PRESDIR PEMAKSA

PRESDIR PEMAKSA
BAB 43


__ADS_3

"Studio milik tuan Michel sudah di bersihkan, aku juga mencatat semua koleksi lukisan yang sudah rusak. Apa kau ingin melihatnya?" Lapor Neil kepada Alex tentang kondisi studio milik ayahnya


"Tidak perlu, kau saja yang tangani itu." Sahut Alex sambil berjalan kearah pantry di ruangannya. Dia mengambil minuman dan berjalan kearah sofa dan duduk di sana.


"Aku tidak menduga, nona cessie akan mengganti rugi kerusakan itu dengan suka rela." Ujar Neil


"Ya. Jika ini tidak terjadi. Aku tidak tahu bagaimana caranya mengikat dia di sisiku." sahut Alex lalu meminum minumaan.


Neil tampak kurang senang dengan fakta Cessie dengan suka rela mengompensasi Alex.Dia berpikir Alex mengambil keuntungan dari kerusakan benda antik itu.


Tidak ada tanggapan dari asistennya, Alex menoleh menatap asistennya. Alex seakan tahu dari tampang asistennya. Dia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.


"Kenapa? Apa kau pikir aku mengambil keuntungan darinya?" Tanya Alex


Neil hanya menghela nafas. Tanpa di jelaskan Alex sudah mengetahui keterdiamannya.


"Kau sudah lama berada di sisiku, seharusnya kau tahu bagaimana cara kerjaku. Asalkan aku bisa mencapai tujuanku, aku rela menghalalkan segala cara."


Ya Neil sudah mengenal bagaimana cara kerja Alex. Jika sudah ingin mencapai sesuatu. Dia akan terus berjuang untuk mendapatkan. Entah bagaimanapun itu caranya. Tapi di sini Neil kurang setuju mengikat paksa seorang gadis untuk berada di sisi Alex sebagai objek untuk pengobatannya.


Ya Neil bisa menyimpulkan itu. Karena dia melihat dan mendengar ketika Alex menunjukan dan menceritakn reaksi tubuh Alex yang tidak berdampak buruk terhadap sentuhan cessie.


"Lagipula, dia membantu orang yang paling kubenci di dunia ini." Ujar Alex dengan sorot mata tajam penuh ketidak sukaan. Lalu kembali menatap Neil.


"Bagaimana dengan apa yang kuminta untuk kau lakukan?" Tanya Alex


"Sudah beres. Dia akan pindah hari ini."  Sahut Neil


Alex tersenyum menyeringa, puas mendengar laporannya. Dia ingin tahu orang itu akan pergi kemana setelah studio itu tidak bisa di masuki.


***


Tasya dengan senyum bahagia berputar putar di depan temannya Sela. Ingin menujukan pakain baru yang di belinya.


"Bagaimana ?" Tanya Tasya sambil terus berlenggak lenggok di depan Sela


Sela menatap curiga dengan penampilan Tasya. Dia bisa menduga tasya memakai pakain baru menggunakan uang yang di terimanya dari Nyonya Bela.


"Apa kau menggunakan uang yang di berikan olah Nyonya Bela untuk membeli baju itu?" Tanya Sela penuh curiga.


"Berkat investor kita, aku bisa belanja-belanja-belanja tanpa perlu kerja keras." Sahut Tasya tanpa merasa bersalah menggunakan uang yang di terimanya.

__ADS_1


Bela menghela nafas dengan mata mendelik tidak suka dengan sikap tasya tidak merasa bersalah menggunakan uang orang lain.


"Kembalikan uangnya !" Perintah Bela dengan tegas.


Tasya sedikit tertegun dengan ucapan Bela.


"Demi apa? Aku kan tidak mencuri atau memintanya ! Dia rela memberiku uang, memangnya kenapa kalau kuhabiskan sedikit?" Ucap Tasya tidak peduli tanggapan Sela. Toh tidak ada salahnya dia menggunakan uang itu. Dia tidak memintanya. nyonya Bela yang memberikannya secara suka rela.


"Kau menghabiskan uangnya, terus siapa yang akan mengurus dia? Kau, orang yang bahkan tidak bisa masak ramen?" Sahut Sela dengan jengah. Heran dengan kelakuan teman sekamarnya. Jika memiliki uang dia akan menghabiskannya dengan berbelanja. Jika uangnya pribadi tentu itu tidak masalah baginya. Tapi uang ini jelas uang yang di titipkan Nyonya Bela untuk menjaga seseorang.


"Lulucon macam apa itu? Aku bisa kok masak ramen! " Tasya tidak terima dengan ejekan Sela. Dia mengelak dengan tuduhan Sela yang dirinya tidak bisa memasak.


"Tidak sepertimu, mereka cukup beruntung kau tidak menjadikan mereka sebagai tikus percobaan. " Tasya membalas ejekan Sela.


"Kalau begitu, yang tersisa adalah... dia yang paling pintar mengurus orang." Tasya melirik arah kamar cessie. cessie temannya yang dapat di andalkan .


"Kemana cessie? Aku tidak melihatnya sejak terakhir memberikan mangkuk itu? Apa ada masalah?" Tanya Tasya beruntun sekaligus khawatir lalu duduk berhadapan.


"Aku juga khawatir. Cessie keluar pagi-pagi sekali, dan sampai sekarang belum balik. Mungkin terjadi sesuatu.?" Sahut Sela


"Apa jangan-jangan karena mangkok itu.? Katanya mangkok itu mangkok pasangan dan harganya sangat mahal." Tasya beranggapan cessie tidak terlihat akhir akhir ini karena mangkok itu.


"Mangkuk hermes yang kau beli tempo hari tidak sebanding. Bahkan sekalipun tempat ini penuh dengan mangkok itu, kau tidak akan mampu membeli satupun." Ujar Sela


"Hah? Sangat mahal.!" Tasya dibuat terkejut dengan harga fantastik dari sebuah mangkuk yang cessie berikan. Dia sungguh tidak menduga itu.


"Lalu dari mana dia...? Tidak! Aku harus meneleponnya dan tanya." Ujar Tasya ingin tahu dari mana cessie mendapatkannya. Dia harus tahu.Tasya tentu merasa terbebani dengan bantuan yang di berikan cessie.


"Tidak perlu. Kau tidak akan bisa membuatnya mengaku dengan cara seperti ini." Cegah Sela


"Kenapa?" Tanya Tasya


"Cessie adalah seseorang yang tidak suka merepotkan orang lain. Dia tidak akan memohon pada siapapun kecuali dia tidak punya pilihan lain. Jika dia harus memohon pada seseorang, pastinya orang itu bukan kau atau aku." Jelas Sela agar Tasya mengurungkan niatnya untuk menanyakan perihal dari mana cessie mendapatkan mangkuk itu.


"Siapa?" Tanya Tasya. Sela hanya menanggapinya dengan senyum kecutnya.


"Oh! Si genius yang murni dan sempurna itu."Tasya mengerti siapa orangnya yang selalu membantu di setiap kesulitan Cessie.


"Si jenius itu sedang sibuk dengan acara sosialnya hari ini. Aku akan pergi melihatnya." Ujar Sela


"Ok !" Sahut Tasya "Kau jangan khawatir, aku janji tidak akan shopping ke mall." Tasya meyakinkan bahwa dia tidak akan menghabiskan uang yang di berikan bela untuk belanja.

__ADS_1


Sela hanya memutar bola mata malas menanggapi ucapan Tasya. Dia tidak yakin dengan ucapan Tasya yang tidak akan menggunakan uang itu untuk shopping.Sela lalu beranjak pergi dari sana.


Begitu Sela pergi, Tasya membuka amplop yang berisi uang seraya tersenyum memikirkan belanja apa lagi.


***


Vincent baru pulang beli makanan untuknya. Begitu dia menekan pasword pintu untuk membukanya tetapi pintu itu tidak bisa terbuka. Terkompirmasi bahwa pasword yang di masukan salah. Berulangkali dia mencobanya tetap saja terkompirmasi pasword itu salah. Vincent sedikit kesal siapa yang sudah mengganti pasword pintunya.


Tasya yang saat itu akan keluar menoleh ketika mendengar suara konfirmasi bahwa pasword salah. Dia berjalan mendekat kearah Vincent dengan jengah.


"Itu sudah terkomfirmasi pasword salah. Kenapa kau tidak menggantinya?"


"Aku hanya tahu pasword ini." Sahut Vincent seraya masih mencoba memasukan pasword pintu.


"Berarti ada orang yang menggantinya. Kenapa? Apa kau membuat pemiliknya marah?" Tanya Tasya


Tepat saat itu juga, ponsel Vincent mendapat pesan. Lalu dia membuka isi pesan.


Studio Eghan di tarik kembali.Kau tinggal secara ilegal. Harap segera pindah dalam waktu 1× 24 jam.


Tasya sedikit melirik kearah ponsel Vincent. Dia bisa menduga isi pesan itu pasti dari si pemilik studio.


"Apa pemiliknya mengirim pesan kepadamu?" Tasya penasaran jika dugaannya benar.


"Tidak apa." Vincent membalikan badannya "Bagaimana kau masuk kerumahku waktu itu?" Tanya penasaran bagaimana tasya dan cessie masuk kedalam rumah ketika kecelakaan itu padahal dia jelas tahu pintunya terkunci.


"Manjat dinding."


"Bawa aku kesana !" Ajak Vincent. Lalu mereka pergi kebelakang gedung.


"Disana !" Tunjuk Tasya mengarah dinding gedung yang ada tumpukan kotak kayu yang tersusun.


Vincent langsung memanjat ke kotak kayu dengan gesit tanpa terhambat. Tasya yang melihatnya tercengang melihatnya.


"Wah, apa kau kucing. Pintar sekali kau memanjat dinding." Tasya memuji sekaligus mengejek Vincent


"Kau bilang apa?" Tanya Vincent tidak bisa mendengar gumam Tasya


"Kubilang hati-hati, jangan buat orang khawatir lagi!"


"Tidak akan kulakukan lagi." Gumam Vincen lirih. Begitu dia berhasil masuk kedalam rumah, Vincen bergegas mengemasi koper-kopernya dan tak lupa mangkok kesayangannya. Dia menatap koleksi lukisan-lukisan itu dengan sedih. Di sana ada kenangan dia bersama gurunya yaitu ayahnya Alex. Lalu diapun pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2