PRESDIR PEMAKSA

PRESDIR PEMAKSA
BAB 20


__ADS_3

Dengan pakai penuh lumpur, cessie terpaksa harus kembali kehotel untuk mengambil barangnya yang dia tinggal di sana. Cessie tidak menghiraukan Pandangan mata jijik semua orang mengarah kepadanya.


Bagaimana ada orang yang bisa masuk kehotel seelit itu dengan penampilan seperti gembel.


Di lobby sang manager hotel dia berdiri sambil melihat kesana kemari seperti mananti kedatangan sesorang. Cessie yang baru sampai langsung di hadang Manager hotel.


"Nona, akhirnya kau kembali " ujar nya lega namun seketika tampangnya berubah memandang jijik. Dia menautkan alisnya memindai cessie dari atas sampai lalu menutup hidungnya.


Meski enggan tapi dia harus menjalankan perintah bos hotel.


Cessie mengerutkan dahinya. Dia menatap menyelidik kearah sang Manger. Bagaimana tidak manager hotel yang tadi mengusirnya nampak lega begitu dia datang meski ada tatapan jijik mengarah kepadanya.


"Ada apa pak? Mengapa kau seperti lega dengan kedatanganku?" Tanya Cessie memicingkan mata menyelidik


Manager hotel terkekeh dari balik saputangan yang dia gunakan untuk menutup hidungnya. Senyum itu seperti di paksakan.


"Bos, tidak jadi mengusirmu. Dia membiarkanmu menginap di hotel hari ini di kamar sebelumnya. Barang barangmu sudah ada disana" jelas Manager


"Benarkah?" Cessie tercengang memajukan wajahnya ingin memastikan kebenara apa yang di dengar.


"Aku benar boleh menginap tinggal sehari lagi di sini?bukankah kalian mengusirku?"cessie kembali bertanya dengan mata berbinar berharap itu benar


Manager hotel sontak menghindar. Dia merasa enggan berdekatan dengan tampak cessie yang di penuhi lumbur di seluruh tubuhnya. Dia sedikit melangkah kebelakang sambil masih menutup hidungnya. Cessie tidak menghiraukan itu, dalam hati dia merasa senang sudah membiarkanya menginap sehari lagi di hotel itu.


"Kenapa? Hari sufah gelap dan jalanan juga licin. Jika tidak mau bermalam di sini, yau sudah kau boleh pergi !" Ketus Manger berbalik hendak pergi


"Tidak. Tidak. Terimakasih Pak !"Sontak saja cessie bergerak cepet mencegahnya. Dia menarik tangan Manger hotel tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menginap di hotel itu apa lagi dengan kondisnya yang saat ini begitu kotor. Dia butuh membersihkan diri dan mengganti pakainnya.

__ADS_1


Manger hotel menoleh kembali kearah Cessie lalu menepis tangannya. "Sudah. Sudah!" Membersihkan tangannya dengan saputangan "Jangan berterimakasih padaku, Pak Bos kita itu, biarpun dari luar dia sangat kaku dan dingin, tapi sebenarnya dia orang yang sangat-sangat-sangat baik. Barusan asistennya menelepon dan berkata Kau bisa tinggal di sini malam ini" ucap Manager hotel


"Oh ya, apakah teman temanku sudah sampai?" Tanya cessie


Baru dibicarakan, mendadak louis datang bersama Siska.


"Sisi !" Panggil Louis mengenali wanita yang sedang berbicara bersama pria paruh baya di lobby hotel.


Cessie monoleh ketika namanya di panggil. Wajahnya berubah bahagia begitu mengetahu siapa yang memanggilnya.


"Ka Louis !" Ujarnya sumringah begitu melihat Louis. Dia langsung berlari menghampiri Louis. Senyum wajahnya memudar begitu melihat Siska datang bersama Louis. Dia masih ingat bagaimana Siska mengerjainya untuk membeli alat kontrasepsi begitu banyak. Membuat dirinya malu sekaligus kesal. Karena pada saat dia ingin memberikannya. Siska malah tidak ada.


Cessie mendelikan matanya menatap Siska tidak suka.


"Kamu kemana saja? Mengapa kamu penuh dengan lumpur? Ponselmu tidak aktif. Aku hampir saja ingin melapor kepada polisi" Cecar Louis memarahi cessie yang datang dengan kondisi kotor penuh lumpur. Namun ada nada khawatir dari kalimatnya.


"Apa dia orang yang kau cari?" Tanya Siska dengan wajah tidak senang


"Benar. Dia adikku cessie" sahut Louis memperkenalkan diri cessie kepada Siska. Lalu dia melihat kearah Cessie. "Sisi, dia...?!"


Cessie tercengang dengan mata melebar, dia cemberut begitu Louis memperkenalakn dirinya sebagai adiknya.


"Aku temannya Louis dari EG university. Aku Siska" Timpal Siska memotong pembicaraan Louis sambil menyodorkan tanggnya pura pura tidak mengenalnya.


Cessie mendelik dan bendesis lalu memalingkan wajahnya. Dia masih kesal dengan Siska.


"Kenapa semua orang yang bertemu denganku selalu bereaksi seperti itu?apa aku seterkenal itu?" Tanya Siska kepada Louis lalu melirik sebentar melihat reaksi cessie yang tidak suka kepadanya.

__ADS_1


"Jangan diambil pusing. Sejak kecil dia memang sedikit bodoh" ucap Louis merasa tidak enak kepada Siska lalu melihat kearah Cessie "Cepat ikut aku, kau perlu membersihkan diri ! Aku ingin ingin intogasimu" Louis menarik tangan cessie mengabaikan Siska yang berdiri disana. Siska yang merasa di abikan terlihat menyedihkan. Dia berjalan menyeret kakinya yang masih terasa sakit dengan wajah cemberut.


***


Alex yang sudah tiba di hotel lain bergegas pergi kekamar mandi. Dia membuka pakainnya dan memerikasa sekujur tubuhnya. Dia ingin lebih meyakinkan lagi bahwa sentuhan dari cessie benar benar tidak berdampak. Meski sudah beberapa kali memastikannya, tapi itu hanya berbentuk sentuhan.


"Benar benar tidak ada " gumamnya diiringi sudut bibirnya terangkat. Dia mengingat, Cessie begitu agresif menerjangnya sampai terjungkal kebawah. Cessie duduk diatas tubuhnya. Meraba raba tubuhnya hanya untuk mencari sebuah kertas.


Sudut bibir Alex terangkat, dia tersenyum geli ketika mengingat kejadian di sawah yang begitu intim baginya. Setelah mebersihkan diri, Alex merbahkan dirinya di kasur. Tak lama dia terlelap tidur.


Dalam tidurnya dia bermimpi melihat darah berceceran di lantai, bahkan ada jejak kaki dan jejak tangan berlumur darah di sepanjang tangga.Β Alex nampak gelisah, mengoyangkan kepalanya kekanan kiri.


"Tidak. Tidak !" Gumamnya lalu sontak dia bangun dengan nafas memburu dan keringat membasahi dirinya. Dia memgambil segelas air minum di damping ranjangnya lalu meminumnya. Setelah minum dia merasa lebih baik. Bel pintu berbunyi, Alex beranjak bangun dan pergi untuk membuka pintu.


"Ini barang yang anda cari " ucap Neil menyerahkan barang yang dimaksud Alex ketika memintanya untuk mencari di hotel sebelumnya.


"Terimakasih !" Sahutnya mengambil barang yang diberikan Neil


"Kalau begitu aku kembali " pamit Neil. Di balas anggukan oleh Alex.


Alex kembali menutup pintu dan duduk di sofa. Dia membuka barang yang diterimanya. Barang itu berisi surat dan cincin yang dimaksud cessie. Yang paling menarik bagi Alex begiti dia menyadari ukiran dari cincin itu. Dia mengambil amplop yang berisi kalung yang dia temukan ketika di rumah sakit. Alex menyakan bentuk bungan yang terukir di cincin dengan leontin kalung itu.


"Apakah dia yang menyelamatkanku waktu itu?" Ucap Alex


***


Tinggalkan like , comen dan votenya...

__ADS_1


Dukung selalu Author ya...πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2