
๐ต
๐ต
๐ต
๐ต
๐ต
Agus dan wanita itu pergi meninggalkan Mamih Lisda yang sedang melotot tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Digedung tua...
Radit dan Andre sudah bersiap dibalik pintu dengan membawa tongkat masing-masing di tangannya,disaat pintu itu terbuka.
Buugghhh...
Kedua anak buah Dito langsung jatuh tersungkur ke lantai akibat pukulan dari Radit dan Andre.
"Good job," Radit bertos ria dengan Andre.
"Kalian tunggu disini jangan kemana-mana,biar aku dan Andre yang membereskan anak buah Dito," ucap Radit.
"Tapi kamu harus hati-hati Dit,aku takut banget terjadi kenapa-napa sama kamu," ucap April.
"Do'akan saja kita berdua selamat,dan anak buah aku segera datang menyelamatkan kita semua," sahut Radit.
"Amin..." jawab semuanya serempak.
"Kamu juga hati-hati Sayang," seru Sella.
"Siiip..." Andre mengacungkan Ibu jarinya.
Radit dan Andre mulai mengendap-ngendap untuk melumpuhkan satu per satu anak buah Dito.Dan benar saja,perlahan tapi pasti Radit dan Andre berhasil menyingkirkan anak buah Dito.
"Ndre,kayanya sudah agak berkurang anak buah Dito ayo kita ajak semuanya untuk keluar dari tempat ini," seru Radit.
Radit dan Andre kembali ke dalam gudang itu,untuk mengajak semuanya keluar dari tempat itu.
"Ayo semuanya kita keluar,dan ikuti aku sama Radit dari belakang," seru Andre.
April dan Sella memapang Orang tua mereka masing-masing untuk mengikuti Radit dan Andre,tapi disaat mereka berbalik Dito,Agus,beserta anak buahnya sudah berdiri di depan pintu dengan bertepuk tangan.
Pok..pok..pok..
"Hebat sekali,Pak Polisi yang satu ini," seru Dito.
"Mau kemana kalian?mau kabur,tidak semudah itu," ucap Agus dengan tawany yang menggelegar.
Radit dan Andre langsung berdiri didepan,untuk melindungi orang-orang yang mereka sayangi.
"Apa sebenarnya yang kalian inginkan?" tanya Radit.
"Kita ingin balas dendam,dan kita ingin kalian merasakan apa yang kita rasakan.Kalian harus merasakan bagaimana rasanya melihat orang yang kalian sayangi menderita," bentak Dito.
"Semua itu bukan kesalahan kita,kalau kalian tidak mengusik kehidupan kita,kita juga tidak akan mengusik kehidupan kalian," jelas Radit.
"Jangan banyak omong kamu,kamu tahu betapa aku sangat menyayangi Sisil aku sudah menganggap Sisil seperti adikku sendiri,dan sekarang Sisil harus di rawat di Rumah Sakit Jiwa dan itu semua gara-gara kamu,dan tidak lama kemudian Ibunya bunuh diri karena tidak sanggup melihat anak satu-satunya menjadi gila,apa kamu tahu bagaimana perasaan aku hah," teriak Dito.
"Cinta tidak bisa dipaksakan Dito,dulu aku memang sangat mencintai Sisil tapi disaat Papahnya mempermalukan aku dan keluarga aku,aku memutuskan untuk mundur dan disaat aku sudah menemukan sosok wanita yang bisa mengobati rasa sakitku,Sisil kembali dengan seenaknya dan berusaha mencelakakan April beruntung waktu itu aku tidak membuat Sisil masuk penjara," jelas Radit.
"Kurang ajar kamu Radit."
Dito mendekat dan dengan cepat menghantam Radit sampai Radit tersungkur karena Radit belum siap.
"Radit"
April mau menghampiri Radit,tapi dengan cepat Dito menarik tangan April dan menodongkan pistolnya di kepala April.
"Dito,jangan lukai Puteri saya," teriak Papih Anwar.
"Brengsek kamu Dito," bentak Radit.
"Jangan mendekat,atau aku pecahkan kepala wanita yang kalian sayangi," sahut Dito.
"Ikat mereka semua."
Agus memerintahkan anak buahnya mengikat semuanya di kursi,kecuali April yang masih berada dalam genggaman Dito.
Agus terlihat mondar-mandir di depan semuanya.
"Anwar apa kamu tahu,barusan aku sudah bersenang-senang dengan istri kamu yang cantik itu," seru Agus dengan senyumannya.
"Maksud kamu apa Agus?" tanya Papih Anwar geram.
"Kamu tahulah apa maksud aku?tidak usah dijelaskan," ucap Agus.
"Biadab kamu Agus,kamu harus mati," teriak Papih Anwar dengan kerasnya.
Papih Anwar terus berontak tapi tidak ada gunanya karena tangannya diikat,saking kuatnya Papih Anwar berontak sehingga Papih Anwar jatuh dari kursinya dan menangis dengan kencangnya.
Radit,Sella,Andre,dan Papah Farhan hanya bisa menundukkan kepala mereka tanda mereka merasakan sakit yang Papih Anwar rasakan.
April menangis dengan sesegukkan,dadanya terasa sesak bagaimana keadaan Mamihnya sekarang pasti Mamihnya sangat ketakutan.
Agus mendekati Papih Anwar dan menendangnya dengan kakinya.
"Tidaaakk...jangan kamu siksa Papih aku,kalian benar-benar manusia paling jahat yang pernah aku temui," teriak April dengan tangisannya.
Tiba-tiba pintu gudang itu terbuka dan muncullah dua orang yang sangat mereka kenal,April dan yang lainnya melototkan matanya saking tidak percayanya.
"Bagaimana Bos,ada yang bisa kita bantu?" tanya Alya dengan senyumannya.
"Al..Alya,,ka..kamu?" ucap April tidak percaya.
"Kenapa Kakakku tersayang,kaget ya kenapa aku berada disini?" ucap Alya.
__ADS_1
"Brian..ka..kamu juga," April menatap Brian.
"Maafin gue Pril," ucap Brian tanpa melihat ke arah April.
"Kalian berdua benar-benar keterlaluan," bentak Sella.
Alya mendekat ke arah April dan menyentuh wajah April tapi April berontak.
"Aku kira kamu benar-benar berubah,tapi nyatanya kamu tetap menjadi manusia yang berhati Iblis," bentak April.
Plaaaakk...
Alya menampar April dengan kerasnya sehingga sudut bibir April kembali berdarah.
"Hentikan Alya,kamu sungguh anak yang tidak punya perasaan," bentak Papih Anwar.
"Apa tidak punya perasaan?kalian yang tidak punya perasaan,kalian sudah membuat hidupku hancur,menderita,dan tidak ada harganya dimata semua orang.Dan kamu Anwar,kamu yang sudah mengawali semuanya hidup aku dan Mamah hancur gara-gara kamu Anwar hingga akhirnya satu-satunya orang yang aku punya pergi meninggalkan aku,apa kamu pernah memikirkan perasaan aku?" teriak Alya.
"Cukup Alya,bersikap sopanlah bagaimana pun juga dia itu Papih kamu tidak sepantasnya kamu berkata seperti itu," bentak April.
"Diam kamu,kamu tidak akan pernah merasakan apa yang aku rasa karena kamu belum pernah berada di posisi aku," bentak Alya.
Dito melepaskan April dengan mendorongnya hingga April jatuh kehadapan Papih Anwar.
"Papih tidak apa-apa kan?" April melihat kondisi Papih Anwar.
"Papih tidak apa-apa Sayang,kamu jangan khawatir," jawab Papih Anwar.
"Brian,kenapa kamu menjadi jahat seperti ini?" tanya Andre.
"Lo kan tahu Ndre,kalau Perusahaan Orang tua gue berada diujung kehancuran dan sebentar lagi bangkrut,disaat itu gue dikenalkan Alya kepada Dito dan dari sana Dito membantu Perusahaan gue bangkit lagi sampai sekarang Perusahaan gue bisa maju lagi dan itu semua berkat Dito,jadi gue punya hutang budi sama Dito," jelas Brian.
"Iya,tapi cara lo salah,lo malah bergabung dengan orang jahat seperti mereka," bentak Andre.
"Apapun bakalan gue lakuin supaya Perusahaan gue bangkit lagi,walaupun gue harus mengorbankan persahabatan," seru Brian.
"Gila lo Brian."
Dito mulai mendekati Radit..
"Bagaimana keadaan Rangga,apa sekarang dia sudah mati?" seru Dito.
Radit langsung menoleh ke arah Dito dan menatapnya dengan tajam.
"Jangan menatapku seperti itu,aku memang yang mengajaknya tapi dia yang ketagihan,ah..beruntung sekali nasibnya padahal aku mengharapkan dia itu mati," ucap Dito dengan santainya.
"Brengsek kamu Dito," ucap Radit dengan mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya.
"Kenapa?tapi aku tidak kecewa sih,karena anak buah kamu yang cantik itu sudah mati."
"Jadi,kamu yang sudah membunuh Novi?" Radit makin emosi.
"Bagaimana ya,aku memang Dalang di balik pembunuhan Novi tapi yang membunuh Novi itu bukan aku melainkan kedua anak buahku ini," seru Dito dengan merangkul Alya dan Brian.
Semuanya tampak terkejut,mereka tidak percaya kalau Alya dan Brian sampai berani membunuh seperti itu.
"Aku menyesal sudah menganggap kamu sebagai saudara,ternyata orang yang selama ini aku anggap saudara kelakuannya tidak lebih seperti Binatang," bentak April.
Alya yang merasa emosi dengan perkataan Papih Anwar dan April dengan cepat mengambil pistol yang berada di saku Dito.
"Mati saja kalian," teriak Alya.
Doooorrrrr....
"Papiiiiih...." teriak April.
Papih Anwar,menghalangi peluru yang akan mengarah kepada April.
Alya menjatuhkan pistolnya dan bersamaan dengan datangnya pasukan Radit.
"Angkat tangan semuanya," teriak Rico.
Dito dan Agus hendak melarikan diri,tapi Rico dan yang lainnya menghujani tubuh Dito dan Agus sehingga mereka berdua tewas di tempat.
Sementara Alya dan Brian langsung di tangkap dan diamankan,Rico melepaskan ikatan semuanya.
"Cepat bawa semuanya ke Rumah Sakit," perintah Radit.
April dan Radit berada dalam satu mobil bersama Papih Anwar.
"Papih,April mohon bertahanlah," ucap April menggenggam tangan Papihnya dengan deraian air mata.
"Ma..maafkan Papih,karena sudah ba..banyak salah sama ka..kamu Sayang,ka..kalau Papih ga ada tolong jaga Mamih kamu," ucap Papih Anwar terbata.
"Enggak Pih,Papih ga akan kemana-mana kita harus jaga Mamih bersama-sama," ucap April.
"Papih sudah ga kuat Sayang,sa..sampaikan permintaaan maaf Pa..Papih sama Mamih karena tidak bisa menjaga kalian,maafkan Papih semoga kamu bahagia,,dan kamu Radit tolong jaga Puteri Om dan bahagiakan dia," ucap Papih Anwar dengan meneteskan air mata.
Tidak lama kemudian genggaman tangan Papih Anwar terlepas dan Papih Anwar menutup matanya dengan senyuman yang terukir.
"Papih,Papih bangun Papih sebentar lagi kita sampai Rumah Sakit," ucap April dengan menggoyangkan tubuh Papihnya.
"Tenang Sayang tenang." Radit memeluk April.
"Pak cepetan Pak," April berteriak kepada supir.
Sesampainya di Rumah Sakit,Papih Anwar segera di tangani tapi tidak lama kemudian Dokter sudah keluar.
"Bagaimana keadaan Papih aku Dokter?" tanya April.
"Maaf Nona,Papih anda sudah meninggal 10 menit yang lalu," ucap Dokter.
"Ga mungkin Dokter,ga mungkin," April berlari ke dalam ruangan dan ternyata Papih Anwar sudah ditutup kain putih.
April berjalan tertatih-tatih dengan air mata yang terus mengalir dipipinya,perlahan April membuka kain putih dengan tangannya yang gemetar Radit mengikutinya dari belakang.
"Papih jahat,ninggalin April sama Mamih," pundak April terlihat bergetar hebat.
__ADS_1
Radit memeluk April..
"Tolong bangunin Papih Dit,Papih cuma pura-pura kan?Papih cuma tidur."
"Om Anwar sudah tenang Pril,kamu harus mengikhlaskannya Sayang."
"Ga Dit,Papih masih hidup kamu bohong," April terus memukul dada Radit dan Radit membiarkan April mencurahkan semuanya.
"Pukul saja aku Pril kalau itu semua bisa membuatmu tenang."
Tiba-tiba Ponsel Radit berbunyi dan melihat kalau Rico yang menghubunginya.
"Hallo Ric!!"
"................."
Jedaaaarrrr...
Mendengar informasi dari Rico membuat Radit merasa tersambar petir di siang bolong,Radit makin mengeratkan pelukkannya terhadap April dia tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada April.
Radit kemudian menutup telponnya.
"Dit,aku harus segera pulang aku ingin bertemu sama Mamih,pasti Mamih sedih banget dan ketakutan," ucap April.
"Tapi Pril..."
Tanpa menunggu Radit,April langsung menuju rumahnya.Selama dalam perjalanan April terus saja menangis,dan Radit terlihat sangat kasihan melihat keadaan kekasihnya itu.
Entah apa yang akan terjadi disaat April tahu tentang kondisi Mamih Lisda yang sebenarnya.
Sesampainya di depan rumah April,April melihat sudah banyak Polisi disana.Radit begitu ragu-ragu untuk turun tapi April dengan cepat segera turun dan menghampiri para Polisi yang sedang berkumpul.
"April.." seru Rico.
"Pak Rico,Mamih mana?dia baik-baik saja kan?aku ingin ketemu sama Mamih," ucap April.
Rico tidak bisa berkata apa-apa lagi,Rico hanya menoleh kepada Radit yang saat ini terlihat sedang menundukkan kepalanya.
"Maaf April,tapi Nyonya Lisda....." ucapan Rico terpotong.
"Kenapa dengan Mamih aku?" tanya April sudah mulai curiga.
Tiba-tiba anak buah Radit keluar dari dalam rumah dengan membawa blangkar yang berisi mayat dengan ditutup oleh kain seprai.
"Maaf Komandan,jenazahnya mau langsung dibawa ke Rumah Sakit untuk di Otopsi," ucap salah satu anak buah Radit.
Radit dan Rico hanya bisa menganggukkan kepalanya lemah tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
"Tunggu,ini jenazah siapa?" tanya April dengan bibir yang sudah bergetar.
Radit dan Rico hanya menundukkan kepalanya,mereka sama sekali tidak mampu menjawab pertanyaan April.
"Kenapa kalian diam saja,jawab pertanyaan aku," bentak April.
Mereka tetap diam dan membisu tidak ada yang berani menjawab,hingga akhirnya perlahan April mendekat tangannya sudah bergetar hebat,disaat kain seprai itu berhasil dibuka betapa terkejutnya April.
April mundur satu langkah karena kaget,matanya melotot dan tangannya menutup mulutnya.
"Apa ini?lelucon apa yang sedang kalian lakukan?ini semua sungguh tidak lucu," teriak April.
April kemudian berlari ke dalam rumah untuk mencari Mamihnya dan disusul oleh Radit.
"Mamih...Mamih,April pulang Mamih dimana?" teriak April.
April berlari kesana-kesini mencari Mamihnya,tapi disaat April mau berlari ke atas dengan cepat Radit menangkap tubuh April dan memeluknya dari belakang.
"Sadar Pril sadar."
"Lepaskan Radit,aku mau nyari Mamih pasti Mamih ada di kamarnya,Mamih harus tahu kalau Papih sudah tidak ada," teriak April dengan terus berontak dari pelukkan Radit.
Radit terus memeluk April dari belakang,Radit pun ikut meneteskan air matanya sungguh dia tidak tega melihat April seperti ini.
"Mamih,ini April Mamih," April terus saja berteriak.
"Sadar Sayang,Mamih sama Papih kamu sudah tenang mereka berdua memang tidak bisa dipisahkan,maafkan aku yang tidak bisa menolong Mamih kamu," ucap Radit dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Perlahan April melemah,dia tidak berontak lagi hanya tangisan yang terdengar menyakitkan dan memilukan buat Radit.Tiba-tiba penglihatan April gelap dan seketika April jatuh tak sadarkan diri.
"Sayang bangun Sayang..." Radit menepuk-nepuk pipi April,kemudian Radit segera membawa April ke Rumah Sakit.
๐ผ
๐ผ
๐ผ
๐ผ
๐ผ
Sesak banget dada Author menulis bab ini,sampai-sampai Author harus beberapa kali menghentikan menulisnya karena mata Author perih๐ญ๐ญ
Alhasil baru selesai sekarang๐๐
Tega banget kalau kalian tidak memberikan like n votenya sama cerita ini๐ญ๐ญ
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU๐๐๐
__ADS_1