PRESDIR PEMAKSA

PRESDIR PEMAKSA
BAB 41


__ADS_3

Dirumah sakit, meskipun Vincent sudah sadar tapi belum mau makan. Dia enggan memakan makanan jika bukan dari mangkuk kesayangannya. Dia menatap kosong kearah jendela dengan tubuh lemahnya padahal di depannya sudah tersaji berbagai makanan untuknya, tapi dia tak bergeming sedikitpun.


Bela mengambil semangkuk bubur berniat untuk menyuapinya.


"Vincent, makan lah sedikit saja !" Bujuk Bela menyendokan bubur lalu mendekatkan mulut Vincent.


Tapi Vincent menutup rapat mulutnya dia hanya menggelengkan kepala tidak mau menerima suapan dari Bela yang sudah di anggap orang tuanya.


"Aku tidak bisa makan. Aku tidak bisa makan." Gumamnya lirih dengan tatapan kosong.


"Lalu jika kau tidak makan, kau akan mati." Jelas Bela terus berusaha membujuknya.


"Aku tidak boleh makan makanan orang lain. Kakakku bilang begitu." Terangnya dengan tatapan kosong.


"Vincent, kenapa kau keras kepala sekali?" Bela sedikit kesal dengan sikap Vincent.


"Aku menemukannya !" Tasya berjalan tergesa gesa mendekat kearah Vincent sambil membawa kotak yang berisi mangkuk.


Seketika Bela dan Vincent mengarahkan pandangannya kekotak yang di bawa Tasya. Tasya langsung membuka kotak itu didepan mereka dan nampaklah mangkuk yang sama persis. Saking terkejut sekaligus lega sampai membuat Vincent pingsan melihat mangkuk itu.

__ADS_1


Bela memindahkan buburnya kemangkuk yang tadi di bawa Tasya lalu mendekatkannya ke Vincent.


"Vincent !" Panggilnya sambil menyodorkan mangkuk berisi bubur di deoan Vincent.


Tak lama kemudian Vincent sadar, dia mengerjapkan matanya melihat mangkuk itu. Dia langsung mengambil alih mangkuk itu dan memakan buburnya dengan lahap.


Tasya dan Bela yang melihat itu merasa lega melihat Vincent sudah mau makan. Tasya tidak bisa membayangkan jika mangkuk itu tidak ada sudah pasti Vincent mati menahan lapar.


Bela mengajak Tasya keluar ruangan untuk berbicara.


"Aku sunguh berterimakasih dengan bantuanmu. Kau sudah menyelamatkan nyawa Vincent." Ucap Bela dengan senyum bahagia


"Sebelumnya aku salah menilaimu. Aku pikir kau mendekati Vincent karena ingin terkenal atau uang. Tak di sangka kau peduli padanya. Bahkan kau mencari mangkuk yang sama persis. Kau membuatku kagum padamu." Ucap Bela


"Nyonya Bela saya rasa anda salah paham. Dia dan aku cuma tetangga, kami bahkan jarang bertemu."


Nyonya Bela heran mendengarnya, "jadi kau tidak mengenali siapa Vincent?"


Tasya tidak mengerti dengan ucapan Bela.

__ADS_1


Bela tersenyum mengetahui Tasya tidak mengenal siapa Vincent sebenarnya.


"Baguslah kalau begitu." Timpal Bela


Dia lalu memberikan seamplop uang untuk Tasya sebagai ungkapan terima kasih.


Tasya tertegun begitu Bela memberikan amplop itu.


"Sejak kecil, Vincent tidak punya banyak teman. Karena itulah, aku sangat senang karena dia memiliki seorang tetangga yang baik seperti mu.Vincent bukan seseorang yang bisa mengurus dirinya sendiri dengan baik. Karena itulah, Aku berharap kau dan teman mu bisa menjaga Vincent dengan baik selama aku tidak ada bersamanya." Jelas Bela. Berharap Tasya mau membantunya menjaga Vincent.


Tasya sedikit tidak enak hati jika menerima amplop itu. Dia tiadak ingin Bela beranggapan bahwa dia mengharapkan pamrih untuk menolong Vincent.


"Tentu saja, tapi tidak perlu pakai uang ini, tolong ambil kembali saja." Tolak Tasya mendorong amplop itu.


"Jangan salah paham ! Sungguh. Ini hanya sedikit dariku." Bela menaruh amplop iti di tangan Tasya.


"Aku bersikeras agar kau mau menerimanya." Bela bersikeras memaksakan niat baiknya itu. Tasya terpaksa menerimanya.


"Oh ya mengenai mangkuk palsu itu, dari mana kau mendapatkannya? Aku yakin tidak banyak orang yang bisa membuatnya sama persis seperti aslinya. Mangkok palsu itu benar-benar bisa membodohi siapapun." Bela penasaran dari mana Tasya mendapatkannya. Bela mengira itu mangkuk palsu tapi sebenarnya itu pasangan dari mangkuk itu.

__ADS_1


"Oh, saya meminta bantuan teman saya. Jadi saya tidak tahu apa-apa." Sahut Tasya tidak tahu apa apa soal mangkuk itu palsu atau tidak.


__ADS_2