PRESDIR PEMAKSA

PRESDIR PEMAKSA
BAB 22


__ADS_3

"Aaah...akhirnya selesai juga" cessie meretangkan tangannya dan tersenyum merekah melihat hasil lukisannya. Dia cukup puas dengan jeripayahnya.


"Aku pulang " seru Tasya memasuki rumah.


Seketika cessie terjerambak mendengar suara tasya. Dia menghampiri tasya dan langsung memeluknya.Tasya yang tidak siap, seketika mundur kebelakangan.


"Tasya, aku merindukanmu" ujar cessie masih memeluk tasya.


"Ya aku tahu. Aku juga merindukanmu" sahut Tasya Lalu melepaskan pelukan dan berjalan kearah sofa.


"Sela belum pulang?" Tanya tasya meletakan barangnya lalu duduk di sofa di ikuti dengan cessie.


"Belum" sahut cessie menggelengkan kepala.


"Hari ini, aku akan kekampus kau istrahat saja dulu. Apa kau ada kelas hari ini?" Ucap cessie


Tasya mengangguk " Siang nanti ada kelas" dengan wajah yang sediki lelah dia mengikuti gerakan Cessie


Cessie berjalan kearah lukisannya. Dia berniat meminta pendapat Tasya soal lukisannya.


"Tasya ! Bagaimana dengan lukisanku?" Tanya cessie antusias menunjukan hasil karyanya.


Tasya menatap kearah lukisan seraya menilainya.


"Bagus. Kau memang pandai dalam hal seni" ucap Tasya tersenyum memuji hasil lukisannya.


Wajah cessie berbinar bibirnya tersenyum merekah,dia bahagia mendapat penilaian yang bagus dari Tasya. Seorang Tasya akan jujur dalam hal menilai.Dia tidak akan berbohong jika menurutnya bagus berarti itu bagus. Jika memang jelek maka dia akan bilang jelek tidak perduli itu menyakitkan atau tidak. Dia tidak bisa berbohong hanya untuk menutupi suatu hal apa lagi soal menilai yang berkaitan Seni.


"Terimakasih Tasya" ucap Cessie memeluk Tasya "Baiklah kau istrahat aku akan bersiap kekampus. Nanti sepulang dari sana aku akan memasak makan malam yang lezat untuk kita" ucapnya lagi seraya pergi kekamar untuk bersiap.


Tasya hanya mengangguk dan kembali merebahkan dirinya di sofa. Dia ingin mengistrahatkan sejenak tubuhnya sebelum siang nanti dia pergi kekampus. Dia akan di antar oleh pacarnya nanti.


***


"Ini lukisanku" ucap cessie menyerahkan hasil Lukisannya kepada Farel.


Farel tersenyum sambil menerima lukisannya. Dia begitu merindukan gadis di depannya. Terakhir dia bertemu dua minggu yang lalu sebelum libur kuliah. Sekarang didepan sudah hadir gadis yang disukainya.


"Bagaimana liburanmu? Menyenangkan?" Tanya Farel


Cessie mendesih "Bagaimana liburan. Waktu liburan aku gunakan untuk kerja paruh waktu. Kau kan tahu aku bekerja keras untuk biaya kuliah. Dan lagi rencana ku gagal kemarin" ucap Cessie dengan wajah menyedihkan. Dia mengingat bagaimana dia bekerja keras mengumpulkan uang untuk menyewa kamar hotel lalu menulis surat untuk Louis dan ketika ada kesempatan untuk menyatakan cintanya malah terhalan oleh kehadiran Siska di tengah tengah mereka. Entah kapannlagi kesempatan untuknya menyatakan cinta kepada Louis.


"Kau memang pekerja keras cessie. Oh ya kau tidak lupakan untuk mendaftar sebagai calon penerima beasiswa bisnis yang kemarin aku ceritakan?!" Tanya Farel sekaligus mengingatkan kembali


"Ya, sehabis dari sini aku akan pergi ke bagian admistrasi untuk mendaftar" jawab Cessie.


"Baiklah ! Segera mendaftar ya ! Aku akan menyerahkan lukisanmu kepada dekan" Farel pergi membawa lukisan cessie untuk di serahka kepada Direktur Kampus sekaligus Dosen Seni yang nantinya akan di nilai dan sebagai salah satu syarat untuk menerima beasiswa.


Cessie segera pergi menuju ruang admistrasi untuk mendaftarkan dirinya sebagai calon penerima beasiswa. Dia tidak terlalu berharap untuk mendapatkannya. Cessie hanya bergantung kepada keberuntungannya.


Dekan kampus yang menerima lukisan dari Farel sedikit tertarik dengan lukisannya. Dia berniat menunjukannya kepada Alex yang sedang mempelajari daftar penerima beasiswa.


"Presdir, bagaimana menurut anda dengan lukisan ini ?" Tanya Dekan memperlihatkan lukisan ditangannya. Ternyata lukisan itu adalah lukisan Cessie.


Begitu melihat lukisan itu, Alex langsung teringat dengan kenangannya.

__ADS_1


"Siapa yang melukis ini?" Tanya Alex menatap Lukisan itu. Dia mengenali moment dalam lukisan itu. Itu dirinya dan gadis yang dia temui di hotel


"Cessie Laura dari kelas seni rupa" jawab Dekan


Alex tersenyum tipis mendapat jawaban itu sambil menulis nama Cessie Laura sebagai salah satu penerima beasiswa yang ia adakan.Direktur kampus hanya melihat nama yang di tulis oleh Alex sebagai penerima beasiswa.


***


Acara penghargaan penerima beasiswa


Di Aula kampus diadakan acara besar.


Terlihat cukup banyak yang menghadiri acara itu, Khususnya mahasiswa yang akan menerima beasiswa yang di sponsori oleh oerusahaan EG....


Di antara bangku penonton, tampak ada seorang pria misterius yang memakai sarung tangan. Sambil menautkan jari tangannya dia fokus menatap kearah panggung seakan menanti sesuatu yang sejak tadi dia tunggu.Dia adalah Alexander Eghan. Presiden Direktur dari perusahan EG Rain


Dekan kampus nampak naik keatas panggung untuk mengumumkam siapa saja yang menerima beasiswa.


Pak Robert adalah Dekan sekaligus dosen fakultas seni. Dia yang menaungi dari semua fakultas seni di EG University. Selain muncul setiap ada penghargaan,


Pak Robert juga akan muncul di setiap pembayaran uang kuliah. Jadi dia sangat mengenal Cessie yang sering telat membayar uang kuliah. Bagi Pak Robert murid baik dalam pikirannya bukanlah orang miskin yang selalu telat membayar uang kuliah.


"Murid yang akan disebutkan harap naik keatas panggung untuk menerima penghargaan" ucap Deka Robert lalu membacakan nama nama yang akan di panggil ketas panggung.


"Ciko dari jurusan desain lingkungan, Natali dari jurusan desain produk, Sesilia dari jurusan desain pakaian, Nathan dari jurusan desain grafis dan...?" Ucap Dekan menyebutkan nama nama mahasiswa yang menerima beasiswa.Mahasiswa yang namanya disebut langsung naik ketas panggung diiringi suara riuh tepuk tangan dari mahasiswa dan dosen yang hadir di acara itu.


"Demikian nama nama penerima beasiswa EG Rain tahun ini. Berikan tepuk tangan" Dekan mengakhiri pidatonya


Alex menoleh dan memberi kode kepada seorang wanita yang tidak jauh dari tempat duduk Alex. Wanita itu paham langsung beranjak berdiri dan maju kedepan panggung.


Pak Robert langsung mengecek ulang daftar nama nama mahasiswa penerima beasiswa. Dia baru sadar ternyata ada satu nama mahasiswa yang di tulis dengan balpoin di urutan terakhir.


"Maaf, tertinggal satu nama. Cessie Laura jurusan seni rupa dan melukis" ucap Pak Robert menyebutkan nama cessie sebagai salah satu penerima beasiswa.


Tapi yang dipanggil malah tidak muncul. Sehingga Pak Robert mmenyebutkan kembali nama Cessie.


"Apa Cessie Laura ada di sini?" tanya Pak Robert memanggil ulang.


Di bangku penonton, ada dua wanita yang keheranan mendengar nama Cessie dipanggil. Ya Tasya datang ke kampus untuk menghadiri acara itu bersama Sela.


"Apakah tadi dia menyebutkan tanya Cessie? Aku tidak salah dengarkan?" Tasya menoleh kearah Sela memastikan pendengarannya tidak salah bahwa ada nama Cessie sebagai penerima beasiswa.


"Kau tidak salah dengar, nama seaneh itu di jurusan seni rupa hanya satu dan juga tidak langka. Tidak mungkin salah sebut sampai dua kali" sahut Sela denga wajah datarnya. Sela teman sekamar Cessie yang mendapat julukan Kaka pintar. Dia gadis jenius dan penuh rahasia. Setiap ucapannya mengandung teka teki yang sulit di tebak bagi mereka yang baru mengenalnya. Dia bahkan bukan mahasiwa satu fakultasnya. Dia hanya datang ke fakultas Seni hanya untuk makan di kantin. Karena menurutnya makan kantin dekat fakultas Seni enak.


"Kenapa dia harus terlambat hari ini?" Gerutu Tasya kesal dengan Cessie yang belum datang ke acara itu


Sementara si penerima beasiswa sedang berlari menuju aula kampus. Dia terlambat untuk menghadiri acara itu karena harus bekerja paruh waktu.


"Cessie Laura harap naik keatas panggung untuk menerima penghargaan" ujar Pak Robert memanggil ulang untuk yang ketiga kalinya.


Begitu nama cessie di sebutkan, tiba tiba pintu samping aula terbuka dan muncul cessie yang sejak tadi di panggil. Sontak semua mata mengarah pintu melihat sosok Cessie tanpa terkecuali dengan Alex. Dia sudah menanti kehadiran gadis itu. Cessie berdiri canggung di depan pintu karena semua mata tertuju padanya.


"Cessie, cepat kesini !" Panggi Tasya kepada cessie agar bergegas masuk keaula


Cessie pun masuk ke aula dan langsung duduk bersama kedua temannya.

__ADS_1


"Kenapa kau malah duduk di sini, maju sana untuk menerima penghargaanmu." Ucap Tasya kesal dengan cessie bukannya maju keatas panggung malah duduk bersamanya.


"Penghargaan apa? Aku?" Ujar Cessie kebingungan sambil menunjuk dirinya


Tasya memutar bola mata malas "Menyebalkan sekali" ucapnya lalu menoleh kearah cessie dengan wajah kesalnya "Kau mendapatkan beasiswa. Beasiswa yang disponsori oleh perusahaan EG Rain


Dan diangguki oleh Sela.


"Kau bercanda?  Meski aku mendaftar untuk mendapatkan beasiswa itu. Aku tidak seberuntung itu" ucap Cessie.Dia memang mendaftarnya tapi tidak terlalu berharap karena setahu dia yang mendapatkan beasiswa rata rata mahasiswa yang berprestasi dengan nilai di atas rata rata. Untuk dirinya yang nilai akademinya rata rata apakah mungkin.


"Tenang saja. Keberuntukan dan kecerdasan tidak berhubungan. Lagipula kau sudah lama kesusahan untuk biaya kuliah. Sudah waktunya kau menerima keberuntungan.Udah cepat sana naik !" Timpal Sela menarik tangan cessie untuk beranjak. Menyuruhnya mengambil keberuntungannya kali ini.


Cessie beranjak berdiri lalu berjalan kearah panggung. Dia naik keatas panggung meski pikirannya pesimis dengan keberuntungannya. Pengusaha mana yang otaknya lagi koslet sampai memberinya beasiswa. Pada akhirnya dia bergabung dengan mahasiswa lainnya.


Satu persatu beasiswa itu diberikan oleh pria muda yang bersarung tangan hingga akhirnya sampai di depan Cessie


"Selamat ya " ucap Alex dengan wajah dinginya sambil menyerahkan penghargaan kepada cessie.


Cessie mengangkat pandangannya. Dia ternganga kaget bertatap muka dengan pria yang memberikan penghargaan.


"Mengapa kau diam saja? Terimalah !" Tegur Pak Robert ketika melihat cessie tidak bergegas menerima penghargaan yang di berikan Alex


Dengan tangan bergetar, cessie menerima penghargaan itu dari tangan pria di depannya. Cessie masih syok dengan kehadiran Alex di depannya. Wajahnya berubah pucat, bibirnya kelu tidak bisa berbicara.


"Kau Cessie kan? Aku sudah melihat lukisanmu. Kau punya potensi" ucap Alex datar


Wajah cessie semakin pucat. Dia bertemu kembali dengan pria itu apa lagi pria didepannya sudah melihat lukisannya.


"Kenapa bisa kau?" Ucap Cessie keheranan. Bagaimana bisa pria di depannya adalah orang yang mensponsori beasiswa yang diterimanya.


"Apa kita pernah bertemu?" Ucap Alex seraya tersenyum menyeringai


Tiba-tiba lampu di aula mati. Kontan saja semua orang jadi ribut karenanya. Alex justru memanfaatkan kesempatan untuk mendekat ke Cessie dan menatapnya lekat. Alex menyeret cessie kebelakang panggung.


"Sekarang hanya kita berdua, jujur saja jangan pura pura kalau kita tidak saling mengenal" ucap cessie menepis tangan Alex. Dia nampak kesal dengan Alex


Alex terkekeh "Kau sangat berharap aku mengingatmu?" Goda Alex


"Aku hanya tidak mau hidup dalam kebohongan orang lain. Apalagi di saat yang tidak penting seperti ini. Apa sulitnya untuk bilang kalau aku mengenal orang yang menyebalkan? Atau mungkin, kau memang punya kebiasaan berbohong?" Ujar cessie


Alex mendesih "Sudah kuduga, logika anak kecil artinya kau tidak pernah bisa membedakan antara benar dan salah. Jika aku memberitahumu bahwa kita pernah bertemu dan tidak cuma sekali, apa kau akan mempercayainya?"


Cessie dibuat bingung akan maksud perkatan Alex.


"Bukankah kau bilang tidak mau terlibat denganku lagi?"


"Aku berubah pikiran." Alek tiba-tiba mencondongkan dirinya mendekat ke cessie sambil tersenyum menyeringai "Gadis kecil... kita akan bertemu lagi."Alex lalu pergi dari aula.


Karena mati lampu acara itu akhirnya diakhiri.


***


Tinggalkan like, comen dan votenya !


Dukung terus Author ya !😇😇😇😇

__ADS_1


__ADS_2