
π΅
π΅
π΅
π΅
π΅
1 Minggu kemudian...
Hari ini Radit sudah di perbolehkan untuk pulang,tentu saja hal itu membuat Ibu,Ayah,dan Rangga sangat bahagia.
Selama 1 minggu ini,secara diam-diam April selalu datang ke Rumah Sakit untuk sekedar melihat keadaan Radit.
Bukan tanpa alasan April datang ke Rumah Sakit secara diam-diam,karena April takut Radit mengalami sakit kepala lagi.Sempat April menemui Radit tapi Radit malah mengusirnya dengan alasan takut Sisil marah dan salah paham.
Ibu,Ayah,dan Rangga hanya bisa pasrah tidak bisa berbuat apa-apa,mereka sungguh tidak tega melihat April yang setiap hari harus menangis.
Ayah dan Ibu Radit sedang mengurus administrasi,sementara Rangga sedang membereskan barang-barang Radit yang akan di bawa pulang.
"Rangga,apa Kakak boleh bertanya?" tanya Radit.
"Mau tanya apa Kak?" jawab Rangga yang masih fokus memasukan barang-barang Radit kedalam tas.
"Siapa sebenarnya wanita yang bernama April?" tanya Radit dan itu membuat Rangga menghentikan aktifitasnya.
"Apa Kak Radit benar-benar lupa dengan Kak April?" Rangga balik bertanya kepada Kakaknya itu.
"Kamu memang aneh,kalau Kakak inget Kakak tidak akan bertanya sama kamu," sahut Radit.
"Dijelaskan pun percuma,karena Kakak tidak akan ingat yang jelas Rangga cuma mau bilang,kalau Kak April itu adalah orang yang sangat penting di hati Kakak," jelas Rangga.
Tiba-tiba pintu terbuka...
"Sudah beres semuanya,ayo kita pulang!!" seru Ayah Radit.
Radit berjalan meninggalkan Rumah Sakit yang pikirannya entah kemana.Radit terus memikirkan perkataan yang di ucapkan oleh Rangga.
Sementara itu,April tidak bisa menjemput kepulangan Radit karena dia ada mata kuliah pagi.
Selama 1 minggu ini,April jadi sering melamun dan murung.Hari ini adalah jadwal mata kuliahnya Dika.
Sejak awal Dika masuk kelas,April sama sekali tidak memperhatikannya malahan pelajaran yang Dika berikan pun sama sekali tidak di perhatikan,pikirannya melayang entah kemana.
"Aprilia Suci Prabowo," panggil Dika.
April masih saja melamun,sampai-sampai Sella menyikut lengan April sampai April merasa kaget.
"Apaan sih lo Sell?" tanya April sewot.
Sella menunjuk dengan dagunya,teman-temannya sudah melihat ke arah April dan Dika menatap tajam ke arah April dengan kedua tangannya yang dilipat di atas perut.
"Aprilia Suci Prabowo,tolong jelaskan lagi materi yang baru saja saya terangkan," ucap Dika dingin.
"Hah.." April terlihat gelagapan.
"Makannya jangan mikirin cowok terus,udah tahu cowoknya ga inget masih aja di kejar-kejar," celetuk Sisil.
April mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya.
"Bagaimana Aprilia Suci Prabowo,apa kamu bisa menjelaskan semuanya?" tanya Dika.
"Maaf Pak..." April menundukkan kepalanya.
Habis mata kuliah ini seleaai,kamu ikut saya ke ruangan saya.
Mata kuliah Dika pun selesai,April terpaksa ikut lagi ke ruangan Dika.
Diruangan Dika...
"Silahkan duduk," ucap Dika.
"Kamu kenapa,akhir-akhir ini tidak fokus dengan pelajaran saya?" tanya Dika.
"Seharusnya Bapak sudah tahu kan apa jawabannya,kenapa Bapak masih tanya," April menjawab dengan tidak memandang ke arah Dika.
"Apa karena laki-laki itu?dia sudah Amnesia dan tidak ingat sama kamu,terus apa yang kamu harapkan lagi dari dia?" tanya Dika.
April langsung menole ke arah Dika,tatapannya begitu tajam tersirat kebencian di mata April.
"Sampai kapanpun,aku akan terus menunggu Radit meskipun itu harus bertahun-tahun," seru April dengan tatapan yang sangat tajam.
"Tidak bisakah kamu membuka hatimu sedikit saja untukku April?" tanya Dika.
"Maaf Pak,aku hanya menganggap Bapak cuma sebatas Mahasiswa dan Dosen tidak lebih," jawab April.
"Aku sangat mencintai kamu April,aku bisa membuatmu lebih bahagia lagi daripada Polisi miskin itu," ucap Dika dengan memegang tangan April.
__ADS_1
April menghempaskan tangan Dika,ucapannya begitu sangat sombong.
"Maaf,Pak kalau sudah tidak ada yang di bicarakan lebih baik saya pulang," April beranjak dari duduknya dan keluar meninggalkan ruangan Dika.
"Aaaaarrrrgggghhh...."
Dika melempar gelas yang ada di hadapannya sampai pecah berantakan.
April cepat-cepat menuju parkiran karena April akan pergi ke rumah Radit,dengan hati yang berbunga-bunga April membeli beberapa buah-buahan dan kue buat Radit.
Sesampainya di rumah Radit,ternyata Sisil sudah ada di sana.Karena sudah terlanjur,April melangkah masuk ke rumah Radit yang pintunya terlihat terbuka.
April perlahan melangkah menuju pintu,disaat sampai di depan pintu baru saja April mau mengucapkan salam,April di kejutkan dengan pemandangan di depannya ternyata Radit dan Sisil sedang bermesraan.
Seketika air mata April jatuh,dan barang bawaannya pun jatuh berserakan di lantai membuat dua insan yang sedang bermesraan terkejut dan menoleh ke arah pintu.
April cepat-cepat menghapus air matanya dan berlari menuju mobilnya,Radit berdiri dan mengejar April.
Disaat April akan memasuki mobilnya,Radit menarik tangan April dengan deraian air mata April menghempaskan tangan Radit dan langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Radit yang sedang berdiri mematung.
Di dalam mobil,April tak henti-hentinya menangis.Air matanya terus berjatuhan membasahi pipinya yang putih mulus.
April memukul-mukul dadanya dengan satu tangan,sakit sekali rasanya.
Sementara itu,Sisil menghampiri Radit dan menepuk pundak Radit.
"Sayang,kamu kenapa?" tanya Sisil.
"Maaf,Sisil sepertinya aku mau istirahat kamu lebih baik pulang saja pasti kamu cape kan habis pulang Kuliah," seru Radit.
"Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu ya,besok aku kesini lagi," Sisil mencium pipi Radit dan masuk ke dalam mobilnya meninggalkan rumah Radit.
Radit masuk ke dalam rumahnya,di lihatnya buah-buahan dan kue yang berserakan di depan pintu rumah Radit.
Radit memunguti semuanya,ada perasaan aneh yang dia rasakan.
Radit memasuki kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Tiba-tiba air matanya menetes dan Radit memegang dadanya.
"Kenapa rasanya sakit sekali,siapa April sebenarnya?bahkan perasaanku terhadap Sisil sudah berbeda,tidak ada rasa cinta buat Sisil meskipun aku berada dekat dengan Sisil,tapi aku tidak merasa bahagia sedikitpun," gumam Radit.
Terbayang wajah April yang tadi penuh dengan deraian air mata,sungguh dadanya begitu sesak mengingat semua itu.
********
April menepikan mobilnya,matanya sudah tidak bisa jelas melihat jalanan karena air mata yang terus berjatuhan membuat pandangannya buram.
Setelah sekian lama April menumpahkan semua kesedihannya,April memutuskan untuk pulang ke rumah.
Di dalam kamar,April kembali menangis dia tampak sedang berpikir keras entah apa yang sedang April pikirkan,hingga tak terasa April tertidur karena terlalu lelah menangis.
Keesokan harinya...
Seperti biasa,April dan Sella sedang sarapan di Kantin cuma bedanya sekarang April hanya memesan teh manis hangat tidak memesan makanan.
"Pril,lo ga pesan makanan?" tanya Sella.
April menggelengkan kepalanya...
Tiba-tiba Brian dan Andre datang,bergabung dengan April dan Sella.
"Pagi,Bidadari ku yang cantik," goda Brian.
"Apaan sih lo Ian,berisik" sahut Sella.
"Ya ampun Pril,kok mata lo sembab kaya gitu sih kamu habis nangis ya?siapa yang sudah berani membuat lo menangis?" tanya Brian.
April tidak memperdulikan ocehan Brian,dia terus saja melamun seperti ada sesuatu yang dia pikirkan.
"Ya ampun,kasihan banget sih mata Kakak gue sampai sembab kaya gitu,pasti habis nangisin Pak Polisi ganteng itu ya," ledek Alya yang datang bersama Sisil dan Monik.
"Rombongan Nenek Lampir datang," gumam Andre.
"Apa lo bilang,enak aja bilang kita Nenek Lampir," sewot Sisil.
"Pril,suasananya sudah mulai ga enak ke kelas yu!!" ajak Sella yang langsung beranjak dari duduknya.
Tanpa banyak bicara April berdiri dan hendak melangkah,tapi Sisil mencekal lengan April.
"Dengerin gue baik-baik,sekarang Radit sudah ga inget sama lo jadi lebih baik mulai sekarang jauhi Radit jangan deketin Radit lagi," seru Sisil.
April menghempaskan tangan Sisil dan menatapnya dengan tatapan penuh kebencian,tanpa bicara sepatah katapun April pergi meninggalkan Sisil.
Di dalam kelas,April kembali menangis Sella memeluknya.
"Lo yang sabar Pril,Radit pasti bakalan ingat lagi sama lo," ucap Sella.
Waktu pulang pun tiba,April dan Sella sedang berjalan menuju parkiran.Ternyata disana sudah ada Radit sedang menunggu seseorang di atas motornya.
__ADS_1
Sesaat mata April dan Radit saling menatap,ada rasa rindu yang terpancar di mata mereka berdua.
Tiba-tiba Sisil berlari sampai menambrak pundak April.
"Woii..punya mata ga sih lo," teriak Sella.
"Sayang...." Sisil memeluk Radit tapi Radit tidak membalasnya bahkan tatapan Radit tidak beralih dari April.
April segera memasuki mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
"Pril,tunggu" teriak Sella.
Sella segera masuk ke dalam mobilnya dan menyusul April,dia takut terjadi apa-apa kepada April.
"Ayo,katanya mau pulang," ucap Radit datar.
Keesokan harinya...
Papih sama Mamih April sedang sarapan.
"Mih,kok April belum turun?" tanya Papih Anwar.
"Oh iya ya,padahal biasanya jam segini April sudah bangun.Bentar ya Pih,Mamih bangunin April dulu kali aja dia kesiangan," ucap Mamih Lisda.
Mamih Lisda pergi ke kamar April,sesampainya di kamar April suasananya pun masih gelap di lihatnya April masih tertidur dengan gulungan selimut yang membalut tubuhnya.
Mamih Lisda membuka gorden kamar April,disaat Mamih Lisda menoleh ke arah April betapa terkejutnya dia melihat April yang sedang menggigil seperti kedinginan.
"Ya alloh April,kamu kenapa?" Mamih Lisda memegang kening April,ternyata badan April panas sekali.
"Ya Alloh,badan kamu panas banget Sayang,tunggu sebentar Mamih panggil Papih dulu," Mamih Lisda cepat-cepat berlari ke bawah.
"Ada apa Mih,kok lari-lari kaya gitu?" tanya Papih Anwar.
"April badannya panas banget Pih."
"Apa..."
Papih dan Mamih segera berlari ke kamar April.Papih Anwar memegang kening April dan ternyata benar saja badan April panas banget.
"Sayang kita ke Rumah Sakit sekarang," seru Papih Anwar panik.
April memegang tangan Papihnya dan menggelengkan kepala.
"Ya sudah,Mih panggil Dokter keluarga saja suruh cepat datang kesini," seru Papih Anwar.
Tidak lama kemudian Dokter datang dan memeriksa keadaan April.April terlihat tertidur setelah Dokter menyuntikan obat.
"Bagaimana Dok,keadaan anak saya?" tanya Papih Anwar.
"April terlalu banyak pikiran,dan kekurangan asupan nutrisi juga karena April jarang makan,ini obat yang harus April minum sekarang April sedang istirahat jadi jangan di ganggu dulu," jelas Dokter.
"Terima kasih Dokter."
"Sama-sama,kalau begitu saya permisi dulu."
"Mih,Papih antar Dokter ke luar dulu," ucap Papih Anwar.
Mamih Lisda duduk di samping April,di usapnya kepala sang anak tanpa terasa air mata Mamih Lisda menetes.
"Kasihan banget kamu Nak,Mamih yakin ke depannya kamu akan bahagia," Mamih Lisda mencium kening April.
πΌ
πΌ
πΌ
πΌ
πΌ
Malam semuanya,masih adakah yang menunggu kehadiran April dan Babang Radit??π€π€
Semoga kalian masih setia ya dengan April dan Babang Raditnya,sekarang melow-melow dulu ya...
Seperti pepatah,"berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian,bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian"π€π€
Begitulah pepatah yang cocok buat April dan Babang Radit,jadi tetap setia ya menunggu kelanjutannyaππππ
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOUπππ