
Setelah acara makan malam dan sedikit berkenalan dengan adik ipar nya, Kini kenzo dan dinara sudah kembali kemansion.
Tapi yang membuat dinara serba salah adalah sikap kenzo, Karena ia sempat salah ucap tadi saat di mobil. Akibat nya kini kenzo masih merajuk, Bahkan di dekati pun ia menjauh.
''Abang mau minum kopi?'' Tawar dinara ketika kenzo sedang sibuk dengan ipad nya.
''Tidak."
Sejak tadi yang keluar dari mulut kenzo hanya tidak dan entah, Melihat wajah istri nya saja seolah enggan.
"Maafin ara dong bang." Pinta dinara mendusal lengan kenzo.
"Emang kamu salah apa?" Tanya kenzo cuek.
"Ara tadi salah ngomong." Ujar dinara.
"Enggak! Ara benar kok kalau abang memang tidak tahu apa pun." Ujar kenzo.
"Ihh."
Kesal karena kenzo malah tambah cuek, Dinara menarik wajah kenzo dan mencium bibir suami nya.
Semula kenzo ingin jual mahal menolak ciuman istri nya, Tapi karena ara malah naik kepaha. Hingga ia tak kuasa menahan gejolak.
"Tidak usah mencium ku! Memang nya abang akan luluh." Ujar kenzo membuang muka.
Cup.
Ara kembali menciumi suami nya, Bahkan tangan nya mulai bergerak membuka kancing kemeja kenzo. Jika di sentuh, Maka kenzo tak akan mampu mengelak lagi.
"Mau atau tidak?" Bisik ara di telinga kenzo.
"Tidak!"
"Sungguh, Ara mau di atas loh." Rayu dinara membuat kenzo langsung mengangkat nya keranjang.
Habis lah sudah, Kucing mana yang akan menolak jika di beri daging. Apa lagi daging tersebut sudah halal.
...****************...
Seperti biasa, Hari hari kenzo lebih banyak ia gunakan di kantor. Hati kenzo mulai enggan untuk kembali pada dunia mafia, Tadi malam ia juga mengatakan niat mundur saja dari dunia gelap.
"Ara belum datang?" Tanya kenzo saat shiba masuk membawa cangkir kopi.
"Belum."
Shiba ikut duduk memeriksa berkas di meja kenzo, Karena pekerjaan nya sudah usai. Tinggal menunggu rapat nanti yang akan di adakan.
"Cepat minum kopi nya." Suruh shiba.
__ADS_1
"Nanti lah." Jawab kenzo masih fokus.
"Sepuluh menit lagi kita rapat ken!" Ucap shiba.
"Hah?!"
Meski sempat merutuk karena shiba tiba tiba saja memberi tahu jadwal rapat nya, Tapi kenzo tetap berangkat menuju ruang metting.
Pegawai penting sudah menunggu kedatangan bos mereka, Ada beberapa klien yang tampak tidak sabar.
"Ini tanah yang akan kita dirikan perumahan elit, Semua berjumblah seratus lima puluh." Jelas shiba.
Semua mendengar kan jalan nya rapat dengan seksama, Hanya wanita yang berbaju merah itu yang malah memperhatikan kenzo.
Setelah satu jam mereka metting, Kini kenzo sudah keluar untuk makan siang. Perut nya keroncongan, Tapi yang paling keroncongan adalah rindu nya.
"Ken!"
Rindia sedikit berlari menghampiri kenzo, Senyum di wajah membuat nya semakin terlihat cantik.
"Ada apa rin?" Tanya kenzo ramah.
"Kamu udah makan belum? Ayo temani aku makan dong." Ajak rindia.
"Belum rin, Ayo ikut aku." Sambut kenzo mengajak masuk ruangan nya.
Bukan main senang nya rindia karena kenzo tidak berubah sikap meski sudah punya istri, Dalam hati ia bertekad untuk mengambil kenzo dari tangan ara.
"Assalamualaikum sayang." Sapa kenzo ketika masuk.
"Walaikum salam." Balas ara tersenyum menyambut suami nya.
Mereka berpelukan sebentar dan tak lupa kenzo memcium pipi istri nya, Rindia yang melihat hanya bisa menahan jengkel.
"Hay ara! Aku mau makan siang sama ken, Kamu mau ikut enggak?" Tanya rindia cepat karena tidak ingin semakin cemburu.
"Aku kesini memang mau makan siang bersama suami tampan ku." Jawab ara semakin menempel.
"Ayo kita berangkat." Ujar rindia mengepal kan tangan.
"Kita makan masakan ara saja rin, Lihat dia membawa banyak makanan." Tunjuk kenzo sambil melepas jas.
"Tapi aku ingin makan di luar ken." Rengek rindia membuat ara mual mendengar nya.
"Kalau kamu mau makan di luar ya silah kan! Lagian aku juga tidak membawa makanan untuk mu." Sahut ara jutek.
Melihat kenzo yang sudah membuka masakan istri nya, Rindia terpaksa ikut duduk di sofa untuk menikmati masakan dinara.
"Udang? Aku kan alergi udang." Batin rindia ketika melihat masakan ara.
__ADS_1
Merasa ini adalah kesempatan untuk menarik perhatian kenzo, Rindia malah mengambil udang dua biji dan cepat ia kunyah.
"Aku kupas untuk abang." Ujar ara memberikan udang.
"Baik banget istriku." Puji kenzo mencubit pipi dinara.
"Sakit ih abang." Ujar ara bergaya imut.
"Cih! Dasar tidak tahu diri." Batin rindia merutuk.
Lima menit berlalu, Mereka masih saja bergurau di hadapan rindia. Hingga rindia merasa kan leher nya seperti di cekik dan nafas nya terengah engah.
"Uggghh, Hah hah."
Sontak saja kenzo langsung menoleh kepada teman nya ini, Melihat rindia yang sudah berkeringat dan wajah nya mulai memerah. Kenzo panik.
"Rin kamu kenapa?!" Teriak kenzo memegang pundak rindia.
"Ak aku alergi udang." Jawab rindia tersendat sendat.
"Bodoh banget sih kamu! Kenapa masih saja di makan." Kesal kenzo memeluk rindia yang akan tumbang.
Tanpa pikir panjang, Kenzo menggendong rindia kebagian medis di kantor nya. Perusahaan kenzo di lengkapi dengan peralatan medis yang tak kalah canggih dari rumah sakit.
"Kenapa abang sangat peduli pada nya?" Batin dinara mengikuti kenzo dari belakang.
Rasa cemburu ara semakin parah ketika ada pegawai yang menawar untuk menggendong rundia, Namun kenzo tidak mengizin kan orang tersebut.
"Saekiaa!"
Umpat dinara menendang dinding lorong, Ara yakin jika rindia punya perasaan kepada suami nya. Yang masih jadi pikiran oleh dinara adalah, Apa ken juga mencintai rindia.
"Segera obati dia." Titah kenzo.
Dokter segera menangani rindia yang sudah pingsan, Nafas nya masih tersendat sendat. Kenzo tidak bisa diam menunggu hasil pemeriksaan dokter.
"Duduk kenapa bang." Ujar dinara melipat tangan.
"Abang takut rindia kenapa napa ra." Sahut kenzo.
"Cih! Perhatian sekali anda tuan ken." Sinis dinara.
Kenzo menoleh sebentar kearah istri nya, Jika ara sudah memanggil nya tuan ken. Maka hati ara sedang tidak baik baik saja.
"Dia kan teman abang sayang." Rayu kenzo ikut duduk.
"Teman tapi mesra." Sindir dinara.
"Mesra dari mana sayang? Abang hanya takut jika rindia sampai celaka karena makan udang masakan mu." Jelas kenzo.
__ADS_1
"Jadi maksud abang dia celaka karena ara?!" Tanya dinara menaik kan volume suara.
Merasa salah ucap lagi, Kenzo menampar mulut nya dan memejam kan mata. Ia tidak peduli ketika ara menghentak hentak kan kaki di samping nya.