Putra & Putri

Putra & Putri
Antara Kata dan Rasa


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin, Putra terus menghujaniku dengan pertanyaannya. Siapa Lelaki itu. Apakah kamu menerima Perjodohan ini. Apa kamu masih menyukaiku. Diriku tidak berani menjawabnya. Yang aku lakukan hanya mengingat kejadian itu dari balik selimut. Kemudian mama masuk ke kamarku dan duduk di atas ranjang.


"Putri, makan dulu sayang. Jangan begini. Kalau kamu ada masalah, cerita sama mama."


"Mama, Putri bingung dan takut harus bagaimana."


Kemudian aku menceritakan masalahku kepada mama. Antara perasaanku dengan Putra. Ataukah perjodohanku nanti dengan Reyhan. Kebimbangan dalam hatiku yang seolah seperti mendung. Antara akan hujan atau tidak.


"Mama mau tanya satu hal sama kamu." kata mama sambil menatapku dengan serius namun tetap menyiratkan kasih sayang. "Apakah perasaanmu menyukai Putra saat dulu itu benar berasal dari hatimu, ataukah hanya perasaan suka sebagai teman saja."

__ADS_1


Diriku bingung harus menjawab apa. Kemudian mama berkata, "Semua tergantung keputusanmu. Kamu nilailah mereka berdua selama seminggu ini. Pilihlah dan berdoa pada Tuhan akan pilihan terbaik bagimu. Mama akan selalu mendoakanmu sayang."


Kata-kata mama, bagaikan tegukan segelas air ketika aku berada di gurun. Karena aku anak tunggal, aku tidak punya saudara untuk saling curhat bersama. Aku sering curhat pada mama atau temanku. Namun seiring bertambahnya usia dan kesibukan masing-masing, aku jarang curhat pada teman-temanku karena tidak ada waktu. Aku perlahan terlelap dalam perasaan nyaman dan tenang.


Sinar mentari membangunkan aku dari tidur lelapku. Sekarang sudah hari senin. Satu minggu lagi aku harus membuat keputusan. Aku memutuskan untuk menilai mereka lebih dekat. Sifat dan pribadi keduanya. Antara kata dan rasa, harus aku putuskan siapakah nanti. Yang akan menjadi pendampingku. seumur hidupku.


Aku sudah separuh jalan ke kantor tempat aku bekerja. Ternyata aku lupa membawa berkas penting untuk rapat nanti siang. Aku kemudian membelokan mobilku dan pulang untuk mengambil berkasku. Mungkin karena aku terlalu banyak melamun. Sehingga aku tak melihat ada orang di pinggir jalan. Aku tidak sengaja menabraknya.


"Ya Ampun, maafkan saya pak saya tidak sengaja, jawabku sambil memperbaiki dan menolongnya. "Iya, tidak apa-apa, loh kamu kan?"

__ADS_1


Mataku perlahan melotot sosok yang ada di depanku ini, seraya berkata "Rey... han... kan."


"Pftt..... hahaha," Reyhan kemudian perlahan tertawa. Riang sekali.


"Ih maaf aku panik tau", kataku sambil cemberut melihat dia tersenyum jahil. "Iya iya, aku cuma gak nyangka bisa ketemu disini. Aku tidak apa-apa kok. jawab Reyhan dengan sedikit mencuil pipiku seolah bermaksud menggodaku.


Walaupun begitu aku bisa melihat bahwa dia seolah menahan sakit. Aku kemudian berkata padanya untuk bertemu nanti sore. Sebagai permintaan maaf dariku juga kesempatan bagiku untuk mengenalnya. Dia menyanggupi janjiku. Aku kemudian segera pulang mengambil berkasku dan segera pergi ke kantor.


***

__ADS_1


Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Aku langsung bersiap ke kafe tempat kami berdua berjanji untuk bertemu. Aku mengenakan baju hijau muda dengan sedikit perpaduan warna hitam di kerah, lengan serta celana panjang. Rambutku bergelombang tertiup angin sore. Aku menunggu di meja no.5 sembari memainkan ponselku. Sambil menunggu Reyhan, aku memesan teh lemon karena sudah merasa haus.


Ting, bunyi pesan masuk ke handphoneku. Reyhan berkata dia agak terlambat, karena ada hal yang harus dia lakukan. Aku kemudian menunggu selama kurang lebih setengah jam. Karena merasa kesal, aku memutuskan untuk pulang. Padahal belum lama kenal, tapi sudah berani membuatku kesal. Saat aku hendak memesan ojek online, dia baru sampai ke kafe. Dia kemudian terlihat meminta maaf padaku dengan wajah polosnya. Aku memaafkannya, namun dalam hatiku masih terasa perasaan dongkol. Kami hanya berbicara disana sekitar 15 menit. Tentang kejadian tadi pagi dan saling meminta maaf. Aku bertanya apa yang membuatnya terlambat, tetapi Reyhan tidak mau menjawab. Walaupun aku bisa melihat dia seolah habis berlari sangat kencang, dan bajunya seakan basah oleh keringat. Setelah itu aku kemudian pulang karena jemputanku telah sampai.


__ADS_2