
Semua karyawan sibuk untuk menyambut bos hotel sementara orang yang akan di sambut sedang berjalan santai di koridor hotel menuju kamar sambil menggeret koper dan tas barang bawaannya. Alex menyusup ke sana tanpa orang lain tahu.
Jelas tidak semua karyawan hotel mengenal dirinya, hanya orang tertentu saja yang pernah melihatnya.
Alex menuju kamar yang berada di lantai dua. Tentu dia bisa memilih kamar mana saja, dia sebagai pemilik hotel memegang kunci master semua kamar. Dia tidak peduli dengan pengunjung yang menyewa kamar hotel. Jika sudah menginginkan salah satu kamar hotel itu maka sang penyewa diperintah untuk pindah dengan konpensasi yang di berikan pihak hotelnya.
Dia menjatuhkan pilihan kamar 1208. Alex masuk ke kamar langsung menuju balkon untuk memeriksa wilayah sekitarnya apakah di temukan sampah di sana. Lalu dia kembali ke kamar membuka koper yang tadi di bawa ternyata di dalamnya adalah senjata kebersihan. Seperti pakain pelindung, masker, sarung tangan latex, sanitizer, kain lap dan spray disenpektan.
Alex memakai pakai pelindung di tubuhnya, memakai masker dan sarung tangan. Dia menyingkirkan sprai kasur yang sudah terpasang lalu menggantinya.
Alex bahkan membuang amplop pink berisi surat dan cincin yang cessie siapkan untuk Louis.
Mengelap kursi meja dengan teliti dan furniture lainnya lalu menyemprotkan disinpektan di ruangan.
Dia lakukan dengan cepat dan cekatan membersihkan seluruh ruangan seorang sendiri tidak peduli jika ruangan itu sebenarnya sudah bersih. Dia tidak perduli barang siapa itu yang ada di kamar yang dia pilih. Alex membuang semua barang yang ada di kamar kecuali amplop pink dan cincin ia simpan di saku bajunya di lemari.
Alex merebahkan dirinya di kasur setelah selasai membersihkan ruangan.
"Huh, akhirnya selesai juga" menatap keatas. Menghela nafas "Akhirnya waktu ini tiba. Sudah sepuluh tahun aku menantinya untuk menyembuhkan penyakit ini. Berhasil atau tidak, malam ini penentunya. Pasti itu dia" pikir Alex beranggapan bahwa Siska adalah gadis yang menolongnya waktu itu.
***
Manager hotel nampak gelisah menunggu kedatangan Alex. Tentu dia sudah tahu bagaimana prangai seorang Alexander jika mengunjungin hotel ini. Dia berharap semoga tidak kecolongan.
Sebuah mobil mewah jenis limusin memasuki lobby hotel. Manager bergegas menghampiri lalu membuka pintu mobil. Keluar seorang gadis cantik yang tak lain adalah Siska.Manager terlihat kebingungan karena yang keluar dari mobil hanya seorang gadis dan asisten Neil. Alex tidak terlihat sementara di mobil sudah tidak ada orang.
"Selamat datang" sambut Manager berjabat tangan dengan Neil
"Sudah lama tidak bertemu Manger Doni" Membalas jabatan tangan Manger Doni
Manager Doni terlihat cemas dia sudah curiga ketiadaan Alex di sana "Apakah Presdir sudah memulainya?"
Diangguki oleh Neil membenarkan pemikiran Manager Doni.
__ADS_1
"Habislah sudah"
Mereka semua masih berdiri menunggu kabar bos hotel.Manager Doni memperhatikan sekitar lobby sekiranya sosok Alex terlihat di sana. Tiba tiba ponsel Neil berdiring
Drrt...drrt...drrt
"Ya Presdir"
"Pergilah kebagian logistik beri tahukan kebutuhan untuk ku selama di sini"
"Baik Presdir" jawab Neil
"Berikan ponselmu ke Manager Doni !"
Neil menoleh ke Doni lalu menyerahkan ponselnya "Presdir ingin bicara"
Doni menerima ponselnya ada rasa was was nampak di wajahnya. Dengan ragu ragu dia menempelkan ponsel itu di telinganya " Halo Presdir"
"Doni, aku sudah memilih kamar. Kebersihan kamarnya tidak sesuai. Aku juga sudah membuang semua barang di dalamnya"
"Lantai dua kamar 1208"
Doni tercengang mendengar Alex memilih kamar 1208 di lantai dua. Setahunya kamar di lantai dua sudah penuh di pesan oleh pelanggan. Dan dia cukup terkejut tidak ada komplen atau keluhan dari pelanggan tentang kamar yang di pilih bosnya.
"Maaf Presdir, bukankah kamar itu sudah di pesan oleh pelanggan. Apakah Presdir tidak bertemu tamu yang berada di kamar itu?"
"Aku tidak bertemu siapa pun disini. Aku tidak peduli dengan tamu hotel. Berikan saja konfensasi untuk mengganti kamarnya. Kalau perlu berikan kamar sweet room sebagai gantinya" ujar Alex senak
Doni hanya menghela nafas dengan perangai Alex yang seenaknya saja. Dia cemas bagaimana menyampaikan ini kepada tamu yang memesan kamar itu.
"Baik Presdir, saya akan melakukan sesui perintah anda" Doni menyerah tidak ingin memperpanjang. Mau bagaimana lagi itu adalah perintah bosnya yang harus di penuhi.
***
__ADS_1
Cessie di taman terlihat menikmati pemandangan di taman. Dia mencoba mengirim pesan kepada Louis menanyakan keberadaan mereka sudah sejauh mana.
Kalian sudah sampai mana?
Aku sudah memesan kamar.
Kabarin aku jika sudah sampai, nanti aku jemput kalian di lobby
Isi pesan Cessie kepada louis namun belum di baca.
Dia asyik dalam dunianya tanpa tahu bahwa kamar yang di pesannya untuk louis sudah diambil alih oleh sang pemilik hotel.
Merasa cukup menikmati pemandangan di sana, cessie akan kembali kekamar nya namun sebelum itu dia mebeli bunga yang tidak jauh dari hotel untuk ia taruh di kamar 1208. Dia membuka kamar itu dengan kartu yang dia pegang
Trrit...kunci pintu terbuka. Cessie membuka pintu kamar lalu memasukinya. Sesampainya di dalam dia tercengang melihat isi kamar berubah terlihat dari sprai kasur yang berubah warna yang sebelumnya berwarna putih sekarang berubah berwarna hitam. Di dalam ruangan juga tercium aroma disinpektan yang sepertinya belum lama di semprot.
"Apa apan ini" gerutu Cessie kesal. Lalu berjalan kearah kasur menyingkap selimut dan bantal memastikan keberadaan suratnya. Dia syok begitu menyingkap bantal tidak menemukan suratnya.
Cessie terus menyingkap bantal lain melempar selimut kesembarang arah.
"Dimana suratnya? Siapa yang sudah masuk ke kamar ini?" Kesal Cessie sambil mencari keberadaan suratnya di sekitar kamar bisa gagal rencana pernyataan cintanya.
Ketika mencari di tempat lain,sekilas dia melihat kertas pink terselip di saku baju. Mungkin itu suratnya lalu dia menuju ke lemari gantung untuk mengambil suratnya tapi tiba tiba seorang pria muncul dari balik lemari mengambil baju yang ada surat di sakunya.
Dengan sigap Cessie menarik tangan pria itu lalu memojokan wajah pria itu ke dinding lemari.
"Siapa kamu? Mengapa berada di kamarku?" Tanya Cessie curiga mengintrogasi pria itu. Bagaimana hotel sekelas bintang 5 bisa ada penyusup masuk di kamar tamu hotel.
"Arghhhhh"
Alex yang tubuhnya di pojokan oleh seorang wanit secara mendadak tentu terkejut lalu dia pergi ke kamar mandi membawa baju yang di ambil tadi. Dia membersihkan diri cemas penyakit OCD kambuh. Menunggu beberapa saat tidak ada reaksi yang timbul dari tubuhnya bahkan alex tidak mengalami sesak nafas sehabis bersentuhan dengan wanita tadi.
"Ada apa dengan tubuhku? Tidak reaksi apa pun" gumamnya memperhatikan bagian tubuhnya yang tidak menimbulkan ruam merah dan nafasnya tetap teratur. Alx terus menilisik bagian tubuh lainnya memeriksa bahwa sentuhan gadis itu tidak berpengaruh buruk pada tubuhnya.
__ADS_1
"Luar biasa" Alex terkekeh seperti menemukan harta karun. Binar bahagia terpancar di wajahnya.