
Keesokan harinya, Alex mengajar di kelasnya Cessie. Tapi gara-gara kemarin mereka karaokean, sekarang tenggorokan mereka jadi sama-sama tak enak dan terbatuk-batuk terus sepanjang kuliah.
"Ehkm...ehkm" suara batuk Cessie
Farel menoleh kearah cessie dengan tatapan keheranan.
"Kalian berdua yang satu di sana yang satu lagi di sini. Sebenarnya apa yang terjadi?"
Cessie tidak menjawab pertanyaan Farel dia kembali fokus memperhatikan mata kuliah meski tenggerokannya kurang nyaman.
Di rumah, tasya tiba-tiba menjatuhkan mangkok sampai pecah. Sepertinya pikirannya jadi kacau gara-gara kebanyakan lihat mangkok belakangan ini. Biarpun masalah ini sudah selesai, entah kenapa Tasya merasa tidak enak.
Cessie bergegas menghampirinya dengan wajah khawatir.
"Kenapa kau masih bermasalah dengan mangkuk?" Tanyanya dengan wajah keheranan bercampur khawatir mentapa pecahan mangkuk yang berserakan di lantai.
"Kenapa hatiku belum tenang .Padahal aku berniat sungguh-sungguh untuk minta maaf, tapi anak itu bahkan tidak menatapku. Itu kan cuma mangkok, memangnya kenapa kalau pecah?apa perlu di perbaiki?" Gerutu Tasya sambil membersihkan pecahan mangkuk.
"Kau benar ! Kenapa tidak kita perbaiki saja" ujar cessie.Kalimat terakhir tasya seketika membuat cessie memiliki ide bagus
Tasya mendesis mencemoohkan idenya lalu menoleh ke arah cessie "Perbaiki?Eh, Nona. Kau pikir kita hidup di tahun berapa? Siapa juga yang masih memperbaiki mangkok jaman sekarang?" Tasya menertawakan ide cessie yang menurutnya tidak mungkin untuk memperbaiki mangkuk yang sudah pecah.
"Cermin pecah saja bisa diperbaiki, apa kau lupa aku bisa memperbaiki mangkok? Aku kan bekerja di bidang seni. Ini tidak sulit bagiku." Sahutnya percaya diri dan tak mau kalah
Tasya hanya menghela nafas sampil menatap atas langit merutuki nasib sialnya "Aku hanya takut bahwa air yang tumpah, tidak akan bisa kembali. Sama seperti uang yang kugunakan untuk membeli mangkok-mangkok itu." Isak Tasya
Tepat saat itu juga, tiba-tiba saja mereka melihat air menetes-menetes dari lantai atas.
"Ini air !" Tunjung cessie keatas langit langit yang meneteskan air.
"Apa yang terjadi?" Sahut Tasya tercengang melihat air menetes dari atas
Tasya dan cessie langsung panik dan bergegas pergi kelantai atas.
"Hei , apa ada orang?Air mu menetes kelantai bawah" Teriak cessie sambil menekan bel pintu
" "Hei , apa ada orang?" Teriaknya lagi sambil terus menekan bel pintu dan mengetuk pintu dengan keras.
"Sepertinya tidak ada orang" cesie menoleh kearah cessie.
"Tidak mungkin. Aku melihatnya pulang kerumah. Aku juga tidak melihatnya pergi keluar"
"Aku rasa ada sesuatu yang terjadi di dalam" timpal cessie curiga
Karena tidak sahutan dari dalam rumah pria itu, sontak membuat keduanya menjadi panik.
"Kau mau kemana?" Teriak Tasya di sela larinya. Tapi cessie tidak menyahutnya
__ADS_1
Cessie bergegas keluar untuk mencari jalan masuk lain. Dia pergi ketaman belakang gedung. Dia berniat memanjat ketumpukan kotak kayu yang ada di sana.
"Tidak.tidak turunlah !" Cegah Tasya menarik cessie sebelum menaikinya.
"Kau mau apa?"
"Perasaanku tidak enak, jadi aku mau naik untuk melihatnya." Sahut Cessie dengan wajah khawatir memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi pada pria itu.
"Dia punya sifat buruk. Aku hanya memecahkan mangkuknya dan dia bersikap seperti ini padaku . Kalau kau pergi kesana, apa kau tidak takut jika dia berbuat yang tidak tidak?"ucap Tasya
"Kalau dia baik-baik saja, maka dia hanya akan meneriakiku. Tapi kalau benar-benar terjadi sesuatu padanya dan kita membantunya, kita bisa menyelesaikan masalah mangkok pecah itu.Jangan khawatir, kau tunggu saja di pintu depan. Begitu dia masuk, aku akan membukakan pintu untuk mu" cessie mencoba memberi pengertian kepada temannya agar tidak perlu khawatir dengannya.
Cessie pun langsung menaiki kotak-kotak itu untuk masuk lewat jendela.
"Ini sungguh gila" gerutu Tasya lalu dia pergi kearah pintu depan menunggu cessie membukakannya.
Begitu sampai jendela, cessie langsung membukanya dan mendarat yang sudah di genangi air.
"Cessie ! Apa kau sudah masuk kedalam?" Teriak Tasya dari pintu depan.
Cessie turun kelantai dasar lalu membukakan pintu untuk Tasya.
Tasya tertegun melihat kondisi lantai tangga yang tergenang air.
"Ya tuhan ! Kenapa banyak air? Apa yang terjadi?"
Cessie akan mau masuk, tapi Tasya lagi-lagi menghentikannya,
"Bagaimana kalau dia sedang mandi?" Cegahnya sambil menarik tangan cessie.
"Kita tidak boleh banyak berpikir" sahut cessie tak perduli. Yang terpenting dia ingin memastikannya terlebih dahulu. Dia langsung menerobos masuk kedalam kamar mandi dan menemukan pria muda itu pingsan di dalam bathtube berisi air berwarna merah. Sontak membuat mereka terkejut sekaligus panik.
"Aaah !" Teriak Tasya tertegun melihat pria itu pingsan di dalam bathtube beriisi air berwarna merah
"Ya tuhan,kenapa banyak darah? Dia tidak bunuh dirikan? Kita harus panggil ambulance" Tasya menjadi panik dan mengeluarkan ponselnya untuk memenggil ambulance
Cessie berusaha tetap tenang melihat situasi.
"Tunggu!" Cegah cessie sambil berpikir apa yang harus di lakukannya.
"Tunggu apa?jika kita tidak segera menolongnya, dia akan mati" panik cessie sambil memegang ponselnya
"Shuut ! Apa kau mendengar suara itu?" Fokus Cessie sambil mendengarkan suara yang entah apa itu.
"Aku tidak peduli suara apa itu! Kalau kita tidak menyelamatkannya, dia bisa mati! Bagaimana kalau kita jadi tersangka?" Tasya semakin panik dan ketakutan
"Kau tenang saja jangan panik !" Cessie meyakinkan tasya agar tidak panik. Lalu dia berjalan mendekat kearah pria itu
__ADS_1
Dia mematikan kran airnya lalu mengecek bau air merah itu. "Ini kan?"pikir cessie mengenali bau dari air yang berwarna merah itu. Lalu dia menelisik keseliling ruang kamar mandi dan menemukan pot cat warna merah di meja tidak jauh dari bathtube.
"Fiuh ! Membuatku takut saja dia baik baik saja" gumam cessie sedikit lega ternyata penyebab warna merah di air bukan darah melainkan cat warna.
"Apa?"Tanya tasya masih ketakukan sekaligus penasaran dengan maksud ucapan gumaman cessie.
Cessie lalu menoleh kearah Tasya dan mengajaknya agar mendekat kearahnya.
"Mendekatlah ! Dan lihatlah !"
"Aku tidak mau. Itu banyak darah, aku taku " ujarnya sambil memejamkan matanya. Tangannya bahkan bergetar ketakutan.
"Darah punya bau yang tajam. Datang dan ciumlah !" Cessie menarik paksa tasya mendekat untuk mencium dan meemerika sendiri air yang berwarna merah.
Meski enggan akhirnya tasya mau diajak mendekat kearah bathtube. Dia mengendus aroma dari air warna merah itu.
"Ini pemawarna" ujarnya lalu tasya menempelkan ujung jarinya di bawah hidung pria itu untuk memastikan apakah pria itu masih bernafas.
"Dia masih bernafas " ujar Tasya sedikit lega.
Mungkin pria itu hanya pingsan.
Tasya lalu kembali mendekat kearah pria itu untuk memastikan kembali kondisinya. Namun tiba tiba saja pria itu bangkit lalu menarik kepala tasya sampai masuk kedalam bathtube.Mata cessie membulat sempurna dia bergegas menarik tasya.
"Aaaahhhhhh" tasya mengambil nafas dalam begitu keluar dari dalam bathtube.
Tak lama kemudian, ambulance datang untuk membawa Pria itu ke rumah sakit.
"Ini tidak serius. Dia hanya kekurangan gizi karena belum makan cukup lama. Ditambah lagi, sepertinya dia terantuk sesuatu dalam kondisinya itu sehingga menyebabkannya pingsan" jelas Dokter kepada Cessie dan Tasya yang sepertinya ingin mengetahui kondisi pria itu.
"Betul. Sebelumnya dia terantuk di bathtube" sahut cessie membenarkan ucapan dokter
"sebelum menghubungi pihak keluarganya. Bisakah ada seseorang untuk ikut ke rumah sakit mengurus administrasinya?" Tanya dokter
"Aku akan pergi" ujar Tasya mengajukan diri. Dia masih punya hati nurani todak membiarkan pria itu sendiri meski dia masih kesal demgannya.
Tasya dan dokter akhirnya pergi lerumah sakit. Sementara cessie kembali ke rumah pria itu. Dia membersihakan rumah pria itu yang tergenang banyak air. Setelah membersihkan semua ruangan dia naik kelantai paling atas yang ternyata banyak lukisan.
"Ternyata benar. Dia bilang melukis dengan baik. Dia tidak berbohong" gumamnya sambil menatap lukisan didepannya.
Cessie mengernyitkan dahinya begitu memperhatikan detai dari lukisan itu.
"Kanapa gaya lukisannya mirip seperti V ran? Apakah dia adalah V ran?"gumamnya curiga kalo pria itu adalah pelukis idolanya
"itu tidak mungkin !" Sangkal cessie sambil menepuk kepalanya sendir
"Dia kan masih muda. Dia pasti cuma niru karena dia sepertiku penggemarnya V Ran juga, lukisan ini pasti iruan terbaik." Kagumnya yang mengira lukisan di depannya adalah lukisan tiruan dari lukisan V ran.
__ADS_1
Tapi kemudian perhatiannya teralih saat melihat mangkok pecah itu yang tersusun diatas meja. Dia lalu mendekat dan memperhatikan pecahan mangkuk itu seraya berpikir mungkinkan pecahan mangkuk itu bisa di perbaiki.