
"Itu..." menunduk, ragu ragu ingin menagih janji
Alex membalikan badannya, cessie menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O menagih janji yang di ucapkan Alex ketika mengirim pesan.
"Oooh" ucap Alex paham maksud dari isyarat Cessie lalu dia mengeluarkan uang dari dompetnya,memberikannya kepada Cessie sesuai janjinya
"Terimaksih, tapi..." sambil melihat jumlah uang yang diterimanya dan menunjukannya kepada Alex
Alex kembali membalikan badannya melihat ke arah uang di tunjukan cessie.
"Ini tidak cukup" sambil menggelangkan kepala
"Tidak cukup?!" Sahut Alex bingung
Cessie membuka pesan di ponselnya dan menunjukan kepada Alex "Ini maksudnya angka tiga bukan tanda oke. Pria sejati menepati janji" ucap Cessie tersenyum
Alex terkekeh lalu dia mengeluarkan kembali semua uangnya dan memberikan kembali kepada Cessie.
"Terimakasi Presdir Alex" Ucap Cessie tersenyum bahagia menerima uang pemberian Alex
Alex menggeleng gelangkan kepala lalu beranjak memasuki kamarnya. Dia mengambil obat yang biasa dia bawa lalu meminumnya. Alex melepaskan semua pakainnya dan membuangnya, dia memasuki kamar mandi.
Di depan cermin, dia menatap tubuhnya . Sentuhan dari Siska menimbulkan ruam di sekujur tubuhnya tapi dia merasa heran dengan kondisinya yang tidak terpengaruh dengan sentuhan dari Cessie.
Flasback
"Lihat !" Ucap Alex hendak memperlihatkan ruamnya kepada Dokter
"Aku tidak mau lihat" sahut Dokter mengankat tangan tidak ingin melihat kondisi Alex
__ADS_1
"Sejak awal aku sudah bilang, cara ini tidak berguna" ucap Dokter menatap malas
"Kalau begitu, beritahu aku cara yang berguna. Aku sudah berobat selama sepuluh tahun di sini. Tapi tidak ada kemajuan sedikitpun"
Dokter itu mendengus lalu menatap Alex "Aku sudah pernah bilang, kau mengalami gila kebersihan akut yang menyebabkan tubuhmu mengalami alergi. Aku menyuruhmu pergi kerumah sakit, melakukan pemeriksaan alergi. Tapi kau tidak mau pergi meskipun akan mati "
"Rumah sakit ?" Ucap Alex dengan mata membulat "Dari pada kau menyuruhku pergi ketempat penuh kuman seperti rumah sakit, lebih baik kau langsung membunuhku saja"ucap Alex tak ingin kalah debat dengan dokternya.
Dokter itu menghela nafas mendengar alasan yang di berikan lalu kembali menatap kearah Alex.
"Dan lagi gejala alergiku, semakin lama semaki aneh. Sekarang aku hampir alergi pada semua hal. Meskipun pergi kerumah sakit, tidak akan ada hasil apapun"
"Baik !" Mengangkat tangan lalu merubah posisi duduknya agar lebih rilex. Sejak tadi pasien di depannya membuat dia sedikit emosi. Berbagai alasan yang di berikan untuk mengurungkan niat pergi kerumah sakit
"Aku bisa mengerti kau tidak mau pergi kerumah saki. Jadi kenapa selama ini kau tidak mau mendengarkanku? Dan menerima pengobatan hipnoterapi? Kami para dokter harus menemukan penyebabnya baru bisa memberikan obat. Terserah jika kau tidak ingin memdengarkan saranku" ucap Dokter menyerah
Alex menatap sendu kepada Dokternya.
"Aku tanya padamu, bagaima jika kau di posisiku? Apa kau bisa menerima kenyataan ini? Selamanya hanya sendirian. Selamanya tidak bisa menyentuh orang. Selamamya tidak bisa berhubungan dengan orang. Selamanya tidak bisa punya perasaan pada orang" ucap Alex dengan tatapan pilu lalu dia mengalihkan tatapannya "Cukup. Aku masih ada urusan malam ini" beranjak berdiri lalu pergi meningalkan dokternya
Alex pergi kesebuah tempat club kalangan atas. Dalam perjalanan memasuki club dia menjadi pusat perhatian orang sekitar karena penampilannya yang mencolok. Dia memakai masker yamg menutupi sebagian wajahnya dan memakai sarung tangan tebal.
Alex mencoba bergaul dengan wanita di club. Dia duduk di antara keruman wanita yang menemaninya. Dia ingin mencoba metode ini, sejauh mana keefektifan dari metode yang dia lakukan.
Seorang wanita menawarkan minuman kepada Alex. Alex menoleh kewanita itu lalu menatap kepada pria di depannya yang tidak laim adalah pemilik club.
"Pekerjamu, sangat peka" puji Alex
Pemilik club terkekeh senag mendapat pujian dari Alex "Tuan Alex yang pintar memilih. Mereka semua datang untuk anda" Ucap pemilik club balas memuji
__ADS_1
Tiba tiba datang seorang wanita yang menyiram minuman ke wajah Alex. Membuat wajah baju Alex basah.
Pemilik club terkejut dengan tindakan dari wanita itu tanpa terkecuali dengan yang lainnya. Mereka di sana menganga dengan tindakan wanita itu. Tidak ada yang berani selama ini kepada seorang Alexander Eghan.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya pemilik club mengacungkan telunjuknya kepada wanita itu
"Pergi !" Bentak wanita itu kepada pemilik club sambil menepis tangan pemilik club
"Kau putus denganku, hanya untuk bersenang senang di sini? Apa aku tidak sebanding dengannya dan kau lebih suka menyentuhnya dari pada aku? Ucap wanita itu menggebu menujuk kearah wanita di samping Alex yang sedang menyender di bahunya.
Alex tertawa menyeringai " Kalau aku adalah kau. Aku akan pulang lalu berkaca diri, baru mengatakan ini" ucap Alex mencibir
Wanita itu mendesis "Alex, akhirnya aku mengerti" mengarahkan telunjuknya kepada Ale "Kamu adalah sampah !" Teriak wanita itu lalu beranjak pergi dari club itu.
Alex keluar dari club dengan keadaan sedikit mabuk dia berjalan dengan sempoyongan. Dia berjalan sendirian sampai tiba tiba segerombolan wanita menghampirinya.
Mengerumuni dirinya, ada yang menggodanya memeluk, meraba tubuhnya membuat dirinya hampir kehilangan nyawanya. Sampai akhirnya dia bisa melarikan diri dan pingsan di jalanan dan di temukan seorang gadis yang menolongnya.
Sayangnya dia tidak bisa mengenali wajah penolongnya.
flasback end
Siska yang dia anggap sebagai penolongnya ternyata bukan. Alex merasa kecewa sampai pertemuannya dengan Cessie membuat diri sedikit berharap bahwa cessie adalah gadis yang menolongnya waktu itu.
***
Jangan lupa tinggal like, coment, dan votenya
Author butuh dukungan kalian 😇😇😇😇
__ADS_1