
π΅
π΅
π΅
π΅
π΅
DiRumah Sakit,April masih belum sadarkan diri dan Radit dengan setia selalu berada di sampingnya dan menggenggam tangannya.
"Malang sekali nasib kamu April,maaf kalau aku belum bisa membahagiakan kamu,maaf kalau aku tidak bisa menyelamatkan keluarga kamu," Radit mencium tangan April dan meneteskan air matanya.
Radit tidak sanggup kalau harus melihat kekasihnya seperti ini,disaat April sadar nanti Radit khawatir kalau April akan lebih histeris lagi.
Ceklek...pintu ruangan rawat April terbuka.
"Dit,kedua jenazah sudah siap di bawa ke rumah duka dan ini gue nemuin surat ini di samping jenazah Nyonya Lisda."
Rico memberikan sepucuk surat yang ternyata tulisan Mamih Lisda sebelum dia memutuskan untuk bunuh diri.
"Baiklah,dirumah duka sudah ada Om Farhan dan keluarganya yang akan menyambut kalian,gue mau nungguin April dulu disini sampai dia sadar."
"Ok..kalau begitu gue duluan kesana," seru Rico.
Rico pun pergi meninggalkan ruangan rawat April.Tidak berselang lama,April mulai membuka matanya.
"Dimana aku?" tanya April yang langsung bangun dari tidurnya.
"Sayang,kamu mau kemana kamu masih lemah."
"Aku mau melihat Mamih sama Papih."
"Tapi Sayang kamu masih lemah."
"Aku bilang aku mau melihat Mamih sama Papih,apa kamu tidak mengerti hah," bentak April dengan deraian air matanya.
"Ok..ok,kamu tenang aku akan bawa kamu pulang,karena jenazah Mamih dan Papih kamu sudah dibawa pulang."
Sungguh kata-kata jenazah membuat hatinya tersayat,hati April terasa ditusuk-tusuk oleh ribuan pisau,April sungguh tidak menyangka kalau nasibnya akan seperti ini menjadi anak Yatim Piatu dalam waktu yang sangat singkat.
Didalam perjalanan,hanya tangisan April yang terdengar Radit pun sengaja tidak mengajak April bicara biarlah dia melampiaskan semua rasa sedih dan sakitnya,Radit hanya bisa menggenggam tangan April.
Tidak lama kemudian,April pun sampai di rumah dilihatnya rumahnya sudah penuh dengan para pelayat,air mata April semakin deras keluar.
Radit membukakan pintu untuk April,Radit mengulurkan tangannya untuk April genggam.April keluar dari dalam mobil,semua orang melihat ke arah April dengan tatapan iba.
Kaki April terasa berat untuk melangkah ke dalam rumah,Ibu Radit berlari dan memeluk calon menantunya itu.
"Ya Alloh Nak,yang sabar ya kamu jangan sedih karena kamu masih punya kami anggap saja kami adalah orang tua kamu sendiri," ucap Ibu Radit dengan air mata yang tidak bisa dibendung lagi.
April tidak bisa berkata-kata lagi hanya air mata yang menjawab semuanya bahkan untuk mengangkat tangan ingin membalas pelukkan Ibunya Radit pun sangat terasa berat.
Ibu Radit menghapus air mata April..
"Puteri Ibu yang malang,masuklah Sayang semua orang sudah menunggumu," seru Ibu Radit.
Sesampainya di depan pintu,di lihatnya dua tubuh kaku yang sudah ditutupi kain dengan posisi berdampingan.
Luruh sudah air mata April,hancur sudah hati April saat ini.Di depan jenazah kedua Orang tuanya sudah terlihat duduk Om Farhan beserta istrinya,Sella,Andre,dan Rico.
Semuanya melihat ke arah April,ada perasaan sakit melihat keadaan saat ini.April perlahan berjalan menuju jenazah kedua Orang tuanya,April terduduk di antara jenazah Mamih dan Papihnya.
"Mih,Pih,kalian benar-benar jahat tega-teganya kalian ninggalin April sendirian.April takut Mih,Pih kalau harus tinggal sendirian."
April menangis sesegukkan di depan jenazah kedua Orang tuanya,pundaknya bergetar hebat menandakan saat ini April sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.
Semua orang yang menyaksikan April,sampai menitikan air matanya begitu hancurnya hati April.
"Sudah April,ini memang sudah takdir kalau Anwar dan Lisda harus pergi bersama-sama,kamu yang sabar,kamu harus ikhlas,masih ada kami disini yang akan menemani kamu," seru Om Farhan.
"Iya Pril,gue akan selalu ada buat lo jadi lo jangan merasa kalau lo itu sendiri," Sella memeluk sahabatnya itu dan ikut menangis.
"Tapi gue masih membutuhkan Mamih sama Papih Sell,kenapa Alloh secepat itu mengambil mereka dari gue?gue ga sanggup Sell menerima semua ini,gue ga sanggup," April menangis menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.
Bahkan Radit yang dari tadi memperhatikan April,sudah beberapa kali menyeka air matanya.
Tiba-tiba April kembali tak sadarkan diri,semua orang panik Radit langsung mengangkat tubuh April dan membawanya ke kamarnya.
"Ya Alloh kasihan sekali April," sahut Sella dengan mengusap kepala April.
Bi Asih membawakan minyak kayu putih dan teh manis hangat untuk April.
"Non Sella pakai minyak kayu putih ini," ucap Bi Asih.
Sella mengoleskan minyak kayu putih dibawah hidung April,dan benar saja tidak lama kemudian April sadar.
"Kamu minum ini dulu ya!!" seru Sella.
"Ga Sell,gue ga haus."
"Sedikit aja Pril,biar badan kamu agak enakan soalnya kamu dari kemarin belum makan," bujuk Sella.
__ADS_1
"Ayolah Pril,sedikit aja please..."
April pun dengan terpaksa meminum teh manis buatan Bi Asih walaupun cuma sedikit.
"Sayang,semuanya sudah siap kita pergi ke makam dulu ya!!" ucap Radit.
"Aku ikut."
"Lebih baik kamu disini saja,biar Sella menemani kamu,soalnya kondisi tubuh kamu begitu lemah," sahut Radit.
"Pokoknya aku mau ikut," April berusaha berdiri dan mau tidak maupun Radit terpaksa membawa April.
Setelah acara pemakaman selesai,satu per satu pelayat mulai meninggalkan pemakaman,tinggallah April,Radit,Sella,dan Andre.
April berjongkok diantara makam Mamih dan Papihnya.
"Mamih sama Papih,kenapa kalian tidak mengajak April ikut bersama kalian?memangnya kalian tidak merasa khawatir Puteri kalian yang cantik ini di tinggal sendirian di rumah,bagaimana kalau ada orang jahat yang datang ke rumah?Mamih,pasti Mamih sudah lelah ya menghadapi April yang keras kepala maafkan April Mih," April menangis di atas pusara Mamih Lisda.
Radit mengusap punggung April berharap akan memberi kekuatan buat April,sementara Sella sudah menangis sesegukan di pelukkan Andre.
April menegakkan tubuhnya dan berbalik ke makam Papih Anwar,diusapnya Nisan yang yang bertuliskan nama Papihnya itu.
"Papih,terima kasih karena selama ini sudah menjadi Papih yang baik buat April meskipun dulu April sempat benci sama Papih,tapi Papih tidak pernah menyerah untuk mendapatkan kembali hati Mamih dan April,maaf karena April belum bisa menjadi anak yang berguna buat Papih.Mamih sama Papih baik-baik ya disana berbahagialah April disini akan selalu mendo'akan kalian,sampai suatu saat nanti kita bisa berkumpul kembali," April memcium Nisan Mamih dan Papihnya secara bergantian.
"Mih,Pih,sekarang April pulang dulu ya!!April janji,April akan sering menemui Mamih sama Papih," ucap April dengan tangisannya.
Radit merangkul pundak April,baru saja beberapa langkah lagi-lagi April jatuh pingsan tak sadarkan diri.Sella sampai menangis histeris melihat April yang terus-terusan pingsan seperti itu.
"Ya Alloh April,kamu harus kuat," seru Sella.
Radit segera mengangkat tubuh April dan membawanya ke Rumah Sakit karena bukan hanya pingsan,badannya pun sekarang terasa sangat panas.
Dengan cepat Radit melajukan mobilnya,dia sangat khawatir dengan kondisi April yang sangat lemah.
Tidak lama kemudian mereka sampai di Rumah Sakit,April segera di bawa untuk di tangani sementara Radit,Sella,dan Andre masih setia menunggu di depan ruangan pemeriksaan.
Dokter pun keluar dari ruangan pemeriksaan..
"Bagaimana Dok,keadaan April?" tanya Radit.
"Pasien mengalami kelelahan yang luar biasa dan banyak pikiran juga,kondisinya sangat lemah tapi kalian tenang saja saat ini Pasien sudah di beri obat dan vitamin," jelas Dokter.
"Dokter apa kita boleh melihat April?" tanya Sella.
"Boleh,tapi jangan dulu di ganggu ya biarkan Pasien istirahat sejenak," sahut Dokter.
"Baik Dokter terima kasih," seru Sella.
Mereka bertiga pun ke dalam ruangan rawat April,dilihatnya April terbaring lemah dengan wajah yang sangat pucat.
"Dit,kayanya lebih baik lo istirahat aja sana lihat deh muka lo kelelahan banget," seru Sella.
"Gapapa,gue mau jagain April."
"Jangan keras kepala deh Dit,lo mau ikutan sakit?katanya mau jagain April tapi kalau kamu maksain tubuh kamu seperti ini nanti lo malah sakit,terus kalau lo sakit yang bakalan ngejagain April siapa?" ucap Sella.
"Benar yang dikatakan Sella,sudah sana lo tidur dulu di sofa biar tubuh lo kembali fit lagi," sahut Andre.
"Ya sudah,tapi kalian tolong jagain April ya kalau April sudah sadar bangunin gue," seru Radit.
"Ok."
Radit pun menuruti perintah Sella dan Andre,mereka ada benarnya juga tubuh dan pikirannya saat ini memang sedang lelah dan dia berpikir jangan sampai dia sakit,karena Almarhum Papih Anwar sudah menitipkan Puterinya kepada dirinya.
Radit pun merebahkan tubuhnya di atas sofa dan tidak membutuhkan lama,Radit sudah berada dalam alam mimpinya.
Sementara itu didalam penjara...
Alya dibawa ke dalam sel yang dihuni khusus dengan wanita.Wanita di dalam sel itu tampak sangat sangar-sangar,sehingga membuat nyali Alya ciut.
Semua tahanan wanita itu terus menatap Alya yang baru saja masuk,Alya hanya bisa menundukkan kepalanya karena merasa takut.
"Hei anak baru sini pijitin pundak gue," ucap Salah satu wanita.
"Ba..baik," ucap Alya yang merasa ketakutan.
"Anak baru,kenapa lo masuk sini?gue lihat lo itu masih muda?" tanya wanita yang bernama Susi itu.
"Ak..aku,sudah mem..membunuh Papih aku," jawab Alya gugup.
"Gila lo,masih muda berani banget lo bunuh orang tua lo sendiri benar-benar sadis lo," ucap Susi.
Alya tidak bisa menjawab lagi,dia hanya menundukkan kepalanya dan terus memijat pundak Susi.
Sementara itu di Rumah Sakit,Radit masih setia berada di samping April.Radit tidak pernah melepaskan genggaman tangan April,tiba-tiba tangan April begitu erat memegang tangan Radit.
"Mamih,Papih jangan tinggalin April,April tidak mau sendiri..April takut Mih,Pih," ternyata April sedang bermimpi.
"Kamu jangan takut Sayang,aku akan selalu ada di samping kamu apapun yang terjadi," ucap Radit dengan terus mengusap kepala April.
Keesokan harinya...
Disaat Radit masih terlelap tidur di samping April dengan posisi tidur dengan duduk,April sudah bangun.April duduk di ranjangnya dan menyandarkan tubuhnya,tatapannya begitu kosong,hatinya begitu hampa.
__ADS_1
Radit pun bangun,dan merentangkan tangannya untuk meregangkan otot-ototnya..
"Lho Sayang,kamu sudah bangun?kapan kamu bangun?" tanya Radit dengan mengusap kepala April.
"Sudah 1 jam yang lalu," jawab April dengan sedikit tersenyum kepada Radit itu pun sangat dipaksakan.
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku?kamu mau apa minum atau makan?" tanya Radit.
April menggelengkan kepalanya...
"Aku mau pulang."
"Tapi kamu masih sakit Sayang."
"Please,aku mohon aku mau pulang Dit," ucap April dengan tatapannya yang sendu dan kembali meneteskan air matanya.
Radit membawa April ke dalam pelukkannya..
"Iya nanti aku akan bilang sama Dokter kalau kamu ingin pulang," ucap Radit lembut.
Dengan sedikit paksaan,akhirnya April di bolehkan pulang tapi dengan catatan April harus meminum obatnya dan jangan lupa makan.
Di dalam perjalanan tidak ada pembicaraan,April hanya memandang ke arah luar jalan dengan tatapan kosongnya dan air mata yang setia mengalir dipipinya.
Tidak lama kemudian,mobil Radit sampai di depan rumah April yang mewah dan megah bak istana itu.
April memperhatikan setiap sudut bangunan rumahnya yang banyak sekali dengan kenangan.Gambaran dirinya waktu kecil yang sering bermain di taman depan rumah bersama Mamih dan Papihnya kini hanya tinggal kenangan.
"Ayo kita masuk Sayang," Radit menarik tangan April dan membawanya masuk ke dalam.
"Non April sudah pulang,mau Bibi buatkan Bubur Non?" tanya Bi Asih.
"Iya Bi,tolong buatkan April bubur ya nanti bawa saja ke kamarnya," jawab Radit karena April tidak bicara sedikitpun.
"Baik Mas."
April kembali memperhatikan setiap ruangan rumahnya yang selalu dibayangi sosok Mamih dan Papihnya.
April mengambil foto yang ada di ruang keluarga,disana tampak April sedang tertawa lepas bersama Mamih dan Papihnya.
April mengusap foto itu dengan deraian air mata.
"April kangen banget sama Mamih dan Papih."
Radit menghampiri April dan menghapus air matanya.
"Please jangan menangis lagi,aku ga sanggup kalau harus melihat kamu seperti ini pasti Mamih dan Papih kamu juga akan sedih kalau melihat Puteri kesayangannya seperti ini terus.Kamu masih punya aku,aku janji aku ga bakalan ninggalin kamu sendirian."
April memeluk Radit..
"Jangan pernah ninggalin aku Dit,aku takut kalau harus menjalani hidupku sendirian," seru April lirih.
"Aku ga bakalan ninggalin kamu Sayang,jadi kamu ga usah takut," Radit menciumi pucuk kepala April.
Didalam kamar April,,April terus saja memegang tangan Radit seolah takut Radit meninggalkannya.
"Oh iya,Sayang ini Rico menemukan surat ini berada di samping jenazah Mamih kamu," Radit memberikan surat yang Rico temukan.
April menerimanya dan membuka surat itu dengan tangan yang gemetaran.
Isi suratnya...
"Sayang,maafkan Mamih bukannya Mamih tidak sayang sama kamu tapi Mamih tidak sanggup menerima kenyataan ini,tolong jaga Papih kamu Mamih tidak punya cukup keberanian untuk bertemu dengan Papih kamu,sekali lagi maafkan Mamih.Ingat,jangan kamu tangisi kepergian Mamih,Mamih akan sedih kalau kamu terus menangisi Mamih.Berbahagialah Sayang,Mamih sayang kalian,I Love You Puteri kecil Mamih yang cantik."
Pecah sudah air mata April,Radit langsung memeluknya.
"Menangislah kalau itu bisa membuatmu tenang,menangislah kalau itu bisa membuatmu puas,tapi setelah ini jangan sampai kamu meneteskan air mata lagi karena aku tidak akan membiarkan kamu menangis lagi," seru Radit.
πΌ
πΌ
πΌ
πΌ
πΌ
Selamat pagi semuanya,,ya ampun mata Author sudah sangat perih 2 bab ini sungguh menguras emosi dan air mata Authorππ
Sungguh "TERLALU" kalau kalian tidak memberikan dukungan kepada Novel Author,like dan vote sebanyak-banyaknyaππππ
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOUπππ
__ADS_1