
Malam harinya, semua orang berkumpul untuk makan malam bersama termasuk Vincent.
Di depan mereka sudah terhidang hotpot yang berisi makanan kesukaan masing masing. Ada jamur, udang, daging di setiap bagian panci hotpot.
"Jamurnya kelihatannya sudah matang. Biar aku coba dulu." Dengan tidak sabarnya Cessie mengambil jamur dari panci hot pot lalu memakannya
"Aku mau daging sapi." Timpal Vincent dengan wajah semringah mengambil daging dari kuah hotpot.
"Udangku." Sela ikut menimpali sambil mengambil udang dari kuah hotpot
Tasya satu-satunya yang tak terima dengan situasi ini.
"Makan apa? Letakan sumpitmu !" Cegah Tasya dengan nada marah. Cessie dan Sela seketika menghentikan makannya
"Apakah tidak ada yang mau menjelaskan, kenapa kita punya tambahan orang?" Tanya Tasya dengan tatapan tajam kearah Sela dan Cessie meminta penjelasan. Lalu melihat Vincent yang sedang makan.
"Siapa yang menyuruhmu makan? Letakkan sumpitmu!" Perintah Tasya kepada Vincent
Vincent tidak peduli, dia langsung saja memakan daging sapinya.
"Kau menyentuh daging sapiku." Kesal Tasya dengan tatapan tajam "Kuberitahu kau _"
"Baiklah. Aku yang membawanya kesini." Cessie dengan cepat menyela
"Jika kau marah. Marahlah kepadaku. Kenapa kau melampiaskannya kepadanya?"
"Iya, aku memang mau memarahimu. Tidak masalah kau bawa orang kesini, tapi kenapa kau bawa kopernya juga? Apa dia mau menginap?"
"Perbaiki saja kuncinya, kenapa menginap di rumah tetangga?"Tasya mengarahkan tatapan tidak suka kepada Vincent.
Cessie merasa tidak enak kepada Vincent dan Sela lalu dia membisikan ketelinga Tasya "Ini tidak sesederhana itu. Pemiliknya mengambil paksa dan dia tidak bisa menghubungi nyonya Bela. Kasihan jika dia hatmrus tidur di jalanan. Biarkan dia menginap semalam."
"Lalu kenapa tidak menginap di hotel saja
?" Tasya bersikeras menolak kehadiran Vincent " Bibimu sangat kaya. Kau pasti punya uang saku. Dia bahkan memberi kami 10 juga tiap bulannya untuk mengurusmu." Seketika Tasya menutup mulutnya. Dia keceplosan memberitahukan tentang uang yang di berikan Nyonya Bela.
"10 juta? Apa maksudmu?" Tanya cessie.Dia tidak diberi tahukan perihal itu. .
"Tasya, apa kau mengambil uang darinya atas nama Vincent? Cessie menuntut jawab Tasya soal uang pemberian nyonya Bela.
Tasya diam merasa tidak enak. Dia memang memakai uang itu untuk berbelanja.
"Kalau kau mengusirnya, maka kau tidak akan mendapatkan sepeserpun." Timpal Sela santai tapi ucapannya tajam.
"Berapa banyak yang kau ambil?" Tuntut Cessie
"Tidak banyak. Cuma... 2 samapai 3 juta" bisik Tasya tidak ingin terdengar
"Kau berani mengambil sebanyak itu?!" Teriak Cessie kecewa dengan sikap Tasya. Bisa bisanya Tasya menggunakan uang itu seenaknya. Jelas jelas uang itu bukan miliknya melain uang yang di titipkan nyonya bela untuk memenuhi kebutuhan Vincent." Terus sisanya berapa?" Tanya lagi
"Habis." Jawab Tasya dengan lirih
__ADS_1
"Sebenarnya tadi ada sisa sedikit. Tapi setelah beli beberapa baju, aku juga memesan tas bermerek limited edition. Jadi sekarang sudah habis semuanya." Rengeknya merasa bersalah
"Padahal uang sisa itu bisa buat bayar sewa selama 6 bulan. Kau malah menghabiskannya begitu saja." Ucap Cessie sangat menyayangkan.
"Baiklah, biarkan dia tinggal di sini." Pada akhirnya Tasya mengalah. Dia yang sudah memakai uang itu tentu saja dia harus mau menerima kehadiran Vincent di tengah tengah mereka.
"Tapi masalahnya di akan tidur dimana?" Pikir Tasya karena rumah sewa mereka hanya memilii 3 kamar dan itu semua sudah terisi.
Cessie melirik kearah Vincent yang dengan santainya menyantap makanan. Lalu tatapannya beralih kearah Sela seakan meminta pendapatnya tapi sayangnya Sela malah asik terus menyantap makannya.
Pada akhirnya cessie mendapat ide untuk membuat tempat tidur di ruang tamu. Mereka memasangkan tirai sebagai penghalangnya.
"Bagaiaman Vincent? Kau bisa menggunakan sofa itu sebagai tempat tidurmu. Selama kau menutupi tirai itu saat malam hari. Semuanya akan baik baik saja." Jela cessie.
Vincent terlalu lelah dan mengantuk, dia tidak menyimak ucapan cessie. Dia sampai terkantuk tidur di bahu cessie.
"Wah...aku berusaha keras, dia malah enak enak tidur."Tasya membulatkan mata tidak percaya lalu dia berniat memukulnya namuan di cegah oleh cessie.
"Ssst!." Cessie menghalau Tasya yang berniat memukul Vincent
"Dia berkeliaran seharian tadi, biarkan dia tidur sebentar. "
Tasya hanya bisa mengeram kesal tangannya terkepal ingin rasanya memukul vincent dengan tinjunya. Tapi cessie melarangnya jadi hanya mengerucutkan bibirnya.
Cessie melihat wajah polos Vincent yang sedang tertidur dengan tenang di bahunya.
"Lihatlah dia, bukankah dia mirip kucing yang terkadang mengunjungi kita?"
Tasya memdesis "Kurasa mereka memang mirip. Aku tidak bisa menjinakkannya tak peduli sebanyak apapun aku memberinya makan dan dia selalu mencakarku. Kurasa dia hanya mau dekat padamu. Kalau begitu aku tidak akan mengganggu waktu berduaan kalian." Tasya lalu pergi meninggalkan mereka.
Tiba-tiba ponselnya Cessie berbunyi. Dan saat dia sedikit bergerak untuk mengambilnya, kepala Vinvent tiba-tiba terguling ke pangkuannya tapi dia tetap tidak terbangun.
"Dia benar-benar renkarnasinya kucing." Gumam cessie lalu dengan perlahan dia meraih ponselnya dan mengangkan panggilannya.
"Hallo ibu. Aku baik baik saja." Ujar cessie dengan suara sedikit pelan. Agar tidak membuat Vincent terbangun.
"Jangan khawatir. Aku akan mengurus uangnya. Aku sudah menerima uang beasiswa nanti biar aku kirimkan." Ujar cessie berbisik meyakinkan ibunya agar tidak cemas.
"Aku baik baik saja. Jangan khawatir. Dadah ibu." Raut wajah cessie berubah. Dia cemas memikirkan ibunya
Ayahnya pergi meninggalkan hutang. Ibunya dan dirinya yang di tuntut untuk membayarnya oleh depkolektor.
Setelah itu, cessie secara perlahan dan hati hati memindahkan kepala Vincent ke bantal lalu kembali ke kamar untuk menghitung semua uang yang dimilikinya. Dia mencatat semua kebutuhannya yang penting apakah bisa di kurangi atau bahkan di hilangkan. Uangnya bisa untuk membayar hutang ayahnya.
Cessie menghela nafas, sekalipun dia sudah punya uang beasiswa, tetap saja tidak cukup. Uang ini hanya akan bertahan sampai bulan depan, ditambah lagi dia masih harus mengirim uang ke ibunya. Apa lagi dia belum memiliki pekerjaan.
"Ya, Tuhan. Kukira aku akan bisa mencicil hutang kepada Alex dulu. Tapi sepertinya... semua itu harapan yang sia-sia hiks.." cessie berkeluh kesah sambil menopang kepalnya di meja dengan sedih. Dia bingung bagaiman harus membayar hutang hutangnya sementara dia tidak memiliki cukup uang.
Tiba-tiba Vincent mengetuk pintunya lalu membukanya.
"Ada apa?" Tanya Cessie dengan wajah sedih
__ADS_1
"Lapat." Jawab Vincent dengan polosnya
Cessie sampai heran, padahal dia tadi kan sudah makan.
Akhirnya dia membuatkan ramen untuk Vincent dan menaruhnya di mangkok kesayangannya.
"Kenapa kau cepat lapar lagi, padahal tadi makan cukup banyak ?" Tanya Cessie sambil berjalan kearah kursi lalu duduk di samping vincent
"Memangnya kau tidak lapar?" Vincent balik bertanya
"Iya juga, aku sedikit lapar." Sahut cessie. Mungkin karena dia tadi menghitung uang di tambah memikirkan hutangnya, tenaganya sedikit terkuras. Makanya sekarang dia merasakan lapar.
"Bagaimana kau tahu?" Cessie heran kenapa vincent bisa tahu kalau dia merasa lapar
"Aku tadi memperhatikan kau makan hanya sedikit." Lalu vincent dengan senang hati memberikan ramennya untuk cessie.
Dengan senang hati cessie menerima ramen itu." Kau sangat baik." Sambil mencubit gemas pipi vincent. Vincent meraih susunya sambil melirik kearah cessie " Tinggalkan telurnya untukku."
Cessie melirik sebentar searay tersenyum lalu memakan ramennya.
Cessie merasa suasanya terasa sepi lalu kembali melirik Vincent yang asik meminum susunya.
"Aku tidak suka makan dalam keadaan seperti ini, bisakah kau membuat kebisingan?" Tanya cessie. Itu hanya alasan saja. Sebenarnya di sedang cemas dan khawatir.
Vincent langsung saja membuat suara dengan menyeruput susunya.
"Bukan itu yang aku maksud."
Vincent menghentikan tingkahnya seraya menatap heran cessie. Tadi cessie sendiri yang memintanya untuk membuat kebisingan. Ketika dia melakukan yang di pinta cessie, malah bukan itu yang cessie inginkan.
"Begini saja, aku akan berbicara dan kau hanya mendengarkannya. Tapi setelah kau selesai mendengarkan, maka kau harus melupakan semuanya. Bisa?"
Vincent menganggukkan kepala baru mengerti maksud dari keinginan cessie.
Cessie pun mulai bercerita tentang dirinya.
"Ayahku yang punya banyak hutang.
Waktu itu usiaku masih 11 tahun dan setiap hari selalu ada orang yang datang ke rumah mereka untuk menagih hutang. Ibuku hanya memelukku dan menangis. Kemudian untuk menghindari hutang kami pergi.
Sejak saat itulah, aku tidak pernah percaya bahwa akan ada sesuatu yang baik jatuh begitu saja . Dan aku jadi benci berhutang pada orang. Dan paling kubenci adalah menyeret keluargaku ke dalam kekacauan yang kubuat.
Dan sekarang, aku malah membuat kesalahan besar. Hutang ku sekarang jauh lebih besar daripada jumlah hutang ayahku Aku mungkin takkan sanggup membayarnya seumur hidup
Kecuali, aku mau mengorbankan beberapa hal. Katakan, Haruskah aku..." cessie menoleh kearah vincent ingin meminta pendapatnya namun vincent menaggapinya dengan tegas untuk mengurngkan niat cessie.
"Jangan. Jangan setuju."
Cessie senang mendengarnya. Itu yang dia pikirkan.
"Baik lah. Aku sudah kebanyakan bicara. Lebih baik kau tidur sekarang. Kau harus melupakan semua yang aku katakan tadi." Lalu cessie mengembalikan lagi ramen itu kepada Vincent dan pergi kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Vincent menatap punggung cessie yang berlalu pergi. Dia mulai mengerti dengan masalah yang di hadapi cessie. Mungkin saja dugaannya benar. Bagaimana mungkin dirinya bisa mendapatkan kembali mangkuk itu. Jelas dia bisa tahu harga dari mangkuk itu karena mangku itu sepasang yang dibuat orang tuanya.