
Dirumah cessie sedang berusaha memperbaiki mangkok pecah itu dengan cara mengelem-nya. Tak lama Tasya pulang dengan wajah murung.
"Kau sudah pulang?"
Tasya menghempaskan bokongnya kekursi dengan wajah galau sambil menopang dagu.
"Hmmm. Walinya sudsh datang. Bahkan dia mengirmnya kerumah sakit lain yang lebih bagus. Jadi tidak ada yang bisa kulakukan" Tasya menoleh karah cessie dengan wajah cemberut.
"Melihat tampangmu seperti itu dan mendengar perkataanmu begitu, sepertinya tidak baik" cessie curiga ada sesuatu yang tidak baik yang terjadi di rumah sakit.
"Cessie. Kurasa aku benar-benar membuat kesalahan serius kali ini." Rengek Tasya dengan wajah sedih sekaligus rasa bersalah yang tampak terlihat di wajahnya
"Kenapa?" Tanya cessie semakin curiga dan was was. Dia lalu membetulkan posis duduknya agar lebih fokus mendengar perkataan Tasya.
"Bocah di lantai atas !" Pandangan Tasya mengarah keatas "Dia sakit gara-gara mangkoknya pecah."
Cessie semakin bingung dengan perkataan Tasya " Sakit apa?"
"Dia menderita OCD. Aku pikir penyakit semacam itu cuma diderita oleh para CEO yang ada di drama-drama TV." Rengek Tasya sekaligus merasa bersalah. Karenanya pria muda itu tidak bisa makan dan jatuh sakit
Flasback on
"Nona Tasya, kau sepenuhnya tidak salah. Itu adalah keterikatan vincent dengan barang barang peninggalan orang tuanya?" Ucap seorang wanita paruh baya yang mengaku sebagai wali dari pria muda itu.
Pria muda itu adalah vincent yang di asuh sejak kecil oleh Bela. Kedua orang tua vincent meninggal ketika dia masih berusia 8 tahun. Dia sempat tinggal di panti asuhan lalu tak lama di jemput oleh Bela.
"Lalu mangkuk itu adalah peninggalan orang tuanya?" Tanya tasya
"Ya. Keluarga Eghan sangat dengan keluarga Ran. Ayahnya vincent adalah pengrajin tembikar yang berbakat. Mangkuk itu adalah barang yang selalu di jaganya. Sebenarnya itu sepasang, satunya ada bersama vincent dan satunya ada di suatu tempat.Baginya mangkuk itu adalah peninggalan keluarganya"
Tasya yang mendengar cerita itu semakin merasa bersalah sampai sampai matanya memerah menahan tangisannya tapi matanya berkaca kaca siap kapan saja air mata itu tumpah. Dia menyesali perbuatanya yang ceroboh bahkan mengacam nyawa seseorang.
Flasback off
"Jadi, vincent memilih kelaparan dari pada makan karena penyakit OCD nya?" Tanya cessie
"Benar. Itu karena aku memecahkan mangkuknya" sahut Tasya dengan wajah lesunya
"Bahkan aku mencari mangkuk untuk menggantinya. Tapi itu adalah peninggalan master yang sudah meninggal. Bagaimana seorang biasa bisa membelinya. Bagian terburuknya jika kita tidak bisa menemukan yang sama persis, dia tidak akan mau makan sampai mati" ujar Tasya khawatir memikirkan kondisi vincent
"Baiklah, kau tidak perlu khwatir. Urusan mangkuk biar aku yang mencari solusinya. Kau fokus saja kepada vincent dirumah sakit. Bantu apapun sebisanya" cessie berusaha menenangkan tasya agar tidak khawatir
Tasya menghela nafas pasrah.
"Cuma itu saja yang bisa kulakukan. Aish! Kenapa aku sial sekali ?!" Gerutunya sambil menopang kepala di atas meja.
Sementara di kantor, Alex di bawah jendela. Dia nampak termenung sambil menatap pemandang gedung pencakar langit. Poselnya berbunyi tanda pesan masuk, lalu dia mengeser untuk membuka pesan suara dari Neil asistennya.
"Tuan, V Ran. Kami sudah menemukan keberadaan Vincent. Dia kembali dua minggu yang lalu. Dibawaha pengawsan nyonya. Dia kuliah di universitas Eghan jurusan seni rupa. Dan tinggal di studio peninggalan Tuan besar saat masih hidup. Berita yang baru kudapat, vincent di temukam tak sadarkan diri dan dia di kirim kerumah sakit oleh tetangganya.Nyonya yang baru menerima beritanya bergegas pergi kesana."
__ADS_1
Setelah mendapat laporan dari Neil tentang keberadaan vincent, Alex bergegas pergi kerumah sakit. Setiap pergi kesuatu tempat penampilan Alex selalu menjadi pusat perhatian orang lain yang melintas di dekatnya.
Seperti saat ini dia pergi kerumah sakit dengan penampilan tertutup. Baginya rumah sakit adalah tempat sarangnya kumat. Meski enggan untuk datang kesana dia masih punya hati nurani untuk mengetahu kondisi vincent.
"Maaf tuan ! Anda tidak di ijinkan masuk kesini!" Larang suster yang sempat memerikasa vincent teralihkan dengan kehadiran Alex yang tiba tiba masuk ke ruang rawat.
"Apa kau sudah mendapat izinndari kerabatnya hingga masuk keruangan ini?" Tanya Suster satunya lagi
"Keluarga? Bukankah keluarganya sudah meninggal? Oh ya dia masih mempunya kakak laki laki yang hilang" jawab Alex datar. Maksud kakak laki lakinya merujuk dirinya. Ya Alex sebenarnya menganggap vincent sebagai adiknya sebelum hubungan dengan keluarganya renggang.
"Lalu apa hubungan anda dengan pasien?" Tanya suster dengan tatapan curiga
"Aku orang yang memberinya makan. Aku melihatnya tumbuh."
Masih meragukannya suster hendak menghubungi Nyonya Bela,.
"Tidak usah menghubunginya ! Aku anaknya nyonya Bela." Alex dengan cepat menghentikannya.Lalu suster kembali meletakam telepon ketempat semula memcoba mempercayai pria itu yang mengaku sebagai anak dari nyonya Bela.
"Kapan anak ini akan bangun?" Tanya Alex
"Dokter bilang tidak ada yang serius, dia pasti akan bangun beberapa jam lagi." Terang Suster menjelaskan kondisi vincent
"Tidak ada yang serius? Hidup si kucing liar sangat kuat. Memangnya dia sakit apa?"
"Kelaparan. Saya dengar kalau mangkok yang biasanya dia pakai untuk makan, pecah."Timpal suster satunya
"Mangkuknya pecah" gumam Alex. Seketika dia teriingat memiliki mangkuk antik di koleksi barang antiknya di rumah.
Sampai di salah satu rak, Alex menemukan mangkuk antik diantar susunan guci antik lainnya.
Dia memandangi mangkuk itu yang membuatnya teringat tentang masa lalunya.
Flasback on
"Ayah, ibu kalian pulang?" Sambut Alex begitu bahagia dengan kedatangan orang tuanya.
"Kami pulang" sahut Ayah mendekat kearah Alex. Sementara ibunya menggandenga seorang anak laki laki. Alex yang melihat itu sedikit bingung siapa anak yang di bawa orang tuanya.
Michel yang seakan mengerti tatapan bingung putranya lalu memperkenalkan anak kecil yang bersama istrinya.
"Perkenalkan ini Vincent. Dia adalah murid baruku. Mulai sekarang kita akan tinggal bersama" ujar Michel kepada putranya
"Kau lebih tua 10 tahun darinya. Kedepannya kau harus menjaganya. Jangan mengganggunya" Timpal Bela mengingatkan kepada putranya Alex jangan menggangu Vincent.
Alex yang mendengar ancaman ibunya hanya terkekeh.
"Vincent, sekarang kau panggil dia kakak!" Ucap Bela menyuruh vincent memanggil Alex sebagai kakak
"Kakak !" Ucap Vincent dengan wajah lugunya
__ADS_1
Saat mereka makan bersama, Vincent makan begitu lahapnya. Sementara Alex makan dengan tenang namun sesekali dia memperhatikan perhatian yang diberikan ayah dan ibunya kepada Vincent.
"Ini makan sayurnya !" Bela menaruh sayuran kedalam mangkumg makan vincent.
"Makanlah pelan pelan. Nasi nya belepotan kemana mana." Michel menyeka bibir dan pipi vincent yang terkena nasi.
"Dia pasti sangat lapar. Kasihanmasih kecil sudah banyak menderita. Dia sungguh sangat menyedihkan." Ungkap Bela meratapi nasib Vincent
Alex tampak mulai cemburu dengan semua perhatian orang tuanya yang tertuju kepada Vincent seorang sememtara dirinya diabaikan begitu saja.
"Apa kau mau nambah?" Tanya Bela ketika melihat nasi di mangkuk vincent sudah kosong
"Biar aku saja " Alex berniat membantunya untuk mengambilkan nasi untuk Vincent. Tapi Vincent menolaknya. Dia menahan mangkuk yang pegang Alex. Terjadilah tarik menarik di antara mereka.
Bela dan Michel terkekeh melihat mereka yang memperebutkan mangkuk.
"Sudahlah ! Mangkuk itu adalah hartanya. Jika dia tidak mau kau sentuh, maka jangan di sentuh"
"Sudah lepaskan tanganmu ! Kembali makanlah !" Timpal Michel sambil memukul pelan tangan Alex dengan sendok. Seketika Alex menoleh kearah Ayahnya. Dia sedikit cemburu dengan perhatian yang di berikan orang tuanya. Alex kembali duduk sambil menatap kedua orang tuanya yang begitu peduli kepada Vincent.
Hingga suatu hari terjadi sebuah insiden yang membuat hubungan keluarga itu mulai retak.
Dibawah rintikan hujan , denganpakain yang sudah basah kuyup Alex berlutut di luar rumah dengan wajah sedih. Air matanya lolos begitu saja tanpa bisa ia tahan.
Michel keluar dari dalam rumah dan menghampiri Alex yang masih berlutut. Michel melihat putranya menangis karena ada air mata yang tersisa menggenang di pelupuk mata putranya. Meski tak tega sebenarnya didalam hatinya tapi dia harus bisa bersikap tegas kepada putranya jika putranya melakukan kesalahan yang membahayakan nyawa seseorang.
"Beritahu padaku ! Apa kau yang melempar mangkuk vincent kesungai?" Tanya Michel masih dengan nada pelan.
"Apa kau tahu, untuk mendapatkannya kembali vincent harus berenang kesungai dan hampir tenggelam" Nada Michel mulai sedikit keras. Michel menuduh Alex penyebab dari masalah ini.
Alex hanya diam mendengar tuduhan dari ayahnya sendirinya.
"Bicaralah !" Teriak Michel kesal dengan kediaman Alex
"Apa kau akan percaya kalau bukan aku yang melakukannya. Kau tidak pernah percaya padaku. Kau hanya peduli dengan b* j*ngan itu !" Teriak Alex marah sekaligus kecewa
PLAAAK
Michel menampar pipi Alex secara tiba tiba. " Minta maaflah kepada Vincent. Aku akan membiarkanmu kembali kedalam" ucap Michel
Alex tertawa miris mendengarnya. Dia mengusap pipinya yang tadi ditampar sambil menatap tajam Ayahnya.
"Aku tidak bersalah !" Tekannya tidak menerima tuduhan ayahnya
"Kau masih tutup mulut? Dan tidak merasa bersalah sama sekali. Berlututlah di sini dan renungkan kesalahanmu!" Kesal Michel lalu beranjak pergi dari sana. Tak memperdulikan kondisi Alex yang sudah basah kuyup. Alex hanya terisak menahan rasa sakit di dadanya atas perlakukan ayahnya sendiri. Apa lagi ayahnya menuduh dia sebagai penyebab Vincent sakit.
Flasback off
Alex mengabil mangkuk itu memperhatikan setiap detail bagianya.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka, mangkuk yang aku beli saat pelelangan. Akan menjadi penyelamatmu. Aku ingin lihat bagaimana wujud mangkuk ini kalau pecah"