Putra & Putri

Putra & Putri
Percaya


__ADS_3

30 menit pembicaraan kami berlalu. Reyhan dan aku saling terdiam. Terlalu kaku untuk memecah suasana. Hanya terdengar suara Ayah Reyhan dan Papa yang saling berbincang hebat. Sementara mama hanya duduk sambil mengunyah permen jahe yang ada di meja.


"Reyhan dan Putri kenapa diam saja," tanya Papa kepada kami berdua


"Tidak apa-apa Papa," ujarku sambil mengalihkan pandanganku dari wajah Reyhan


"Sepertinya kita harus memberi ruangan agar mereka bisa berbicara masing-masing," ujar Om Adinata sambil memberi isyarat kepada Papa dan Mama.


"Oh iya juga, baiklah kami tinggal ya. Silahkan lanjut ngobrolnya," seru mereka bertiga sambil bangkit dan hendak berlalu pergi


Kini hanya tinggal aku dan Reyhan. Banyak hal yang ingin kutanyakan padanya namun mulutku mengatup. Enggan membuka untuk mengeluarkan kata demi kata. Reyhan kemudian mengejutkanku dengan pertanyaannya.


"Bukankah kemarin kau kesal padaku? Aku bahkan belum meminta maaf dengan benar padamu," Reyhan menatapku dengan heran


"Maafkan aku atas perlakuanku kemarin, aku sudah salah sangka padamu," ujarku sambil mengulum ujung jilbabku


"Jadi kamu sudah tahu?"

__ADS_1


"Iya, perempuan kemarin itu sepupumu kan? Dia dari luar negeri dan sedang berlibur di pantai tempat kita liburan kemarin. Tanpa sengaja dia terdorong oleh anak-anak dan mendarat di dadamu. Kau saat itu hendak menolongnya. Maafkan aku," jelasku menunduk takut melihat ekspresi wajah Reyhan.


"Syukurlah, kamu tidak salah paham lagi. Aku sebenarnya sudah berusaha menegurmu, tetapi kamu langsung pergi begitu saja. Sepupuku jadi merasa bersalah dan memaksaku untuk memberitahu nomor teleponmu. Akhirnya dia yang menjelaskan kesalapahaman di antara kita," ujar Reyhan sambil berusaha menatapku


Aku membuang muka, tidak mau membalas tatapannya. Reyhan kemudian memaksa dan memegang kedua pipiku.


"Cantik," gumamnya


"Apaan sih!" aku kemudian menangkis tangannya


"Kamu malu ya?"


Reyhan mengambil sesuatu dalam tasnya dan memberikannya kepadaku. Aku mengenggam dan bertanya-tanya. Dia menyuruhku untuk memakainya sekarang. Liontin yang sangat indah. Bertali perak dengan sebuah bintang besar menjuntai. Bintang yang berwarna-warni dan berkelip.


"Terima kasih untuk hadiahnya," tegurku


"Sama-sama," sahut Reyhan kemudian dia bertanya " Putri apakah kamu yakin memilihku? bukannya kamu menyukai Putra?"

__ADS_1


"Aku dan Putra memang berteman dan aku ada perasaan suka padanya," ucapku yang membuat wajah Reyhan menjadi muram


"Tetapi aku merasa perasaanku berbeda, hanya sekedar suka sebagai teman," ujarku


"Oh begitu," Reyhan terlihat lega


"Aku percaya keputusan yang sudah aku ambil ini adalah yang terbaik," aku melihat bola mata Reyhan berkilauan seperti bintang yang di bawanya


"Te... terima kasih," ucap Reyhan


Om Adinata kembali ke ruangan dan menemui Reyhan. Mereka meminta izin untuk pulang. Om Adinata kemudian mengerlingkan mata padaku tanda rasa bangga. Mama merangkul bahuku. Kemudian aku melambaikan tanganku kepada Reyhan. Mereka pergi menjauh dari rumah kami.


"Papa anak kita sudah besar, sebentar lagi dia menikah, Mama bangga sekali," ujar Mama sambil menyenderkan kepalanya di bahu Papa


"Iya ma, Papa juga sangat bahagia sekaligus sedih. Putri kecil kita sebentar lagi akan di jemput pangerannya," sambung Papa


"Mama dan Papa ini, Putri akan selalu jadi anak kalian, jangan lebay deh," ujarku sambil masuk ke dalam rumah

__ADS_1


Hatiku merasa lega, kemudian aku memejamkan mata sejenak. Aku percaya apapun yang terjadi nanti padaku adalah kehendakmu tuhanku. Izinkan aku mengarungi lautan kehidupan bersama Reyhan, suamiku kelak.


__ADS_2