PRESDIR PEMAKSA

PRESDIR PEMAKSA
BAB 8


__ADS_3

Cessie pergi menemui resepsionis untuk menanyakan tentang kamarnya yang di tempati oleh si pemilik hotel.


"Nona, kamarku di ambil alih oleh pemilik hotel. Apakah di ganti dengan kamar lainnya?" Tanya Cessie


Resepsionis tampak mengerutkan dahinya me coba mengingat tentang pesan resepsionis lainya yang sudah berganti berjaga "Maaf boleh beritahu kamar berapa yang sebelumnya yang nona pesan?"


"Kamar 1208 atas nama Cessie Laura" Jawab Cessie


Resepsionis tampak membuka komputernya mengecek data yang di beritahukan. Setelah menemukan datanya resepsionis terlihat menyesal " Kami mohon maaf nona atas ketidak nyaman anda atas kamar pesanan anda. Sebagai konpensasinya, kami mengganti kamar anda dengan kamar kelas 1 di lantai 4 dengan no 1507 dan mengganti pembayaran pesanan kamar anda yang sebelumnya sudah di bayarkan denga mentransfernya dan kami juga memberikan pelayanan extra selama anda di sini"


Cessie tercengang mendengar bahwa dia tidak perlu membayar uang sewa kamar hotel di sini, bahkan uang sudah di bayarkan akan di kembalikan. Sungguh luar biasa pengaruh orang itu. Meski seenaknya tapi cessie tampak tersenyum bahagia karena dia menginap di hotel ini secara gratis tanpa membayar sepersenpu malah mendapatkan pelayanan extra untuknya.


"Baiklah, saya akan menerimanya. Tapi bisa minta tolong ? Tolong berikan kunci kamar itu kepada teman saya yang akan datang. Karena kamar itu sengaja saya pesan untuknya"


"Baiklah, tapi apakah nona memiliki identitas teman nona?"


"Saya punya foto dari kartu identisa teman saya" Jawab cessie sambil menyerahkan ponselnya yang berisi foto identitas louis kepada respsionis.


Resepsionis menerima ponsel itu lalu mencatat data kartu identitasnya dan mefoto ulang memakai ponselnya. Agar saat orang itu datang dia bisa memastikan ulang.


"Terimakasih nona untuk kerja samanya. Selamat menikmati liburannya" Sambil tersenyum


Cessie membalas senyuman respsionis lalu pergi menuju kamarnya yang bersebelahan dengan Alex.


Cessie menghempaskan tubuhnya di kasur menatap langit atap "Huuuh" helaan nafas keluar dari mulut cessie " Meski mendapat konpensasi yang cukup besar tetapi rencanaku gagal untuk menyatakan persaanku. Malah terjebak dengan pria arogan itu" gerutunya kesal. Cessie menghentakan kakinya ke atas dan menepuk nepuk tangannya ke kasur " Dasar menyebalka" teriaknya kesal


Karena terlalu lelah akibat marah marah Cessie akhirnya terlelap tidur lupa untuk mengisi ulang batrenya.


Sementara Louis coba menghubungi ponsel Cessie namun panggilannya tidak tersambung.Dia ingin memberi tahukan bahwa dia dan kawan kawan sedang menuju ke hotel.


***


Drrt drrt drrt

__ADS_1


Suara ponsel di saku baju cessie bergetar. Cessie yang terlelap terusik karena suara dari ponsel yang di berikan Alex. Dia meraba saku dan mengeluarkan ponsel lalu mengangkatnya tanpa membuka matanya.


"Hallo" dengan suara ciri khas orang yang menahan ngantuk


"Hei, kau sedang tidur?Cepat temui aku di depan kamar !" Ujar Alex


Cessie masih belum sadar, dia masih mengantuk sambil menempelkan ponsel di telinganya.


"Aku masih mengantuk !" Dengan suara orang mengantuk


"Apa kau tidak ingin suratmu kembali?Cepat temui aku. Sekarang !" Teriak Alek dengan penekanan


Cessie yang hendak melanjutkan tidurnya seketika bangun mendengar teriakan Alex. Dia mengucek ngucek telinganya yang berdengung karena suara keras dari Alex. Merasa sudah rilex, dia kembali meletakan ponselnya di telinganya.


"Bisa tidak kau jangan berteriak? Telingaku panas mendengar kau berteriak" gerutu Cessie kesal


"Siapa suruh kau tidak mendengar ucapanku. Malah asik tidur. Cepat kau datang ke kamarku. Temani aku untuk menemui seseorang !" Ucap Alex


"Beri aku waktu 5 menit untuk merapihkan diri"


Cessie berdesih " Ck...orang sedang enak tidur malah di paksa mengikuti perintahnya. Lihat saja jika suratnya sudah kembali padaku, akan aku balas pria itu" gerutunya dengan senyum seringai


Cessie bangun dari kasur lalu pergi kekamar mandi untuk membasuh wajahnya. Dia mengganti pakaiannya denga pakaian yang lebih santai. Cessie menggunakan tshirt berwarna biru laut dan celan jeans panjang. Rambutnya ia kuncir satu dan memakai sepatu casual. Merasa cukup dengan penampilannya,dia berjalan keluar kamar menghampiri kamar sebelahnya.


"Dasar pria arogan" ucapnya di depan pintu kamar Alex. Lalu dia menekan bel di pintu, tak lama Alex keluar dari balik pintu.Penampilan Alex mampu membuat cessie tercengang.Dia mengenakan stelan jas di padu padankan denga thisrt di dalamnya " Tampannya" gumam Cessie dalam hati, tak lama dia menggelangkan kepala, kembali sadar.


Alex yang meliahat gadis didepannya menggelengkan kepala hanya mengerutkan dahi.


"Kau temani aku menemui seorang wanita, tapi kau duduk cukup jauh untuk mengawasiku"


Cessie mengerutkan dahi keheranan,pria di depanya meminta dirinya untuk mengawasinya. Padahal dia adalah bos hotel ini mengapa tidak menyuruh skurity atau pengawal yang biasanya orang kaya sepertinya memiliki pengawal.Tapi cessie tidak ingin berpikir jauh biarlah hanya mengawasinya dari jauh tidak membuatnya rugi.


"Baiklah. Tapi setelah urusan itu selesai, kau jangan lupa mengembalikan surat dan cincinku" ucap Cessie mengingatkan

__ADS_1


" Awasi aku dengan baik. Jangan pergi sebelum aku izinkan. Paham !" Ucap Alex tegas


"Oke" Sahut Cessie singkat


Alex terlebih dahulu pergi menjemput Siska di kamar sweet room sementara cessie menunggunya di restoran dengan pemandangan danau di depannya. Pihak restoran sudah di beritahukan oleh Alex untuk mengosongkan lokasi hanya Cessie yang di perbolehkan masuk dan duduk yang sudah di sediakan. Tidak terlalu jauh jarak antara meja yang akan Alex tempati dengan meja yang di tempati cessie.


Cessie duduk di kursinya sambil menunggu kedatangan Alex. Tak lama berselang Alex datang bersama seorang wanita cantik. Menurut Cessie mungkin itu pacarnya.


"Bukankan itu wanita tercantik di kampusnya ka Louis. Jadi dia pacarnya pria itu" ucap Cessie ketika melihat wanita yang di bawa Alex. Dia mengenalinya. Dia merupakan senior Louis dikampusnya meski beda jurusan tapi satu komunitas. Jadi cessie cukup sering melihatnya namun tidak pernah bersapa.


Alex menggeser kursi dan membiarkan wanita itu duduk,di ikuti Alex duduk di sebrangnya. Pelayan datang menghidangkan makanan terbaiknya di meja dan menuangkan wine di gelas Alex dan di gelas Siska.


Siska nampak memakan makanan pembuka. Dia makan dengan elegannya. Sementara Alex menyesap wine nya secara perlahan menikmati setiap aroma dan nikmat dari wine yang mengalir ke tenggorokannya.


Alex menatap Siska secara intens tanpa mengedipkan matanya seakan dia sedang menganalisa wanita di depannya. Siska yang di perhatikan seperti itu merasa tidak nyaman sehingga membuatnya salah tingkah.


"Apa ada sesuatu di wajahku?" Sambil meraba raba wajah memeriksa jika ada sisa makanan tertempel di wajahnya


"Bukan. Aku hanya mengingat dua minggu yang lalu saat kita bertemu, kau yang menolongku membawa ke rumah sakit. Kamu juga memakai baju ini" Ucap Alex


Siska tampak tersenyum malu. Dia sengaja memakai baju itu kembali agar Alex dapat mengingat pertemuannya waktu di rumah sakit.


"Itu sudah dua minggu yang lalu, kau masih memgingatnya?"


Alex mengangguk kepala "Waktu itu kondisi sedang tidak baik dan pingsan. Untung kau menolongku. Terkadang aku berpikir, kau seorang wanita. Bagaimana bisa kau membopongku sampai ke rumah sakit seorang diri. Apa kau tidak merasakan keberatan dengan berat badanku sementara badanmu sekecil ini?"


"Itu hanya hal kecil. Lagi pula itu sudah berlalu. Bukankah yang penting itu sekarang?"Menghindari pembicaran tentang waktu itu. Siska memasukan makanan ke mulutnya tetapi dengan sengaja meninggalkan bekas di bibirnya. Dia berniat menarik simpati Alex.


"Sekarang sudah benar benar ada" ucap Alex mengerti maksud dari Siska yang sengaja meninggalkan sisa makanan di bibirnya. Alex mengulurkan tangannya membersihkan sisa makanan yang tertempel di bibir Siska.


Namun tiba tiba Siska menyentuh tangan Alex yang tidak memakai sarung tangan. Alex memang sengaja tidak memakai sarung tangannya dia ingin lebih meyakinkan tentang dugaannya bahwa sebenarnya bukan Siska yang menolongnya. Alex hanya mengepalkan tangannya di belakang punggungnya.


"Apa yang dia lakukan? Disini hanya ada aku, apa mereka sengaja memamerkan kemesraan? Aku di sini seperti kambing cong* sendirian melihat orang bermesraan. Nasib nasib orang yang masih jomblo" gerutu Cessie

__ADS_1


"Aku ingin segera mengambil barangku" gumam Cessie sambil terus mengawasi mereka


__ADS_2