Polisi Penjaga Hati

Polisi Penjaga Hati
KEPERGIAN APRIL


__ADS_3

๐Ÿต


๐Ÿต


๐Ÿต


๐Ÿต


๐Ÿต


"Nyanyi....nyanyi....nyanyi...."


Sorak sorai semuanya menggema di seluruh ruangan.


Dengan perasaan campur aduk,akhirnya April perlahan naik ke atas stage yang sengaja di buat untuk hiburan.


April mengambil gitar yang ada di sana,sekilas April melihat ke arah Radit yang juga sedang menatap April.


April mulai memetik gitarnya...


ย 


"***Cinta Dalam Doa"


ย 


Berakhirlah sudah cerita kita


Setelah sekian lama bersama


Kau hadirkan dia dalam cerita


Yang hanya menyisakan luka


Ku coba..


Menahan perih yang ku rasa


Walau..ini menyakitkan


Jika menyakiti aku


Bisa membuatmu bahagia


Maka lakukanlah itu


Tanpa mu ku yakin bisa


Ikhlas ku mencintaimu


Ikhlas ku kehilanganmu


Semoga kau bahagia


Dengan pilihanmu itu


Kau bersama dia


Aku bersama doa


April begitu menghayati lagu yang dia nyanyikan,sampai-sampai dia meneteskan air mata.Tak hanya April,Sella sahabatnya pun ikut meneteskan air mata.


Selama April bernyanyi,Radit tidak mengalihkan pandangannya dari April.Bahkan sekelebatan bayangan dirinya sedang bernyanyi muncul di pikiran Radit.


Potongan demi potongan memori Radit mulai bermunculan di otak Radit,cuma bayangannya belum terlalu jelas masih buram.


Radit memegang kepalanya karena kepalanya terasa sakit.


April pun turun dari stage dan mendapatkan tepuk tangan dan sorak-sorai dari para tamu undangan.


"Kamu kenapa Sayang?" tanya Sisil karena melihat Radit memegang kepalanya.


Radit mengangkat tangannya,menandakan dia tidak apa-apa.


Setelah agak baikan,Radit kembali menetralisirkan keadaanya.


Papahnya Sisil memanggil Sisil untuk naik ke atas stage,kemudian Sisil pun naik ke atas stage dengan menggandeng lengan Radit dan membawanya naik ke atas stage.


Di atas stage,semuanya menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Sisil,dan Sisilpun memotong kue ulang tahunnya.Potongan pertama Sisil memberikannya kepada Radit.


Radit menerimanya dan melirik ke arah April yang sekarang sedang memalingkan wajahnya ke lain arah.


"Tolong,perhatian semuanya," seru Papahnya Sisil.


Semua pandangan tertuju ke atas stage...


"Pertama-tama saya mau meminta maaf kepada Radit,karena dulu saya pernah melakukan kesalahan fatal yang akhirnya membuat anak saya menderita."


"Dulu saya sempat tidak merestui hubungan Puteri saya dengan Radit,padahal mereka saling mencintai,saya terlalu tamak waktu itu sampai-sampai mengorbankan perasaan Puteri saya,maka dari itu di kesempatan yang berbahagia ini saya mau mengumumkan selain ulang tahun,malam ini saya akan memberitahukan kalau malam ini juga merupakan hari pertunangan Puteri saya dengan Radit," jelas Papah Sisil.


Semua orang tampak terkejut,apalagi April yang lebih terkejut.Tidak terasa air mata April jatuh,Sella yang melihat sahabatnya menangis langsung memeluknya.


Radit benar-benar tidak bahagia sama sekali,malah hatinya begitu sakit melihat April yang menangis.


April segera pergi meninggalkan tempat pesta,dan di susul oleh Sella,Brian,dan Andre.


"Pril,lo mau kemana?" tanya Brian dengan menarik tangan April.


"Gue mau pulang Ian,buat apa lagi gue disini maaf ya semuanya gue duluan," ucap April yang langsung memasuki mobilnya.


Didalam perjalana,April sudah tidak bisa menahan lagi air matanya.


"Benar-benar sudah berakhir semuanya," gumam April dengan deraian air mata.


Sementara itu di pesta ulang tahun Sisil,Sisil sangat bahagia karena akhirnya dia bisa mendapatkan Radit lagi.


Berbeda dengan Radit yang tampak gelisah memikirkan keadaan April,di saat Papah Radit memberikan cincin kepada Radit untuk di pakaikan ke jari manis Sisil,Radit terlihat bingung,tangannya mulai bergetar perlahan Radit mengambil cincin itu.


Disaat cincin itu mulai memasuki jari Sisil,terbayang wajah April di benak Radit yang sedang menangis.Akhirnya Radit tidak jadi memasangkan cincinnya dan memberikannya kepada Sisil.


"Maafkan aku Sisil,aku tidak bisa," Radit berlari keluar meninggalkan acara.


"Radit..Radiiit.." teriak Sisil.


Tapi Radit tidak memperdulikannya,yang ada dipikirannya sekarang hanyalah April.

__ADS_1


Radit segera mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi berharap bisa menyusul April.


Tapi disaat perjalanan,tiba-tiba kepala Radit merasa sakit dia menepikan mototnya dan memegang kepalanya yang makin terasa sakit.


Untungnya mobil Brian lewat dan melihat Radit yang sedang mengerang kesakitan,Brian langsung membawa Radit ke Rumah Sakit terdekat.


Sementara itu,April yang sudah sampai di rumahnya dan berada di kamarnya,perlahan membuka laci dan mengambil sesuatu di dalam laci sana.


Air mata terus saja mengalir deras dipipi mulus April dengan menggenggam sesuatu di tangannya.


Flashback...


Disebuah ruang keluarga,Mamih,Papih,dan April sedang ngobrol santai.


"Pih,bolehkah April minta sesuatu sama Papih?" tanya April ragu-ragu.


"Mau minta apa Sayang?Papih akan memberikan semua yang kamu inginkan," sahut Papih Anwar.


"Hmmm...bolehkah April melanjutkan Kuliah di Luar Negeri?" ucap April dengan menundukkan kepalanya.


Papih Anwar dan Mamih Lisda sangat terkejut dengan permintaan April.


"Kenapa kamu tiba-tiba,ingin melanjutkan Kuliah ke Luar Negeri?padahal dulu Papih sering memaksa kamu,kamunya tidak mau," sahut Papih Anwar.


"Sekarang April sudah siap Pih," ucap April.


Papih Anwar dan Mamih Lisda saling pandang,mereka tahu alasan di balik April ingin melanjutkan Kuliah di Luar Negeri karena April ingin melupakan Radit.


"Kalau Mamih,terserah kamu saja yang penting itu terbaik buat kamu Sayang," ucap Mamih Lisda.


"Kapan kamu akan berangkat Sayang?" tanya Papih Anwar.


"Kalau bisa secepatnya Pih," jawab April.


"Ok..Papih akan memesankan tiket untuk kamu."


April sudah memikirkan matang-matang mengenai keputusannya melanjutkan Kuliah di Luar Negeri,karena April pikir tidak akan ada yang bisa di selamatkan lagi dengan hubungannya.


Keesokan harinya April pun sudah berpamitan dengan Orang tua Radit,tanpa sepengetahuan Radit dan April juga meminta Orang Tua Radit untuk tidak memberi tahu Radit karena di beri tahu pun tidak akan mengubah semuanya karena Radit sudah lupa akan April.


Flash On...


Dengan deraian air mata,perlahan April mengeluarkan kopernya dan membereskan pakaiannya satu per satu.


Sungguh menyesakkan dada buat April meninggalkan kenangan semuanya,terutama kenangan bersama Radit.


"Semoga kamu bahagia Dit,maaf aku harus pergi," gumam April.


Sementara itu,Ibu dan Ayah Radit sudah sampai di Rumah Sakit karena Brian menghubungi Orang Tua Radit dari Ponsel Radit yang ada di saku celananya.


"Terima kasih ya Nak,sudah menolong Radit," ucap Ayah Radit.


"Sama-sama Pak,kebetulan Pak Polisi teman kita," sahut Brian.


"Kalau begitu,sepertinya kita pulang dulu soalnya sudah malam juga," seru Andre.


"Sekali lagi terima kasih," ucap Ibu Radit.


Brian dan Andre menganggukkan kepalanya dan mereka berdua pun pergi meninggalkan Rumah Sakit.


April menelpon Sella,memberitahukan kalau besok dia akan berangkat ke Amerika dan melanjutkan Kuliah disana.Sella sangat terkejut,pasalnya April tidak memberi tahunya sebelumnya.


Keesokan Harinya...


"Mih,Pih,siang ini April berangkat ke Amerika," ucap April di sela-sela sarapannya.


"Kamu yakin Sayang?" tanya Mamih Lisda.


"Yakin banget Mih," April menunjukkan senyumannya yang manis.


Di Rumah Sakit,Radit belum bangun dari tidurnya.


"Ibu,Ayah,hari ini Kak April berangkat ke Amerika tadi malam Kak April nelpon Rangga," seru Rangga yang baru datang ke Rumah Sakit.


"Iya,semoga Nak April bahagia dan menemukan kebahagiaannya,kasihan dia," ucap Ibu Radit yang mengusap matanya yang berair.


"Semoga Nak April selamat sampai tujuan," sambung Ayah Radit.


Di lain tempat,Sella cepat-cepat pagi-pagi melajukan mobilnya menuju rumah April tidak butuh waktu lama,Sella sudah sampai di rumah April.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..," jawab semuanya serempak.


"Eh Sella,ayo ikut sarapan!!" ajak Mamih Lisda.


"Tidak Tante makasih,Sella datang kesini ingin bicara dengan April," ucap Sella.


April yang tahu apa maksud kedatangan Sella,menyudahi sarapannya.


"Ayo Sell,kita ke kamar gue aja," ajak April.


Sella mengikuti April dari belakang menuju kamarnya April,sesampainya di kamar April,Sella melihat di sekelilingnya Koper ukuran besar sudah teronggok disana.


"Lo serius Pril,mau pergi?" tanya Sella.


"Iya Sell."


"Kenapa mendadak sekali,bahkan lo tidak memberi gue kesempatan buat menghabiskan waktu bersama sebelum lo berangkat," seru Sella yang sudah berlinangan air mata.


April memeluk Sella dan ikut menangis juga..


"Maafin gue Sell,ini sudah menjadi keputusan gue mudah-mudahan keputusan gue membuat semuanya bahagia," seru April.


"Ga Pril,gue ga bahagia.Siapa yang bakalan nemenin gue lagi,siapa yang bakalan ngerengek minta di temenin sarapan di Kantin,siapa yang bakalan marahin gue disaat gue melakukan kesalahan,siapa Pril?" tangisan Sella pecah juga.


"Lo jangan nangis,masa seorang Sella nangis zaman sudah modern Sell,kita bisa Video Callan dan telpon-telponan,gue janji bakalan ngehubungin lo setiap hari," sahut April.


"Berapa lama lo bakalan pergi?" tanya Sella.


"4 tahun,5 tahun,atau mungkin gue ga bakalan kembali lagi kesini," seru April.


Sella kembali memeluk April dan menumpahkan semua tangisannya...


"Pokoknya gue ga mau tahu,lo harus kembali lagi kesini gue bakalan tungguin lo sampai kapan pun," ucap Sella di sela tangisannya.

__ADS_1


April tidak bisa berkata-kata lagi,hatinya benar-benar sakit.Berat rasanya meninggalkan semuanya tapi apalah daya,April ingin menenangkan diri dan melupakan semuanya.


Kalau April tetap berada disini,April tidak yakin bisa kuat menghadapi kenyataan.


Setelah sekian lama kangen-kangenan dan nangis-nangisan,tiba-tiba Mamih Lisda datang ke kamar April.


"Sayang,sudah waktunya kamu ke Bandara karena 1 jam lagi jadwal kamu berangkat," seru Mamih Lisda.


"Ok Mih,yu Sell....," ajak April.


Mamih,Papih,dan Sella pun berangkat ke Bandara untuk mengantarkan April.Sella tidak lupa menghubungi Brian dan Andre.


Semuanya sudah sampai di Bandara dan sedang menunggu keberangkatan,pikiran April terus tertuju kepada Radit,dia cepat-cepat menghapus air matanya karena takut semuanya melihat.


Tidak lama kemudian Brian dan Andre datang dengan berlari.


"Apa-apaan ini Pril,lo mau berangkat ke Amerika tapi kami tidak tahu,apa lo sudah tidak menganggap kita sebagai teman lo," Brian tampak marah dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Maaf Ian,gue ga sempat kasih tahu kalian," ucap April.


Panggilan untuk keberangkatan pun sudah terdengar,April memeluk Papih dan Mamihnya.


"Jaga diri kamu baik-baik Sayang,jangan lupa makan dan terus hubungi Mamih," ucap Mamih Lisda dengan tangisannya.


"Iya Mih.."


"Sayang,Papih sudah mengurus semuanya Apartemen beserta ART yang akan menemani dan membantu kamu disana,dan Papih juga sudah mendaftarkan kamu di Uneversitas terbaik disana,kalau ada apa-apa cepat hubungi Papih," seru Papih Anwar dan memeluk Puteri kesayangannya itu.


"Makasih Pih.."


"Sell,gue pergi dulu ya belajar yang rajin biar bisa lulus dengan nilai tertinggi," ucap April dengan deraian air mata.


"Jaga diri lo baik-baik Pril,jangan lupa hubungin gue tiap hari,dan cepat kembali lagi kesini karena gue bakalan nungguin lo," Sella memeluk April dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


"Ian,terima kasih karena selama ini sudah care sama gue,semoga lo menemukan wanita yang bisa mencintai lo dengan tulus," April memeluk Brian untuk yang pertama kalinya.


Dan Brian pun tampak menitikkan air matanya.


"Jaga diri lo baik-baik,jangan lupa makan,dan selalu kasih kabar kepada kita," seru Brian.


"Dre,tolong jagain Sella buat gue," April pun memeluk Andre.


"Iya Pril,tapi lo harus janji ya kalau lo bakalan kembali lagi kesini," sahut Andre.


"Insyaalloh Dre...ya sudah semuanya aku gue berangkat dulu,Mih,Pih,April berangkat dulu..Bye," April melambaikan tangan kepada semuanya dan pergi meninggalkan Indonesia.


Sementara itu di Rumah Sakit,Radit langsung tersadar dari tidurnya dan berteriak sehingga mengagetkan semuanya.


"Apriiiiil...." teriak Radit.


"Radit kamu kenapa?" tanya Ibu khawatir.


"Bu,Ayah,Radit sekarang sudah mengingat semuanya,Radit ingat kalau April adalah orang yang sangat spesial di hati Radit," ucap Radit antusias.


"Alhamdulillah,syukurlah Nak kalau kamu sudah ingat," sahut Ibu Radit.


Radit segera mengambil Ponsel yang ada di nakas dan menelpon seseorang tapi sayang nomor yang Radit hubungi tidak aktif dan berada diluar jangkaun.


"Aaarrrgghhh sial," Radit kembali menghubungi nomor itu tapi tetap sama tak bisa dihubungi.


"Kamu menelpon siapa Dit?" tanya Ibu Radit.


"April Bu,pasti dia bakalan senang banget dan Radit juga ingin minta maaf juga sama dia karena sudah melupakan orang yang sangat berharga di hati Radit," jelas Radit.


Ibu,Ayah,dan Rangga hanya bisa saling melempar pandangan.


"Kalian kenapa?kok aneh banget sih," tanya Radit.


"Kak Radit sudah terlambat," ucap Rangga.


"Maksud kamu apa Rangga?apanya yang sudah terlambat?" tanya Radit.


"Kak April sudah pergi Kak," ucap Rangga.


"Maksudnya apa Rangga,Kakak ga ngerti?"


"Kak April sudah pergi ke Amerika,Kak April memutuskan melanjutkan Kuliahnya disana," jelas Rangga.


Jedaaaarrrrr....


Ponsel Radit jatuh ke lantai,sungguh dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Tolong jelaskan semuanya Bu," seru Radit dengan bibir yang bergetar.


"Iya Dit,Nak April sudah berangkat ke Amerika pagi ini dan kita tidak tahu kapan Nak April kembali lagi kesini," jelas Ibu dengan menitikan air matanya.


Seketika luruh sudah air mata Radit,dia menyalahkan dirinya sendiri karena sudah melupakan sosok wanita hebat yang sangat dia cintai.


๐ŸŒผ


๐ŸŒผ


๐ŸŒผ


๐ŸŒผ


๐ŸŒผ


Hai..hai semuanya,apakabar?masih setiakah kalian menunggu kelanjutannya๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


Setelah April pergi,bagaimana kelanjutan kisah cinta April dan Radit??๐Ÿค”๐Ÿค”


Jangan bosen-bosen ya tetap stay menunggu kelanjutannya๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Jangan lupa


like


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹

__ADS_1


__ADS_2