
π΅
π΅
π΅
π΅
π΅
Ayah dan Ibu Radit datang ke Rumah Sakit dengan terburu-buru.
"Dit,bagaimana keadaan Rangga?" tanya Ibu dengan deraian air mata.
"Ibu tenang dulu,Rangga sedang ditangani di dalam," jawab Radit.
"Anak itu kenapa sampai seperti ini," geram Ayang Radit.
"Ayah harus sabar,kita kan belum tahu kebenarannya mungkin saja Rangga hanya di jebak," seru Radit.
Cukup lama Radit dan yang lainnya menunggu Dokter keluar,hingga tidak lama kemudian Dokter keluar.
"Dok,bagaimana keadaan Adik saya?" tanya Radit.
"Alhamdulillah Adik Bapak bisa di selamatkan,cuma sekarang kondisinya masih lemah jadi jangan dulu banyak bicara biarkan Adik Bapak istirahat dulu," ucap Dokter.
"Baiklah Dokter."
"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Dokter.
"Terima kasih Dokter."
Semuanya masuk ke dalam ruangan rawat Rangga.
Sementara itu,di sebuah gudang tua...
Sella sudah mulai sadar,dan melihat kesekelilingnya.
"Sella Sayang," seru Papah Farhan.
"Papah.." Sella menoleh ke arah April yang saat ini sedang duduk di kursi dengan tangan terikat.
"April..!!Pah kenapa April ada disini juga?" tanya Sella.
Tapi semuanya tidak ada yang menjawab..
Waktu menunjukkan pukul 4 sore,Rangga sedikit demi sedikit sadar dan srmuanya langsung menghampiri Rangga.
"Rangga,kamu sudah sadar Nak?" ucap Ibunya.
Rangga terlihat meneteskan air matanya...
"Ma..maafkan a..aku," ucap Rangga terbata.
"Sudah jangan dulu banyak pikiran,sekarang kamu istirahat saja biar kondisi kamu segera pulih kembali," sahut Radit.
"Kak,ce..cepat to..tolong Kak April."
"Astaga,Ric gue lupa ngehubungi April," ucap Radit panik.
Tanpa menunggu lama lagi,Radit langsung menghubungi April tapi tidak ada jawaban sama sekali,Radit semakin panik.
Ponsel April berbunyi di dalam tasnya,semuanya menoleh ke arah suara Ponsel itu.Dengan cepat Dito mengambil Ponsel April,senyumnya begitu lebar saat mengetahui siapa yang menghubungi Ponsel April.
"Hallo Sayang,kamu kemana saja kok baru di angkat telponnya?" ucap Radit.
"Hallo Pak Polisi yang terhormat," jawab Dito.
"Siapa kamu,kenapa Ponsel April ada di tangan kamu?" Radit begitu khawarir.
"Kamu lupa,padahal kita pernah bertemu waktu di Restoran."
"Dito.." Radit kaget dan melotot.
"Ternyata bagus juga ingatan Pak Polisi yang satu ini,hebat!!"
"Mana April?" tanya Radit.
"Ow..sabar Pak Polisi buru-buru amat,sudah kangen ya."
"Jangan banyak basa-basi,dimana April?" bentak Radit.
Dito mematikan Ponsel April dan mengubah panggilan menjadi Video Call.
Radit segera mengangkatnya,dan terpampanglah wajah kekasihnya yang sedang terikat diatas kursi dengan mulut di sumpal oleh syal.
"April..Dito jangan macam-macam kamu,jangan pernah kamu sentuh April atau kau akan tahu akibatnya," bentak Radit.
Terlihat Dito tertawa di samping April,Dito kemudian mengelus pipi April dengan sengaja supaya Radit tambah emosi,sementara April tampak berontak dan ingin bicara tapi tidak bisa karena mulutnya di sumpal.
"Dito,brengsek kamu kalau sampai terjadi sesuatu dengan April aku berjanji akan membunuhmu dengan tanganku sendiri," bentak Radit.
Dito tertawa terbahak-bahak dan mematikan sambungan Video Callnya dan seketika membuat Radit geram.
"Sialan..."
"Ada apa Dit?" tanya Rico.
"April di sekap oleh Dito."
"Tuh orang emang ke****t,ingin rasany gue bunuh tuh orang," Rico pun ikut emosi.
__ADS_1
Sementara Ayah dan Ibu Radit terlihat terkejut.
"Kita harus siapkan pasukan untuk menangkap Dito,karena gue yakin dibalik hilangnya Om Anwar,Om Farhan,Sella,dan Andre pasti Dito dalangnya dan kita juga harus hati-hati karena Dito bukan lawan yang mudah di kalahkan," jelas Radit.
"Ok,gue pergi dulu." ucap Rico.
Setelah Rico pergi,tiba-tiba Ponsel Radit berbunyi dari nomor baru,Radit segera membuka pesan itu.
"Kalau kamu masih ingin melihat kekasih cantikmu ini,datang ke gudang tua yang ada di pinggir kota tapi ingat kamu harus datang sendirian kalau sampai aku tahu kamu bawa anak buah,aku pastikan kamu tidak akan pernah melihat kekasih cantikmu lagi."
"Sial..."
"Ada apa Dit?" tanya Ayahnya.
"Radit harus menyelamatkan April Yah,tolong do'akan Radit semoga Radit selamat dan bisa berkumpul kembali bersama kalian."
"Ayah dan Ibu selalu mendo'akan kamu Dit,kamu hati-hati dan bawalah calon menantu Ibu dengan selamat," ucap Ibu Radit.
"Pasti Bu."
Radit pun segera pergi meninggalkan Rumah Sakit,sementara Rangga hanya bisa melihat kepergian Kakaknya dengan tatapan khawatir.
Radit segera menghubungi Rico...
"Ric,Dito nyuruh gue untuk datang ke gudang tua sendirian tanpa membawa anak buah,tolong lo sama anak buah gue selalu stan by dan kalau dalam waktu 2 jam ga ada kabar dari gue,kalian susul gue tapi tetap harus waspada jangan gegabah karena lawan kita bukan lawan yang sepele gue sudah menyalakan GPS Ponsel gue jadi kalian tahu dimana posisi gue," Radit menutup Ponselnya dan segera melajukan mobilnya ke alamat yang diberikan oleh Dito.
Tidak membutuhkan waktu lama,Radit sudah sampai di depan gudang tua itu.Radit sungguh terkejut saat melihat anak buah Dito yang menjaga gudang itu sangatlah banyak.
Radit tidak menyangka kalau bakalan dijaga dengan anak buah sebanyak itu tapi Radit berusaha bersikap tenang.
Radit langsung dihampiri oleh beberapa anak buah Dito,dan dengan sigap anak Dito itu mengikat tangan Radit dan menyeretnya untuk masuk ke dalam gedung tua itu.
Sesampainya di dalam,ternyata dugaan Radit benar Om Anwar,Om Farhan,Sella,dan Andre di sekap oleh Dito.Sementara itu Agus dan Dito terlihat sedang duduk santai sembari menghisap rokoknya.
"mmmmmmmmm.." April mencoba berbicara tapi tidak bisa.
Dito beranjak dari duduknya untuk menghampiri Radit sembari bertepuk tangan.
"Wow,Pak Polisi hebat kita sudah datang."
"Apa mau kamu Dito?kenapa kamu melakukan semua ini kepada keluarga April?" tanya Radit.
"Kamu tidak usah tahu,apa masalah yang terjadi antara keluargaku dengan keluarga April yang jelas intinya Pak Anwar adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas kehanncuran keluargaku."
"Dan sebenarnya yang punya masalah denganku itu adalah kamu," seru Dito.
"Masalah apa?aku tidak pernah mengenalmu," sahut Radit.
"Kamu memang tidak mengenalku,tapi kamu pasti kenal dengan wanita yang bernama Sisil?" ucap Dito.
"Sisil..."gumam Radit.
"Sisil adalah saudara sepupuku,apa kamu tahu bagaimana keadaan Sisil sekarang?" bentak Dito dengan memukul wajah Radit hingga Radit tersungkur ke lantai.
"Sialan.." Dito kembali memukul Radit.
Seketika darah mengalir dari hidung dan sudut bibir Radit.Sementara itu April hanya bisa menangis melihat kekasihnya di siksa di depan matanya.
"4 tahun lalu,disaat kamu sembuh dari hilang ingatan Sisil menjadi orang yang pendiam dan suka melamun karena kamu sudah tidak menganggapnya lagi padahal dari dulu laki-laki yang dia cintai itu cuma kamu seorang."
"Lama-kelamaan,Sisil menjadi sering teriak-teriak memanggil nama kamu bahkan dari hari ke hari kondisinya makin memburuk karena Sisil sudah mencoba untuk bunuh diri.Dan kamu tahu sekarang Sisil dimana?" bentak Dito.
"Sekarang Sisil berada di Rumah Sakit Jiwa,Sisil mengalami gangguan jiwa dan itu gara-gara kamu," teriak Dito dan memukul Radit dengan membabi buta.
April sungguh tidak tega melihat Radit disiksa seperti itu,darah sudah mengalir dimana-mana,wajah Raditpun sudah penuh dengan darah.
Radit terlihat tersenyum menyeringai ke arah Dito.
"Ternyata kamu adalah seorang laki-laki pengecut,kamu takut kan kepadaku makannya kamu mengikat tanganku supaya aku tidak bisa melawanmu," cibir Radit.
"Kurang ajar.." Dito sudah bersiap akan menghantam Radit dengan kursi tapi dihalangi oleh Ayahnya.
"Jangan Dito,kamu harus sabar jangan biarkan Polisi tengik ini mati dengan mudah," ucap Ayah Agus.
Dito melempar kursi itu ke sembarang arah sehingga membuat April memejamkan matanya,kemudian Dito menghampiri April,Dito melepaskan kain berada di mulut April.
"Dasar kamu manusia jahat Dito," teriak April.
"Papihmu dan kekasihmu jauh lebih jahat," Dito menjambak kembali rambut April.
Radit sudah bangun ingin menolong April tapi anak buah Dito dengan sigap menodongkan pistol ke kepala Radit sehingga Radit mengurungkan niatnya.
"Jangan sentuh April," bentak Radit.
"Dito,jangan sakiti anak saya," teriak Papih Anwar.
"Lepaskan ikatan dia,biarkan mereka melepaskan rindu mereka sebelum mereka terpisah untuk selamanya," seru Dito.
Kemudian anak buah Dito melepaskan ikatan April,April segera berhambur memeluk Radit.
"Ya Alloh Dit,kamu harus bertahan," ucap April dengan deraian air mata.
"Kamu tenang saja Sayang,aku tidak akan mati semudah itu."
"Dito,biarkan mereka saling melepas rindu kita tinggalkan mereka,Ayah juga mau bertemu dulu dengan Lisda rasanya rasa rindu ini sudah berada di ujung tanduk," ucapnya dengan menyeringai ke arah Papih Anwar.
"Jangan macam-macam kamu Agus,jangan pernah kamu sentuh istriku," teriak Papih Anwar yang berontak dari dalam sel.
"Ayo Dito,permainan akan segera dimulai biarkan mereka melepas rasa rindu mereka sebelum ajal menjemput nyawa mereka," Agus tertawa terbahak-bahak.
"Jaga mereka,jangan sampai lolos," seru Dito.
__ADS_1
"Siap Bos."
Kemudian Dito dan Ayahnya pun pergi meninggalkan gudang tua itu.Kedua anak buah Dito meninggalkan semuanya dan pintunya mereka kunci.
"Sayang kamu gapapa?" tanya April dengan deraian air mata.
"Gapapa Sayang,kamu jangan khawatir kamu lupa ya kalau pacarmu ini seorang Polisi," jawab Radit dengan kekehannya.
Kemudian April segera membuka ikatan tangan Radit,dan menghampiri Papih dan yang lainnya.
"Papih..Papih gapapa kan?" tanya April.
"Papih gapapa Sayang."
"Kalian gapapa kan Sell?"
"Lo tenang aja Pril,kita gapapa yang terpenting sekarang gimana caranya bisa keluar dari tempat ini mumpung kedua Iblis itu sedang tidak ada," ucap Sella.
"Susah kayanya,soalnya penjagaannya ketat banget anak buah Dito banyak,tapi mudah-mudahan saja anak buahku cepat datang," jawab Radit.
Sementara itu dikediaman Prabowo,Mamih Lisda terlihat mondar-mandir dia sangat khawatir perasaannya tidak enak.
"Lindungilah anak dan suami hamba ya Alloh," Mamih Lisda terus bergumam.
Tiba-tiba pintu rumahnya terbuka secara terpaksa,Mamih Lisda menoleh dan betapa terkejutnya Mamih Lisda melihat orang yang sudah lama tidak bertemu dan tidak ingin Mamih Lisda temui.
"Hallo Lisda,apakabar!!" ucap Agus dengan senyumannya.
"A..Agus,ngapain kamu kesini?" Mamih Lisda terlihat panik.
"Kenapa?sudah lama kita tidak bertemu,aku sangat merindukanmu Lisda," seru Agus dengan berjalan mendekat ke arah Mamih Lisda.
"Stop Agus jangan mendekat," teriak Mamih Lisda dengan terus mundur.
"Kenapa Lisda?apa kamu tidak merindukanku?"
"Jangan mendekat atau aku akan berteriak,diluar sana banyak Polisi yang menjaga rumah ini," bentak Mamih Lisda.
"Jadi tikus-tikus kecil yang ada di depan rumah kamu itu Polisi?semuanya sudah aku basmi,jadi tidak ada lagi orang yang akan mengganggu kita," Agus tertawa puas dengan terus melangkah mendekati Mamih Lisda.
Mamih Lisda mencoba berlari ke atas dan Agus mengejarnya.Disaat Mamih Lisda ingin menutup pintu kamarnya,ternyata Mamih Lisda kalah cepat karena Agus sudah berada di depannya.
Dengan cepat Agus mendorong tubuh Mamih Lisda masuk ke dalam kamar dan Agus mengunci pintu kamarnya.Mamih Lisda melempar barang-barang yang ada di kamarnya ke arah Agus tapi Agus dengan mudahnya bisa menghalau semuanya.
"Pergi kamu Agus jangan mendekat," teriak Mamih Lisda dengan deraian air mata.
"Kamu makin cantik saja Lisda,pantas saja Puterimu begitu cantik."
"April..dimana April?kamu jangan macam-macam dengan Puteri aku," bentak Mamih Lisda yang sekarang sudah ketakutan karena Agus terus saja mendekatinya.
"Tenang saja Puteri cantikmu tidak akan aku ganggu,asalkan sekarang kamu mau menjadi istriku karena sebentar lagi Anwar akan menemui ajalnya," ucap Agus dengan tawanya yang menakutkan.
"Apa kamu bilang?jadi suami aku.....?"
"Ya,Anwar sekarang ada ditanganku bahkan saat ini hidup dan mati Anwar ada dalam genggamanku."
"Dasar laki-laki Iblis kamu Agus," teriak Mamih Lisda.
"Terserah kamu mau bilang aku apa,yang penting sekarang kita bersenang-senang."
Agus mulai memaksa Mamih Lisda untuk melayani nafsu bejadnya,Mamih Lisda terus berontak dan berteriak-teriak dengan tangisannya yang sangat memilukan.
Tapi Agus bagaikan tuli tidak mendengarkan teriakan dan permohonan Mamih Lisda karena nafsu sudah menguasai dirinya.
"Tolong jangan lakukan itu Agus,aku mohon."
Mamih Lisda terus berteriak dan memohon,tapi percuma saja karena tenaga Mamih Lisda kalah dengan tenaga Agus.
***
"Pih,kok perasaan April ga enak ya,April jadi ingat sama Mamih takut terjadi kenapa-napa sama Mamih," ucap April.
"Sama perasaan Papih juga ga enak,kita berdoa saja mudah-mudahan Mamih baik-baik saja," Papih Anwar memeluk anaknya itu.
Disebuah kamar sudah terlihat berantakan,Mamih Lisda terus saja menangis dengan berbalut selimut di tubuhnya.Sementara Agus terlihat tersenyum bahagia karena sudah mendapatkan apa yang dia mau.
"Biadab kamu Agus,aku do'akan kamu cepat mati," teriak Mamih Lisda dengan histeris.
"Yang akan cepat mati itu Anwar bukannya aku,terima kasih Sayang," ucap Agus dengan senyumannya.
Agus meninggalkan Mamih Lisda yang sedang menangis dengan pilunya,disaat Agus membuka pintu Mamih Lisda menoleh ke arah pintu,dilihatnya didepan pintu seorang wanita yang sangat Mamih Lisda kenal sedang tersenyum ke arahnya.
πΌ
πΌ
πΌ
πΌ
πΌ
Selamat pagi semuanya,jangan lupa dukungannya dengan cara like dan vote sebanyak-banyaknya supaya Author makin semangat lagiππππ
Jangan lupa
like
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOUπππ