PRESDIR PEMAKSA

PRESDIR PEMAKSA
BAB 27


__ADS_3

Setibanya di rumah, cessie menceritakan tentang Louis.


"Mendengar ceritamu, sepertinya kaka louismu itu bukan orang sembarangan" ucap tasya sambil berias diri. Dia sepertinya bersiap untuk pergi


"Apakah Louis yang kalian maksud adalah Louis fakultas fisika di EG university?" Timpal Sela mengenali sosok louis yang satu universitas dengannya


"Benar. Kau mengenalnya?aku ingat sekarang kau dari jurusan kimia"


"Apa dia terlihat pintar?" Sela tertarik sedikit penasaran dengan sosok Louis


"Tentu saja dia sangat pintar.sejak kecil dia selalu juara pertama. Bahkan dia mendapat nilai terbaik di UN" ucap cessie begitu bangga menceritakan kepintaran dari Louis


"Jika kecerdasan macam itu maka. Siapa di EG university yang tidak memiliki kemampuan seperti itu?


"Kau berbicara masalah belajar sepertinya hal itu adalah perkara mudah saja. Kau benar-benar mirip dengan Louis. Lain kali kalian harus saling bertemu"


"Kita lihat saja. Aku tidak tertarik dengan orang yang kepintarannya di bawahku." Sahut sela datar


"Tasya, bisakah carikan aku pekerjaan?" Tanya cessie beralih topik


"Benarkah?" Tasya melirik cessie


"Aku berencana mengambil S2 enam bulan lagi jadi butuh biaya banyak" sahut cessie yakin


"Sini kulihat wajahmu dulu !" Tasya mendekati dan memperhatikan wajah cessie dengan lekat. "Bisa-bisa, cantik juga. Tidak perlu pakai makeup. Sebentar lagi, kau langsung saja pergi kerja." Ujar Tasya mangut mangut memuji kecantikan alami yang di miliki cessie


Cessie langsung berhambur memeluk tasya seraya mengucapkan terimakasih.


"Baiklah, cepat ganti baju dan pakaian dalammu !"


Cessie meberengut keheraaan. Pakaian dalam apa yang di maksud temannya.


"Dimana pakaian dalam yang motif macan tutul yang aku pesan?" Gumamnya sambil mengernyitkan dahi mengingat ngingat


"Apakah kau menyimpanny?" Tanya tasya kepada cessie. Di jawab gelengan kepala dari cessie.


"Ini aneh, kenapa akhir akhir ini paket kita hilang?" Gerutu Tasya


"Apakah alamat yang kau tulis. Jl kemang blok 21 gedung ke 6 no 101 rumah taman?" Tanya Sela


"Benar" sahut Tasya

__ADS_1


"Itu terkirim kelantai atas. Bangunan kita didekorasi ulang dari sebuah studio jadi hanya satu alamat. Ini adalah lantai satu yang awalnya penyimpanan stimudio dan di sewakan. Lantai dua adalah bangunan utama. Diatas biasanya kosong tapi karena pemiliknya sudah datang.Kudasa kurirnya tidak tahu"


"Aku baru ingat beberapa hari lalu ada anak muda terlihat diatas" ujar Tasya


"Aku baru ingat tadi siang mendapat telepon. Dia bilang macan tutul. Pakain dalam" timpal Cessie menceritakan ketika dia mendapat telepon dari sesorang yang dia anggap mesum


"Kalau begitu cepat hubungi dia" ucap Tasya histeris


Cessie cepat-cepat menghubungi nomor tadi, tapi mereka malah mendengar dering ponsel dari lantai atas.


"Astaga, si c***l itu tinggal di atas" umpat Tasya dengan tampang kesal menatap keatas.


"Ikut aku menangkap pria mesum itu!" Dia langsung menyeret cessie bersamanya untuk menangkap si c***l itu.


Sesampainya di lantai atas, tasya langsung menekan bel pintu dengan kasar. Dia juga menggedor pintu dengan keras.


"Apa ada orang?" Teriak Tasya tidak sabaran


"Buka pintunya !" Teriaknya lagi seraya mengedor gedor pintu besi itu


Cessie terlihat gelisah takut tetangga terganggu dengan kegaduhan yang dilakukan temannya.


Tasya menoleh "Apakah kita punya tetangga?aku berusaha agar dia keluar" ujar tasya kesal lalu kembali menggedor pintu penuh emosil sambil terus berteriak agar si empu punya rumah keluar. Tak lama sosok pria muda keluar sambil membawa palu.


"Akhirnya kau keluar"Tasya yang melihat itu merasa terancam, dia mengambil sapu yang tak jauh dari sana untuk di jadikan sebagai senjata. Lalu menodongkan kedepan pria itu.


"Itu kau" ujar Cessie mengenali pria yang pernah dia temui ketika beli peralatan lukis.


"Kau mengenalnya?" Tanya Tasya seraya melirik kearah cessie sesaat tapi kembali menatap waspada kearah pria itu.


"Kau mau apa?" Tany Tasya selidik


Alih alih mendapat jawaban dari pertanyaan tasya, pria itu malah menjawabnya dengan memukul bel pintu dengan palu hingga hancur.


Mereka berdua terlihat syok dengan tindakan arogan pria itu. Pria itu berniat menutup pintu lagi.


"Mari kita bicara!" Ujar Cessie dengan cepat mencegah pria itu menutup pintunya.


"Apa masih ingat aku?" Cessie mencoba mengingatkan pertemuannya dengan pria itu


"Apa kau ingat dengan warna ini?" Tunjuk cessie kepada pakainnya yang terkena warna cat pemeriannya itu

__ADS_1


Pria itu masih tetap diam tetapi dia mengingatnya.


"Sepertinya kau ingat. Sebenarnya kami tidak ingin mencari masalah" sambil melirik Tasya yang nampak malu ingin menanyakannya.


"Siang tadi aku mendapatkan telepon. Orang yang berbicara tentang daleman, apakah itu kau?" Tanya cessie hati hati takut menyinggung oarang didepannya


"Jangan menyangkal! Aku mendengar nada deringnya dari dalam rumahmu!" Ketus Tasya menimpali


"Itu benar, paket itu salah kirim. Barang itu ada di dalam rumah, tapi aku lupa di mana menaruhnya" ujarnya mengakui dia yang menelepon cessie tadi siang. Dan membiarkan mereka berdua masuk dan mencarinya sendiri.


Cessie dan Tasya akhirnya masuk kedalam rumah pria itu. Mereka lengsung tercengang melihat isi rumah pria itu yang penuh dengan lukisan yang menarik perhatian cessie


"Waaah !" Ujar Cessie dengan mulut menganga. "Kau yang melukis semua ini?" Tanyanya antusias sambil memperhatikan setiap lukisan di ruangan itu.


Pria itu menggelengkan kepala "Guruku dan kakak laki lakiku" sahutnya menyangkal "Dulu aku tinggal bersama mereka waktu kecil"


"Hus...hus"


Cessie menoleh kearah tasya


"Apa kau lupa tujuan kita kesini?"tegur Tasya yang terlihat kesal dengan cessie malah mengagumi lukisan bukan mencari paket yang salah kirim


"Ayolah, orang yang bisa melukis bukan orang yang jahat. Jangan terlalu memikirkan paketmu.itu hanya pakain dalam. Aku akan membantumu mencarinya"


Mereka pun mulai mencari paket milik Tasya. Cessie mencarinya di sekitar sofa sementara Tasya mencari di sekitar meja yang banyak tumpukan alat lukis sambil terus membawa sapu.


"Hei...!" Teriak pria itu mencegah tasya mendekat kearah meja yang ada mangkok kesayangannya. Namun sayang, tasya yang terkejut spontan berbalik hingga gagang sapu yang di bawanya menyenggol mangkuk itu sampai jatuh ke bawah dan pecah.


Pria itu terkejut dan diam saja, tapi dia tampak menyedihkan melihat mangkok pecah itu.


"Itu hanya sebuah mangkok. Jangan terlalu berlebihan" ucap Tasya merasa bersalah, tapi tak mau mengakuinya.


"Mangkuk itu sepertinya sangat penting" timpal cessie mengamati reaksi dari pria itu yang menatap sedih kearah mangkuk itu.


"Itu hanya mangkuk biasa. Kelihatanya juga tidak mahal" sarkah Tasya lalu memperhatikan sekeliling ruangan. Dia merasa risih dan merinding diruangan yang penuh lukisan.


"Ini tidak benar. Terlalu banyak lukisan. Mungkinkah...?!"


"Ayo pergi ! Orang ini terlalu menakutkan!"Tasya langsung menyeret cessie untuk keluar dari sana.


Sementara pria itu hanya meratapi mangkuk kesayangannya yang sudah tercerai berai menjadi pecahan.

__ADS_1


__ADS_2