PRESDIR PEMAKSA

PRESDIR PEMAKSA
BAB 34


__ADS_3

Sesuai janjinya Alex pergi ke bar untuk menemui cessie. Alex mengenakan pakai tertutup tidak lupa masker menutupi sebagian wajahnya dan sarung tangan terpasang di telapak tangannya. Setiap mata yang melintas manatap penuh kebingungan dengan penampilan Alex.


Dia terus berjalan mengabaikan tatapan mereka


Alex datang lebih awal dari waktu di janjikan. Sampai di depan pintu ruangan yang di sewanya, dia melihat cessie sudah ada di sana sedang memegang mic sambil bercuap cuap. Mungkin cessie sedang bernyanyi pikirnya. Raut wajah Alex sedikit suram ketika melihat itu. Cessie malah bersenang senang sendirian.


Alex langsung menorobos masuk kedalam dan langsung merebut mic yang dioegang cessie.


Cessie terkejut dengan kedatangan Alex yang tiba tiba. Dia melihat kearah jam lalu menatap Alex dengan penuh tanda tanya.


"Bukankah kita janji jam 9? Kenapa kau sudah tiba?"


"Aku sengaja datang lebiha awal. Apa kau keberatan?" Sahut Alex


"Tapi aku baru saja menyewa karoke untuk satu jam"


"Lalu nyanyi saja. Kenapa harus banyak bicara?" Lalu Alex langsung bernyanyi mengikuti lirik lagu dari layar tv.


"Tunggu !" Cessie bergegas mengambil mic satunya lalu kembali bergabung dengan Alex.


Merekapun berduet nyanyi. Bahkan mereka berjoget bersama saling dorong saling merangkul. Cessie dan Alex menikmati kesenangan bersama.


Satu jam berlalu, merekapun mengakhiri kesenanganya.


Cessie lalu membuka leptopnya memasangkan proyektor lalu memasang bener untuk menampilkan presentasinya.


Setelah semuanya terpasang, tanpa menunggu Alex langsung melontarkan pertanyaan kepada cessie.


"Topik utamamu adalah Persetujuan Karya sang Pencipta. Bagaimana dengan managemen dan penilaian karya seni yang kusuruh untuk kau pelajari?" Tanya Alex


"Itu terlalu bisnis, aku tidak bisa melakukannya sama sekali." Sahut Cessie


"Berani sekali kau mengganti topik yang kuberikan padamu?" Kesal Alex


"Kau menyuruhku menyiapkan sumber-sumber supaya aku lulus ujian, kan? Tapi kan ujian itu tidak seperti me-manage bisnis. Jadi kenapa juga kau menyuruhku untuk menyiapkan bahan itu?"


"Kau pintar merespon situasi rupanya. Kalau begitu, katakan padaku. Karya seperti apa yang bagus?" Cibir Alex ingin tahu

__ADS_1


Cessie hanya cengengesan saja.


"Karya yang pertama kali diekspresikan dari pikiran sang pencipta. Jadi karya terbaik adalah si pencipta itu sendiri. Saat penonton melihatnya, mereka akan terpengaruh.Jika muncul seorang pencipta seni yang aku suka, maka dia pasti akan menghabiskan uang untuk membeli karyanya. Makanya menurutku karya terbaik adalah si pencipta karya itu." Jawab cessie dengan percaya diri.


"Mendengarmu seperti mengkopy dari buku?" Tanya Alex


Cessie mengangguk "itu yang di katakan kordinator galeri seni jepang yang terkenal. Itu yang membuat Takasami Murakami dan Yoshitomo Nara menjadi seniman terkenal dunia"ucap Cessie penuh semangat


Alex beranjak berdiri"Lalu berapa banyak karya mereka yang ada di dunia. Dan berapa banyak manajer yang menunggu sampai mereka terkenal?Menjual seni adalah bisnis bukan seperti menjual ikan. Bahkan lebi susah. Karena manusia akan mati jika tidak makan. Jika kau melihat lukisanng vulgar maka 99 persen di bumi adalah orang yang vulgar. Kau ingin menemukan sesorang yang memiliki minat yang sama dengan hobimu. Lebih baik merebut hati mayoritas. Tren adalah hukum emas. Seni juga"


Cessie mangguk mengerti penjelasan Alex. Lalu kembali duduk di samping Alex.


Alex lalu melihat-lihat isi presentasi-nya cessie dan mendapati ada salah satu foto lukisan karyanya  V .


"Kau menyukai karyanya V Ran? " Alex bertanya sambil terus melihat isi presentasi di leptop


"Sejak 5 tahun aku mengagumi karyanya V Ran " jawab Cessie


"Lalu apa yang dia punya sehingga dia disukai? Bahkan dia menyembunyikan identitasnya?" Heran Alex sekaligus penasaran.


"Suram tapi polos. Duniawi tapi menyeluruh. Liar namun tegas. Ini seperti seorang anak yang sedang tumbuh" cessie menyebutkan berbagai kelebihan yang dimiliki lukisan V Ran.


Ucapan cessie mengingatkan Alex ke masa lalunya.


Flasback on 10 tahun lalu


Seorang guru sedang memperhatikan lukisan di depannya. Dia sedang membandingkan kedua lukisan itu. Sebelah kanan adalah lukisan pemandangan dan sebelah kiri lukisan abstrak.


Di sana juga ada Alex muda dan satu anak kecil yang berusia 10 tahun menanti penilaian dari sang guru.


"Yang sebelah kanan sangat indah" ucap guru menilai lukisan hasil Alex lalu beralih menatap lukisan di sebelahnya.


"Yang sebelah kiri adalah karya jenius" ungkapnya mengagumi hasil karya anak kecil itu.


"Apa?Apa tidak salah?Aku tidak terima dengan penilaianmu!" Alex terkejut dan tidak terima dengan penilaian gurunya. Bagaimana bisa lukisan anak kecil yang berupa gumpalan awan gelap di bilang karya jenius.


"Itu hanyalah sampah. Tidak ada pointnya. Tidak ada subjeknya"protes Alex

__ADS_1


Guru itu hanya mangut mangut lalu menoleh kearah Alex "Siapa bilang tidak ada pointnya" ujarnya. Lalu guru itu menjelaskan kepada Alex.


"Topik utama dari lukisan ini adalah menompol" guru itu menjelaskan sambil menunjukan titik poinnya


Anak kecil itu memghentakan kakinya kesal. Gurunya membongkar kecerobohannya.


Alex yang mendengarnya hanya berdesis mencemoohkan.


Guru itu lalu menatap anak itu.


"Vincent tadi kebelet buang air kecil. Dia sangat takut pergi kekamar mandi sekaramg. Tapi karena tidak ada waktu, dia jadi terpaksa harus menahannya. Lihatlah bentuk dari karyanya ini, bukankah ini terlihat seperti sesuatu yang hampir bocor ribuan mil? Dan saat dia pulang, celananya sudah ganti. Itu pasti karena dia tidak bisa menahannya dalam perjalanan pulang. Makanya dia ngompol." Jelas Guru sambil mengejek Vincent.


"Aku tidak suka guru Harry" kesal Vincent menghentak hentakan kakinya


Alex hanya memutar bola mata malas.


Flasback of


"Kau pernah bertemu dengannya?"tanya Alex penasaran denga tatapan menyelidik


"Belum pernah"


"Kau seharusnya bisa meramal?"


"Apa?" Sahut Cessie tidak mengerti. Namun tiba tiba saja Alex mendekat dan mengurung cessie diantar dirinya. Cessia jadi panik mendapat serangan mendadak.


"Kau mau apa?" Tanya Cessie panik sambil menatap Alex grogi.


Alex hanya diam beberapa saat sambil menatap cessie secara intens.


"Aku hanya ingin membantumu melihat wajahku" goda Alex membuat cessie semakin salah tingkah dan tidak nyaman.


"Tapi, bukankah kita harus melakukan presentasi? Kenapa malah berubah jadi menatap wajahmu."


Alex hanya tersenyum singkat "Permainan berakhir" dan akhirnya menjauh lalu mempersilahkan cessie untuk memulai presentasinya.


Cessie bisa bernafas lega bisa lepas dari kungkungan Alex.

__ADS_1


__ADS_2