
Siska menahan tangan Alex sambil menatap malu malu "Alex, aku sangat menyukaimu. Tidak peduli bagaimana kita memulainya . Kita tetap berhubungan seperti ini bagaimana?" Tanya Siska
Alex merasa tidak nyaman,dia menahan kekesalannya dengan mengepalkan tangannya di belakang. Dia berharap tubuhnya tidak cepat bereaksi di depan gadis ini yang berpura pura mengakui sebagai penolongnya. Alex melepaskan tangannya dari genggaman Siska lalu kembali duduk. "Aku memiliki hadiah untukmu" Ucapnya sambil mengambil Amplop pink yang sudah lecek lalu mengeluarkan isinya yang ternyata kalung
"Apa kau mengenal kalung ini?" Tanya Alex menunjukan Kalung yang dipegangnya
Siska nampak memperhatikan kalung itu "Apa ini desain kalung terbaru dari perusahaanmu? Terlihat sederhana. Tidak seperti gaya Eghan Rain" Ucap Siska yang beranggapan kalung itu desain terbaru dari perusahaan Alex.
Alex terdiam, ternyata benar dugaannya bahwa bukan Siska gadis yang menolongnya waktu itu. Jelas Alex tahu ketika dia siuman ada kalung yang tersangkut di jasnya. Dia sengaja tidak mengembalikannya untuk memastikan bahwa benar Siska penolongnya atau bukan.
"Maaf,aku salah ambil" Ucap Alex lalu memasukan kembali kalung itu kedalam Amplop pink dan mengeluarkan kotak yang berisi kalung lainnya.
"Ini yang benar" Ucap Alex mengeluarkan kalung dari kotak lalu berdiri berjalan mendekati Siska meski ada keraguan di hatinya. Dia memasngkan kalung itu di leher Siska.Siska menyingkapkan rambutnya agar Alex mudah memasngkan kalung.
"Lupakan saja yang tadi. Yang ini baru benar untukmu" sambil mengaitkan pengunci kalung
Siska terlihat bahagia,dia meneyntuh kalung itu dengan tangannya "Wah cantik sekali". Satu tangannya menahan tangan Alex. Alex tercengan ini kedua kalinya diriny bersentuhan. Entah berapa lama lagi tubuh ini bertahan dengan reaksi sentuhan itu. Lalu dia segera melepaskan dan sedikit menjauh "Tebakanmu benar, kamu benar benar cocok dengan kalung itu" Ucap Alex pura pura memuji
"Terimakasih. Aku sangat Suka" Sahut Siska terharu.
Lalu mereka beranjak pergi dari restoran.
Cessie yang melihat mereka akan keluarΒ restoran, dia pun ikut beranjak dari duduknya dan mengikuti Alex dan wanitany dari belakang dengan jarak cukup jauh.
Alex dan Siska berjalan beriringan. Saat mereka jalan, Siska ingin memegang tangan Alex, tapi tiba tiba saja Alex memasukan tangannya ke dalam sakunya. Siska hanya menghela nafas niatnya ingin bergandengan tangan tetapi tidak jadi. Pada akhirnya dia hanya menyatukan tangannya sendiri. Dari samping Siska memperhatika sosok Alex sambil tersenyum "Sungguh sangat tampan dirimu" mengagumi sosok Alex dalam hati.
Siska mengingat pertemuannya di rumah sakit. Dia yang diperintah Direktur Rico untuk menghubungi Alex malah mendapat kabar Alex terbaring di rumah sakit. Gadis penolong yang asli malah meninggalkan Alex di sana.
Tak lama kemudian Alex sadar dan mengira dirinya yang baru datang adalah gadis yang menolongnya. Siska yang cukup lama mengagumi sosok Alex, mengambil kesempatan itu mengaku sebagai gadis yang menolongnya. Sekarang dia malah menjadi pacarnya tentu itu membuatnya bahagia.
Siska menyudahi kenangan tentang pertemuannya dengan Alex, dia berencana menggoda Alex. Siska sengaja membuka kancing bajunya memperlihatkan tulang selangkanya. Lalu dia berpura pura bersin.
"Haaachim...haaachim" Siska pura pura bersin mengosok gosok hidungnya
__ADS_1
Alex membalikan badan ketika mendengar suara bersin Siska "Kenapa? Apa sangat dingin cuacanya?" Tanya Alex
"Angin di sini sangat dingin. Sepertinya aku sedikit flu" jawab Siska pura pura mengendus endus hidunganya
"Kalau begitu, kita segera kembali ke hotel" Ajak Alex dan di angguki oleh Siska. Alex membalikan badannya seperti semula hendak melanglahkan kakinya, namun tiba tiba Siska memeluknya dari belakang. Seketika tubuh Alex menegang terkejut tubuhnya kembali bersentuhan. Dia hanya mengepalkan tangannya merasa geram terhadap sikap Siska yang agresif.
Cessie yang memperhatikan dari jarak jauh tersenyum melihat Alex dan Siska sedang berpelukan.
"Wah, akhirnya dia bertindak. Wanita itu berinisiatif. Dia sudah hampir menjadi gantungan di tubuhnya" ucap Cessie terus mengawasi mereka
Siska tampak nyaman memeluk Alex dari belakang.
"Tidak perlu kembali, begini saja sudah cukup. Suhu tubuh manusia adalah yang terhangat.Aku sudah lama ingin memelukmu. Kau tidak akan menyalahkanku kan?"
"Tidak akan, tidak apa apa asalkan kamu senang" ucap Alex berpura pura, dalam hatinya dia geram dengan tindakan Siska. Dia mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada Cessie.
Ponsel dari Alex yang di berikan kepada Cessie bergetar. Cessie membuka pesan yang masuk ke ponsel itu.
"Bawa dia pergi ! Aku beri kau 100 USD". Isi pesan Alex
"Kenapa begitu? kau benar benar menganggapku pesuruhmu. Dasar Persdir pemaksa" gerutu Cessie. Dia mengetahui Alex adalah seorang Presdir karena nama kontaknya adalah Presdir Alexander.
Cessie mengetik pesan di ponsel untuk membalas.
" Baik, aku akan menagih biaya yang kau janjikan ini"
Ponsel cessie bergetar kembali. Ada pesan baru yang masuk.
"Kenapa masih belum datang? Cepat bawa dia pergi !"
Cessie menyudahi untuk membalas pesannya. Dia menyanggupi permintaan Alex. Dia berjalan mendekat kearah mereka.
"Ehhhm...ehhhm" suara batuk yang dibuat buat Cessie
__ADS_1
Mendengar suara deheman, secara spontan Siska melepaskan pelukannya.
"Maaf nona, apa anda terkena flu? aku memiliki obat di sakuku" ucap Cessie berpura pura menawarkan obat.
"Aku tidak sakit" Sahut Siska menatap Cessie tidak suka mengganggu moment kebersamaanya.
Alex menyembunyikan tangannya yang sudah memunculkan ruam merah. Dia mengatur nafasnya agar tidak merasa sesak.
Siska menoleh ke arah Alex " Aku akan kembali,memakai pakain satu lapis lagi agar tidak merasa dingin. Nanti aku akan menemuimu lagi" lalu meninggalkan Alex di sana kembali ke kamarnya tapi sebelum itu dia menatap sinis Cessie.
"Dasar pengganggu" gumam Siska
Cessie mendekat ke Alex " Pacarmu tadi menatap sinis kepadaku"
"Benarkah?" ucap Alex sambil berjalan dan di ikuti Cessie di belakangnya.
"Aku sudah cukup menderita seperti ini. Dia tidak akan melaporkanku?" Tanya Cessie khawatir takut tindakannya yang tidak sopan tadi.
"ini adalah hotel keluarga Eghan, dia tidak akan bisa berbuat macam macam"
Cessie melangkah lebih maju, dia memperhatikan Alex yang mulai terliahat pucat dengan nafas tidak teratur "Apa kau sakit? Apa perlu aku mengantarmu kerumah sakit?"
"Tidak perlu !" jawab Alex datar dia terus berjalan meski nafasnya sudah hampir habis.
"Bisakah kau memapahku sampai kamar?" dengan suara tersengal senggal
Cessie yang meliahat Alex pucat dengan gerak cepat meraih tangan Alex dan meletakannya di pundak. Dia memapah Alex berjalan. Begitu tubuh Alex bersentuhan dengan Cessie, nafas Alex berangsur angsur kembali normal namun tidak dengan ruamnya di balik pakainnya.
"Ajaib" gumam Alex tersenyum tipis
***
Jangan lupakan tinggalkan like, coment, votenya...
__ADS_1
Author butuh dukungan kalian ππππ