
Tidak pernah dinara merasa takut seperti sekarang, Membayang kan kalau para dokter membelah perut nya yang membuncit. Membuat ara langsung histeris.
''Ara tidak mau maa!! Ara lahiran normal saja." Pinta dinara memeluk safira.
"Tenang ya sayang, Kasihan anak mu loh nak." Rayu safira yang pipi nya sudah basah oleh air mata.
"Hiks, Hiks. Ara takut ma." Rengek dinara.
Safira paham dengan perasaan putri nya ini, Sejak kecil dinara memang takut dengan hal yang berbau rumah sakit. Bahkan dulu ia sempat melarikan diri saat akan di vaksin.
"Ingat lah jika dua anak mu ingin keluar nak! Kau harus berani menghadapi apa pun, Ini demi buah hati mu." Ucap safira mengelus elus punggung ara.
"Ara sangat butuh dukungan abang sebenar nya." Lirih dinara.
Kembali air mata safira menetes mendengar ucapan putri nya, Setiap wanita pasti akan sangat membutuh kan suami saat akan melahir kan.
"Ara, Kita juga harus paham dengan kondisi kenzo! Suami mu itu sedang tidak baik baik saja nak." Bujuk safira.
"Kenapa ara harus mengalami nasip begini sih ma?!" Teriak dinara serba salah.
Sakit karena kontraksi, Dan juga sakit menerima kenyataan jika ia harus melahir kan seorang diri.
"Aduhh! Ara mau BAB ma." Teriak dinara merasa ada sesuatu yang memaksa keluar.
"Biar saya lihat dulu ya nona." Pamit suster menyingkap kain yang menutupi bagian bawah dinara.
"Aduuh cepat sus! Saya tidak tahan lagi ini." Jerit dinara kesakitan.
"Ya allah dokter!!"
Suster yang memeriksa tadi langsung menjerit kaget memanggil dokter nya, Safira ketakutan sambil menggenggam tangan dinara.
"Seperti nya kita tidak bisa menjalani cesar, Bayi nya akan segera keluar." Ucap dokter melihat kepala bayi yang akan keluar.
"Ya allah, Berilah keselamatan untuk anak dan cucuku." Doa safira di dalam hati.
__ADS_1
"Tolong ikuti intruksi saya ya nona! Kalau saya menyuruh mengejan tolong lakukan." Pinta dokter.
Dinara hanya mengangguk dan mulai mengejan karena dokter sudah menyuruh nya, Tapi usaha pertama masih gagal. Karena bayi nya kembali masuk.
"Arrrkhhh! Eghhh."
Erangan dinara memenuhi ruangan bersalin ini, Keringat membasahi kening glowing nya. Dan saat kontraksi kembali datang, Tiba tiba saja pintu terbuka.
"Arrkhhh!"
Begitu pintu terbuka, Bayi pertama berhasil keluar dan dokter segera menangkap nya dengan lihai.
"Abangg!"
"Abang di sini sayang! Maaf kan abang yang datang terlambat." Ujar kenzo berjalan lemas karena baru tersadar.
"Hati hati ken! Ayo duduk di sini." Safira memberikan kursi untuk menantu nya di samping ranjang dinara.
"Ara lemas bang." Rintih dinara yang tenaga nya mulai hilang.
"Boleh kah ara minum dulu dok?" Tanya dinara kehausan.
"Silah kan nona." Jawab dokter tersenyum ramah.
Tentu saja dokter bersikap ramah, Karena mereka tahu siapa yang sedang melahir kan ini. Bahkan sang tuan muda pun sudah duduk menemani istri nya.
"Aahhh! Sakit lagi perut ku dok." Ujar dinara merasa kan kontraksi lagi.
"Ayo dorong nona, Kepala nya sudah kelihatan." Ajak dokter memberi arahan.
"Aarrkhh! Eeguhhh."
"Oeeek, ooeekk."
Baby kedua pun juga telah lahir dengan selamat, Tangisan bayi dan juga tangisan dinara memenuhi setiap sudut ruangan.
__ADS_1
"Terima kasih sayang." Bisik kenzo mencium pipi istri nya.
"Iya." Angguk dinara tidak punya tenaga.
Kini tiba lah proses menjahit jalan yang robek karena di lewati oleh dua baby yang berbobot masing masing dua kilo setengah, Kenzo langsung teringat saat ia menjalani sunat tempo lalu.
"Tahan ya sayang! Rasa nya tidak akan sakit kok." Ucap kenzo yang tidak tahu jika milik istri nya ini tidak akan di bius.
"Benar kah bang?!" Tanya dinara yang memang ketakutan melihat jarum nya.
"Tentu saja tidak akan terasa! Abang kan dulu juga di jahit." Jawab kenzo.
Dinara mengangguk percaya, Karena dia juga tidak tahu sama sekali. Dokter sudah bersiap siap untuk menusukan jarum jahit.
"Aarkkhh sakit sekali." Teriak dinara kesakitan dan juga kaget.
"Hah kenapa bisa sakit dok?!" Panik kenzo menatap dokter dengan amarah.
"Maaf tuan! Tapi memang ini tidak di bius." Jawab dokter gemetaran.
"Apa kau gila?! Daging manusia kau jahit hidup hidup!" Sentak kenzo.
"Tuan! Memang wanita yang melahir kan normal tidak akan di bius saat menjahit nya." Ujar dokter merasa sesak karena takut.
"Kenapa bisa begitu?! Jelas kan padaku." Bentak kenzo.
"Penggunaan anestesi lokal harus sangat berhati hati tuan! Karena bisa menyebab kan kematian pada jaringan kulit sekitar jahitan." Jawab dokter.
"Abang sudah lah jangan banyak bertanya lagi, Ini sakit di biar kan begini." Keluh dinara meringis ngilu.
Akhir nya drama tentang jahitan pun usai, Kenzo di suruh oleh yarri untuk mengazani putri nya satu persatu. Dan ara juga sudah pindah ruangan.
**Hallo hallo semua nya, Othor mau buat cerita baru dengan genre yang berbeda nih. Jangan lupa nanti mampir ya kalau udah rilis.
__ADS_1
Kalian tinggal klik profil othor aja ya, Terima kasih🙏🙏**