Please Love Me Tuan Ken

Please Love Me Tuan Ken
#51


__ADS_3

Dua anak dan menantu mafia terkuat sedang santai berjemur, Dinara menatap kaisar yang sangat perhatian pada istri nya.


Bukan nya ara merasa iri dengan hana, Namun ia hanya kagum pada sigap nya kaisar saat hana akan muntah.


''Tuan shiba!!"


Teriakan bodyguard mengaget kan mereka berempat, Kenzo dan kaisar mendatangi tempat bodyguard berkumpul.


"Tuan."


Tampak shiba yang tubuh nya penuh luka dan kaki nya juga banyak tergores jatuh pingsan di tanah, Mata kenzo terbelalak melihat nasip asisten nya.


"Bawa dia kedalam sekarang!" Teriak kenzo.


Dokter pribadi langsung menyiap kan alat untuk memeriksa keadaan shiba, Tak lupa kenzo langsung menelepon ayah nya shiba.


"Luka tuan shiba meradang, Saya sudah menyuntikan obat agar tidak semakin parah." Jelas dokter deswita.


"Apa kita perlu membawa nya kerumah sakit?" Tanya kenzo yang panik.


"Untuk sekarang tidak perlu tuan, Lagi pula fasilitas kita sama lengkap nya dengan rumah sakit." Jawab dokter deswita.


Kenzo lega sekaligus iba pada asisten nya, Meski kerap berselisih paham. Namun kenzo dan shiba saling menyayangi. Ia merasa bersalah pada shiba, Karena ken merasa ini adalah salah nya.


"Sabar abang." Ujar dinara mengelus tangan suami nya.


"Dia begini karena musuh abang ra." Sesal kenzo.


"Jangan menyalah kan diri sendiri, Yang penting shiba sudah kembali pada kita." Ucap dinara.


"Dia memang sudah kembali pada kita, Namun apa dia masih utuh seperti dulu." Kenzo sangat takut memikir kan kalau shiba sampai di perk0sa oleh luca.


Dinara terdiam mendengar ucapan suami nya, Memang shiba sudah kembali. Namun baik dari segi tubuh atau pun mental, Apa shiba masih utuh seperti dulu.


''Apa pun yang terjadi, Mungkin itu adalah yang terbaik untuk kita semua.'' Ujar dinara.


''Kenapa takdir shiba pahit sekali.'' Keluh kenzo.


"Pada dasar nya takdir allah selalu baik, Walau terkadang perlu air mata untuk menerima nya." Tutur dinara.


Hati kenzo terenyuh dengan kata kata bijak istri nya, Usia ara jauh lebih muda dari kenzo. Namun terkadang ara malah lebih bersikap dewasa.


"Bagai mana dengan shiba ken?!" Panik jimmy baru masuk.


"Lihat lah uncle." Kenzo mempersilah kan jimmy masuk.


Melihat putra nya yang terbaring lemah, Amarah jimmy langsung terkumpul. Ia tidak bisa menerima perlakuan luca.


"Apa menurut mu luca hanya melakukan ini?" Tanya jimmy pada kenzo.


"Maksud uncle?" Tanya kenzo pura pura tidak mengerti.

__ADS_1


"Sudah menjadi candaan seluruh musuh nya rigent kalau luca adalah gay! Jadi menurut mu apa shiba juga korban nya?" Ulang jimmy tampak sangat marah.


"Aku tidak berani memastikan nya uncle." Jawab kenzo.


"Lebih baik kita periksa saja." Usul dinara.


"Ini bukan perawan nak." Cetus jimmy mengusap wajah nya kasar.


Lima belas menit berlalu, Shiba mulai membuka mata setelah lama pingsan. Pandangan mata nya buram.


"Daddy!"


Jimmy mendekati putra semata wayang nya, Meski jimmy marah besar. Namun ia menyembunyikan nya di hadapan shiba.


"Mau minum nak?" Tawar jimmy.


"Boleh dad." Angguk shiba.


Dengan telaten jimmy menduduk kan anak nya perlahan, Setelah duduk baru lah jimmy memberikan gelas berisi air putih.


"Setelah tubuh nya enakan, Pulang lah kerumah." Pinta jimmy.


"Iya dad." Jawab shiba.


Kenzo ikut mendekati shiba, Meski pun ken tidak rela jika shiba di ambil kembali oleh ayah nya. Namun demi kebaikan asisten nya, Ken pun mau menyetuji permintaan jimmy tadi.


"Aku akan pulang kerumah dulu ken, Kau harus bisa mengurus masalah mu sendiri." Ucap shiba pada kenzo.


Saat tangan kenzo menyentuh tangan nya, Reflek shiba menarik. Ia teringat kembali pada saat luca menyentuh nya, Shiba merasa jijik.


"Cih! Di pegang saja tidak mau." Kesal kenzo.


"Baik lah, Daddy akan berbicara pada gefari dulu." Pamit jimmy.


Kenzo dan shiba mengangguk kan kepala, Dinara juga sudah meninggal kan ruangan medis sejak tadi.


"Kenapa kau menatap ku begitu?" Heran shiba pada kenzo.


"Katakan apa yang telah kau alami." Pinta kenzo serius.


"Bukan nya kau sudah melihat tubuh ku, Tentu kau tahu itu." Jawab shiba cuek.


"Dia tidak memakai mu kan?" Selidik kenzo.


Bulu di tubuh shiba langsung merinding ketika mendengar pertanyaan kenzo, Adegan panas kembali menari nari di pelupuk mata.


"Yah! Kenapa kau diam saja?" Rutuk kenzo karena merasa di acuh kan.


"Tidak!"


"Apa yang tidak?" Tanya kenzo.

__ADS_1


"Dia.... Luca tidak memakai ku." Jawab shiba menutupi.


Meski kenzo merasa ada yang tidak beres, Tapi ia bisa bernafas lega mendengar pernyataan shiba.


"Baiklah! Lebih baik kau istirahat seperti yang uncle jimmy bilang." Ujar kenzo menepuk pundak shiba.


"Aku ingin pulang sekarang saja! Bau obat obatan aku sangat tidak suka." Ucap shiba melepas jarum infus nya.


"Dasar, Kau kan bisa memanggil dokter." Rutuk kenzo merasa ngilu.


"Cih! Kau kata nya mafia. Tapi dengan jarum saja kau takut." Ejek shiba turun dari ranjang.


Kenzo ingin shiba yang akan turun, Tapi shiba melambai kan tangan tanda menolak. Ia tahu jika kenzo juga masih belum sehat.


"Bagai mana luka mu?" Tanya shiba menepuk pinggang kenzo.


"Aduuh! Sialan kau shiba." Maki kenzo memekik sakit.


"Dasar anak mommy!" Ejek shiba berlalu pergi.


...****************...


Kembali pada luca.


Luca tersenyum sambil bersiul siul girang, Di tangan nya membawa dua piring makanan. Ia berencana akan makan bersama dengan shiba.


"Kenapa terbuka?" Heran luca menatap pintu yang di lantai.


Firasat nya sudah tidak enak melihat pintu itu, Luca berlari menuruni tangga. Dan ternyata dugaan nya benar, Ruangan itu sudah kosong! Shiba hilang entah kemana.


"Kau pergi." Batin luca kecewa.


Praangg.


Piring di banting oleh luca kesembarang arah, Kursi pun ia tendangi. Hancur barang barang yang ada di ruangan itu.


"Kenapa kau meninggal aku juga shiba?!!" Teriak luca menggema.


"Kau pun tidak sudi bersama ku!" Rintih luca merosot kelantai.


Di tinggal mati oleh ibu nya membuat luca sangat kehilangan, Apa lagi rigent pun sama sekali tidak pernah peduli pada nya. Rigent hanya mendidik nya untuk menjadi kuat dan bisa memiliki banyak uang.


Tidak ada yang pernah peduli pada perasaan luca, Pria ini terlihat sangat kuat dari luar. Namun nyata nya, Luca sangat lah rapuh dan butuh kasih sayang.


"Cincin!"


Luca teringat dengan cincin yang ia selip kan di jari shiba, Segera ia mengecek lewat ponsel. Karena di dalam batu cincin ada alat pelacak.


"Kau masih di dekat sini ternyata." Gumam luca senang.


Tidak peduli dengan penolakan shiba nanti, Luca tetap pergi mendatangi lokasi tempat cincin ini berada.

__ADS_1


__ADS_2