
Seonggok tubuh tua tergeletak lemas usai di hajar oleh pemuda tampan, Tanpa belas kasihan ia menendangi nelayan tua ini.
''Saya sungguh tidak tahu kemana orang itu pergi tuan.'' Ujar nelayan kesakitan.
''Berikan cincin itu padaku!" Sentak luca.
Gemetaran nelayan memberikan cincin pemberian dari pemuda yang ia tolong kemarin, Dada nya terasa sesak karena menahan sakit.
Tanpa menoleh lagi, Luca pergi meninggal kan rumah nelayan tua ini. Hati nya sangat kacau memikir kan shiba yang pasti pulang kerumah nya atau kerumah kenzo.
"Pada akhir nya aku sendirian lagi." Gumam luca di tengah hujan yang mulai mengguyur.
Pria yang kurang kasih sayang, Dan pria yang tidak percaya pada cinta wanita. Karena bagi luca cinta wanita adalah palsu. Muyong mau menikah dengan ayah nya, Namun luca juga tahu kalau muyong sangat mencintai diri nya.
Karena itu lah luca tidak percaya pada cinta yang di miliki oleh wanita, Ia terlanjur nyaman mencintai sesama jenis.
Mansion jimmy.
Sudah dua hari ini shiba tinggal di rumah nya, Namun ia merasa bosan karena tidak ada yang di kerjakan.
Yang paling shiba benci adalah otak dan pikiran nya, Karena otak shiba selalu memikir kan luca.
"Mungkin jika aku bekerja jadi tidak ingat dia." Batin shiba sambil merenung di halaman belakang.
"Meski pun kau bekerja, Kau akan tetap mengingat nya. Karena kau jatuh cinta pada pria itu!" Cetus hati dajjal nya.
"Tidak shiba! Kau adalah pria normal, Jangan kau biar kan cinta mu bersemi." Bunyi hati normal nya.
"Arrrkkhh!"
Sangking kesal dan juga bingung dengan diri nya saat ini, Shiba melempar cangkir kopi nya yang di atas meja.
"Aku akan kekantor kenzo saja." Ucap shiba bergegas.
Niat hati ingin pergi kekantor nya kenzo, Tapi shiba takut jika ken tahu perasaan galau nya. Shiba tidak ingin jika sampai ada orang yang tahu tentang hati nya.
Bahkan sampai malam tiba, Shiba tetap di dalam mobil di pinggiran jalan. Lalu shiba pergi melajukan mobil nya menuju club malam.
"Lama tidak datang kau bro!" Sapa dilux teman nya pemilik club.
"Sedang banyak kerjaan." Jawab shiba mengambil minuman.
"Ku dengar kau hilang?" Tanya dilux.
"Hanya gosip saja." Jawab shiba cuek.
Musik memenuhi tempat mewah ini, Banyak juga para gadis yang menari. Ada yang membawa pacar, Namun ada juga yang datang karena kesepian.
__ADS_1
"Ada masalah?" Tanya dilux duduk di samping shiba.
Shiba menoleh kearah sahabat nya ini, Berbeda dengan kenzo yang sangat tidak peka. Dilux naluri nya sangat tajam mengenai perasaan seseorang.
"Entah lah."
Dilux tersenyum melihat shiba yang terlihat sangat gundah, Bisa ia tebak jika sahabat nya ini sedang jatuh cinta. Dulu shiba juga begini saat jatuh cinta pada rindia, Namun kemudian shiba patah hati saat tahu rindia tergila gila pada kenzo.
"Siapa gadis itu?" Tanya dilux.
"Dia bukan gadis." Jawab shiba melirik dikux yang langsung menoleh.
"Maksud mu?!"
"Haissh."
Shiba berdesis karena bingung untuk memulai cerita dari mana, Ia juga takut dilux akan merasa jijik pada nya saat tahu ini.
"Aku juga tidak yakin kalau ini cinta." Ucap shiba pelan.
"Apa yang kau rasakan?"
"Aku selalu teringat kenangan saat bersama nya meski pun itu tidak lama! Sudah berusaha aku menghapus nya, Namun ingatan dan bayangan wajah nya selalu datang." Keluh shiba.
"Kau pria dewasa! Jadi kau paham lah tentang rasa itu." Ujar shiba tersenyum.
"Apa nya yang tidak wajar?! Bagai mana mungkin pria jatuh cinta jadi tidak wajar." Bingung dilux.
Terasa berat lidah shiba untuk mengatakan nya, Ada rasa malu dan juga takut. Dilux masih menunggu jawaban sahabat nya ini.
"Tapi dia juga seorang pria." Ucap shiba pelan namun bagai kan bom di telinga dilux.
Sontak dilux langsung berdiri dan berjalan sambil menggeleng geleng, Mondar mandir dilux di hadapan shiba.
"Aku pusing melihat mu begitu." Tegur shiba.
"Apa kau pikir cuma kau saja yang pusing?! Aku juga pusing bahkan sampai mau jungkir balik mendengar ucapan mu!" Rutuk dilux kembali duduk.
Lama mereka terdiam dalam pikiran masing masing, Shiba yang takut jika keadaan nya tidak bisa di terima oleh orang orang sekitar nya.
"Saran ku mau apa tidak?" Tanya dilux.
"Apa?"
"Coba dalam waktu satu bulan kau lupa kan pria itu, Gunakan segala macam cara untuk membenci nya." Tutur dilux.
"Yah, Aku akan mencoba melakukan nya." Angguk shiba.
__ADS_1
Sebagai sahabat dekat nya shiba, Dilux tidak mau jika shiba sampai terjerumus di jalan menyimpang.
"Aku ketoilet dulu." Pamit shiba.
Dilux mengangguk kan kepala, Shiba bergegas masuk kedalam toilet. Setelah selesai ia keluar sambil merapi kan kemeja nya.
Greep.
Lengan kekar dari belakang memeluk leher shiba, Kaki shiba juga di kunci oleh lawan daari belakang. Namun shiba merasa familiar dengan aroma parfum orang ini.
"Kenapa kau meninggal aku shiba?! Apa karena aku sudah menyakitimu?" Tanya luca membuat shiba merinding.
"Lepas kan aku luca!" Sentak shiba.
"Maaf kan aku shiba! Sungguh aku menyesal karena sudah menyakiti mu." Sesal luca menaruh kepala nya di pundak shiba.
Duk.
Sikut shiba menghantam lambung luca hingga membuat nya kesakitan, Kesempatan ini shiba pergunakan untuk melolos kan diri.
"Jangan dekati aku bangsaat!" Sentak shiba menodong kan pistol.
Luca yang masih membungkuk langsung kaget melihat senjata yang hanya berjarak beberapa centi dari dada nya,
"Kau membenciku? Tidak bisakah kau memaaf kan aku shiba?" Pinta luca mulai putus asa.
Shiba terdiam melihat wajah luca yang tidak seperti biasa nya, Pria ini terlihat sangat lemah di mata shiba. Tentu saja ini membuat shiba semakin rumit.
"Tembak saja aku shiba! Aku juga tidak berminat lagi untuk hidup." Ujar luca tersenyum miris.
"Kau gila luca!" Teriak shiba.
"Yah aku memang gila! Jika aku waras maka ayah ku pasti bangga padaku." Balas luca.
"Kau sangat menyedih kan!" Ejek shiba.
"Benar kah?! Kalau begitu bunuh aku shiba! Tembak aku sekarang." Sentak luca menekan pistol kedada nya.
"Luca!"
Shiba ketakutan melihat luca yang memang berniat untuk mati, Hati kecil nya tidak bisa menerima jika luca harus meninggal kan dia.
"Tembak aku shiba!" Teriak luca menarik kepala shiba hingga menempel pada nya.
"Jangan lakukan ini luca." Rintih shiba pelan mulai terisak.
Tiba tiba saja shiba jadi ingin menangis karena kasihan pada luca yang sangat frustasi, Entah kehidupan macam apa yang telah luca lalui.
__ADS_1