Please Love Me Tuan Ken

Please Love Me Tuan Ken
#50


__ADS_3

Plaak.


Rigent menampar putra nya yang keluar tanpa menggunakan apa pun, Darah nya mendidih kerena tahu apa yang di lakukan oleh luca.


''Kapan kau akan membuang kebiasaan hina mu luca?!" Sentak rigent.


"Jika pria gay adalah hina! Apa menikahi adik dari istri nya adalah perbuatan mulia?" Balas luca sinis.


"Tidak peduli apa pun itu! Namun yang pasti aku menikahi wanita." Sentak rigent.


"Itu kan kau! Beda hal nya dengan ku." Ujar luca cuek sambil menuang anggur kegelas.


Rigent menahan emosi nya pada luca, Ia tidak mau jika luca sampai bersikeras menolak memberikan shiba kembali.


"Ada apa anda kemari?" Tanya luca duduk menyilang.


"Kembali kan shiba pada kenzo." Pinta rigent mendekati luca.


"Jika aku tidak mau?!" Tantang luca.


"Kau gila! Jika kita mengembali kan shiba, Salah satu tambang emas kenzo akan menjadi milik kita." Teriak rigent.


"Cih!"


Luca berdecih sinis mendengar ucapan rigent, Semula ia memang ingin memiliki tambang emas itu. Namun kini luca lebih memilih shiba.


"Apa lagi yang kau pikir kan luca! Berikan shiba padaku sekarang." Ucap rigent tak sabar.


"Aku tidak menyekap shiba." Elak luca cuek.


"Jangan bohong kau baj!ngan, Aku tahu shiba ada di sini." Bentak rigent.


"Silah kan kau cari dia." Luca mempersilah kan rigent masuk kamar.


Rigent bergegas masuk kedalam kamar nya luca, Suasana yang termaram menyinari kamar. Mata rigent berkeliaran mencari keberadaan shiba.


Kamar mandi juga kosong, Ruang ganti pun tidak tampak sosok shiba. Lemari baju juga kosong, Di bawah ranjang pun tidak ada.


"Sudah ku katakan kalau aku tidak menyekap nya." Ujar luca memasuki kamar.


"Aku akan menemukan nya." Geram rigent berlalu pergi dengan di iringi tawa luca.


Lima belas menit luca masih menunggu kalau saja rigent kembali lagi, Namun sang ayah tak kunjung muncul.


Luca menarik karpet bulu yang di lantai, Ternyata di bawah karpet ada ubin yang bisa di buka. Saat luca mengangkat keramik, Sebuah pintu muncul dari sana.

__ADS_1


Tampak shiba sedang duduk dengan wajah yang tidak bisa di arti kan, Luca menghampiri dan langsung memeluk nya.


"Apa kau rindu padaku?" Tanya luca menciumi shiba.


Hanya diam bagai kan patung shiba saat ini, Setelah adegan *** *** tadi. Jiwa shiba bagai kan di paksa hilang dari raga nya.


"Tunggu lah di sini ya, Aku akan mengambil kan makanan untuk mu." Ujar luca mencium pipi shiba.


Sepeninggal nya luca, Shiba menatap tangan nya yang masih di borgol. Tiba tiba saja ia melihat ada ikat pinggang yang terserak di lantai, Cekatan shiba mengambil dan membuka lobang kecil di borgol.


"Aku harus pergi, Entah apa yang akan terjadi jika aku tetap di sini." Batin shiba.


Dengan hanya memakai celana pendek, Shiba menaiki tangga untuk mencapai kamar nya luca. Dan ternyata pintu kecil ini tidak di tutup oleh luca.


Kelincahan shiba sebagai asisten pribadi sekaligus atasan para bodyguard, Kini shiba berhasil keluar dari rumah.


"Bangsaaat! Tempat apa ini." Maki shiba ketika melihat tempat yang di kelilingi air.


Tidak ada perahu atau pun boot, Shiba benar benar bingung untuk melarikan diri. Perlahan ia mengelilingi tempat ini. Berharap ada sesuatu yang bisa ia pakai.


"Pakk! Tolong beri aku tumpangan!" Teriak shiba pada nelayan yang sedang menjala ikan.


Nelayan menoleh kaget melihat keadaan shiba yang terluka, Karena luka bekas sabetan ikat pinggang masih membekas nyata.


"Apa yang terjadi padamu nak?" Tanya nelayan merasa kasihan.


"Ayo naik." Ajak nelayan memberi ruang pada perahu.


Shiba menatap rumah yang pernah menyisakan berbagai macam rasa untuk nya, Kini ia semakin menjauh dari rumah tersebut.


Entah kenapa ia merasa kasihan membayangan saat nanti luca datang membawa kan nya makanan, Namun ia sudah tidak ada di ruangan itu.


"Siapa yang melakukan ini padamu nak?" Tanya nelayan penasaran.


"Seorang mafia pak." Jawab shiba pelan.


"Apa kita harus melapor kan pada pihak yang berwajib?" Tawar nelayan.


"Tidak usah pak! Aku akan membalas dengan cara ku sendiri." Tolak shiba.


Setelah shiba sampai kedaratan, Shiba memberikan salah satu cincin yang ada di jari nya. Karena shiba tidak punya uang untuk membalas budi nelayan tua ini.


"Tidak usah nak! Bapak tulus menolong mu." Tolak nelayan.


"Ambil lah pak! Ini bukan hanya masalah tumpangan, Namun ini masalah perasaan." Ucap shiba.

__ADS_1


Nelayan bingung dengan ucapan shiba, Sedikit memaksa. Shiba memberikan cincin tersebut ketangan nelayan, Karena cincin itu adalah pemberian dari luca.


Saat luca tadi berpamitan untuk mengambil makanan, Tangan nya menyelip kan cincin kejari shiba.


...****************...


Kenzo menatap dinara dari balik cermin, Dengan telaten ara mengurus luka kenzo yang harus di bersih kan.


"Sayang!"


"Iya bang."


"Kamu pernah enggak nyesal nikah sama abang?" Tanya kenzo.


Dinara menghentikan kegiatan nya, Ia menatap kenzo yang juga sedang menatap nya.


"Kenapa abang nanya gitu?" Tanya dinara mengelus kepala kenzo.


"Abang cuma nyusahin kamu terus ra! Awal kita menikah abang sering menyiksa mu, Lalu abang lumpuh dan kamu harus merawat abang. Lalu sekarang kamu juga mesti merawat abang." Sesal kenzo.


Dinara tersenyum tulus untuk menghilang kan rasa bersalah suami nya, Di peluk nya kepala kenzo. Kenzo memeluk erat pinggang istri nya.


"Kalau ara yang sakit, Abang mau tidak merawat ara?" Tanya dinara.


"Ya mau lah! Kan kamu istri abang." Jawab kenzo mendongak.


"Begitu juga ara! Ara merawat abang karena itu adalah kewajiban nya seorang istri. Kita menikah bukan hanya untuk senang nya saja, Namun harus menerima duka nya juga." Jawab dinara bijak.


Kenzo tersenyum bahagia karena merasa bangga bisa memiliki istri yang sifat nya sangat dewasa, Walau kadang ara somplak juga.


"Terima kasih ya sayang." Ujar kenzo mendusal dusal perut istri nya.


"Abang geli ihh, Mau ara perkaos." Ancam dinara.


"Yah! Tentu saja abang dengan rela sayang." Jawab kenzo tersenyum genit.


"Tidak boleh sekarang, Luka abang masih basah." Peringat dinara pada suami nya.


"Kan bisa pelan pelan sayang." Rayu kenzo.


"Kagak ada! Ayo pakai baju dulu." Tolak dinara mentah mentah.


Setelah selesai makai baju, Kenzo di tuntun di nara untuk kebawah agar bisa berjemur matahari pagi, Dengan di temani kaisar dan juga hana.


"Pagi kakak ipar." Sapa kaisar yang sedang memijit kaki hana.

__ADS_1


"Pagi." Balas dinara yang keberatan memapah kenzo.


Mereka tampak akur satu sama lain nya, Kaisar juga sudah bisa melupa kan cinta nya pada dinara. Karena kai sudah menemukan pujaan hati nya.


__ADS_2