
Pepohonan yang rindang. Kain sutera berwarna biru muda yang digantung di dahan pohon menambahkan kesan artistik. Para undangan, telah datang beriringan memenuhi tempat ini. Bersama dengan iringan musik yang menarik hati.
Hari ini, adalah hari yang teramat istimewa dalam hidupku. Aku akan segera mengikat janji suci dengan pria yang akan menjadi pendamping hidupku selamanya. Setelah badai dan gejolak emosi yang aku rasakan, akhirnya aku memilihmu. Putra, teman kecilku.
"Putri, kamu sudah siap?" mama masuk ke dalam kamar tempatku sedang dirias.
"Sebentar lagi mama," sahutku.
Aku mematut diriku di depan cermin. Wajahku dirias dengan riasan yang sederhana. Tidak terlalu tebal dan menor. Kulihat dari daun pintu, mama tersenyum bahagia. Melihat Putrinya, kini akan segera menikah.
"Kamu cantik," tegur mama.
"Terima kasih mama," jawabku.
__ADS_1
Sekilas kulihat saat mama berbalik, mama seolah hendak meneteskan air mata. Dapat kurasakan perasaan mama, berat melepaskan aku pergi. Aku memeluk mama dari belakang dan membisikkan sesuatu.
"Ma, terima kasih telah membesarkan Putri sampai sekarang, Putri sayang mama."
"Iya, sayang. Mama juga sayang pada Putri," ucap mama lembut. Mata mama membulat dan berkaca-kaca,menahan tangis.
Rombongan pengantin pria telah datang. Suara riuh dan cahaya semakin membuat hatiku gugup. Segera aku mengambil selembar tisu dan mengenggamnya dengan erat.
"Kamu pasti bisa melewati ini Putri. Ini adalah hari yang bersejarah dalam hidupmu. Jangan takut," batinku dalam hati.
Saya terima nikahnya Putri binti Fadel Nur Rahman dengan mas kawin 20 mayam emas dibayar tunai.
"Sah?" seru pak penghulu
__ADS_1
SAH!!! teriak papa dan seluruh orang yang ada di ruangan tempat kami berada.
Aku segera berpindah tempat dan duduk di samping Putra. Kami kemudian memanjatkan doa-doa guna memohon perlindungan dan keselamatan. Berikanlah kebahagiaan dan bantulah kami dalam menjalani kehidupan baru kami, Ya Allah. Amin ya Rabbal Alamin.
Setelahnya suamiku segera membuka tabir yang tadi menutupi wajahku. Aku menyalami suamiku dan tersenyum. Putra membalasnya dengan rona pipi yang memerah. Dia melanjutkan dengan menyematkan cincin di jari manisku. Tak kuhiraukan suara dan wajah yang lain disekitarku. Pikiranku telah hanyut kepada Putra, dan moment itu terasa begitu istimewa.
"Maafkan Putri, Papa," ucapku sambil menunduk dan mencium pipi kanan dan kiri Papa. Kulihat Papa yang tak kuasa menahan air mata bahagianya.
"Jaga dirimu baik-baik ya. Lakukanlah kewajibanmu sebagai seorang istri sebaik-baiknya. Karena sekarang surgamu telah berpindah di kaki suamimu." Papa mengelus kepalaku lembut. Aku menahan emosiku mati-matian di depannya.
"Nak Putra, tante titip Putri sama kamu. Bimbing dan jagalah dia." Mama mengatakan itu semua sambil menangis terharu. Sementara Putra hanya bisa mengiyakan permintaan beliau.
"Saya berjanji tante. Saya akan membuat Putri bahagia," Ujar Putra.
__ADS_1
Ayah Putra, datang dan memberi selamat kepada kami berdua. Dia bersyukur wanita yang dipilih oleh Putra adalah Aku. Tak perlu sulit baginya menerimaku sebagai menantu. Demikian juga dengan menerima keberadaan papa dan mamaku sebagai anggota keluarga barunya.
*K**arena sesungguhnya pernikahan bukanlah hanya penyatuan dua insan manusia. Melainkan menyatukan dua buah keluarga antara satu dengan lainnya*.