
π΅
π΅
π΅
π΅
π΅
Dito terus saja memperhatikan April,dan April menyadari itu cuma April pura-pura tidak tahu saja.
"Pril,yang namanya Dito-Dito itu kayanya ngelihatin lo terus deh," ucap Sella.
"Udah deh ga usah di perdulikan,dasar orang gila," jawab April.
Melihat wajah April yang judes dan cemberut justru membuat Dito semakin suka,menurut Dito itu sangat menantang karena selama ini dia bisa mendapatkan wanita manapun bahkan tanpa di minta pun para wanita itu dengan suka rela menawarkan dirinya kepada Dito.
Tapi berbeda dengan April yang sama sekali tidak melirik seorang Dito sedikit pun.Membuat Dito penasaran dengan sosok April yang begitu membuat dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sementara itu,Radit baru bangun dari tidurnya dia mencari Ponselnya di tas kecil yang selalu Radit bawa betapa terkejutnya Radit saat melihat puluhan panggilan tak terjawab dan belasan pesan yang dikirim oleh April.
"Mati aku,Ibu Negara pasti marah besar ini," gumam Radit dengan menepuk jidatnya sendiri.
Radit segera menghubungi April,selama Ponselnya tersambung Radit tampak memejamkan matanya karena dia tahu pasti lahar panas akan menyembur dengan dahsyatnya.
April melihat Ponselnya yang berbunyi,April tampak tersenyum setelah tahu siapa yang menghubunginya,dengan suara yang dikeraskan berharap Dito bisa mendengarnya dan berhenti mengganggunya.
"Hallo Sayang!!"
Radit langsung membuka matanya bulat-bulat,pikirannya tentang April yang akan ngamuk ternyata tidak terbukti,Radit benar-benar tidak menyangka.
"Ha..hallo Sayang,ma---" ucapan Radit terpotong oleh April.
"Bisa jemput aku ga Sayang,ke Restoran xxx sekarang," ucap April dengan nada manjanya.
"Bisa-bisa,aku segera kesana sekarang," Radit menutup telponnya dan langsung melompat ke kamar mandi.
April melirik ke arah Dito dengan sinisnya,sementara Dito memasang senyumannya yang paling manis.
"Idih..." April segera membuang wajahnya ke arah lain.
Tidak lama kemudian,mereka berempat pun selesai makan.Brian pulang duluan karena Alya menyuruhnya untuk menjemput,Sella dan Andre pun sudah pulang tinggal April yang menunggu didepan Restoran.
"Ih nyebelin banget sih,kok lama kemana aja sih tuh orang awas aja nanti kalau ketemu," gerutu April.
Dito dan Asistennya Roy berjalan menghampiri April yang sedang cemberut menunggu Sang Kekasih.
"Kemana pacarnya kok belum datang sih?sungguh keterlaluan wanita secantik ini disuruh menunggu lama,kalau aku yang jadi cowok kamu tidak akan biarkan sedetik pun kamu menunggu," seru Dito.
April yang sedang kesal makin kesal dengan mendengar ucapan Dito.
"Mau aku antar pulang,Nona April?" tanya Dito.
"Tidak usah,aku mau menunggu pacar aku," jawab April ketus.
"Mana pacar kamu?mending ikut aku yuk," Dito mencoba merangkul bahu April tapi April mengelak.
Sementara itu,Radit yang baru saja sampai melihat April sedang mencoba menghindar dari laki-laki asing yang sama sekali belum pernah Radit lihat.
"Siapa dia?berani-beraninya megang milik gue," seru Radit dengan turun dari mobilnya.
"Hallo Sayang,maaf telat," Radit mencium kening April.
"Udah yuk kita pulang," April menarik lengan Radit supaya segera naik ke dalam mobil April.
Tapi pandangan Radit terus saja tertuju pada Dito yang hanya tersenyum.
Didalam mobil,April terlihat cemberut karena masih marah dengan Radit.
"Siapa cowok tadi?berani-beraninya pegang-pegang kamu," ucap Radit kesal.
"Siapa suruh datangnya telat," jawab April ketus.
"Maaf Sayang,tadi malam aku pulang subuh habis memantau club itu jadi aku ketiduran ga angkat telpon kamu dan ga balas chat kamu," ucap Radit dengan menggenggam tangan April dan menciumnya berkali-kali.
Radit menepikan mobilnya ke pinggir jalan...
"Maaf,jangan marah lagi dong," ucap Radit dengan mengelus-ngelus pipi April.
"Jangan diulangi lagi," seru April.
"Baik Tuan Puteri."
Radit pun kembali melajukan mobilnya...
"Oh iya,laki-laki tadi siapa?" tanya Radit.
"Dia Dito,Rekan Bisnis Papih," jawab April.
"Kok kayanya dia suka sama kamu."
"Ya udah biarin aja,yang penting aku ga suka sama dia."
"Ya tapi perlakuan dia tadi sangat mengganggu pikiran aku,Sayang!!"
"Kamu cemburu?" goda April.
"Ya jelaslah,enak aja main pegang-pegang minta di hajar tuh orang."
April hanya tersenyum melihat Radit kesal seperti itu.
"Sekarang mau kemana?" tanya Radit dingin.
"Ke rumah kamu aja,aku kangen sama Ibu," jawab April.
Selama dalam perjalanan tidak ada pembicaraan,Radit masih kesal kepada laki-laki itu.
Sesampainya di rumah Radit,Radit langsung turun tanpa membukakan pintu untuk April,Radit langsung masuk ke dalam rumah dengan wajah yang ditekuk.
April hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum lucu melihat Polisi kesayangannya merajuk karena cemburu.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam,eh ada Nak April.Lho Raditnya mana?" tanya Ibu.
"Masuk kamar Bu,lagi ngambek."
"Dasar anak itu."
"Bentar ya Bu,April mau membujuk dulu yang ngambek."
"Iya Nak."
April masuk ke dalam kamar Radit,dilihatnya Radit sedang tidur di ranjangnya dengan posisi tengkurap.
April duduk disamping Radit...
"Masih ngambek?kaya anak perawan yang lagi PMS aja pake ngambek-ngambek segala," ucap April yang mencoba menahan tawanya.
"Tau ah,aku sebel."
"Yang pegang-pegang kan dia,lagipula aku ga ngerespon Dito kok aku juga udah nolak cuma Ditonya aja yang tidak tahu malu," keluh April.
Radit langsung pindah tidurnya ke pangkuan April,wajahnya dia tenggelamkan di perut April dan tangannya dia lingkarkan ke pinggang April.
April mengusap kepala Radit dengan penuh kasih sayang.
"Aku takut kehilangan kamu,aku ga suka laki-laki lain pegang-pegang kamu selain aku," rengek Radit dengan manjanya.
"Ya ampun Sayang,kamu tenang saja aku ga bakalan ninggalin kamu demi laki-laki lain," ucap April.
Radit mendongakkan kepalanya,melihat ke arah wajah kekasihnya yang cantik.
"Benarkah?"
"Iya..."
Sesaat April dan Radit saling berpandangan,hingga akhirnya Radit menarik tengkuk leher April dan kedua benda kenyalnya itu saling menempel.
Cukup lama April dan Radit saling menautkan rasa cinta yang begitu besar di antara keduanya,hingga pungutannya harus April akhiri karena pasokan oksigennya sudah mulai menipis.
"I LOVE YOU," ucap Radit dengan nafas yang masih terengah-engah.
"I LOVE YOU TOO," jawab April.
Tiba-tiba Ibu Radit memanggil keduanya untuk segera keluar...
"Tuh,Ibu kamu manggil ayo cepatan keluar," ucap April.
April pun beranjak dari duduknya tapi Radit menarik tangan April.
"Ada apa lagi?" tanya April.
"Nikah yu!!"
April melepaskan tangannya dan melipat kedua tangannya diperut.
"Hai,Bapak Polisi yang terhormat tidak romantis sekali Anda,melamar seorang wanita masa kaya gitu?" ucap April.
"Ok..nanti aku akan melamar kamu dengan nuansa seromantis mungkin sampai kamu tidak akan bisa melupakannya," sahut Radit.
April kemudian melangkah keluar meninggalkan Radit yang sedang senyum-senyum sendiri.
"Kamu tidak tahu saja Sayang,kalau aku sudah menyiapkan segalanya untuk melamar kamu," gumam Radit.
April menghampiri Ibu dan Ayah Radit yang sedang santai di teras depan.
"Ibu sama Ayah sedang apa?" tanya April dengan duduk di samping Ibu Radit.
"Kita sedang ngobrol saja,ayo cicipi kue buatan Ibu," ucap Ibu Radit.
"Hmm..enak Bu," seru April.
Tiba-tiba Radit datang dari dalam dan menarik tangan April yang sedang memegang kue dan mengarahkan tangan Aprjl ke mulutnya.
"Enak.."
"Astaga Radit,tuh kue buatan Ibumu masih banyak ngapain seperti itu?" ujar Ayah Radit.
"Makan dari tangan orang itu lebih enak Yah."
"Oh iya,Rangga kemana kok ga kelihatan?" tanya April.
"Tidak tahu,dari sejak malam Rangga tidak pulang.Ibu merasa semenjak Rangga masuk Kuliah,Rangga menjadi berubah jarang pulang dan selalu bepergian entah kemana?" jelas Ibh dengan tatapan sendunya.
"Jadi Rangga tidak pulang sejak dari malam Bu?kenapa Ibu ga bilang?" sahut Radit.
"Kamu kan baru pulang subuh,pasti cape dan ngantuk Ibu tidak mau menambah beban kamu Dit," ujar Ibu.
"Kemana anak itu?" gumam Radit.
April mengusap punggung tangan Radit agar merasa tenang tidak terbawa emosi.
Malam pun tiba,April berpamitan kepada Ayah dan Ibu Radit.
Selama dalam perjalanan tidak ada pembicaraan,mobil Radit berhenti tepat di depan club yang sedang Radit selidiki.
Karena ini hari minggu jadi banyak anak muda yang datang ke club itu khususnya anak-anak orang kaya.
Disaat April menoleh ke club itu,April seperti melihat seseorang yang sangat dia kenal.
"Rangga,,bukannya itu Rangga ya!!" batin April.
April makin menajamkan penglihatannya karena penerangan di dalam club remang-remang dan orang itu keburu masuk juga ke dalam.
"Aku yakin itu Rangga,mau ngapain Rangga masuk ke tempat kaya gitu?" batin April.
April kemudian menoleh ke arah Radit yang sedang fokus melihat ke depan.
Tidak lama kemudian mobil Radit pun sampau di depan rumah April.
"Masuk dulu yu!!" ajak April.
"Lain kali saja Sayang,ini sudah malam aku juga mau lanjutin tidur lagi soalnya ngantuk banget,besok harus mulai mengintai club itu lagi," sahut Radit.
"Oh..ya sudah kalau begitu,hati-hati kalau sudah sampai rumah jangan lupa kabari," seru April.
__ADS_1
"Siap Tuan Puteriku yang cantik," ujar Radit.
Sebelum April turun dari mobilnya,Radit mencium kening April.Dan April pun turun dan melambaikan tangannya.
April masuk ke rumahnya,Mamih dan Papih April sedang mondar-mandir didepan pintu seperti orang yang sedang khawatir.
"Mamih,Papih ada apa kok kaya yang khawatir gitu?" tanya April.
"Alya belum pulang Sayang dari tadi pagi," ucap Mamih Lisda.
"Apa...belum pulang?Mamih sama Papih sudah coba menghubungi Brian dan teman-temannya?" tanya April.
"Sudah Sayang,tapi Ponsel Alya dan Brian tidak aktif," sahut Papih Anwar.
"Tuh anak kemana?ga biasanya seperti ini," gumam April.
Mamih,Papih,dan April akhirnya memutuskan untuk menunggu Alya pulang.Jam sudah menungjukkan pukuk 11 malam,April sudah tepar di sofa.
Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah,dan benar saja itu mobil milik Brian.Alya pun turun dari mobil dan dengan santainya masuk kedalam rumah.
"Alya,darimana kamu jam segini baru pulang?" seru Papih Anwar dengan tegasnya.
"Papih..kenapa belum tidur?" ucap Alya gugup.
"Jawab pertanyaan Papih Alya," bentak Papih Anwar yang membuat April pun terbangun.
Alya kaget dan menundukkan kepalanya...
"Kamu dari mana Alya?" tanya Mamih Lisda dengan suara yang lembut.
"Alya habis dari rumah teman,Mih" jawab Alya.
"Sampai selarut ini Alya,tanpa ingat waktu," bentak Papih Anwar.
"Maaf Pih,Alya janji Alya tidak akan ulangi lagi."
"Anak gadis main sampai selarut ini,ga takut kamu..bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu," Papih Anwar tidak bisa lagi memendam amarahnya.
"Sudah Pih,Alya kamu masuk sana ke kamar kamu," ucap April.
Tanpa menjawab,Alya berlari masuk ke dalam kamarny.
Keesokan harinya,April bangun kesiangan karena terjadi Drama di malam hari.April cepat-cepat turun kebawah,disana sudah ada Mamih Lisda yang sedang sarapan sendirian.
"Mamih kok sarapan sendiri?" tanya April.
" Sayang,ini sudah jam berapa?Alya sudah berangkat Kuliah sementara Papih katanya ada kerjaan ke luar kota," jawab Mamih Lisda.
"April berangkat dulu Mih,sudah siang soalnya."
April mencium Mamih Lisda sebelum berangkat...
Seaampainya di Kantor,April cepat-cepat menuju ruangannya dengan buru-buru April melangkah,saat sampai di dalam ruangannya ternyata sudah ada Dito disana.
"Astaga,Pak Dito ngapain Anda ada di ruangan saya?" tanya April kaget.
"Berbicaralah yang sopan Nona April,kamu lupa kalau saya Pemegang saham terbesar di Perusahaan milik Orang tuamu ini,kalau saya sampai marah Perusahaan ini bisa hancur dalam sekejap," ucap Dito dengan tenangnya memainkan bolpoin.
"Sebenarnya apa yang Anda inginkan dan apa tujuan Anda datang kesini?" tanya April.
"Simple kok,aku tidak butuh apa-apa hanya satu yang aku inginkan dan itu adalah Kamu," ucap Dito dengan senyumannya.
April tidak menyangka kalau Dito bakalan senekad ini.
"Maksud Anda apa Pak.Dito?kalau sudah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan sebaiknya Anda keluar dari ruangan saya," sahut April.
Dito beranjak dari duduknya dan mulai mendekati April,April perlahan mundur karena merasa takut dengan tatapan Dito yang sangar mengerikan bagi April,hingga langkah April terhenti karena terhalang oleh dinding.
Dengan leluasanya Dito mengkukung pergerakan April,dan mulai mengelus pipi putih nan mulus milik April dengan telunjuknya.
April menepis tangan Dito...
"Anda jangan kurang ajar Pak Dito,atau saya panggilkan satpam untuk mengusir Anda," seru April.
Dito mrnjauh dari April dan tertawa dengan kerasnya.
"Jangankan Satpam,Polisi tengik yang kemarin menjemput kamu pun aku tidak takut," seru Dito.
"Kok dia tahu,kalau Radit seorang Polisi?" batin April.
Dito kembali menghampiri April dan mendekatkan bibirnya ke telinga April.
"Nasib orang-orang yang kamu sayangi ada di tangan kamu,jadi pikirkanlah baik-baik," ucap Dito dengan senyumannya dan pergi meninggalkan ruangan April.
April duduk dikursi kerjanya dengan perasaan yang masih terkejut.
"Apa maksud perkataan dia?" gumam April.
πΌ
πΌ
πΌ
πΌ
πΌ
Hallo semuanya maaf baru bisa Update nih soalnya Author lagi sibuk menghadapi dunia nyata π€π€
Semoga kalian tetap setia menunggu kelanjutannyaππππ
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOUπππ
__ADS_1