Please Love Me Tuan Ken

Please Love Me Tuan Ken
#41


__ADS_3

Mata dinara terpejam saat berbaring di sofa ruangan rindia di rawat, Kenzo juga masih menunggu sadar nya sang sahabat.


''Ugghh.''


Lenguhan rindia membuat kenzo mendekat, Ia tersenyum senang melihat rindia yang sudah membuka mata.


"Di mana aku ken?" Tanya rindia parau.


"Di ruangan medis kantor ku, Tadi kamu pingsan rin." Ujar kenzo.


"Aku haus ken." Keluh rindia.


Kenzo mengambil gelas berisi air putih dan meminum kan nya dengan sedotan, Penuh kelembutan saat ia merebah kan lagi kepala rindia.


"Saat aku sakit dulu, Apa dia juga begitu?" Batin dinara yang berpura pura tidur.


"Kamu tahu kalau punya alergi?" Tanya ken duduk di kursi samping ranjang.


Rindia mengangguk sambil memasang wajah memelas, Ia berharap kenzo bisa melihat rasa cinta yang sudah lama ia pendam. Sampai saat ini rindia tidak pernah punya kekasih, Karena ia sangat mengharap kan kenzo.


"Kalau tahu kenapa masih di makan sih rin." Kesal kenzo.


"Aku sangat lapar ken! Lagi pula kalian mengajak ku makan. Aku tidak enak jika sampai tidak memakan masakan istrimu." Sahut rindia.


"Ya kamu jangan mikirin dia dong!" Ucap kenzo.


"Benarkah? Apa aku juga tidak perlu memikir kan perasaan dia dalam hal lain nya?!" Tanya rindia penuh harap.


"Bukan begitu maksud ku! Kau kan bisa baik baik mengatakan pada nya." Ralat kenzo melirik ara yang masih terpejam.


Dalam hati ia mengutuk mulut nya yang tadi sempat salah ucap, Bisa perang dunia ia jika sampai dinara dengar.


Tanpa kenzo tahu kalau air mata dinara menetes tanpa permisi, Bahkan ara sebenar nya sudah sekuat tenaga menahan nya.


"Baik lah, Aku juga akan bicara baik baik pada istri mu." Ujar rindia penuh maksud.


"Untuk hal apa?" Tanya kenzo bingung.


"Aku akan meminta mu dari tangan nya!" Jawab rindia entah dapat nyali dari mana.


"Jaga bicara mu rindia!" Geram kenzo.


"Hahahahaha!"


Rindia tertawa keras melihat wajah kenzo yang berubah tidak ramah, Air mata nya juga mulai runtuh di pipi gadis ini.

__ADS_1


"Apa kau tahu kenapa sampai sekarang aku masih sendiri? Lalu apa kau juga tahu pria yang sering ku cerita kan padamu sejak dulu?" Tanya rindia menatap kenzo.


"Aku tidak mau tahu!" Ketus kenzo.


"Yah kau memang tidak mau tahu! Bukan nya tidak tahu. Karena berulang kali aku memberi mu kode bahwa aku mengharap kan mu, Namun kau tidak peduli." Ujar rindia terisak lirih.


Dinara yang semula sangat kesal dengan rindia, Kini rasa iba mulai timbul di hati nya. Karena ara ingat perjuangan nya saat ingin mendapat kan kenzo, Berbagai macam siksa dan hinaan yang ia dapat.


"Sudah lah! Aku sibuk." Ucap kenzo bergegas bangkit.


Namun langkah kenzo tertahan karena rindia loncat dari ranjang dan memeluk nya, Rindia bertekad akan mendapat kan hati pria dingin ini.


"Aku memcintai mu ken! Tolong cintai aku juga." Pinta rindia memeluk erat pinggang kenzo.


"Lepas kan aku rindia!" Sentak kenzo merasa risih.


"Tidak ken! Aku rela meski hanya menjadi simpanan mu." Teriak rindia.


"Kau gila!" Bentak kenzo menghempas kan rindia.


"Arrghh."


Kening rindia terbentur sudut meja, Namun kenzo sedikit pun tidak lagi peduli. Ia menghampiri sofa untuk membangun kan ara, Tapi kenzo kaget karena mata dinara sudah nyalang menatap nya.


"Abang pergi lah dulu, Ara mau bicara dengan dia." Ujar dinara.


"Tidak usah ra." Larang kenzo.


"Hanya sebentar bang." Pinta dinara.


"Untuk apa bicara pada nya! Ayo kita pergi saja." Kesal kenzo.


Lagi, Dinara teringat saat dulu kenzo juga melarang malika saat bicara pada nya. Entah kenapa ia jadi merasa iba pada rindia.


"Nanti malam dua kali." Janji dinara.


"Tidak usah menyogok ku!" Tolak kenzo jual mahal.


"Tiga kali."


"Jangan lama lama ya." Ujar kenzo tersenyum puas.


Kini tinggal dinara yang menatap rindia masih menangis di lantai, Kenzo sama sekali tidak menoleh lagi. Meski rindia adalah teman nya sejak remaja.


"Bangun lah." Ucap dinara mengulur kan tangan.

__ADS_1


"Tidak butuh aku bantuan mu!" Sengit rindia bangkit sendiri.


Melihat rindia yang masih memusuhi nya, Ara menghelai nafas dan berjalan menghadap jendela.


"Aku tahu itu sakit, Karena aku juga pernah berada di posisi mu." Ujar ara.


Rindia diam tanpa menjawab, Meski ia sangat penasaran dengan cerita tentang ara dan kenzo serta malika.


"Aku pernah menggenggam seseorang agar tidak pergi, Aku pernah merendah kan diri agar tidak kehilangan! Dan aku selalu menyebut nama nya dalam doa ku, Namun dia tidak peduli. Karena ia lebih memilih wanita yang sangat di cintai nya." Cerita dinara menatap rindia yang juga menatap nya.


"Mencintai sendirian dan berjuang sendiri itu sangat sakit rindia." Ujar dinara.


"Aku tahu! Karena rasa sakit sudah menjadi teman ku selama beberapa tahun ini." Jawab rindia tersenyum miris.


"Terkadang kita harus merela kan cinta agar rasa sakit hilang dalam hati ini." Sambung dinara.


"Kau bisa bicara begitu karena kau tidak tahu rasa sakit kehilangan." Ketus rindia jengkel.


"Aku pernah meninggal kan nya bahkan saat cinta ku sangat tidak bisa di kontrol." Jawab dinara.


"Apa dia kenzo?" Tanya rindia.


Anggukan kepala ara membuat rindia menunduk, Ternyata pengorbanan ara sangat besar untuk mendapat kan cinta kenzo.


"Kenapa pria berhati dingin itu banyak sekali yang menyukai nya." Keluh rindia pelan.


"Coba lah untuk membuka hati mu pada orang baru." Saran dinara.


"Bagai mana jika aku gagal?" Tanya rindia tidak yakin.


"Belum mencoba namun sudah takut gagal." Ejek dinara.


Rindia tersenyum mendengar ejekan dinara, Saat ini ia masih belum yakin kalau bisa melupa kan kenzo.


"Tuang anj!ng itu cukup tampan." Saran dinara mengingat asisten suami nya.


"Tuan anj!ng siapa?" Bingung rindia.


"Shiba maksud ku." Ralat ara tersenyum malu.


Seketika ingatan rindia langsung pada wajah tampan nya shiba, Karena shiba juga teman sekelas nya dulu.


"Tidak tertarik aku pada nya, Kalau aku bisa mungkin sejak dulu aku sudah menikah dengan dia." Ujar rindia.


Dinara tersenyum ketika melihat eskpersi rindia yang seolah sangat geli membayang kan shiba menjadi kekasih nya, Tidak ada lagi rasa cemburu di hati ara.

__ADS_1


__ADS_2