PRESDIR PEMAKSA

PRESDIR PEMAKSA
BAB 33


__ADS_3

Tanpa sengaja cessie melihat pria itu melintas di hadapannya.


"Kebetulan sekali" ujarnya. Lalu dia mengikuti pria itu yang masuk ke perpustakan sama dengan tempat tujuannya.


Cessie terus mengikuti pria itu dari belakang, sampai di koridor rak buku dia kehilangan jejaknya.


"Kau mencariku?" Tanya pria itu tiba tiba memergoki cessie yang mencarinya.


Cessie mengernyit merasa tak enak terlebih dia ketahuan sudah menguntitnya diam diam. Dengan berat hati cessie membalikan badan dan menggelengkan kepala berbohong menyangkal dugaan pria itu.


"Jadi apa yang kau cari?"


"Me..mencari buku" jawab cessie gerogi


Lalu dia mengambil buku asal di rak.


"Ternyata ada di sini " sambil membuka buku ternyata buku berbahasa jepang.


"Kau juga dari jurusan seni rupa?" tanya cessie karena melihat tas punggung yang di gunakan pria itu yang biasanya di gunakan untuk menyimpan lukisan.


Pria itu menganguk


"Kenapa aku tidak pernah melihatmu?" Cessie keheranan karen tidak pernah melihat pria itu hadir di kelas


"Apa kau hanya hadir saat tugas dan ujian saja?" Tanya cessie penasaran.


Pria itu membalasnya dengan mengangguk membenarkan ucapan cessie.


"Lalu apa dekan dan profesor tidak mencarimu?"


"Siapa dekan dan profesornya?" Tanya pria itu dengan sikap polosnya


Seketika mata cessie membulat sempurna, bagaimana bisa pria di depannya tidak mengenali dekan dan profesornya sendiri. Dia kan anak seni rupa.


"Bagaimana bisa kau tidak kenal mereka? Kenapa juga mereka membiarkanmu hanya masuk di saat ujian saja?" Gerutu cessie


"Mungkin karena aku melukis dengan baik" ujar Pria itu percaya diri


Cessie terkekeh dengan kepercayaan diri yang dimiliki pria di depannya.


"Jangan katakan itu didepan orang lain kau bisa di hajar nanti" cessie mengingatkan


"Kau datang kesini sedang mencari buku?buku apa? Biar aku bantu!"


"Buku terjemahaan dari bahasa jepang" pria itu melirik ke rak  mencari buku yang di maksud


"Apa judul bukunya?" Tanya cessie

__ADS_1


"Jika kau mengerti kesulitan dan kebingungan adalah faktor umum diantara anak muda, maka jangan khawatir. Karena semua orang tumbuh seperti itu. Aku dulu jenius yang memiliki masalah dan kebingungan pikiran. Jika kau menyadari bahwa tempat tanpa masalah dan kebingungan adalah tempat tanpa kedewasaan, maka asalkan kau menikmati pekerjaanmu dan kau bisa melakukan segalanya. Coba carikan itu." Ujar pria itu


Cessie membulatkan matanya mendengar ucapan pria itu


judul buku ini sangat panjang. Buku apa yang biasa di baca bocah ini.


Cessie bergumam sambil terus melirik memperhatikan pria itu.


"Penulisnya adalah seorang seniman ilustrator" ujar pria itu


Kruweeekk


Tiba tiba perhatian mereka teralih dengan cepat saat  terdengar bunyi gemuruh dari perut pria itu


"Apa kau lapar?" Tanya cessie


Wajah pria itu seketika berubah menjadi pucat. Dia sontak melipat tangan diperutnya lalu pergi meninggalkan cessie.


"Tunggu aku !" Cegah cessie menyusul pria itu lalu menarik ujung bajunya.


Pria itu menghentikan langkahnya lalu menoleh menghadap cessie.


"Aku minta maaf atas kejadian kemarin. Dia tidak sengaja melakukan itu. Meski sekarang situasinya sedikit aneh. Tapi dia sungguh ingin menggantinya. Jadi maafkanlah dia !" Ujar cessie mewakili tasya untuk meminta maaf.


Pria itu mendengar semua perkataan cessie. Dia mengerti namun sekarang kondisi dirinya sedang lemah.Dia mengabaikan ucapan cessie lalu pergi meninggalkannya. Namun beberapa langkah tubuhnya terhuyung tidak seimbang sehingga dia tertumpu memegang kursi.


"Apa kau baik baik saja?" Cessie memegang tangan pria itu berniat ingin membantunya. Tapi pria itu menepis tangan cessie lalu pergi tanpa mengatakan apa pun. Cessie hanya terdiam menatap punggung pria itu hilang dari hadapannya.


"Apa dia baik baik saja? Dia berjalan seperti zombie" gumam cessie


Ponsel cessie berdering lalu dia keluar dari perpustaan dan mengangkatnya.


"Halo !"


"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Alex


"Belum. Kenapa kau punya no ku?" Tanya Cessie heran dari mana Alex memiliki no pribadinya.


"Bagiku mudah untuk mendapatkan no ponselmu. Kau dimana?" Alex bertanya balik


"Karena presdir Alex, aku sekarang di perpustakaan"


"Panggil aku guru bukan presdir. Sekarang aku jadi gurumu" ucap Alex


Cessie hanya memutar bola mata malas mendengarnya.


"Lupakan itu. Pergilah ke bar malam ini ! Jangan lupa  bawa laptop mu!"

__ADS_1


"Apa?" Cessie terkejut "untuk apa?" Tanyanya penasaran


"Tentu saja untuk mengawasi tugasmu" jawab Alex


Cessie kesal dengan alasan Alex "Guru Alex, kau begitu semangat tentang ini?"


"Aku tunggu jam 9 malam nanti. Tidak boleh telat" ucap Alex lalu langsung menutup teleponnya.


"Halo ! Halo !" Ucap Cessie coba memanggil lagi tapi ternyata panggilannya telah terputus. Cessie hanya menghela nafas sambil bersender didinding.


Sementra saat ini tasya sedang berdiri di depan rumah di lantai bawah. Dia memang sengaja menunggu seseorang tepatnya pria muda yang tinggal di lantai dua.


Pria itu datang. Dia berjalan sambil menuduk tidak menyadari keberadaan Tasya di sana yamg sedang menunggunya.


"Kau ! Berhenti di sana!" Panggil Tasya


Pria muda itu menghentikan langkahnya lalu menoleh kerah tasya. Tasya menghampiri pria itu.


"Aku tahu, aku salah. Kau tidak perlu menerima perminta maafku tapi kalau aku bilang akan menggantinya maka aku akan menggantinya"


Pria itu memutar bola mata malas dengan perkatan yang pernah diucapan tasya sebelumnya. Dia ingin pergi memasuki pintu namun tasya mencegahnya.


"Jangan pergi !" Tasya lalu menyodorkan sebuah kotak kehadapan pria itu.


"Ini yang terbaik yang bisa aku berikan. Aku sampai harus bertengkar dengan pacarku hanya untuk ini.Terserah kau ingin membuangnya atau memecahkannya" ucap tasya sudah menyerah


Pria itu lalu mengambil dan membukanya. Dia hanya menghela nafas seperti dugaannya. Mangkuk yang di bawa tasya tidak sama dengan yang dipecahkannya.


"Tidak perlu diganti. Kembalikan saja itu" ucap pria itu menutup kotaknya lalu menyerahkan kembali kepada tasya.


Tasya membulatkan mata terkejut mendengar pria di depannya tidak mempermasalahkan lagi tentang mangkuk pecah itu.


"Benarkah? Kau tidak akan melapor kepolisi?" Tanya Tasya memastikan pria itu tidak membawanya ke polisi.


"Aku tidak memanggil polisi" sahut pria itu lalu membuka pintunya


Tasya tersenyum terlihat lega mendengarnya.


"Itu baru yang benar. Lagi pula untuk apa marah hanya karena sebuah mangkuk" Ucap Tasya. Tapi karena ucapannya itu sontak saja pria itu menoleh menatap tajam tasya. Tasya spontan menutup mulutnya yang berbicara sembarangan padahal orangnya masih berada di sana.


"Maaf" ucapnya lirih. Pria itu tidak peduli dengan tasya, dia langsung masuk kedalam dan menutup pintunya sedikit kasar.


***


Tinggalkan like comen dan votenya...


Tetap semangat semuanya ! 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2