PRESDIR PEMAKSA

PRESDIR PEMAKSA
BAB 21


__ADS_3

Rencana cessie gagal total. Kali ini Siska mengikuti mereka untuk melihat hujan meteor yang masih berlangsung. Teman teman louis duduk di sisi Siska dan di sebelahnya ada louis.sambil melihat hujan meteor menggunakan teleskop. Cessie namapk antusias melihat keatas langit. Dia bisa melihat langit di hiasi dengan hujan meteor. Ingin rasanya dia melihat lebih jelas melalui teleskop, tetapi rasanya itu tidak mungkin.


"Tebak ! Apa nama lain dari hujan meteor perseus" ujar Marcel ingin menguji pengetahuan yang dimiliki teman temannya. Namun sebelum ada yang menjawab, Siska terlebih dahulu mengacungkan tangannya.


"Aku tahu. Itu Andromede" Serunya menoleh kearah Louis yang disampingnya.


"Salah"  jawab louis terkekah lalu menoleh kearah temannya "menurutmu apa?" Menatap kearah vero


"Menurutku...aku juga tidak tahu" sahut vero


Cessie nampak kecewa melihat mereka lebih memperdulikan Siska dari pada dirinya. Dengan wajah sendu dia memutarkan badannya dan menyingkir dari mereka. Dia berjalan kerah meja makan yang terdapat sisa makana dan peralatan bekas mereka makan. Dia mengambil tempat sampah dan membawanya kedekat meja makan. Cessie memasukan sisa sisa makanan itu kedalam tempat sampah.


Louis menoleh kebelakan dan melihat cessie sedang merapihkan sisa sisa makan di meja. Louis beranjak berdiri lalu menghampiri cessie.


"Sisi !" Panggil Louis berjalan kearah cessie.


"Biarkan mereka yang melakukannya. Kau letakan saja itu disini !" Ucap Louis menghentikan agar cessie tidak merapikan sisa makanan itu. Biar teman temannya yang merapihkannya karena sisa makan itu adalah bekas makanan mereka. Sudah sepatutnya mereka yang melakukannya bukan cessie. Karena cessie baru saja tiba di sana.


"Tidak apa apa ka louis. Tidak enak saja di lihatnya" sahut cessie dengan wajah tersenyum.


"Aku ingin bertanya? Siapa yang memutuskan untuk memesankan kamar ini untuk kami. Itu pasti menguras habis uangmu" ucap Louis penuh tanda tanya. Setahunya cessie bekerja sambilan untuk membayar kuliahnya. Lalu bagaimana dia bisa menghambur hamburkan uangnya hanya untuk memesankan kamar di hotel ini.


"Ka Louis sering membantuku sejak kecil. Ini hanya hal kecil yang bisa aku lakukan" ucap cessie


Louis nampak terkejut dengan penuturan cessie. Dia lupa bantuan apa yang sudah dia lakukan saat kecil sampai begitu terkesan bagi cessie.


"Apa aku sering membantumu?" Tanya Louis ragu sambil menggaruk kepala belakang. Dia sudah lupa kapan membantu cessie. Dia sudah menganggap cessie seperti adiknya sendiri. Sudah sepatutnya seorang kakak membantu adiknya.


"Oh ya, kamu bilang ingin mengatakan sesuatu?apa itu?" Tanya Louis begitu mengingat percakapanya saat di menelepon cessie.


Cessie tersipu malu "Aku...?!"


"Hujan meteor kedua sudah datang. Ayo, kau harus mengatur teleskopnya !" ujar Siska memotong ucapan cessie. Dia langsung menggandeng tangan Louis lalu menariknya ketempat mereka sebelumnya. Sejak louis menghampiri cessie, Siska terus memperhatikannya. Dia tidak suka melihat kebersamaan Louis dengan cessie. Maka dari itu dia bergegas menghampiri louis dan membawanya agar mereka tidak selalu bersama.


Louis hanya diam saja ketika dirinya di seret paksa oleh Siska.

__ADS_1


"Ayo cessie, kita lihat !" Ajak Louis meski dia di seret oleh Siska tapi sempat mengajak cessie untuk melihat bersama sama.


Cessie mengikuti ajakan Louis. Mereka langsung mengerubungi teleskop untuk mrlihat meteor. Cessie tertarik ingin melihat meteor lewat teleskop namun dia tidak di beri kesempatan. Siska selalu menghalangi ketika dia ingin mendekati Louis ataupun teman lainnya yang sedang memegang teleskop.


Melihat semua orang mengabaikannya, pada akhirnya cessie kecewa lagi.Dia berjalan menjauh dan melihat meteor, duduk seorang diri dengan wajah sendu.


"Seseorang berkata bahwa jatuh cinta itu seperti hujan meteor. Walaupun nantinya akan menghilang setelah bersinar, tapi itu bercahaya dari atas sampai bawah.


Dan memendam rasa cinta secara diam-diam itu seperti cahaya bulan. Kelihatannya indah, tapi itu hanyalah sebuah refleksi. Jika sang pemilik tidak memberikan cahayanya, maka itu tidak tidak akan pernah mendapatkan cahaya." Batin cessie menatap sendu keatas langit


Dia menoleh kearah louis dan teman temannya, mereka begitu antusias melihat meteor.


"Indah sekali !" Ucap Siska kagum menatap keatas langit. Siska nampak bahagi bisa bersenang senang melihat metor bersama louis.


"Ini ! Kau lihat kearah sana !" Tunjuk Louis menunjukan kearah langit. Louis tak kalah senangnya. Dia menikmati kebersamaan melihat meteor bersama Siska


Siska lalu mendekati teleskop dia melihat meteor melalui teloskop yang sudah di atur oleh Louis


Cessie sedih melihat orang yang disukainya sedang bersama Siska. Mereka terlihat senang tanpa mempedulikan dirinya.


Esok harinya cessie kembali pulang. Dia sudah sampai di rumah sewanya. Tampak jelas wajah lelah bercampur sedih.


"Tasya ! Kaka pintar ! Aku pulang " teriak Cessie memasuki rumah sewanya. Tidak ada sautan dari orang rumah. Dia melenggang masuk mencari kesemua ruangan dan tidak menemukan teman sekamarnya.


"Sepertinya mereka belum pulang dari liburannya" gumam cessie. Cessie


meletakan semua barang barangnya di kamar. Dia merebahkan diri dan tak lama terlelap tidur.


Malam harinya cessie bangun. Perutnya berbunyi minta diisi. Ternyata sejak siang dia tidak sempat mengisi perutnya. Sepulang dari hotel sudah lelah dan langsung tertidur. Didepannya saat ini ada semangkuk mie yang dia masak. Cessie begitu lahap memakan mie. Meski hatinya sedih karena rencananya gagal untuk menyatakan cinta tapi kalau soal perut dia tidak bisa berkompromi.


Drrt...drrt


Ponsel cessie bunyi.


"Halo Farel !"

__ADS_1


"Cessie, kau sudah mengerjakan tugas kuliah? Besok jangan lupa di kumpulkan" ujar Farel mengingatkan tugas kuliah yang di berikan dosen seni rupa ketika sebelum libur.


"Ah ya, aku sedang mengerjakannya. Terimakasih sudah memgingatkanku farel " ucap Cessie.


"Kau tahu ? Tadi pagi aku mendengar bahwa direktur dari perusahaan Eghan datang ke universitas dan melihat lihat fakultas seni . Kemungkinan besar akan ada anak anak fakultas yang terpilih untuk menerima beasiswa bisnis. Kau kan gagal untuk menerima beasiswa nasional, tidak ada salahnya kalau kau daftar untuk menerima beasiswa bisnis" terang Farel menyarankan cessie untuk mendaftar calon penerima beasiswa bisnis.


Farel tentu tahu bagaiman berusahanya cessie membiayai kuliahnya. Maka dari itu dia menyarankan kepada cessie semoga dia menjadi salah satu yang terpilih untuk memerima beasiswa itu.


"Benarkah? Aku janji akan menyelesaikan lukisannya malam ini. Biar besok aku kumpulkan" ucap cessie dengan wajah berbinar. Dia sangat senang mendengar kabar bahwa ada kesempatan untuk dirinya untuk mendaftar sebagai salah satu calon penerima beasiswa bisnis. Ini kesempatan untuknya meringankan biaya kuliah di universitas.


"Terimakasih farel sudah mengabariku tentang ini" ucap cessie.


"Baiklah. Selesaikan lukisanmu. Sampai jumpa besok !" Ucap Farel mengakhiri panggilannya.


Setelah mengakhiri panggilannya, cessie bergegas mempersiapkan peralatan lukisannya. Dari kanvas, cat lukis, kuas dan perlengkapan lainnya. Dia terdiam didepan kanvas memikirkan apa yang akan dia lukis untuk tugas kuliah kali ini.


"Apa yang akan aku lukis? Aku tidak memiliki inspirasi kali ini" gumamnya menatap kanvas yang masih putih bersih belum ada gambar.


"Seandainya saja ada Tasya dan kaka pintar, aku pasti meminta sarannya untu ide melukis" gumamnya lagi dengan wajah tertekuk.


Cessie terdiam melamun memikirkan ide lukisannya. Namun tiba tiba dia teringat dengan kenangan melihat hujan meteor bersma Alex malam itu.


"Tidak...tidak" cessie menggeleng kan kepalanya mengusir kenangan itu dari memori ingatannya. Dia tidak setuju jika kenangan itu menjadi bahan lukisannya.


"Mengapa aku teringat dengan kejadian itu?" Pikir cessie sambil melamum


"Tapi kalau aku pikir, sebenarnya kejadian itu lumayan juga jika di tuangkan kedalam lukisan.Lagi pula aku tidak akan bertemu denga pria pemaksa itu lagi. Lebih baik itu saja yang aku lukis" cessie pada akhirnya melukis kenangan itu.


Dia melukis sepanjang malam tanpa beristirahat. Lukisan pria dan wanita yang berdiri menatap hujan meteor di atas langit malam pun selesai keesokan paginya.


***


Tinggalkan like, comen dan votenya.


Dukung terus Author...😇😇😇

__ADS_1


__ADS_2