Polisi Penjaga Hati

Polisi Penjaga Hati
KEPEDIHAN


__ADS_3

Setelah selesai makan..


"Pril,lo tidur di kamar gue aja biar gue tidur di kamar Rangga." seru Radit


"Maaf sudah merepotkan." ucap April


"It's ok tidak masalah,,oh ya tadi Nyonya Lisda nelpon gue sudah bilang kalau lo tidur di rumah gue dan beliau tampak lega karena dari tadi telpon lo ga di angkat-angkat."


April tidak ngomong apa-apa hanya anggukan kepala yang dia lakukan.


"Ya sudah lo tidur sana..sudah malam maaf kamarnya jelek ga sebagus kamar lo." sahut Radit


April hanya tersenyum ke arah Radit dengan mata yang sedikit bengkak.


Radit sampai melongo,karena baru pertama kali ini April tersenyum kepadanya.


April pun memasuki kamar yang di tujukan Radit,kamarnya memang kecil jauh dengan kamarnya tapi kamar Radit tampak bersih dan rapi.


Biasanya kamar cowok sangat berantakan tapi berbeda dengan kamar Radit yang sangat rapi dan bersih.


April naik ke ranjang tapi dia tidak ngantuk,dia duduk dan membayangkan kejadian tadi sore,dada nya kembali sesak dan rasanya pedih sekali.


April kembali menangis,hati dan perasaannya hancur berkeping-keping.



"Kak,sudah malam ayo kita tidur." ajak Rangga


"Ayo."


Radit dan Rangga berjalan menuju kamar Rangga yang tepat bersebelahan dengan kamar Radit.


Saat melewati kamar Radit,ternyata pintu kamar terbuka sedikit Radit mengintip..


Di lihatnya April yang sedang menangis tersedu-sedu dengan memukul-mukul dadanya.


Hati Radit benar-benar sakit melihat April seperti itu.


Radit menutup pintu kamar pelan-pelan dan menyandarkan dirinya di dinding.


"Menyedihkan sekali nasib lo Pril." gumam Radit.


KEESOKAN HARINYA...


April sudah bangun pagi-pagi sekali dan membantu Ibu Radit memasak di dapur.


"Sudah Nak,kamu duduk saja jangan bantuin ibu nanti kotor." seru Ibu


"Tidak apa-apa Bu,April seneng kok."


Radit yang baru selesai mandi tersenyum melihat keakraban April dan Ibunya.


"Biasanya anak orang kaya itu paling tidak suka lho masuk dapur karena kotor dan bau." sahut Ibu


"Ya tapi April ga gitu Bu,April suka masak dan juga buat kue sama Mamih April kalau sedang libur..nanti kalau ada waktu April buatin Ibu kue deh." sahut April


"Wah..beneran ya Ibu tunggu."


April dan Ibu Radit pun tertawa lepas,semua pemandangan itu tidak lepas dari perhatian Radit.


"Hayo lho Kak lagi ngeliatin siapaa?." Rangga menepuk pundak Radit sehingga membuat Radit kaget.


April dan Ibu menoleh ke arah Radit dan Rangga.


"Ada apa?." tanya Ibu


"Ini Bu dari tadi...." omongan Rangga terpotong karena mulut Rangga di bekap oleh tangan Radit.


"Gapapa Bu,ya sudah Ibu lanjutin saja masaknya." Radit cengengesan dan membawa Rangga ke luar.


Diluar...


"Kakak apa-apaan sih?."


"Awas jangan ngomong macam-macam kamu sama Ibu."


"Yee..emang Rangga mau ngomong apa?


Eh tapi Kak,,ngomong-ngomong Kak April cantik banget ya." seru Rangga


"Tahu apa kamu anak ingusan."


"Kak,anak ingusan juga normal bisa membedakan mana yang cantik dan jelek.. Kakak kayanya suka ya sama Kak April dari tadi ngeliatin Kak April terus." goda Rangga


Radit menutup mulut Rangga...


"Stttt..jangan keras-keras,kalau April dengar bisa marah dia."


"Marah kenapa?." tanya Rangga


"Ya marah aja...lagi pula derajat kita itu jauh banget,dia anak konglomerat sementara Kakak rumah kita saja sebesar dapur di rumahnya." jelas Radit


"Tapi Kakak suka kan sama Kak April?."


"Apaan sih anak kecil jangan sok tahu."


Tiba-tiba April datang...

__ADS_1


"Dit,kunci mobil gue mana gue mau ngambil baju di mobil."


Radit memberikan kunci mobilnya,April mengambil baju yang memang ia simpan di dalam mobil untuk berjaga-jaga.


Kemudian April ke kamar mandi untuk mandi,setelah beberapa saat semuanya sudah menunggu April di meja makan.


Ceklek pintu kamar terbuka..



Refleks semua orang melihat ke arah April,,Radit dan Rangga sampai melongo melihat April.


"Maaf semuanya menunggu lama." ucap April


"Tidak Nak,ayo duduk makan dulu." ajak Ayah


Rangga yang melihat Kakaknya masih melongo memasukan goreng tahu ke mulutnya yang terbuka.


"Jangan mangap mulu nanti ada lalat masuk." ledek Rangga


Raditpun hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Setelah selesai makan,April berpamitan pulang.


"Bu,terima kasih sudah mengizinkan April tidur di rumah Ibu."


Ibu Radit mendekati April dan memeluk April,membuat semuanya kaget...


"Tidak usah berterima kasih,sering-seringlah berkunjung ke sini." seru Ibu


"Iya Bu."


Lalu April pun mencium tangan Ibu dan Ayah Radit.


Di dalam mobil...


"Maaf,pasti semalam kamu tidak nyenyak ya tidur di kasur yang keras." seru Radit


"Kata siapa,,lo itu Sotoy banget jadi orang gue bukan tipe anak yang manja tidur di mana pun jadi." sahut April


"Sekarang kita mau kemana?." tanya Radit


"Pulang."


"Yakin mau pulang?."


"Gue harus selesaikan semuanya."


Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi,hingga tak terasa merekapun sampai di Rumah April.


Mamih Lisda yang mendengar suara mobil langsung berlari keluar.


"Kamu baik-baik saja kan?." tanya Mamih Lisda


"April baik-baik saja Mih."


"Nak Radit makasih ya sudah menjaga April" seru Mamih Lisda


"Iya sama-sama Nyonya." jawab Radit


"Sayang,kamu dari mana saja." Papih Anwar berjalan dari dalam berniat mau memeluk anak kesayangannya itu.


"Stop." teriak April


"Sayang Papih bisa jelaskan semuanya,tapi tidak di sini ayo kita masuk ke dalam." Papih Anwar mau menarik tangan April tapi April menghempaskannya.


"Jangan sentuh April." teriak April


Mamih Lisda menutup mulutnya dan menitikan air mata,baru pertama kali ini anak nya berani berteriak ke Papihnya sendiri.


April pun berjalan cepat masuk ke dalam Rumah di susul oleh Papih dan Mamihnya.


Sementara Radit menunggu di luar bersama Pak Jojo satpam Rumah April.


"Mau Bapak buatkan kopi Den Radit." tawar


Pak Jojo


"Boleh Pak."


"Sebentar ya Bapak buatin dulu."


Di dalam Rumah,April sudah duduk dan di temani oleh Mamih Lisda yang menggenggam erat tangan anaknya itu.


"Sayang maafkan Papih,Papih sudah khilaf Papih terlalu berambisi ingin mendapatkan anak laki-laki untuk menjadi penerus bisnis Papih"


"Berarti selama ini Papih tidak pernah menganggap April sebagai anak Papih?" bentak April


"Bukan begitu Sayang,Papih berpikir kalau kamu tidak akan sanggup menjalankan Bisnis Papih seorang diri,tapi sayang Papih mendapatkan anak perempuan lagi."


"Apa Mamih sudah mengetahuinya?" tanya April


Mamih Lisda hanya bisa mengangguk dan menangis.


April lari ke kamarnya,di susul oleh Mamih dan Papihnya...


April menurunkan koper dan memasukan baju dan barang-barangnya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana Sayang?" tanya Papih Anwar panik


"Mamih,,apa Mamih mau tetap di sini atau ikut April?." bentak April


"Tidak,,tidak ada yang boleh keluar dari rumah ini..rumah ini milik kalian." seru Papih Anwar


"Mamih ikut kamu Sayang,Mamih beres-beres dulu barang Mamih." Mamih Lisda pergi ke kamarnya untuk membereskan barang-barangnya.


"April tunggu Mamih di depan." April menyeret kopernya.


Di luar Radit tampak terkejut..


"Lho,mau kemana?" tanya Radit


"Pergi dari rumah,ini sudah bukan rumah gue lagi."


Tiba-tiba Mamih Lisda keluar dengan menyeret kopernya,Papih Anwar menyusulnya.


"Kalian jangan pergi dari sini,Papih mohon."


"Aku tunggu surat cerai dari kamu." ucap Mamih Lisda


"Tidak,aku tidak akan pernah menceraikan kamu..April Papih mohon Papih minta maaf Papih tidak bisa hidup tanpa kalian,Papih sayang banget sama kalian."


"Kalau Papih merasa sayang sama kami,Papih tidak akan mengkhianati kami berdua." bentak April


"Maaf Sayang maaf,,Papih mohon Papih Sayang kalian." Anwar sudah meneteskan air mata.


"Bohong...selama ini Papih tidak pernah Sayang sama April." bentak April


"Kata siapa? Papih sayang banget sama kamu April hanya kamu anak kesayangan Papih."


"Papih jangan banyak alasan,kemarin di Restoran anak itu begitu manja sama Papih dan Papih juga terlihat menyayanginya sementara April,sampai sebesar ini Papih tidak pernah membelai rambut April seperti anak itu." teriak April


Mamih Lisda terus saja menangis,sementara Radit hanya bisa mematung mendengar kata-kata April.


April mengambil kunci di tangan Radit dan melemparnya ke bawah kaki Anwar.


"April tidak butuh barang-barang dari Papih apalagi barang-barang April sama dengan anak itu."


April menarik tangan Mamihnya dan memasukan koper dan Mamihnya ke dalam Taxi.


"Sayang,lebih baik kamu bareng Nak Radit..Mamih tunggu kamu di Rumah lama kita...Nak Radit tolong antarkan April ya Taxinya penuh dengan barang-barang kita."


Radit mengangguk....


Mamih Lisda pun pergi meninggalkan rumah dengan kepedihan yang mendalam.


Papih Anwar sungguh hancur orang yang sangat dia sayangi dan cintai meninggalkannya.


"Pril,tapi gue pake motor."


"Gapapa."


"Ya sudah,kamu bisa pake helm?." tanya Radit


April menggelengkan kepalanya...


Radit tersenyum dan memakaikan helm ke kepala April,wajah mereka tampak dekat hanya berjarak beberapa centi saja.


Mereka saling menatap satu sama lain,Radit begitu terpana meskipun air mata tetap mengalir di pipinya yang mulus tak menyurutkan kecantikan April.


Dengan ragu-ragu Radit menghapus air mata April.


"Jangan menangis lagi,jadi ga cantik lagi." ucapan Radit berhasil membuat wajah April memerah.


"Ayo naik,kok malah diem."


Dengan ragu-ragu,Aprilpun naik ke atas motor Radit.


"Pegangan." seru Radit


Tapi April diam saja,April bingung harus pegangan kemana.


Tiba-tiba Radit menghentakan motornya,sehingga April kaget dan langsung memeluk pinggang Radit.


"Anak pintar,pegangan yang kuat." Radit tersenyum dan mulai melajukan motornya.


🌼


🌼


🌼


🌼


🌼


Hai..hai...dukung terus ya "POLISI PENJAGA HATI"🙏🙏😘😘


Jangan lupa


like


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU💋💋💋


__ADS_2