADS_1
"Abang!"
Kenzo tidak menoleh lagi kepada istri nya, Ia langsung masuk lift untuk menuju kamar nya. Tiga pria yang menemani kenzo juga mematung.
"Ada apa dengan nya kak?" Tanya dinara pada kaisar.
"Dia marah dengan masalah yang barusan kalian bahas." Jawab kaisar.
"Abang dengar ya?!" Panik dinara.
"Sebelum dengar, Dia sudah tahu lebih dulu karena ken menemukan pil mu." Jawab kaisar.
Shiba dan niko mulai berpencar karena tidak ingin terlibat masalah dengan beruang kutub, Cukup bagi mereka tadi mabuk bersama hingga mengurus kenzo yang juga muntah.
"Kenapa kau tidak pakai baju nik?" Tegur gefari.
"Ken muntah tadi di baju ku!" Jawab niko masih dengan nada kesal.
"Pergilah, Jesslyn menunggu mu sejak tadi." Suruh gefari.
Tinggal dinara yang kebingungan sendiri, Sudah bisa di pastikan jika kenzo marah pada nya. Karena ken mengetahui nya sendiri, Bukan dari mulut dinara.
"Hana muntah lagi ya tadi mom?" Tanya kaisar meminum air mineral.
"Iya, Tapi sudah mendingan karena mommy mengelus elus punggung nya." Tutur gefari.
"Mommy melakukan itu?!" Kaget kaisar tak percaya.
"Kenapa kau kaget begitu? Bukan berarti karena mommy mafia maka mommy tidak bisa melakukan itu!" Sinis gefari.
"Terima kasih mom."
Kaisar mencium pipi mommy nya dan berlari masuk kekamar, Tinggal dinara yang masih mondar mandir kebingungan.
"Mom bantu ara dong." Pinta dinara ketika melihat gefari akan beranjak.
"Tidak mau! Kau harus menyelesai kan masalah mu sendiri, Karena itu salah mu yang tidak meminta persetujuan suami lebih dulu." Ujar gefari menolak permintaan ara.
"Jadi ara harus bagai mana?"
"Minta maaf pada nya! Dan katakan terus terang alasan mu." Ujar gefari tegas.
"Kalau abang tetap marah bagaimana?" Ujar dinara cemas.
"Resiko mu! Tapi ken akan paham kalau dia memang benar mencintai mu." Ucap gefari.
"Benarkah?!"
"Yah! Namun jangan besar kepala karena merasa sudah di cintai, Karena rasa cinta akan pudar jika tidak di hargai." Ucap gefari melangkah pergi.
__ADS_1
Usai kepergian gefari, Ara juga berjalan masuk kamar. Ia sengaja memilih naik lewat tangga saja, Sambil berjalan ia memikir kan bagai mana reaksi kenzo nanti.
Degup jantung ara bagai kan di pacu lebih cepat ketika akan membuka pintu, Apa lagi saat pintu kamar terbuka. Kamar nya gelap gulita.