PRESDIR PEMAKSA

PRESDIR PEMAKSA
BAB 39


__ADS_3

Ke esok harinya, pagi pagi sekali cessie pergi. Di dalam bus dia tertidur karena mengantuk. Saat ponselnya bunyi ternyata panggilan masuk dari Tasya.


"Halo !"


" Dia sudah sadar."


"Siapa?" Tanya Cessie masih belum sadar sepenuhnya dari bangun tidur.


"Siapa lagi. Bocah dari lantai atas yang membuatnya kelaparan."


"Lalu bagaimana keadaannya? Apa dia sudah makan?" Tanya Cessie


"Tidak. Biarpun dia kelaparan, tapi dia


menolak makan apapun. Mereka sudah menghubungimu kalau mereka akan menyelesaikannya hari ini, kau harus mendapatkan mangkok pecah itu. Sekarang ini dia bertahan dengan bantuan infus. Aku cemas kalau ini berlanjut, akan terjadi sesuatu padanya." Ucap Tasya dengan nada khawatir


"Jangan khawatir, aku pasti akan mendapatkan mangkok itu dan memberikannya ke padamu." Terang Cessie menenagkan Tasya


"Baiklah. Itu saja." Cessie mengakhiri teleponnya.


Cessie pergi kerumah Alex untuk mengambil mangkuk yang sudah di perbaiki itu. Alex menyerahkan sebuah kotak yang terbungkus rapat kepada Cessie.


"Ini diperbaiki sangat cepat.Terimakasi !" Ucapnya dengan wajah senang mengambil kotak itu.


"Kenapa terimakasih padaku?Meskipun aku orang yang benci kontak dengan orang lain. Tapi ini karena masalahmu. Aku tidak keberatan berhutang budi pada orang lain untukmu." Sahut Alex


"Aku sungguh berterima kasih atas bantuanmu, tapi harga perbaikan mangkok ini berapa? Aku janji akan segera mentransfernya ke padamu."


"Aku tidak butuh uang. Kau bisa menggunakan cara lain untuk membayarnya." Ujar Alex sambil menatap penuh arti.


Cessie cepat-cepat mengalihkan perhatian ke kotak berisi mangkok itu. Dia bisa mengerti akan maksud dibalik ucapan Alex. Tentu saja Alex tidak membutuhkan uang. Dia memiliki segalanya. Baginya uang untuk memperbaiki mangkuk itu tidak ada artinya. Mangkok itu dibungkus dengan sangat rapat, tapi Cessie tak sabaran untuk segera membukanya.


"Kenapa susah sekali membukanya?" Gerutu cessie mencoba membuka kotak itu dengan tangannya.


"Mereka membungkusnya dengan keras." Keluhnya masih berusaha membuka kotak itu


Alex yang melihat kesusahan Cessie beranjak pergi untuk mengambil gunting.


Cessie terus berusaha membuka kotak itu namun tidak bisa lalu dia mencoba menggigiti kotak itu dengan giginya.


Untung saja Alex segera memberikan gunting yang tadi dia ambil.


"Terimakasi." Cessie mengambil gunting dari tangan Alex dengan wajah sedikit malu karena polahnya


"Aku punya kebiasaan buruk seperti ini. Begitu dapat paket ingin segera membukannya." Cessie memberi alasan akankebiasaan buruknya.


"Melihat kegelisahaanmu, aku menduga kalau mangkok yang ada di dalam kotak itu pasti sangat mahal." Terang Alex sambil terus memperhatikan polah Cessie yang membuka kotak itu.


"Aku tidak tahu mahal atau tidak, tapi si pemilik mangkok ini sedang terbaring di rumah sakit sekarang. Dia menunggu diselamatkan oleh mangkok ini."


Akhirnya cessie berhasil mengeluarkan mangkok itu.


"Wah indah sekali." Cessie langsung puas dengan hasilnya. Menatap tampilan mangkuk yang sudah di perbaiki. Setiap bagian yang pecah yang direkatkan berwarna emas. Menambah kesan mewah dan elgan di mangkuk itu.


Saat Alex melihatnya, dia langsung mengenali mangkok itu dan dengan cepat menduga siapa sebenarnya pemilik mangkok yang dimaksud Cessie.


"Pemilik mangkok itu, bernama Vincent, bukan?" Tanya Alex memastikan dugaannya.


"Benar. Dia tetanggaku dan mungkin adik tingkatku. Kenapa? Kau kenal dia?"Cessie menoleh penasaran bagaimana Alex mengetahui pemilik mangkuk itu bernama Vincent.

__ADS_1


"Jadi... kau berusaha sekeras itu meminta bantuanku dan mengganguku untuk mencarikanmu seorang ahli untuk perbaikan mangkuk ini. Semuanya demi dia?" Tanyanya dengan tatapan tajam mengarah kemangkok itu


"Tidak sepenuhnya benar. Aku salah satu orang yang membuatnya berakhir seperti sekarang ini. Pemilik mangkok ini masih di rumah sakit sekarang, jadi aku merasa sedikit gelisah karenanya."


Alex mengalihkan tatapannya. Di menerawang mengingat kenangannya.


"Sudah beberapa tahun berlalu, dia masih sangat beruntung." Gumam Alex cemburu.


"Siapa? Vincent?" Tanya Cessie


"Sejak dia masih kecil, dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri demi mendapatkan apapun yang tidak bisa orang lain dapatkan. Bahkan sekalipuan dia membuat kesalahan, akan ada banyak orang yang berlari untuk membelanya. Tak kusangka, ternyata kau salah satu dari mereka." Ucap Alex  sambil menatap kurang suka kepada Cessie


"Kau ini bicara apa sih? Aku tidak mengerti sama sekali." Ujar Cessie tidak nyaman dengan tatapan yang di berikan Alex. Dia juga  tidak mengerti arah pembicaraan Alex.


"Tidak masalah. Apa kau sudah mengecek semuanya?" Tanya Alex


"Ini sangat sempurna. Ini luar biasa. Aku sampai terpesona." Ungkapnya tersenyum puas dengan hasil dari perbaikan magkuk itu


"Mangkuk itu memiliki retakan yang sulit di deteksi. Biar aku periksa untukmu." Ujar Alex dengan niatan terselubung.


Cessie dengan senang hati menyodorkan mangkuk itu kepada Alex. Tapi Alex dengan sengaja malah tidak memegang mangkok itu dengan benar. Saat Cessie melepaskannya, mangkok itu langsung terjatuh sampai pecah kembali.


Pyaar


Mangkuk itu jatuh kebawah dan pecah kembali.


Cessie terkejut sekaligus panik bukan main.


"Astaga !" Teriaknya langsung berlutut dekat pecahan itu


Tapi saat dia hendak mengambil pecahannya, Alex dengan cepat mencegahnya.


"Pecahnya separah ini, sudah tidak bisa diperbaiki lagi." Timpal Alex


"Kalau Tasya sampai tahu, dia pasti bakalan dimarahi habis-habisan. Jika Vincent kelaparan sampai mati karena ini.


Apa yang harus aku lakukan?! Huh huh huh..." Cessie masih berlutut di lantai menangisi mangkuk pecah itu. Dia sudah membayangkan Vincent mati karena dirinya tidak berhasil membawa pulang mangkuk itu.


"Kau peduli padanya sebesar itu?" Tanya Alex dengan nada kurang suka. Dia juga heran sekaligus iri kenapa cessie begitu peduli dengan Vincent.


Cessie mendongakan kepalanya menatap sekilas kearah Alex "Ini menyangkut nyawa manusia. Aku terus menerus berpikir kalau akulah yang membunuhnya." Tekannya lalu kembali menatap pecahan mangkuk itu. Usahanya sia sia. Pada akhirnya dia menjadi salah satu penyebabnya jika Vincent benar benar kelaparan.


"Akan kutangani." Seru Alex


Cessie beranjak dan kembali duduk di sofa dengan wajah tertekuk.


"Sudah tidak berguna lagi. Vincent tidak akan mau menerimanya kecuali aku bisa menemukan pasangan mangkok itu..." Cessie mendadak mengerti dengan ucapan Alex tadi yang akan menaganinya. Seketika matanya membulat sempurna menatap Alex dengan penuh harapan. "Maksudmu...?!"


Alex diam saja tidak menjawab pertanyaan cessie.


"Ikut aku." Serunya mengajak cessie untuk mengikutinya.Alex membawa cessie keruang bawah tanahnya. Sesampainya di sana, cessie dibuat kagum dengan isi dari ruangan itu.


"Waaah ! Tempat ini seperti museum pribadi." Ungkapnya sambil matanya menelisik kearah koleksi seni diruangan itu.


"Biasa saja." Sahut Alex


Cessie hanya mencebik dengan ucapan Alex. Sudah tak aneh bagi orang kaya menganggap hal luar biasa baginya dianggap biasa bagi orang kaya. Lalu perhatian cessie teralihkan kepada patung antik tidak jauh darinya.


"Waaah !" Kagum cessie menyentuh patung itu.

__ADS_1


"Hei. Jangan sentuh itu !"  Larang Alex "Jika rusak, kau tidak akan bisa membayarku." Ucapnya meremehkan


Cessie hanya mendengus menatap dengan kesal lalu perhatiannya teralihkan kembali begitu menyadari keberadaan mangkuk yang sama persis dengan milik Vincent. Dia mendekat kearah mangkuk itu.


"Ini sungguh sama persis. Apa kau akan memberikannya padaku?." Tanya Cessie sambil menoleh kearah Alex dengan penuh harap.


"Tentu, Aku sudah berjanji pada mu dan aku tidak akan melanggar janjinya sendiri." Terang Alex


Cessie senang mendengarnya lalu dia ingin langsung mengambil mangkok itu, tapi Alex dengan cepat menangkap tangannya.


"Tidak secepat itu. Sebelum mangkok ini keluar dari tempat ini,  aku membutuhkan bantuanmu untuk melakukan upacara tertentu." Terang Alex dengan niat terselubung


"Upacara apa?" Tanya cessie dengan polosnya. Karena terlalu polosmya dia tidak menyadari niat tersebunyi yang di miliki Alex.


Alex hanya tersenyum misteri menanggapi pertanyaan cessie. Lalu dia mengambil kotak itu dan meletakannya di belakang punggung cessie. Mangkuk itu Alex letakan di atas kotak itu.


"Berdiri dengan tegak dan jangan banyak bergerak. Tutup matamu dan jangan banyak bicara.Kau harus bisa menjaga mangkuk itu agar tidak terjatuh."


"Lalu untuk apa melakukan itu?" Tanya Cessie heran dengan persyaratan dalam upacara itu.


"Itu adalah cara berdoa untuk memohon keberuntungan. Aku dengar denga cara ini benda itu tidak pecah setelah meninggalkan ruangan ini."


"Kenapa?"


"Itu hanya kepercayaan." Jawab Alex asal


Cessie dengan lugunya percaya saja dengan ucapan Alex.


"Bagaimanapun aku tidak ingin mangkuk ini pecah lagi. Lalu apa yang harus aku rapalkan?" Tanya Cessie.


"Apa saja. Tapi aku dengar kalau menyebutkan nama pemiliki sebelumnya sangat efektif." Alex asal saja memberikan jawaban kepada cessie.


"Berarti itu namamu?"


Alex mengiyakan pertanyaan cessie.


Cessie mempercayainya begitu saja dan langsung melakukan apa yang Alex suruh.


Dia langsung memejamkan matanya.


"Kumohon jangan pecah. Jangan pecah. Alexander. Alexander ." Cessie berdoa sekaligus menyebut nama Alex. Dia berharap apa yang diucapakan Alex benar.


Sementara Alex menatap lekat wajah cessie. Dia semakin mendekat.


Kenapa kau sangat gugup. Pengecut, kau berniat menciumnya. Ini hanya percobaan. Jangan takut!


Cessie selesai berdoa lalu membuka matanya. Dia terkejut mendapati wajah Alex begitu dekat dengannya hanya beberapa centi lagi.


"Tentunya kau tidak..." Cessie terkejut. Ucapannya terpotong, Alex dengan cepat meraih tengkuknya dan mencium paksa bibir Cessie.


Cessie berusaha ingin lepas tapi sayangnya dia juga harus menjaga keseimbangan untuk menjaga mangkuk di belakangnya. Sementara Alex berusaha menyelungsup memaksa bibir cessie untuk terbuka. Alex menggiring cessie kearah meja tanpa melepaskan tautanya. Saat itulah cessie mengambil kesempatan untuk menaruh mangkuk itu.


Dia berhasil meletakan mangkuk itu di meja dengan aman lalu mendorong Alex dengan sekuat tenaga. Sampai Alex terdorong jauh kebelakang menubruk rak yang berisi barang barang antik sehingga benda antik itu berjatuhan dan pecah.


Cessie berniat pergi namun dia teringat dengan mangkuknya. Dia berbalik mengambil mangkuk itu lalu pergi dengan cepat tanpa merasa bersalah. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya mangkuk itu harus segera diberikan kepada Tasya.


"Hei !" Teriak Alex kesal. Tapi dia tidak menghentika Cessie. Dia hanya menatap miris kearah benda benda antik miliknya yang sudah hancur berkeping keping.


***

__ADS_1


Dukung terus Author ya...


jangan lupa like coment dan vote nya 😊😊😊


__ADS_2