PRESDIR PEMAKSA

PRESDIR PEMAKSA
BAB 30


__ADS_3

Cessie dibawa kerumah sakit dan ditempati di ruang isolasi layaknya seperti pasien yang terkena penyakit menular.


Padahal yang terluka hanya tangan cessie.


Tapi berbagai rangkai pengecekan di lakukannya atas peritah Alex. Dari MRI, CT scan bahkan sampai cek darah dan cek urin hanya untuk memastikan kondisinya baik baik saja.


"Sikuku yang terluka kenapa aku harus menjalankan berbagai pengecekan keselurahan itu?" Tanya Cessie


"Tidak mudah untuk datang kerumah sakit, jadi sekalian saja kau periksa kesehatan secara menyeluruh.Kesempatan ini belum tentu datang lagi. Kalau sampai terjadi apa-apa di masa depan nanti, itu bukan urusanku" jawab Alex


"Lalu kenapa kau menempatkanku di ruang isolasi? Seperti pasien yang terkana penyakit menular saja" gerutu cessie


"Apa kau ingin aku pergi ke koridor dan menunggu disana bersama pasien lain?" Sarkah Alex


"Kau tidak perlu datang" sahut cessie memutar bola mata malas


"Kau pikir aku mau datang kemari? Kalau saja bukan karena..." Alex tidak melanjutkan ucapannya. Dia memalingkan wajahnya begitu mendapat tatapan tajam dari cessie. Lalu mengalihkan topik pembicaraan.


"Kau memangnya siapa? Saat aku berkelahi, mengapa kau ikut campur? Apa aku memintamu melakukannya?kau malah melindungiku dari serangan. Apa tujuanmu melakukan itu?" Cecar Alex


"Aku hanya... ingin membantu. Memangnya ada alasan apa lagi? Apa aku harus diam saja melihat orang-orang memukulimu dan tidak membantu?"

__ADS_1


"Aku tidak suka berhutang pada orang lain. Aku tidak punya banyak uang tunai sekarang, ambil saja uang ini dulu.Kau katakan saja berap no rekeningmu. Nanti sisanya aku transfer" Ujar Alex sambil menyodorkan beberapa lembar uang pada Cessie.


Merasa tersinggung, cessie menepis tangan Alex yang memegang uang.


"Siapa butuh uangmu?" Ketus Cessie


"Tubuhku lebih berharga dari emas. Mana mungkin memulai karir dengan ini"


Alex tak percaya mendengarnya. "Baiklah, kalau begitu katakan saja apa yang kau inginkan? Apa saja asalkan bisa diselesaikan dalam kurun waktu yang singkat. Kalau kau tidak mau bilang, aku  pergi saja"


"Dasar Drama Queen" cibir cessie dengan tatapan kesal


"Kalau begitu... bagaimana kalau membantuku masuk program S2?"


"Kalau begitu... luluskan ujian Teori Seni-ku?"


"Cuma itu?" Tanya Alex memastikan permintaan Cessie


"Itu sulit, tahu! Sejarah seni dan Teori Seni itu sangat amat sulit diingat. Kalau aku bisa lulus salah satunya, aku pasti akan bersyukur pada bumi dan langit." Ujar Cessie


"Baiklah. Aku tahu sekarang."

__ADS_1


"Maksudnya apa 'aku tahu sekarang'? Kau akan membantuku? Bagaimana kau akan membantuku?" Tanya Cessie penasaran bagaimana Alex membantunya untuk meluluskan ujian teori seninya


"Diam dan tunggu saja." Ujar Alex lalu pergi.


Keesok harinya cessie dan para mahasiswa sudah berkumpul di aula. Cessie duduk bersama Farel.


"Cessie, kenapa dengan tanganmu?" Tanya Farel penasaran dengan tangan cessie yang terbungkus perban


"Perasaan kemarin tangannya mu baik-baik saja, kenapa bisa jadi terluka begitu hanya dalam waktu semalam? Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau terluka?"


"Berkelahi," jawab cessie dengan entengnya.


"Hah?" Farel terkejut


"Ini bisa dianggap sebagai... menyelamatkan orang kesusahan. Tidak... ini namanya bertindak berani untuk suatu tujuan" jawab cessie dengan santai


Mendengar itu, farel langsung mengomel panjang lebar tentang tempat kerjanya cessie.


"Jika kau butuh uang, nanti aku carikan tempat kerja yang lebih baik. Pekerjaan yang ringan tidak mengandalkan wajah" Farel menyarankan cessie untuk cari kerja di tempat lain.


"Hei cessie !" Panggil Farel

__ADS_1


Tapi cessie tidak mendengarnya karena tiba-tiba ngantuk berat dan memutuskan untuk tidur, tanpa menyadari kalau acara sudah dimulai dan sang pembicara masuk ke ruang aula, dan orang itu tak lain adalah Alexander Eghan.


__ADS_2