
Kehadiran mereka ternyata disadari oleh Cessie.
"Tasya !" Panggil cessie
Tasya dan pria kameramen sontak menoleh bersamaan. Saat itulah tasya menyadari apa yang mereka lakukan.
"Ternyata kalian sedang membuat sesuatu " ucap Tasya. Pria kameramen langsung mengarahkan kameranya kepada Cessie. Tasya berjalan menghampiri mereka dengan rasa lega "Aku hampir saja salah sangka"
Cessie hanya tersenyum menanggapi ucapan temannya itu."Ini karya Farel. Dia yang terbaik di jurusan kita" puji cessie sambil menunjuk kearah Farel
"Bagaiman? Baguskan?" Tunjuk cessie kearah bajunya yang baru selesai di lukis.
"Itu terlihat bagus. Hebat juga kau bisa melukis setenag ini depan seorang gadis" puji tasya mengamati lukisan di baju cessie lalu melirik sebentar kearah Farel. Namun tiba tiba tasya mengernyitkan dahinya,dia lebih mendekat ketika memperhatikan lukisan di bagian d*d*.
"Tapi garis di bagian belahan d*d*,terlihat sedikit kabur. Apa tanganmu mulai bergetar karena terlalu dekat?" Goda tasya sambil melirik kearah Farel
"Uhuk! Uhuk!" Farel seketika terbatuk. Dia merasa canggung mendengarnya.
Pria kameramen langsung mengarahkan kameranya kearah d*d* cessie untuk merekan lukisan itu.
"Hei bocah kecil ! Kearah mana kau merekamnya?"tegur tasya kepada pria kameramen. Tasya mendelik tidak suka begitu menyadari pria kameramen mengarahkan kamera ked*d* temannya.
"Arahkan kameranya ke anak seni rupa !" Perintahnya kepada pria kameramen.Pria kameramen mengikuti intruksi dari seniornya.
"Junior Farel, antar semua lukisan yang pernah kau lukis apakah lukisan ini yang paling bagus?" Goda Tasya
Farel merasa gugup dan canggung. Wajahnya mulai bersemu merah sampai ketelinga.
Tasya jadi tambah gemas menggodai Farel.
"Saat kau dekat dengan dia berapa penilaianmu tentang penampilan cessie?"
__ADS_1
"Lima poin" jawab Farel masih menunduk tidak berani mengangkat kepalanya.
"Tasya ! Berhenti menganggunya ! Dia anak penurut" tegur cessie kepada temannya yang satu ini.
Farel seketika menoleh mendapat pembelaan dari cessie. Tasya hanya tersenyum menanggapi teguran temannya.
"Cessie !" Suara Dekan Robert mencari muridnya itu.
"Dekan Robert datang. Sembunyikan aku" Sontak cessie panik dan langsung bersembunyi di bawah meja dan mencengkram kaki Farel sebagai tameng untuk menghalanginya agar tidak terlihat.
Dekan Robert masuk ruang seni rupa dan hanya melihat Farel dan anak lainnya.
"Apa kau melihat cessie?" Tanyanya kepada Farel.
"Tidak" sahut Farel gugup takut ketahuan bahwa cessie bersembunyi di bawah meja dan kakinya di cengkram oleh cessie.
"Jika kau melihatnya, suruh dia untuk menemuiku di kantor"ujar Dekan Robert lalu pergi meninggalkan ruang seni rupa.
"Membuatku takut" ucap Cessie lega melihat kearah pintu memastikan tidak ada Dekan Robert
"Farel, maaf aku menjadikanmu tamen"
"Lain kali jangan lakukan lagi. Sebenarnya sejak kecil aku selalu menggunakan angka lima sebagai skala nilai tertinggi" ucap Farel gugup dan canggung dia langsung berlari keluar setelah mengucapkan itu.
"Ada apa dengannya?apa aku terlalu keras mencengkramnya?kenapa dia terlihat aneh?" Ucap cessie kebingungan dengan tingkah farel
Sementar Tasya hanya terkekeh melihat tingkah lucu farel tadi.
"Kau tidak mencengkeramnya terlalu kuat. Cessie, jika saja aku tidak mengenalmu dengan baik, aku pasti akan mengira kau itu playgirl." Ucap Tasya penuh maksud.
"Ah, sudahlah. Tidak usah membicarakan hal ini lagi. Ngomong-ngomong, kenapa Dekan mencari mu lagi? Jangan bilang kalau kau belum bayar biaya kuliah?" Tanya Tasya penasaran
__ADS_1
Cesssie hanya terdiam sambil menghela nafas lalu berjalan kearah kursi dan duduk di sana.Di ikuti oleh Tasya.
"Kau begitu banyak mengambil kerja paruh waktu. Lalu kemana semua uangnya?" Ujar tasya heran sekaligus penasaran
"Kuas, kertas, cat warna dan tinta untuk seni rupa.Tanah liat untuk patung.Alat logam untuk kerajinan" ujar cessie menyebutkan alat alat yang di butuhkan di jurusannya.
"Ok stop !" Sela Tasya " Aku tahu jurusan seni rupa banyak menghabiskan uang. Tapi orang tuamu membayar uang kuliahmu?"
"Aku tidak minta. Aku sendiri yang memutuskan untuk masuk ke universitas seni yang mahal dan melawan kehendak mereka. Jadi bagaimana bisa aku meminta uang dari mereka? Lagipula, kau tahu sendiri bagaimana kondisi keluargaku."
"Kau tidak pernah memberitahuku. Astaga! Kupikir kau butuh menabung untuk membeli baju, tas, dan makeup. Hanya demi berada satu kota bersamanya (Louis), kau mengorbankan segalanya."
"Ini tidak seperti yang kau katakan" elak Cessie
"Memang seperti itu! Kau melakukan banyak hal untuk dia, apa dia mengetauinya? Terakhir kali kau gagal menyatakan cintamu pada hari valentine . Sekarang, entah sampai kapan kau harus menunggu." Ucap Tasya
Baru dibicarakan tiba-tiba Louis mengirim pesan ke ponselย cessie.
Datang keperkumpulan dalam 20 menit
"Ini pesan dari Ka Louis" dengan wajah berbinar cessie membaca pesan itu.
"Mungkin aku cuma narsis. Tapi kurasa dia tahu. Setiap kali aku ada masalah, dia selalu muncul. Kak Louis kan pintar, dia seharusnya mengetahuinya, kan?"
Tasya manggut-manggut prihatin mendengarnya. "Benar. Benar. Semua yang kau katakan benar. Baiklah, pergilah dan cari orang yang bisa membangkitkan kekuatanmu itu."
Cessie dengan polosnya mempercayai ucapan tasya itu lalu pergi dengan penuh semangat. Tasya geleng-geleng kepala "Melihat itu, semoga saja aku sendiri jangan sampai mengalami yang namanya memendam perasaan pada seseorang" bermonolog sendiri
***
Dukung terus Author ya...
__ADS_1
Berikan Like, comen dan votenya...๐๐๐