Putra & Putri

Putra & Putri
Perjodohan


__ADS_3

Aku meletakkan sepatu kerjaku di rak. Kemudian bersiap mandi lalu bersantai sambil memikirkan kejadian hari ini. Teman lamaku, Putra mengirim sebuah pesan padaku.


"Hei Putri, aku akan pulang akhir minggu ini. Jangan lupa jemput aku ya, hihihi. Bercanda," dari temanmu yang ngeselin, Putra.


Putra dan aku, Putri memang sudah berteman sejak kecil. Mungkin karena kami bertetangga, makanya kami selalu bersama. Disebabkan aku dan dia selalu bersama, makanya ketika SMP kami banyak dikira berpacaran. Padahal aku dan dia hanyalah teman biasa.


Di akhir bulan November, kelas 3 SMP. Dia pindah ke Amerika, karena pekerjaan ayahnya. Kami akhirnya berpisah. Ketika itu di bawah pohon jambu, tempat yang biasa kami berdua panjat. Dia berkata bahwa dia menyukaiku. Berjanji akan menikah denganku ketika ia sudah dewasa nanti. Aku kemudian menerima janjinya.


Setelah aku meminum kopiku di teras rumah, papa memanggilku untuk masuk. Ada apa ini. Suasananya terlihat sangat serius.


"Nak kamu akan papa jodohkan dengan anak teman kerja papa"

__ADS_1


"Apa papa bilang dijodohkan!"


"Iya nak. Menurut mama sudah waktunya kamu menikah. Umurmu sudah hampir 25 tahun. Anak teman papa itu orang yang baik. Dia juga cukup tampan, mau ya?"


"Tapi ma?"


"Sebaiknya kalian nanti berkenalan dulu. Teman papa dan dia, calonmu nanti akan datang akhir minggu ini. Papa harap kalian bisa cocok dan setuju untuk menikah. Jangan permalukan papa di depan teman papa."


Hatiku kacau. Dijodohkan. Aku tahu sudah saatnya aku menikah. Aku hanya takut dia bukan lelaki yang baik. Selama hidupku aku tidak pernah berpacaran. Satu-satunya pengalamanku dekat dengan cowok hanyalah dengan Putra. Itu juga sudah sangat lama sekali. Setelah Putra pindah, kami berdua hanya mengobrol dengan chat. Kami juga jarang bertelepon karena kesibukan masing-masing.Tetapi tunggu dulu, akhir pekan? berarti sama dengan hari Putra akan datang. Hatiku mulai gundah lagi.


Akhir minggu yang dinantikan tiba. Aku sedang bersama mama di kamar. Mama mendandaniku dengan sangat cantik. Gaun sederhana berwarna biru laut ini hadiah dari tante Desi saat hari ulang tahunku. Ibu lalu merapikan rambutku dan mengikatnya dengan gaya yang kasual, namun terlihat mewah.

__ADS_1


Setelah itu aku meminta izin pada Putra, bahwa aku tidak bisa menjemputnya hari ini. Aku kini berada di ruang tamu. Menunggu bersama papa dan mama. Kemudian terdengarlah suara bel rumah kami. Aku berpikir. Itu pasti teman ayah dan anaknya. Mereka akhirnya masuk dan duduk bersama kami.


"Selamat pagi ibu dan bapak. Kami dari keluarga Adinata datang kesini, dengan maksud hendak meminang anak kalian. Sebelumnya akan saya perkenalkan anak saya, Reyhan Adinata"


"Perkenalkan saya Reyhan Adinata, kamu bisa panggil saya Reyhan."


"Saya Putri Nikita, anda bisa panggil saya Putri, " jawabku dengan sedikit gugup.


"Aduh, anak ini. Maafkan dia ya Adinata. Dia mungkin sedikit gugup dengan perjodohan ini" ujar papa berusaha menenangkan temannya


"Tidak apa-apa Fadel aku mengerti kok. Ini situasi yang memang membuat canggung dan gugup, jadi kita mulai perlahan saja ya," jawab om yang bernama Adinata itu.

__ADS_1


Mata kami berdua bertemu. Aku merasa laki-laki ini, orang yang cukup hebat. Dia sekarang menjadi direktur perusahaan properti milik ayahnya. Dia juga tidak pernah berpacaran, sama seperti aku. Pertemuan itu berlangsung kurang lebih selama 1 jam. Mereka akhirnya pulang. Mereka akan datang lagi pekan depan untuk menanyakan jawabanku. Aku kembali bingung dan dihadapkan dalam ketakutan. Aku hanya bisa berpikir dan berdoa, semoga keputusan yang aku ambil nanti adalah keputusan yang terbaik. Yang tidak akan aku sesali seumur hidupku.


__ADS_2